Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh

Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh
Pijatan Dan Relaksasi


__ADS_3

“Sudah… sudah, Juna. Kasihan Juni. Sekarang dia kan sudah ketemu. Lebih baik kita sekarang pulang saja ya” ucap Nina yang jadi tidak tega melihat Juni di omeli oleh saudara laki-lakinya tersebut.


Dia pun segera memilih untuk mengajak kedua anak kembar tersebut untuk pulang ke rumah.


Sementara itu, di kediaman Adinata. Anggun dan Leon sedang melakukan sesuatu.


Selama beberapa minggu ini, Anggun mencoba melakukan pemijatan rutin pada kaki Leon. Pada awalnya Leon menolak dengan apa yang di lakukan Anggun padanya.


Dia pikir Anggun hanya melakukan hal tersebut dengan asal-asalan. Dan dia tidak ingin membuat kakinya sampai semakin lama untuk dapat normal kembali.


Tapi setelah di rasa-rasa semakin ke sini, Leon merasa ada sedikit perubahan pada saraf kakinya tersebut.


Namun Leon tidak ingin membuat Anggun besar kepala, karena sebelumnya Leon sempat menyepelekan kemampuannya.


Hingga akhirnya sampai saat ini Leon dengan teratur slalu meluangkan waktu untuk di pijat dan di relaksasi.


Dengan sabar dan rutin Anggun menggunakan kemampuan tersembunyinya pada Leon.


Namun sebenarnya Anggun juga merasa tidak yakin jika kaki Leon dapat di sembuhkan dengan hanya memijat kakinya.


Walaupun kemampuan yang di milikinya dia dapat secara otodidak karena dia sering berhadapan dengan barang-barang berat saat bekerja di desa.


Yang membuatnya tidak jarang mengalami kecelakaan pada kaki dan tubuhnya.


Dan dari situlah dia mulai mempelajari cara memijat yang benar. Entah itu dari Ytb atau dari tukang pijitnya langsung.


Dan tidak hanya untuk dirinya sendiri, tapi dia juga sering membantu teman-temannya yang mengalami hal yang sama dan secara tidak langsung dia pun menjadikan teman-temannya bahan untuk latihan.


Dan beruntungnya setiap orang yang di tangani dapat sembuh kembali, meskipun ada beberapa dari mereka proses sembuhnya cukup memakan waktu.


Dan kini dia mencoba membantu Leon dengan caranya sendiri.


Dia berharap apa yang di lakukannya benar dan akan berpengaruh pada proses penyembuhan kaki tuannya tersebut.


“Tuan… jangan banyak bergerak. Biar saya bisa menyelesaikan pekerjaan saya ini. Hanya beberapa menit. Supaya saraf-saraf di kaki tuan tidak ke jepit lagi” ucap Anggun mencoba memberitahu.


“Memangnya kau yakin bisa melakukannya. Apa jangan-jangan kau sengaja ingin menambah lama masa penyembuhanku” ucap Leon tidak yakin dengan apa yang akan di lakukan Anggun padanya.

__ADS_1


“Sudah jangan banyak protes, nanti tuan bisa merasakannya sendiri” ucap Anggun tidak ingin di protes.


Anggun pun segera memijat kaki Leon pelan-pelan. Dia mulai meraba-raba kakinya untuk merasakan saraf-saraf yang ia curigai penyebab Leon masih belum dapat berjalan dengan sendirinya.


Namun berbeda dengan Leon yang merasakan sentuhan tangan Anggun membuatnya merasakan hal yang berbeda.


Jantung Leon seolah berdenyut tak beraturan, membuatnya berusaha untuk mengontrol diri. Dia berpura-pura memainkan handphonenya di saat Anggun sedang memijit kakinya.


Dia berusaha melepaskan pandangannya untuk tidak menatap Anggun. Jika tidak, dia bisa membayangkan aneh-aneh lagi dengan Anggun. Dan Leon tidak mau itu terjadi.


Lalu tiba-tiba, Leon merasakan sakit di kakinya hingga membuatnya sedikit berteriak.


“Aaaww… Apa yang kau lakukan. Kenapa kau malah menyakiti kaki ku?” pekik Leon.


Namun hal tersebut malah membuat Anggun tersenyum. Rupanya Anggun sudah mulai memberikan efek dari pijatannya tersebut.


Karena sebelum-sebelumnya Leon tidak pernah merasakan apa-apa di kakinya tersebut. Bahkan saat kakinya tertekan oleh Anggun beberapa kali, Leon tidak pernah merasakan hal tersebut.


Dan Anggun seringkali mencubit kakinya tanpa Leon sadari dengan sengaja untuk melihat apakah kakinya bereaksi atau tidak.


Dan kini Anggun merasa bersyukur karena kakinya mulai bereaksi. Itu artinya kaki tuannya tersebut kemungkinan dapat sembuh lebih awal dari yang di prediksikan.


Sementara itu, nyonya Murni sudah sampai di depan rumahnya. Dia nampak melihat-lihat ke segala arah untuk bertemu dengan suami tercintanya tersebut.


Entah mengapa, nyonya Murni nampak antusias untuk menceritakan kejadian tadi pada suaminya saat bertemu dengan seorang anak gadis yang ia temui tadi.


Tidak biasanya nyonya Murni sangat bersemangat untuk menceritakan hal-hal kecil seperti tadi.


Dia pun segera menghampiri suaminya di tempat biasa ia suka menghabiskan waktu liburnya. Yaitu di taman belakang rumah tersebut.


“Papa…” panggil nyonya Murni saat di ruang tengah rumahnya.


“Aduuh si papa kemana sih?” lanjutnya berbicara sendiri.


“Ah… pasti di taman nih. Aku susul ke sana sajalah” ucapnya lagi.


“Benerkan dia di taman” ujarnya saat melihat suaminya tersebut sedang menyeruput kopi.

__ADS_1


Sementara itu, Anggun dan Leon masih sedang di dalam kamar. Leon nampak menikmati pijatan di kakinya.


Setelah sebelumnya membersihkan diri dan berganti pakaian. Anggun melakukan pekerjaan tambahannya tersebut.


Saat ini Leon sedang menatap Anggun, dia nampak tersenyum senang melihat pujaan hatinya tersebut.


Tapi Anggun yang memilih fokus pada pijatannya tersebut tidak sadar jika seringkali Leon slalu mencuri pandang padanya.


“Aku masih tidak mengerti, kenapa gadis ini masih berpura-pura. Sebenarnya apa yang akan di lakukannya dengan berpura-pura sebagai sopir dan bekerja disini” ucap Leon dalam hati, dengan tatapan yang tak bisa lepas dari Anggun.


Leon masih belum mengerti setelah beberapa minggu ini Anggun bekerja di tempatnya. Tapi dia belum menemukan apa maksud dan tujuan dari Anggun melakukan hal tersebut sampai saat ini.


Dan sampai saat Anggun mengatakannya sendiri, Leon pun tidak akan mengatakan bahwa dirinya sudah tahu bahwa yang bekerja saat ini padanya adalah Anggun.


Di lain sisi, nyonya Murni nampak sedang berbicara pada suaminya tersebut.


“Papa… papa tahu tidak tadi mama bertemu dengan siapa?” ucap Nyonya Murni nampak antusias.


“Memangnya mama habis bertemu dengan siapa?. Sepertinya kalau di lihat dari wajah mama, mamah habis menang lotre, ya” ucap tuan Michael ngasal.


“Papa… memangnya mama pernah main lotre apa” ucapnya sedikit kesal dengan omongan ngasal suaminya tersebut.


“Terus mama habis bertemu dengan siapa kalau begitu?” tanya tuan Michael sungguh-sungguh namun tenang.


“Tadi mama habis ketemu anak kecil, pa” ucapnya dengan antusias.


“Anaknya maniiisss banget, pa. Mama jadi pengen segera punya cucu, pa” lanjutnya, namun di akhir kalimat wajahnya nampak sok lesu dan sedih.


“Papa bantuin mama dong, biar Leon itu mau segera menikah lagi. Memangnya papa gak mau cepet-cepet punya cucu?” lanjut Nyonya Murni dengan membuat wajahnya terlihat cukup memelas, supaya suaminya tersebut bersedia membantunya agar dapat membujuk anak laki-laki satu-satunya itu.


“Mama kan tahu sendiri. Leon itu anaknya keras kepala dan kita tidak bisa memaksanya” ujar tuan Michael.


“Tapi kan papa belum mencoba. Selama ini mama terus yang slalu dan memintanya untuk segera menikah. Siapa tahu kalau papa yang memintanya untuk menikah, Leon bisa menurut… seperti waktu itu” ucap nyonya Murni dan sedikit mengingatkan suaminya pada waktu di mana dia memaksa Leon untuk menikah dengan wanita pilihannya.


“Mama benar… tapi lihat sekarang. Dia malah mengusir wanita yang papa pilihkan untuknya. Bahkan meskipun Leon sudah menikahinya dia dengan teganya mengusir Anggun, mah” ucap tuan Michael sedikit marah mengingatkannya pada perlakukan anaknya tersebut pada Anggun.


Meskipun pada awalnya tuan Michael sempat syok dan terkena serangan jantung ringan saat ia melihat berita tentang menantunya tersebut.

__ADS_1


Tapi jauh di lubuk hatinya ia tidak percaya bahwa Anggun sanggup melakukan hal tersebut.


__ADS_2