
Kemudian dengan senang hati paruh baya tersebut memberikan alamatnya.
Dan tanpa berlama-lama lagi Anggun pun segera menuju alamat kantor taxi online tersebut.
Tapi sebelum itu terlebih dahulu Anggun menghabiskan ketupat pesanannya yang dari tadi dia pesan.
Tidak lupa pula dia kembali berterima kasih lagi pada orang yang telah memberinya ide untuk mencoba melamar di tempat itu. Meskipun sebelumnya paru baya tersebut tidak bermaksud untuk menyuruh Anggun mencoba melamar di kantor tempatnya setoran tersebut.
Anggun pun segera beranjak dari duduknya dan langsung membayar apa yang telah ia makan dan orang yang telah memberinya ide tersebut.
“Kalau begitu, saya duluan ya pak. Permisi, assalamualaikum” ucap Anggun berpamitan setelah membayar makanannya.
“Iya neng, hati-hati” ucap pak Cipto.
“Hadeuuh.. malah dapet saingan lagi” lanjut pak Cipto berbicara setelah melihat Anggun cukup jauh dari pandangannya.
”Tapi gak apa-apalah. Sepertinya anak itu sangat membutuhkan pekerjaan. Mudah-mudahan dia dapat keterima” ucapnya berbicara sendiri.
“Bang… bayar bang. Berapa jadinya?” ucap Pak Cipto hendak membayar makanannya.
“Udah gak usah” ucap si Abang yang jualan.
“Kok gak usah, bang?. Baik bener.” ucap pak Cipto merasa bingung.
“Udah di bayar sama neng yang barusan ngobrol sama bapak” ujarnya memberitahu.
“Woalah… kok gak ngasih tahu, ya. Baik sekali neng itu” ucap pak Cipto tidak menyangka.
Sementara itu, Anggun nampak terlihat sudah menaiki angkot menuju tempat yang akan dia tuju.
Matanya sedikit berbinar, dia nampak sangat berharap jika lamaran kerjanya kali ini akan dapat di terima.
Anggun tidak perduli jika pekerjaannya nanti harus menjadikannya sopir kembali. Meskipun lamarannya kali ini juga belum tentu di terima.
Tapi dia tetap berharap dan terus berdoa semoga Tuhan kali ini memberikan jalan untuknya. Supaya dia dapat menafkahi anak-anaknya lagi dengan baik.
Di lain tempat, Leon sedang mengadakan meeting dengan klien pentingnya. Dia nampak terlihat serius saat ini. Namun entah bisnis apa yang sedang mereka bicarakan.
Leon di temani asisten pribadinya seperti biasa. Begitupun juga dengan kliennya yang nampak terlihat di temani seseorang.
Beberapa hari kemudian setelah Anggun berhasil di terima sebagai sopir taxi online, dia merasa sedikit lega karena masih dapat pekerjaan.
Apalagi setiap kali dia mendapat orderan perasaannya begitu senang dan antusias. Seolah wajah berserinya tidak menunjukan bahwa kehidupan yang ia jalani cukup sulit dan rumit.
__ADS_1
Orang-orang bahkan tidak menyangka bahwa ia adalah seorang wanita yang sudah memiliki dua anak sekaligus.
Bahkan baru beberapa hari saja Anggun sudah di lirik teman-teman yang seprofesi dengannya dan juga salah satu orang kantor yang merekrutnya diam-diam menyukai Anggun saat pertama kali melihatnya.
Dan mereka tidak menyangka jika wanita cantik dan terbilang masih muda seperti Anggun rela bekerja seperti mereka.
Pada hal pekerjaan tersebut tidak jarang harus bergelut dengan teriknya matahari dan juga harus panas-panas untuk mencari penumpang.
Tapi bagi Anggun hal itu bukanlah hambatan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan anak-anak tercintanya.
Dan saat ini Anggun sedang mengantar seorang wanita paru baya ke sebuah rumah sakit.
Wanita paru baya tersebut, nampak terdengar batuk-batuk yang terus berulang-ulang. Anggun yang melihat hal tersebut nampak khawatir dan takut terjadi sesuatu yang serius pada penumpangnya tersebut.
Bukan karena takut terkena virus yang sempat viral-viralnya, melainkan Anggun khawatir karena wanita paru baya itu hanya seorang diri tanpa di temani sanak saudaranya.
“Nyonya… Apa nyonya tidak apa-apa?” tanya Anggun sedikit perhatian.
“Tidak apa-apa, nak. Maaf jika saya membuat anda khawatir. Saya lupa bawa masker” ucap wanita paru baya tersebut merasa tidak enak hati, dia pikir Anggun bertanya seperti itu karena takut terkena suatu virus dari batuknya.
“Tidak apa-apa, Nyonya. Saya juga minta maaf. Tolong jangan salah paham. Saya hanya khawatir jika terjadi sesuatu yang serius pada anda. Tapi saya lihat anda hanya sendiri. Apa… keluarga anda tidak ada yang mengantar?” ucap Anggun panjang lebar menjelaskan dan bertanya, tapi tetap fokus pada jalanan di depannya.
“Saya hanya punya cucu. Tapi cucu saya sedang sibuk-sibuknya di kantor. Saya tidak ingin membuatnya khawatir apalagi harus merepotkannya. Jadi saya pergi sendiri” ucap wanita paru baya tersebut dengan di selangi batuk-batuk yang terdengar memilukan.
Dan wanita paru baya tersebut pasti bukan orang sembarangan. Dia bisa saja menyuruh dokter untuk datang ke rumahnya. Atau jika memang harus pergi ke rumah sakit, dia bisa saja di antar oleh sopir pribadi yang ada di rumahnya, pikir Anggun.
Tapi Anggun segera menepis pikiran tersebut dan kembali fokus pada jalanan.
Sesampainya di depan rumah sakit, Anggun segera menghentikan mobilnya dan dengan cepat segera keluar lebih dulu untuk membantu wanita paru baya itu keluar.
Meski bukan hal wajib untuk Anggun melakukannya.
Namun saat Anggun hendak membantunya keluar dari dalam mobil, tiba-tiba wanita paru baya tersebut batuk dengan tidak normal dan sesaat kemudian pingsan.
Beruntung saat itu Anggun dengan cepat menangkap tubuh wanita paru baya tersebut.
Dengan perasaan khawatir meski buka siapa-siapanya tapi sebagai manusia yang di beri akal dan perasaan membuat Anggun memilih untuk membantu wanita paru baya tersebut.
“Nyo..nyonya. Nyonya tidak apa-apa, kan?” ucap Anggun saat melihat wanita paru baya tersebut terlihat begitu pucat.
“Tot..tolong… tolong suster. Tolong bawa nyonya ini. Di..dia pingsan” ucap Anggun tersekat-sekat saat mendapati wanita paru baya itu tiba-tiba pingsan dan ia agak kesulitan untuk membawanya.
Beruntung ada suster yang sedang membawa ranjang rumah sakit untuk masuk ke dalam.
__ADS_1
Suster tersebut pun segera membantu Anggun dan mengangkat wanita paru baya itu di atas ranjang tersebut.
Anggun nampak sedikit panik dan khawatir sambil ia membantu suster mendorong ranjang rumah sakit itu untuk masuk lebih dalam.
Sesampainya di lobi rumah sakit, ada seorang dokter yang mengenali wanita paru baya tersebut.
“Nyonya Irma Sulaiman?” ucap seorang dokter yang bernama Dokter Ishan yang tertera di name tacknya.
“Dia kenapa, sus?” tanya pada suster yang berada di seberang Anggun.
“Saya belum tahu, dok. Tadi saat saya bawa ranjang ini tiba-tiba nyonya ini sudah pingsan” ucap suster tersebut.
“Lalu anda siapa?” tanya dokter Ishan saat melihat Anggun di samping pasien yang di kenalnya tersebut.
“Saya bukan siapa-siapa pasien ini, dok. Tapi saat saya bawa nyonya ini untuk ke rumah sakit, dari tadi beliau sudah batuk-batuk terus dan pas sampai depan rumah sakit tiba-tiba nyonya ini pingsan” ucap Anggun dengan perasaan paniknya.
“Tolong, dok. Lebih baik anda segera tangani beliau. Kasihan” lanjut Anggun saat melihat dokter tersebut masih di tempat dan juga dirinya yang tidak bisa berbuat apa-apa.
“Oh, iya. Segera bawa ke ruangan, sus” ucap Dokter Ishan saat menyadari ucapan Anggun.
Anggun pun tidak tinggal pergi, dia masih mengikuti suster dan dokter yang mendorong ranjang wanita paru baya itu yang bernama nyonya Irma Sulaiman menuju ruangan yang telah di siapkan.
“Maaf nona, cukup sampai di sini saja. Biar selebihnya kami yang akan menanganinya” ucap seorang suster yang hendak menutup pintu ruangan.
Anggun pun mengikuti apa yang di ucapkan suster tersebut. Dia hanya dapat berdiri di depan pintu ruangan itu.
Dia berharap penumpang yang baru saja menaiki taxinya tadi tidak terjadi hal-hal buruk padanya.
Hingga beberapa menit kemudian seorang Dokter keluar dari ruangan tersebut.
Anggun segera beranjak dari duduknya dan menghampiri dokter itu.
“Dok, bagaimana keadaan nyonya itu. Apa dia baik-baik saja” tanya Anggun memastikan sebelum ia benar-benar pergi dari rumah sakit tersebut.
“Alhamdulillah nyonya Irma baik-baik saja. Tidak perlu di khawatirkan lagi. Namun saat ini dia butuh istirahat cukup dan belum bisa di kunjungi” ucap Dokter tersebut memberitahu.
“Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu” ucap Anggun merasa lega.
“Maaf, ngomong-ngomong anda ini siapa. Kenapa anda bisa bersama nyonya Irma?” tanya Dokter Ishan memastikan siapa orang yang telah membawa pasien langganannya tersebut ke rumah sakit.
“Saya.. saya sopir taxi online, Dok” ucap Anggun sedikit memperlihatkan gigi putihnya.
“Kebetulan nyonya tadi order taxi saya” ucapnya basa basi, sesaat kemudian Anggun merasa sedikit kikuk. Dia pun memutuskan untuk segera pergi meninggalkan rumah sakit tersebut setelah mengetahui wanita paru baya yang di tolongnya tersebut sudah agak membaik.
__ADS_1
“Kalau begitu saya permisi pergi dulu” pamit Anggun.