Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh

Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh
Siapa Kau?!


__ADS_3

Sementara itu, di kantor Leon sedang memeriksa sesuatu di dalam leptopnya. Dia nampak serius membaca berkas-berkas yang masuk ke dalam emailnya.


Semakin dia membacanya semakin raut wajahnya menunjukkan keterkejutannya dan ketidak percayaannya.


Raut wajahnya juga memperlihatkan kekesalannya. Entah apa yang tengah dia baca dan dia lihat hingga membuat raut wajahnya seolah sedang menahan marah dan kekesalan.


Tangannya pun nampak terlihat sedang ia kepalkan dengan keras hingga tiba-tiba dia menggebrak meja kantornya sendiri hingga membuat orang yang hendak masuk ke ruangannya tersebut tiba-tiba kaget dan sedikit ketakutan.


Leon segera melihat ke arah pintu masuk kantornya. Dia melihat asisten pribadinya lah yang hendak masuk.


Kemudian Leon segera menyuruhnya untuk menyiapkan mobil.


“Cepat segera siapkan mobil. Kita akan ke suatu tempat sekarang!” perintah Leon pada asisten pribadinya tersebut.


“Dan satu lagi, batalkan jadwal meeting apapun hari ini!” lanjut Leon berbicara, membuat asistennya tersebut segera berbalik kembali saat dirinya hendak melaksanakan tugas yang di berikan tuannya.


“Baik, tuan”


“Apa ada yang lainnya lagi, tuan?” tanya asistennya tersebut memastikan, supaya dirinya tidak lagi harus bulak balik menerima perintah tuannya.


Kemudian dia pun segera pergi setelah melihat tatapan tajam tuannya, dia pun paham dan segera berlalu tanpa harus mendengar ucapan tuannya itu.


Mobil pun sudah siap, dan Leon langsung masuk ke dalam mobil mewahnya tersebut.


Mereka segera melajukan mobilnya dan menuju ke tempat tujuan Leon.


Sementara itu di sekolah, si kembar sudah berada di luar ruangan. Mereka nampak terlihat cemas, takut terjadi sesuatu pada ibu mereka yang masih berada di dalam ruangan bersama Jeng Kellin dan guru lainnya.


Sementara itu, beberapa wali murid yang melihat si kembar nampak saling berbisik membicarakan mereka dengan raut wajah yang seolah menunjukkan ketidak sukaan mereka pada si kembar akibat apa yang tadi terjadi.


Mereka berpikir apa yang di katakan Jeng Kellin dan gosif yang selama ini beredar adalah benar adanya.


Sehingga membuat beberapa para wali murid merasa takut jika anak-anak mereka dapat bersikap kasar dan brutal seperti Juna, jika masih bersekolah di tempat yang sama dengannya.


Hingga membuat mereka hendak protes dan ikut-ikutan meminta pihak sekolah untuk segera mengeluarkan Juna dari sekolah tersebut.


Melihat tatapan para orang tua yang memandang jijik pada mereka, membuat Juni kembali merasa takut dan tidak nyaman.


Dia segera memeluk tubuh Juna untuk mencari perlindungan dari tatapan sinis para orang tua tersebut.


Sementara Juna nampak tidak terpengaruh dan tidak terlihat ada sedikit pun rasa takut yang nampak di wajahnya.


“Kak, Jun. Kenapa ibu lama sekali di dalam?” tanya Juni sambil tetap memeluk tangan Juna sebagai tempat pelindungnya.


“Kamu tenang saja. Mama akan segera keluar dan membawa kita untuk segera pulang” ucap Juna mencoba menenangkan perasaan adiknya tersebut.

__ADS_1


Meskipun sebenarnya Juna pun merasa sedikit khawatir jika maminya tersebut di tindas oleh mereka yang berada di dalam ruangan tersebut, apalagi jika ada Jeng Kellin yang menyebalkan itu di dalamnya.


Sebenarnya Juna sendiri tidak takut jika dirinya harus ke luar dari sekolah tersebut. Yang penting maminya baik-baik saja.


Sementara itu di dalam ruangan.


“Pokoknya saya tidak mau tahu, anak itu harus segera di keluarkan dari sekolah ini!” ucap Jeng Kellin masih dengan pendiriannya.


“Tolong beri kesempatan anak saya, pak. Saya janji, anak saya tidak akan melakukan hal itu lagi” ucap Anggun mencoba membujuk kepala sekolah, meskipun dari tadi Jeng Kellin terus nyerocos dengan keputusannya walaupun dari tadi Anggun pun sudah berusaha meminta maaf padanya.


Dan kini dia mencoba untuk membujuk pihak sekolah.


Namun sepertinya pihak sekolah lebih mendukung keputusan Jeng Kellin. Mereka lebih memilih pada orang yang lebih punya kuasa dan punya pengaruh di sekolah tersebut.


Meskipun sebenarnya mereka kurang setuju dengan keputusan Jeng Kellin tersebut.


Selain itu, mereka sedikit banyak sudah tahu dengan sikap dan perilaku Zayen yang selalu usil dan berbuat ulah. Tapi karena keluarganya punya pengaruh yang cukup besar, membuat pihak sekolah tidak dapat berbuat apa-apa terhadapnya.


Bahkan pernah ada seorang guru yang cukup berani menegur Zayen dan mengatakan pada Jeng Kellin tentang sikap dan prilaku anaknya tersebut. Namun beberapa hari kemudian ujung-ujungnya guru tersebut yang harus di keluarkan tanpa terhormat. Pada hal guru tersebut pun menegurnya dengan halus tapi mereka seolah tidak terima.


Itu sebabnya pihak sekolah terkesan lebih mendukung Jeng Kellin dibanding orang tua murid lainnya.


Sementara itu, Anggun pun terpaksa harus menerima keputusan sekolah tersebut, yang mana anak-anaknya harus menerima untuk di keluarkan.


Sementara itu beberapa orang tua murid yang sudah menunggu kepulangan anak-anaknya mulai bergosip tentang Anggun dan anak-anaknya.


Mereka mulai menatap Anggun dengan jengah dan jijik.


“Mi, bagaimana?. Apa kita akan di keluarkan?” tanya Juna saat ibunya mensejajarkan tubuhnya dengan mereka.


Anggun nampak terlihat sedih, tapi dia buru-buru bersikap tegar di depan anak-anaknya.


“Ibu kenapa sedih?. Apa kita benal-benal di kelualkan?” tanya Juni ikut berbicara.


Namun Anggun tidak langsung menjawab mereka, dia lebih memilih untuk memeluk anak-anaknya dan mencoba terus berusaha tegar di hadapan mereka, meskipun air matanya tetap terjatuh di balik punggung anak-anaknya tersebut.


“Nggak papa, sayang. Nanti kita cari sekolah lagi, ya. Dan nanti kalian juga pasti akan dapet temen-temen baru lagi yang banyak” ucap Anggun setelah melerai pelukannya dan menatap si kembar satu persatu dengan senyuman yang ia tampakkan.


Mencoba membesarkan hati mereka meskipun harus di keluarkan dari sekolah tersebut.


“Sekarang lebih baik kita pulang, ya” ucap Anggun dan mereka pun mengerti yang di angguki kepala mereka masing-masing.


Jeng Kellin yang melihat hasilnya pun merasa puas dan sambil tersenyum jahat dia terus menatap Anggun dan anak-anaknya untuk pergi.


Namun saat Anggun dan anak-anaknya hendak pergi, Zayen yang memang usil adanya sengaja menjegal kaki Juni hingga terjatuh. Bahkan dia berani melakukan hal tersebut di depan Anggun langsung.

__ADS_1


Juni yang jatuh pun langsung menangis hingga membuat hidungnya tiba-tiba mengeluarkan darah segar.


Anggun yang melihat hal tersebut tentu saja syok dan merasa khawatir. Dia segera menghampiri Juni dan memeriksanya sejenak.


Sementara Juna yang ikut melihatnya pun merasa marah dan tidak terima adiknya di perlakukan seperti itu.


Sesaat setelah Juna melihat keadaan adiknya tersebut, dengan raut wajah marah dan sorot mata yang tajam, Juna segera menghmpiri Zayen dan kembali memukulnya hingga kali ini membuat hidung Zayen juga mengeluarkan darah.


Zayen pun langsung menangis dan memanggil-manggil ibunya.


Sontak Jeng Kellin pun tak menyangka jika Juna berani memukul anaknya lagi.


Dia segera menghampiri anaknya tersebut dengan histeris hingga membuat orang-orang kembali melihat drama tersebut.


Melihat hidung anaknya berdarah, tentu Jeng Kellin tidak bisa diam begitu saja.


“Sayang… anakku. Hidung mu berdarah, nak” ucap Jeng Kellin melihat ke adaan anaknya tersebut.


“Akhhhh ….” teriak Jeng Kellin tidak terima dengan keadaan anaknya tersebut.


“Dasar anak haram, anak tidak tahu diri, anak kurang ajar. Beraninya kamu memukul anakku hingga berdarah!!” teriak Jeng Kellin sambil berjalan dan menatap Juna, hingga Juna pun perlahan mundur.


Anggun yang melihat anak laki-lakinya terintimidasi dan di perlakukan seperti itu di depan matanya, dia hendak bangun namun Juni tiba-tiba pingsan di pelukannya.


Sementara itu, Jeng Kellin dengan wajah berang dan amarahnya dia hendak menampar Juna dengan sangat keras.


Namun saat tangannya hendak menempel di pipi Juna, tiba-tiba ada sebuah tangan yang berhasil menahan tangan Jeng Kellin.


Juna nampak menutup matanya saat dia bersiap untuk menerima tamparan yang akan di terimanya.


Namun setelah beberapa saat menunggu, Juna tidak merasakan apa-apa, hingga membuatnya penasaran dan perlahan mencoba mengintip untuk membuka matanya.


Juna pun sedikit kaget, karena dia melihat tangan Jeng Kellin sudah di tahan oleh tangan orang lain.


Matanya pun beralih untuk melihat siapa orang yang telah menahan tangan Jeng Kellin hingga tak jadi menampar dirinya.


Juna pun sedikit terperangah saat mendapati matanya melihat sosok orang yang pernah di temuinya di suatu tempat.


Begitupun dengan Anggun yang sempat memejamkan matanya karena tidak mampu melihat anaknya sendiri hendak di kasari oleh orang lain.


Sambil tetap mendekap anak perempuannya, Anggun berusaha untuk membuka matanya mencoba memastikan keadaan, karena dia tidak mendengar tamparan yang hendak di layangkan kepada anak laki-lakinya tersebut.


Dengan perasaan khawatir dan mata sembab, Anggun pun perlahan membuka matanya. Dia pun sama terkejutnya seperti Juna, tapi yang lebih Anggun tidak sangka, dari mana orang tersebut tahu tentang keberadaan dia dan anak-anaknya. Ataukah mungkin hanya sebuah kebetulan belakang.


“Kurang ajar, siapa kau?. Beraninya menghalangiku untuk memberi pelajaran anak ini!“ pekik Jeng Kellin merasa kesal karena ada orang yang berani menghalang-halangi niatnya.

__ADS_1


__ADS_2