Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh

Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh
Menyadari Sesuatu


__ADS_3

Singkat cerita Anggun sudah di terima bekerja sebagai sopir tuan muda Leon.


Meskipun pada awalnya Anggun merasa terkejut dengan kenyataan bahwa rumah yang di datanginya dan orang yang akan menjadi majikannya adalah rumah mertua dan suami yang telah mengusirnya dulu.


Dan setelah mengetahui hal tersebut dia sempat ingin membatalkan niatnya untuk menerima pekerjaan tersebut.


Tapi saat teringat putri bungsunya mengalami kecelakaan saat sampai di kota tujuan. Anggun pun mengurungkan niatnya dan kembali harus menahan kepedihannya.


Bagaimana tidak, baru sampai di kota tujuan harus mengalami musibah, si bungsu harus mendapatkan pertolongan dengan segera. Juni tertabrak lari oleh pengendara motor yang ugal-ugalan.


Selama beberapa hari Anggun harus merawat dan menemani anaknya tersebut. Sementara biaya begitu besar dan tempat tinggal belum punya dan masih beruntung dapat tinggal di tempat anaknya bi Asri.


Dan pekerjaan yang tadinya di tuju hampir tidak bisa dia lanjutkan, beruntung nyonya Murni masih belum juga mendapatkan pengganti sopir untuk anaknya.


Sementara Bi Asri sudah lebih dulu bekerja dua hari setelah mendapatkan musibah tersebut. Bagaiman pun Anggun akan tetap membutuhkan bantuan biaya, itu sebabnya Bi Asri memilih untuk lebih dulu bekerja, untuk membantu kebutuhan Anggun dan anaknya nanti, pikir bi Asri.


Dan setelah beberapa hari dalam kesedihannya, Anggun baru menyadari dan harus bangkit demi memberi kebutuhan untuk anak-anaknya.


“Bi, sepertinya aku harus mulai bekerja lagi, aku tidak mau terus-terusan merepotkan kalian” ucap Anggun saat bi Asri dan menantunya sedang mengunjungi ruangan rawat milik putrinya.


“Apa kamu yakin, Gun?” tanya bi Asri meyakinkan, melihat Anggun yang masih nampak bersedih dengan keadaan anaknya tersebut.


“Kalau kamu masih belum bisa, jangan dulu. Kamu jangan terlalu memikirkan biayanya. Bibi akan bantu semampu bibi” ucap bi Asri berniat mengurangi beban pikiran Anggun.


“Gak papa, bi. Aku bisa” ucap Anggun menanggapi.


“Bagaimana pun juga ini tanggung jawab aku, bi. Lagi pula biayanya sangat besar. Jadi aku tidak mungkin terus-terusan membebani Bibi dan keluarga” ucap Anggun dengan sedikit terisak-isak di samping tempat tidur anaknya tersebut.


“Maafkan saya ya Bi Asri. Selama ini saya dan anak-anak selalu merepotkan dan menjadi beban” lanjut Anggun tambah menangis saat mengenang setiap kebaikan bi Asri padanya.


“Kamu bicara apa sih, Gun. Bibi ikhlas dan senang bantu kamu. Kalian tidak pernah menjadi beban bibi. Kalian adalah keluarga bibi, jadi jangan pernah bicara seperti itu lagi” ucap bi Asri sungguh-sungguh dan ikut meneteskan air mata, merasa ikut bersedih.


“Makasih ya, bi” ucap Anggun pada bi Asri.


“Makasih juga, Nina” lanjut Anggun berterima kasih pada menantunya bi Asri.


“O iya, bi. Apa… kira-kira aku masih bisa keterima bekerja sebagai sopir di tempat bibi bekerja?” lanjut Anggun mulai bertanya mengenai pekerjaan yang waktu itu di tawarkan. Masih berharap pekerjaan tersebut belum ada yang mengisi.


“Sepertinya belum, Gun. Soalnya tadi pas Bibi izin mau jengung anak kamu, nyonya sekalian nanya, katanya kamu masih berminat tidak jadi sopir anaknya” ucap bi Asri memberitahu.

__ADS_1


“Benarkah, bi?. Berarti masih ada harapan aku bisa bekerja di sana” ucap Anggun, nampak senang masih ada harapan untuknya bekerja.


“Tapi Gun, bibi sedikit ragu. Sepertinya yang mereka butuhkan sopir laki-laki” ucap Bi Asri ragu-ragu, takut mengecewakan nantinya.


“Gak apa-apa, bi. Tapi.. bibi belum bilang kan kalau aku bukan laki-laki” ucap Anggun dan bertanya.


“Bibi belum bilang kalau yang mau jadi sopir pribadi itu perempuan, kamu” ucap bi Asri memberitahu.


“Kalau begitu bibi jangan bilang kalau Anggun ini perempuan” pinta Anggun pada Bi Asri.


“Loh kok gitu?. Bibi gak ngerti maksud kamu gimana” ucap Bi Asri belum paham.


“Bibi tenang saja. Nanti bibi akan tahu sendiri” ucap Anggun dengan ide gila di benaknya, tanpa memberitahu terlebih dahulu bi Asri.


Keesokan paginya, Anggun bersama bi Asri yang di beri izin untuk menginap segera berangkat menuju kediaman calon majikannya.


Tapi sebelum itu, bi Asri di buat terkejut oleh penampilan Anggun yang nampak seperti anak laki-laki dewasa.


“Heeh… siapa kamu. Kenapa bisa masuk ruangan ini?” ucap bi Asri saat melihat seseorang yang tidak di kenalnya.


“Te…tenang, bi. I..ini aku. Anggun” ucap Anggun terbata-bata sambil melepaskan wix yang memperlihatkannya seperti laki-laki.


“Kamu kenapa berpenampilan seperti laki-laki begini?” tanya Bi Asri merasa bingung dengan kelakukan Anggun saat ini.


“Heee… pelan-pelan, bi. Nanti Juni kebangun” ucap Anggun sambil menunjukkan gigi putihnya sedikit cengengesan, seraya bisik-bisik dan mengingatkan, bahwa mereka sedang berada di ruangan rumah sakit.


“Maaf, bi Asri… Bagaimana, apa aku sudah terlihat seperti laki-laki?” lanjut Anggun meminta maaf telah membuat bi Asri merasa kaget salah paham dan mulai bertanya dengan penampilannya kini.


“Maksud kamu bagaimana apanya. Bibi masih belum mengerti kenapa kamu berpenampilan seperti ini” ucap Bi Asri terus terang.


“Bibi ini gimana sih. Anggun kan mau kerja jadi sopir pribadi bosnya bi Asri. Katanya mereka membutuhkan sopir pribadi laki-laki. Jadi Anggun pikir dari pada Anggun gak dapet kerjaan dalam waktu dekat, lebih baik Anggun ubah penampilan Anggun dulu untuk sementara waktu” ucap Anggun pada Bi Asri.


“Ya Tuhan…, Anggun. Jadi maksud kamu ini” ucap Bi Asri semakin terkejut dengan ide gilanya tersebut.


“Tapi… Apa ini tidak termasuk penipuan, Gun?” tanya bi Asri ragu-ragu merasa khawatir, takutnya terjadi suatu masalah kedepannya.


“Enggak, bi. Bibi gak usah khawatir, ini semua tanggung jawab Anggun kalau kedepannya ada apa-apa. Yang penting Bi Asri nanti bantuin Anggun buat ngeyakinin mereka kalau Anggun ini laki-laki. Tolong ya, Bi” ucap Anggun dan berusaha meyakinkan.


“Ya sudahlah kalau begitu, terserah kamu saja” ucap Bi Asri pasrah.

__ADS_1


“Makasih ya, bi” ucap Anggun berterimakasih sambil memeluknya merasa senang.


Beberapa menit kemudian, mereka pun bersiap-siap untuk pergi ke rumah majikan bi Asri setelah Anggun menitipkan anaknya pada Nina.


Mereka pergi dengan taxi, di tengah perjalanan Anggun mulai ketiduran setelah semalaman menjaga anak bungsunya di rumah sakit.


Dan sesampainya di depan rumah kediaman Adinata, Anggun belum menyadari tempat tersebut. Hingga bi Asri membangunkannya dari tidur dan mengajaknya keluar dari dalam taxi, matanya mulai mengedarkan pandangan.


Membuatnya perlahan-lahan mengingat sesuatu. Dan tiba-tiba memori di masa lalunya mulai berdatangan.


Langkah Anggun mulai terhenti dan mematung. Matanya seolah terkena debu yang membuatnya ingin menangis.


Bi Asri yang melihat Anggun masih berdiri di belakangnya merasa heran dan segera menghampirinya kembali.


“Gun, kenapa masih berdiri saja?. Ayo masuk nanti bibi kenalin sama nyonya” ucap Bi Asri membuat Anggun sedikit tersentak.


“Emhh.. bi sepertinya… Aku .. a..aku” ucap Anggun tiba-tiba merasa sulit berkata-kata dan berniat untuk mundur dan pulang kembali.


Tapi tiba-tiba ingatan mengenai musibah anaknya kembali menghentikan langkah mundurnya.


“Kamu kenapa, Gun. Kenapa kamu kelihatan sedih begitu?” tanya Bi Asri yang melihat raut wajah dan gelagat Anggun yang aneh.


“Bagaimana ini. Kenapa tempat ini sama persis dengan tempat tinggal masa lalu ku?!” tanya Anggun dalam benaknya sendiri tanpa sadar ada bi Asri di depannya.


“Ya Tuhan… kenapa Engkau membawaku ke tempat masa lalu yang ingin aku hapus selamanya?” lanjut Anggun masih dengan pikirannya sendiri.


“Gun.. Anggun” ucap Bi Asri sambil menepuk bahu Anggun yang tidak mendapat jawaban.


“I.. iya. Ada apa, bi” ucap Anggun kaget.


“Kamu kenapa, kok malah melamun”


“Ti..tidak, bi. A..aku hanya teringat anak-anak saja”


“Oh.. kirain apa. Kamu tenang saja, itu wajar. Namanya juga harus ninggalin anak. Kamu yang sabar, ya. Anak kamu pasti sembuh” ucap Bi Asri mencoba memberi semangat pada Anggun yang di kiranya sedang bersedih karena hal tersebut yang di bilang Anggun.


“Ya sudah kalau begitu. Ayo ikuti bibi, kita masuk” lanjut Bi Asri seraya menarik tangan Anggun supaya mengikutinya.


“Tut.. tunggu, bi” ucap Anggun hendak ingin menolak langkahnya.

__ADS_1


Anggun masih berharap bahwa pemilik rumah tersebut bukan orang yang ada dalam pikirannya, yaitu orang-orang dari masa lalunya.


__ADS_2