Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh

Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh
Mendadak Gugup


__ADS_3

“Daddy..” seru Juna sambil menghampiri dan memeluk kaki Leon.


Dia nampak begitu bahagia, namun Juni terlihat masih sedikit bingung, kenapa kakaknya sampai memanggil orang tersebut daddy.


“Kak Juna kenapa memanggil om ini daddy?. Apa dia ayah kita?” tanya Juni masih belum percaya.


“Tentu saja. Dia adalah ayah kita. Benar kan, Mi?” ucap Juna dengan antusiasnya sambil melihat ibunya untuk mendapat pembenaran.


Meski dengan sedikit ragu-ragu, Anggun pun mengangguk membenarkan.


Melihat ibunya mengangguk, Juni pun tiba-tiba nampak terlihat senang dan juga antusias.


“Ayah?. Apa itu benal?” ucap Juni pada Leon dengan wajah yang tiba-tiba berbinar.


Leon pun ikut mengangguk seperti Anggun, hingga akhirnya dia mendapat pelukan dari Putrinya tersebut.


“Ayah… Juni kangen sama ayah. Kenapa ayah balu datang sekalang. Apa ayah tidak sayang kami?” ucap Juni sambil memeluk tubuh ayahnya.


Leon pun seketika itu merasa hangat dan bercampur aduk. Dia merasa sedih dan juga bahagia karena baru tahu bahwa dirinya memiliki anak-anak selucu dan menggemaskan seperti mereka.


Leon segera memeluk putrinya tersebut dan menciumnya sayang.


Tidak lupa juga Juna ikut mendapatkan pelukan dari Leon.


Mereka nampak terlihat bahagia, tapi tidak dengan wanita yang berada di sebrang Leon. Anggun masih nampak terlihat tidak senang jika Leon mendapat sambutan baik dari kedua anaknya tersebut.


Sepertinya Anggun masih tidak yakin jika Leon dapat menerima kedua anaknya tersebut.


Beberapa saat kemudian, waktunya untuk membawa Juni pulang.


Namun rupanya Leon tidak membiarkan Anggun untuk membawa mereka sendiri.


Meski Anggun sempat menolak tapi karena anak-anaknya menginginkan ayah mereka juga ikut akhirnya Anggun pun pasrah.


“Kenapa anda kembali?” tanya Anggun, membuat Leon sesaat menghentikan langkahnya.


“Bukankah tadi anda sudah pergi?” ucap Anggun yang dari tadi ingin berbicara. Apalagi setelah tadi, yang dia tahu Leon sudah pergi tapi dengan cepat dia juga kembali. Membuatnya sedikit kepo dan penasaran.


Namun berbeda dengan Leon yang berpikir bahwa Anggun sedang bertanya masa lalunya. Kenapa dia baru datang sekarang setelah dia mengusirnya dulu.


“Ahh.. itu” ucap Leon sedikit salah tingkah dan mulai menyadarinya.


“Tadi aku sedikit ada urusan”


“Kenapa memangnya. Apa kau juga merindukan ku?” ucap Leon sambil menggoda Anggun.


“Ihh… Gr banget” ucap Anggun sedikit salting dan langsung melangkah cepat menghindari Leon dan menyusul kedua anaknya yang sudah masuk ke dalam mobil mewah milik ayah mereka.


Melihat hal tersebut Leon hanya tersenyum sambil melihat Anggun melangkah pergi menghindari dirinya, menurutnya sikap Anggun tersebut malah terlihat lucu.


Dia pun segera menyusul Anggun dan kedua anaknya. Kini mereka sudah berada di dalam mobil yang sama.


Mereka hendak menuju ke rumah Anggun dan anak-anaknya. Tapi rupanya di tengah jalan Anggun menyadari bahwa arah jalan tersebut berbeda dengan yang dia tahu.


“Sepertinya ini bukan arah jalan ke rumah ku?” ucap Anggun saat menyadari arah jalan yang berbeda.


“Anda mau bawa kami ke mana?” tanya Anggun masih dengan bahasa formalnya namun dengan menekankan ketidak sukaannya.

__ADS_1


“Tenanglah!. Anak-anak sedang tidur. Nanti kau akan tahu sendiri kemana kita akan sampai” ucap Leon lirih dengan mendekatkan wajahnya di depan wajah Anggun.


Entah dia tidak ingin membuat keributan agar anak-anaknya tidak bangun atau Leon memang sengaja ingin melihat wajah istrinya tersebut lebih dekat lagi.


Dengan posisi duduk yang saling berhadapan membuat Anggun tidak dapat menghindar lebih jauh dari wajah suaminya tersebut.


Dia sudah kepentok kursinya sendiri dan hanya dapat menahan nafasnya. Begitu jelas wajah tampan Leon berada di depan wajah Anggun.


Dan untuk sesaat mereka kembali saling bertatapan. Hingga bayangan kejadian malam tadi kembali teringat di benak mereka. Membuat keduanya saling menghindari tatapannya masing-masing.


Mereka nampak salah tingkah dan pipi mereka sama-sama memerah.


Keduanya nampak saling menghindari kontak mata.


Mungkin takut terulang kembali kejadian malam tadi. Apalagi di samping mereka berdua masih ada anak-anak yang lagi-lagi tertidur sepeti kejadian semalam.


Dan untuk menghindari hal itu lagi, Anggun memilih untuk berpura-pura tidur meski jantungnya saat ini tidak dapat tenang.


Hingga beberapa menit kemudian, sepertinya Anggun benar-benar tertidur di hadapan Leon saat ini.


Melihat hal tersebut, Leon segera memastikannya dan menggerak-gerakkan tangannya di depan wajah Anggun.


Mendapati tidak ada respon, Leon pun mulai kembali menatap Anggun dengan penuh cinta. Dia memanfaatkan momen tersebut untuk menikmati wajah cantik istrinya itu ketika sedang tertidur di dalam mobilnya.


Dan setelah puas menatap wajah Anggun barulah dia melihat wajah putra putrinya satu persatu dengan sayang.


“Tuhan… terima kasih. Engkau memberikan aku kesempatan untuk melihat mereka secara langsung. Aku berjanji, aku tidak akan membuat mereka menderita apalagi meninggalkan mereka. Aku akan berusaha membahagiakan mereka, dan membuat istriku kembali lagi” ucap Leon dalam hati.


Kemudian dia perlahan menggenggam tangan Anggun dan berkata dengan lirih.


“Anggun… aku tahu aku sudah membuat kesalahan, aku sudah mengusirmu dulu tanpa alasan yang jelas, aku sudah menyia-nyiakan mu. Maaf kan aku. Aku janji aku akan membuatmu bahagia dan kembali pada ku lagi”


Tapi karena dia tiba-tiba merasa tangannya sedang di genggam seseorang yang tidak lain dan tidak bukan oleh Leon, membuatnya kembali berpura-pura melanjutkan tidurnya dan mendengarkan ucapannya.


Dan seketika itupun membuat jantung Anggun kembali berdebar tak karuan.


Tapi setelah dia mendengar setiap kalimat yang di ucapkan oleh Leon, entah mengapa perasaannya tiba-tiba menghangat dan seolah dia ingin menangis saat itu juga. Namun sebisa mungkin Anggun menahannya.


Hingga akhirnya mobil tiba-tiba berhenti dan sopir mengatakan sudah sampai.


Membuat Leon perlahan melepaskan tangannya, dan sedikit menyeka air mata yang sempat sedikit keluar.


Leon lebih dulu membangunkan anak-anaknya, kemudian di susul oleh Anggun yang kenyataannya sudah bangun dari tadi.


Anggun pura-pura dan masa bodo dengan hal itu. Dia membiarkan anak-anaknya dan leon lebih dulu keluar dari mobil tersebut.


Sambil menatap Leon yang sedang menggendong anak perempuannya, Anggun mulai teringat apa yang di katakan Leon tadi saat dirinya pura-pura tidur.


Dia masih belum yakin, jika Leon sudah berubah dan berjanji akan membuatnya bahagia.


Tapi hal tersebut membuat Anggun terganggu dan terus memikirkannya.


“Mami!!..” teriak Juna memanggil maminya yang di rasa lamban berjalan di belakang mereka.


“Mami ayo… !!” ajak Juna cepat-cepat sambil menarik tangan Anggun setelah dia menghampiri ibunya.


“Mami lihatlah!. Rumah Daddy besaaaar sekali” lanjut Juna nampak takjub saat melihat rumah besar ayahnya tersebut.

__ADS_1


Dia nampak berseri-seri memuji rumah ayahnya yang begitu mewah dan besar. Selama ini Juna tidak menyangka jika dirinya memilik ayah yang super sultan dan kaya raya.


“Aku suka rumah Daddy. Apa kita akan tinggal di sini juga, Mi?” lanjut Juna berbicara. Membuat Anggun sedikit tertegun, ada perasaan tak terima jika anak-anaknya memilih dan lebih suka tinggal di rumah tersebut meskipun itu adalah rumah ayahnya sendiri.


Tapi hal tersebut mampu membuat Anggun sedikit insekyur, meskipun dia mengerti bahwa anaknya masih terlalu polos.


Mereka pun masuk ke dalam rumah besar dan mewah itu. Anak-anak semakin takjub saat melihat lebih dalam lagi.


Saat mereka masuk, rumah tersebut begitu luas dan mewah. Bahkan saking luasnya Juna berpikir bahwa dia dapat bermain bola di dalam rumah tersebut.


“Waaah… rumah nya besar sekali. Apa kita bisa main sepak bola di sini daddy?” ucap Juna dengan polosnya.


Mendengar hal itu Leon tersenyum dan menganggukkan kepala mengindahkannya. Dia tidak perduli jika nanti anak-anaknya benar-benar melakukannya di dalam rumah.


Yang dia perduli saat ini, dia dapat membuat anak-anaknya merasa senang dan nyaman jika berada di mension atau rumahnya.


Namun berbeda dengan Anggun yang mendengar hal tersebut. Dia langsung melarang Juna dengan santun dan memberi pengertian pada anaknya tersebut.


“Tidak sayang. Kamu tidak boleh seperti itu di rumah orang lain dan jika kamu ingin bermain bola, mainlah di luar. Ok” ucap Anggun memberi pengertian. Meski dia tahu rumah tersebut adalah rumah ayah anaknya sendiri. Tapi dia takut jika anaknya akan melakukan hal yang sama jika berkunjung ke tempat orang lain.


“Kenapa tidak. Rumah ini adalah milik mereka juga. Jadi anak-anak bebas melakukan apapun sesuka hati mereka. Aku tidak keberatan” ucap Leon dengan santainya.


Namun tidak dengan Anggun, mendengar hal tersebut dia semakin kesal dengan cara Leon yang seolah akan memanjakan anak-anaknya dengan uang yang dia miliki, dan Anggun tidak suka akan hal itu.


Dia sudah cape-cape melahirkan anak-anak dan mendidiknya dengan kesederhanaan supaya mereka dapat menghargai orang lain tanpa harus melihat ataupun di iming-imingi dengan sesuatu harta.


Dan Anggun berpikir jika Leon saat ini sengaja melakukan hal itu untuk mendapatkan anak-anaknya tersebut dengan segala kemewahan yang dia punya.


“Dan kalau kamu mau…” ucap Leon sambil mendekati Anggun di saat anak-anak dan beberapa pelayan membawa mereka untuk melihat-lihat ruangan yang lainnya.


“Kamu juga bisa tinggal di sini dan melakukan apapun yang kamu suka di rumah ini” lanjutnya lirih di daun telinganya setelah dia membuat Anggun perlahan mundur dan mentok di dinding.


Hingga membuat mereka nampak terlihat begitu dekat dan orang yang melihatnya mungkin akan beranggapan kalau mereka sedang ingin bermesraan.


“A..aku tidak akan tinggal di sini. Ja…jadi aku tidak perlu melakukannya” ucap Anggun sedikit terbata-bata dan dia pun berusaha mengalihkan pandangannya ke samping supaya tidak dapat menatap langsung wajah Leon.


Apalagi jika mengingat kembali sikap Leon malam itu yang membuatnya terus mengingatnya.


Membuat Anggun enggan untuk menatap langsung Leon saat ini.


Namun berbeda dengan Leon yang nampak tersenyum, merasa lucu saat melihat sikap Anggun saat ini.


Leon tahu jika Anggun sedang berusaha menghindari kontak langsung darinya. Tapi hal itu malah membuat Leon merasa gemas sendiri.


Takut akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan jika berlama-lama berdekatan dengan Anggun, Leon pun perlahan menarik tangannya dari dinding yang sedikit menghimpit tubuh Anggun.


Dan tepat saat anak perempuannya kembali untuk mengajak mereka berkeliling ruangan.


“Ayah… ibu… Apa yang kalian lakukan?” tanya Juni saat melihat kedua orang tuanya dalam posisi yang begitu dekat.


Membuat Anggun dan Leon seketika itu pun merasa salah tingkah dan malu kepergok anaknya sendiri. Meski pun sebenarnya mereka tidak melakukan sesuatu yang intim.


“Tit… tidak sayang. Kami tidak melakukan apapun” ucap Leon cepat-cepat, meski sedikit terbata-bata.


Dia pun segera menghampiri anak perempuannya itu dan segera membawanya untuk berkeliling rumah.


Sementara Anggun masih berusaha menetralkan perasaannya.

__ADS_1


“Ya Tuhan… kenapa aku mendadak gugup begini. Pada hal tadi kami tidak melakukan apapun. Tapi kenapa perasaan kaya habis kepergok ngapain aja” ucap Anggun bingung sendiri.


__ADS_2