
Sementara itu Leon pun tengah merutuki ke bodohannya. Pada hal dia sudah berjanji untuk menarik hati Anggun secara perlahan dan santai.
Tapi apa yang di lakukannya kali ini malah membuat Anggun semakin membencinya dan akan terus menjauh darinya.
Betapa bodohnya Leon, niatnya yang hanya ingin menakut-nakuti dan mengerjai Anggun malah membuatnya semakin membenci.
Tapi bagaimana tidak, setiap kali dirinya dekat dengan Anggun justru jiwa kelaki-lakiannya yang lebih dominan hingga membuat otak dan pikirannya di sampingkan.
Dan sekarang dia harus lebih ekstra untuk menahan diri supaya tidak lagi tergoda oleh Anggun, meskipun dari awal Anggun sama sekali tidak menggoda dirinya.
Tapi yang jelas saat ini dia harus berusaha membuat Anggun terkesan dan kembali mencintai dirinya seperti dulu.
Setelah beberapa lama, Anggun pun kembali ke ruangan anaknya. Rupanya di sana masih ada Leon yang masih setia menunggu anaknya atau mungkin menunggu Anggun datang.
Melihat Leon yang masih berada di ruangan yang sama, membuat Anggun teringat kembali saat tadi di mana dirinya seolah di perlakukan tidak baik.
Anggun mulai berpura-pura tidak melihatnya, dan dia hendak ingin keluar kembali, tidak ingin hal tadi terulang kembali.
Dan Leon yang menyadari hal tersebut, segera ia berdiri dan sedikit berlari untuk menghampiri Anggun.
Dia tahu Anggun sedikit trauma dan tidak menginginkan dirinya satu ruangan.
“Tut..tunggu, Anggun” ucap Leon yang hendak berteriak namun segera berlari dan menghampiri Anggun, takut suaranya akan membangunkan anak-anaknya.
“Tunggu, jangan keluar lagi. Aku mohon. Aku minta maaf, aku tadi khilaf” lanjutnya dan sedikit memohon. Bahkan ia tidak berani menatap langsung Anggun, takut dia akan khilaf lagi.
“Ku mohon tetap di sini. Biar aku yang akan ke luar” pinta Leon, meski Anggun seolah tak menghiraukannya dan tak berkata satu patah pun.
Mungkin Anggun sudah benar-benar lelah saat ini dan masa bodo dengan apa yang di katakan Leon ataupun yang akan di lakukannya.
Terlihat dari caranya bersikap seolah dia tidak ingin melihat ataupun menatap Leon langsung, Anggun lebih banyak menghindari tatapannya dari Leon.
Berbeda dengan Leon, dia tidak ingin melihat Anggun hanya untuk menjaga pandangannya, meskipun Leon masih nampak mencuri pandang pada wanita yang saat ini di hadapannya.
Leon mengerti dengan sikap Anggun yang saat ini terkesan acuh dan masa bodo, hingga apapun yang di ucapkan Leon padanya tidak ada bantahan ataupun sekedar mengatakan ‘ya’.
Akhirnya Leon pun perlahan pergi, saat Anggun mulai memberi jalan untuk keluar dari ruangan tersebut.
__ADS_1
Dan dengan terpaksa Leon pun segera keluar meski dengan langkah sedikit berat. Apalagi dia masih belum mendengar kata maaf ataupun sedikit omelan yang akan dia terima.
Pintu ruangan pun sudah tertutup, kini Anggun mulai mengoceh merasa kesal. Dia pikir dari tadi Leon sudah pergi dan meninggalkan rumah sakit.
Namun rupanya dia masih menunggu dan membuat Anggun harus lagi-lagi melihat wajah laki-laki kurang ajar tersebut.
“Dasar laki-laki kurang ajar, bukannya cepat pergi, dia malah sengaja menampakkan wajahnya, membuat ku kesal saja” ucap Anggun pelan, sambil menaru barang bawaannya di atas nakas.
“Apa dia sengaja membuatku teringat kembali kejadian itu, dan berharap aku memaafkannya, begitu?!” lanjutnya mengoceh, meski dengan suara yang di buat pelan sebisa mungkin. Agar anaknya tidak terbangun akibat ocehannya sendiri.
Sementara itu, dengan langkah beratnya Leon mencari tempat duduk yang ada di rumah sakit tersebut.
Rupanya dia tidak ingin pulang, dia ingin menunggu anak-anaknya hingga besok.
Tidak perduli jika dirinya harus tidur di tempat itu, tanpa ranjang besar, tanpa kasur empuk ataupun tanpa bantal, guling empuk dan lembutnya.
Ini kali pertama Leon harus tidur mangut-mangut atau dia harus menelentangkan tubuhnya di atas kursi yang tersedia di tempat tersebut.
Asisten pribadi yang melihat hal tersebut sedikit tak tega melihat bosnya itu harus tidur tak nyaman seperti saat ini.
Namun rupanya tak di sangka-sangka, bosnya tersebut memiliki sifat lainnya yang seperti saat ini.
Hingga akhirnya dia pun menemui bosnya dan bermaksud untuk mengajaknya pulang.
Tapi dengan santainya Leon menolak dan menyuruh asprinya tersebut untuk pulang lebih dulu.
“Aku akan menginap di sini. Lebih baik kau pulang lebih dulu. Besok seperinya aku akan telat masuk kantor dan aku harap kau bisa menggantikan tugas ku sementara” ucap Leon pada asisten pribadinya.
“Baik, tuan. Kalau begitu saya pamit” ucap aspri tersebut.
Sebenarnya dia ingin bertanya kenapa tuannya harus tidur di luar. Pada hal dia tahu bahwa tuannya sudah memesan tempat vvip di rumah sakit tersebut dan seharusnya dia dapat tidur di tempat itu juga dengan nyaman.
Tapi karena dia tidak punya nyali dan sudah tahu dengan sikap bosnya tersebut, dia pun urung dan lebih memilih pergi.
Ke esokkan paginya, Anggun sudah bangun lebih dulu.
Dia hendak keluar untuk membeli sarapan pagi. Tapi saat dia melewati suatu tempat, tanpa sengaja melihat seseorang yang masih tengah tertidur dengan tidak nyamannya di suatu kursi panjang, terlihat dari tubuhnya yang terus bergerak merubah posisinya.
__ADS_1
Dan saat orang tersebut berbalik ke arahnya, tanpa di sangka orang itu ternyata Leon.
“Dia?!” pekik Anggun sedikit tak percaya dengan apa yang di lihatnya.
“Apa dari semalam dia tidur di kursi itu?” lanjutnya bertanya-tanya, dia tidak yakin jika Leon sampai menginap dan tidur di atas kursi rumah sakit.
Karena yang Anggun tahu orang seperti Leon tidak mungkin melakukan hal tersebut, dia bisa saja tidur di hotel terdekat atau bahkan pulang lebih dulu, lalu kemudian dia datang dan berpura-pura tidur di tempat itu untuk mendapatkan simpatinya, pikir Anggun ngasal.
Dan saat dirinya hendak pergi dan hendak memilih untuk mengabaikan Leon, tiba-tiba dia melihat tubuh Leon yang hendak terjatuh berguling.
Anggun pun segera berlari, beruntung kepala Leon masih dapat Anggun tahan untuk tidak membentur lantai meski sebagian tubuh Leon tak dapat di tahannya.
Entah apa yang membuat Anggun tiba-tiba sigap dan memilih untuk membantunya, pada hal awalnya dia hendak pergi dan mengabaikan Leon.
Tapi kini kepala Leon sudah berada di pangkuannya.
Anggun sedikit bernafas lega, karena kepala Leon tidak terbentur ke dinding lantai.
Dan di saat dirinya bernafas lega, tiba-tiba Leon pun membuka matanya tepat di saat Anggun memastikan dan menatap wajah Leon langsung.
Untuk beberapa saat situasi tersebut membuat mereka saling berpandangan. Seolah waktu memberi mereka efek slow motion, hingga membuat mereka nampak terlihat romantis dan berkesan.
Namun rupanya hal tersebut tidak berlangsung lama, Anggun yang tersadar segera melepaskan tangannya dan membuat kepala Leon benar-benar membentur kerasnya dinding lantai.
“Aww… sakit” keluh Leon sedikit merintih saat kepalanya membentur dinding sambil mengusap-usap kepalanya yang masih terasa sakit.
Sementara Anggun sudah tak perduli lagi, dia lebih memilih meninggalkan Leon di tempat.
Dengan perasaan acuh tak acuh, dan sedikit ngedumel.
“Haduuh… ngapain aku membantunya segala. Dia pasti cuma pura-pura, dan mencoba mengambil kesempatan” ucap Anggun, tiba-tiba merasa menyesal sudah membantunya.
Sepertinya Anggun masih merasa gengsi bahwa dia masih perduli dengan Leon, tapi entah apa yang membuatnya tidak ingin Leon menyadari hal tersebut begitupun dengan dirinya sendiri.
Sementara itu, Leon nampak bangkit dan mulai berlari hendak mendekati Anggun yang sudah meninggalkannya di tempat.
“Tunggu!. Kau mau pergi kemana?” ucap Leon sedikit berteriak sambil berusaha untuk mengejar langkahnya.
__ADS_1