
Beberapa minggu telah berlalu, dan si kembar sudah berada di rumah menantu bi Asri.
Mereka sudah mulai mempertanyakan ibunya lagi. Bagaimana tidak, mereka tidak pernah berjauhan selama ini. Tentu membuat mereka merindukan ibu mereka.
Bahkan Juna yang terlihat sok tangguh dan tidak perduli jika maminya harus berjauhan dengannya, kini sudah mulai teramat rindu untuk bertemu dengan maminya tersebut.
“Tante… Juni Pengen ketemu ibu. Kenapa ibu juga belum menemui kami” ucap Juni pada Nina yang kini tengah membantu Anggun untuk menjaga dan merawat mereka.
“Iya sayang… sabar, ya. Nanti kita video call ibu kalian” ucap Nina mencoba membujuknya.
“Ah tante… tapi kita maunya ketemu ibu langsung. Tante anterin kita ke tempat kerjaan ibu aja” ucap Juna yang juga rindu pada maminya.
“Iya tante, kak Juna benel. Di desa nenek Asli juga suka antelin kita ke tempat keljaan ibu” ucap Juni yang mengingat jika di desa ibunya bisa di samperin ke tempat kerjaannya jika mereka mau sewaktu-waktu.
“Tapi sayang… itu berbeda. Di tempat ibu kalian bekerja sekarang tidak bisa di kunjungi setiap saat” ucap Nina mencoba memberi pengertian.
“Tapi kan kita tidak akan menemui ibu setiap saat, tante. Kita hanya akan menemui ibu hari ini saja. Ini kan hari minggu, pasti ibu lagi libur juga kan, tante” ucap Juna yang memang sudah pintar berbicara.
“Iya juga sih… Ya sudah biar tante kasih kabar ibu kalian dulu ya. Mudah-mudahan ibu kalian bisa dapet izin” ucap Nina tanpa berniat memberi harapan pada kedua anak kembar tersebut.
“Horeee… yeee kita akan bertemu ibu” teriak Juni sambil lompat-lompat di tempat, merasa senang akan bertemu dengan ibunya.
Sementara Juna melihat adiknya ikut merasa senang, namun dia hanya tersenyum sambil memandang kebahagiaan adiknya tersebut.
Sebenarnya dia juga ingin melompat-lompat meluapkan rasa bahagianya seperti adiknya tersebut. Tapi karena pikirannya sok dewasa jadi dia menahan diri untuk tidak berperilaku seperti anak kecil, pikir Juna.
Sementara itu, karena hari ini hari minggu Leon tidak pergi ke kantor. Dia seharian akan berada di rumah dan dengan begitu dia akan lebih sering bertemu dengan Anggun, pikirnya.
Dan sebelum itu, dia akan terlebih dulu malas-malasan di atas kasur king sizenya untuk bangun lebih siang dari biasanya.
__ADS_1
Karena Anggun sudah tahu kebiasaan bosnya tersebut jadi Anggun memutuskan untuk pergi lebih dulu bertemu dengan anak-anaknya sebelum Leon benar-benar bangun dan akan merepotkan dirinya setiap saat. Tapi tentu setelah mendapatkan izin dari nyonya Murni untuk pergi keluar sebentar.
Tadi setelah mendapat kabar dari Nina tentang anak-anaknya, Anggun segera mengiyakan meskipun sebelumnya dia sempat berpikir bagaimana dia akan menemui anak-anaknya tersebut. Karena tidak mungkin si kembar di bawa ke tempat kerjaannya saat ini. Yang mana tempat tersebut adalah kediaman ayah dari si kembar.
Sementara itu Nina telah membawa Juna dan Juni ke sebuah taman di tengah kota.
Mereka dengan sabar menunggu kedatangan Anggun. Sambil menunggu mereka melihat-lihat dan bermain di sekitaran taman tersebut.
Hingga mata Juni tertuju pada satu keluarga kecil, dimana seorang anak seusianya yang tidak sengaja jatuh dan segera di gendong oleh ayahnya sambil menenangkan anak tersebut.
Melihat hal itu, entah mengapa membuat Juni nampak terlihat bersedih. Entah karena dia merasa kasihan pada anak yang jatuh tersebut atau karena hal lainnya.
“Juni sayang, kenapa kamu terlihat sedih begitu?” tanya Nina yang melihat perubahan expresi wajah Juni.
Tidak ada jawaban, Nina pun melihat ke arah mata Juni yang terus di pandanginya.
Nina yang mulai menyadari perasaan Juni ketika melihat satu keluar kecil yang sedang membawa main anaknya mulai merasa tersentuh ikut merasakan apa yang saat ini Juni pikirkan dalam hatinya.
Dia sendiri tidak tahu siapa ayah mereka, bahkan dengan ibu mereka pun dia hanya tahu cerita dari ibu mertuanya, bi Asri. Namun begitu, Nina tetap menyayangi kedua anak kembar tersebut.
Sementara itu tepat di belakang mereka, rupanya Anggun sudah berdiri cukup lama di tempat tersebut. Dan mendengar apa yang di tanyakan anak bungsunya tersebut.
Mendengar hal tersebut, tentu membuat Anggun tidak bisa berkata apa-apa selain menangis dan berusaha menenangkan perasaannya sebelum dia menghampiri mereka.
Bagaimana tidak, tentu Anggun merasa tersayat hatinya saat mendengar pertanyaan anaknya tersebut tentang ayah mereka.
Dia tidak bermaksud untuk menjauhkan mereka dengan ayah kandung mereka.
Kini Anggun sedang menyeka air matanya untuk bergegas bertemu anak-anak tercintanya.
__ADS_1
Dia tidak ingin berlama-lama membuat anak-anaknya menunggu.
“Coba tebak! Siapa ini yang datang?” ucap Anggun sambil menutup mata anak bungsunya dari belakang.
“Ibu..” ucap Juni sudah dapat menebak dari suara ibunya tersebut.
“horee… ibu sudah datang” lanjutnya sambil meloncat-loncat kegirangan dan masih tetap dengan mata yang di tutup ibunya.
Anggun pun tersenyum, merasa senang karena dirinya dapat langsung di kenali oleh anak bungsunya tersebut.
Begitupun dengan Juna yang dari tadi bersikap sok tenang dan sok dewasa, ikut merasa senang. Dan sekalinya bertemu dengan maminya dia langsung kembali seperti bocah pada umumnya, memeluk kaki milik ibunya merasa sangat rindu.
“Mami… hiks… hiks“ ucap Juna yang tiba-tiba menangis jadi cengeng sambil tetap memeluk kaki ibunya.
“Mami kemana saja, kenapa lama sekali kerjanya?” tanya Juna, mengingat saat ibunya kerja di kampung tidak pernah pergi dan meninggalkan mereka selama berminggu-minggu.
Dan bahkan sekarang mereka tidak dapat menemui ibunya langsung ke tempat kerjaannya seperti yang di lakukan mereka sebelum-sebelumnya.
“Maaf sayang… sekarang ibu tidak bisa pulang pergi seperti dulu di desa” ucap Anggun meminta maaf dan mencoba membuat Juna mengerti kembali.
“Tapi, ibu janji kita akan tetap sering-sering ketemu. Kan udah ada ini” lanjut Anggun sambil menunjukan telpon genggam yang dapat menjauhkan menjadi dekat dan yang dekat menjadi jauh, alias video calllan.
Sambil mencium puncak kepala rambut anak-anaknya masing-masing, merasa rindu dan sayang.
“Tapi kenapa harus video call, mi?. Kita kan bisa menemui mami jika mami masih sibuk bekerja” ucap Juna yang kembali mengingat kebiasaan di desa jika ibunya masih sibuk bekerja namun mereka masih dapat mendatangi dan melihat ibu mereka di tempat kerjaannya dulu.
Membuat Anggun kembali harus berpikir dan mencari alasan supaya anak-anaknya dapat mengerti bahwa tempat kerjaannya di desa dulu berbeda denga tempat kerjanya sekarang, tidak bisa di kunjungi setiap saat.
Kalau Anggun sampai membiarkan anak-anaknya datang kapanpun ke tempat kerjaannya sekarang, tentu hal tersebut akan membuat orang-orang di tempat itu merasa curiga. Jika sampai si kembar terdengar memanggilnya ibu di tempat itu nantinya.
__ADS_1
Apalagi jika ada seseorang yang melihat Juna secara langsung dan dekat di kediaman Adinata. Mungkin akan ada orang yang sadar jika Juna mirip dengan tuan muda mereka.