
Di lain sisi ada seseorang yang rupanya sedang mengawasi mereka. Orang tersebut tidak menunjukan wajahnya, sambil menghubungi seseorang, entah siapa itu.
Sementara Leon dan Anggun tidak menyadari bahwa mereka sedang di awasi saat ini.
Mereka menuju ke sebuah restoran yang terdekat dari pantai tersebut.
“Sekarang kita akan pergi ke mana, tuan?” tanya Anggun seraya hendak mendorong kursi roda tuannya.
“Apa kau lapar?” tanya Leon pada Anggun.
“Tidak, tuan” ucap Anggun santai, tapi tiba-tiba terdengar suara gemuruh dari balik baju Anggun.
Membuatnya tiba-tiba harus menahan rasa malunya tersebut.
Anggun mengerjapkan matanya saat suara itu kembali terdengar di telinganya.
Sementara Leon mulai kembali tersenyum kecil saat mendengar suara di balik punggungnya tersebut.
“Kau yakin tidak lapar?” tanya Leon sedikit mengejeknya.
“Ti..” ucap Anggun hendak mengelak kembali. Tapi lagi-lagi suara di perutnya lebih dulu terdengar dan kembali menambah rasa malunya.
Beruntung Leon tidak melihat raut wajah Anggun yang saat ini seperti udang rebus yang memerah menahan rasa malu.
Anggun tidak berani lagi bersuara apalagi berkata tidak.
“Sudahlah, kita ke restoran terdekat yang ada di sini saja” ucap Leon tanpa mendengar jawaban dari Anggun.
Dan mau tidak mau Anggun pun perlahan mendorong kursi roda tuannya tersebut ke tempat yang di pintanya.
Sesampainya di sebuah restoran, Anggun hendak melangkah pergi meninggalkan tuannya tersebut. Namun tiba-tiba Leon menghentikannya.
“Tunggu!. Kau mau kemana?” ucap Leon menghentikan langkah kaki Anggun.
“Sa.. saya akan tunggu di luar, tuan” jawab Anggun.
“Memangnya siapa yang menyuruhmu untuk ke luar?” ucap Leon sinis, sengaja supaya Anggun tetap tinggal dan menemaninya makan.
“Tapi, tuan…” ucap Anggun hendak menolak.
“Duduk!” titah Leon tidak ingin di bantah.
Anggun pun terpaksa menuruti tuannya tersebut. Pada hal ia merasa tidak nyaman jika harus makan bersama orang yang kini berstatus bosnya tersebut. Apalagi di tempat yang saat ini mereka tempati.
__ADS_1
Beberapa orang bahkan sudah mulai memandang ke arahnya dengan tatapan aneh. Entah karena mereka mengira bosnya tersebut di kira manusia paling baik mengizinkan sopirnya untuk makan bersama bahkan di tempat yang tidak biasa.
Tapi yang jelas saat ini membuat Anggun benar-benar tidak nyaman.
Tapi dia juga sudah terlalu lapar, jadi untuk kali ini dia pun mengabaikan tatapan orang-orang tersebut dan melupakan rasa malunya.
“Pilih lah makanan yang kau suka” ucap Leon sambil menyodorkan menu makan pada Anggun.
“Kau bebas memilih apapun yang kau suka” lanjutnya pada Anggun.
Namun hal tersebut membuat Anggun merasa bingung, kenapa bosnya tersebut mendadak jadi bersikap baik padanya.
“Aneh sekali. Kenapa dia mendadak menjadi baik dan perhatian seperti ini pada ku?” tanya Anggun dalam hati sambil menatap Leon dengan rasa curiga tanpa Leon sadari.
“Apa dia mendadak menyukai ku sebagai…” lanjut Anggun dalam hati dan dengan pikiran liarnya, membuatnya tidak sanggup untuk melanjutkan kalimatnya tersebut. Berpikir hal tersebut tidak mungkin terjadi.
Namun mengingat jaman sekarang marak dengan hal-hal yang tidak normal dan sudah jelas-jelas di larang oleh agama tapi masih banyak manusia yang berusaha untuk menormalkan dan menghalalkan hal tersebut.
Dan hal itulah yang sempat terlintas di benak Anggun tentang tuannya tersebut.
“Tidak.. tidak… tidak” ucap Anggun dalam hati sambil menggelengkan kepala pelan.
“Bagaimana bisa aku berpikiran seperti itu. Mana mungkin. Dasar bodoh” lanjutnya dalam hati, mengumpat dirinya sendiri.
“Hey… apa kau baik-baik saja?” tanya Leon saat melihat Anggun yang tiba-tiba menggelengkan kepalanya tersebut.
“Bagaimana, apa kau sudah menemukan makanan kesukaan mu?” tanya Leon lagi, tanpa berniat mendengar jawaban dari Anggun sebelumnya.
“Saya ikut tuan saja” ucap Anggun sedikit malu-malu.
“Ikut ke toilet?!” canda Leon, garing.
Membuat Anggun yang mendengarnya bukannya terhibur malah melotot merasa bingung.
“Ma..maksud saya, ikut apa yang tuan pesan saja” ucap Anggun menjelaskan.
Walaupun sebenarnya Leon juga sudah mengerti. Tapi dia hanya ingin sedikit bermain kata-kata dengan Anggun. Tapi sepertinya hal itu tidak akan berhasil.
Anggun nampak terlihat tidak nyaman dan Leon menyadari hal tersebut.
Namun justru itulah yang membuat Leon betah menatap wajah Anggun yang di anggapnya lucu saat Anggun terlihat gelisah dan tidak nyaman seperti saat ini.
“Baiklah” ucap Leon mengiyakan.
__ADS_1
Kemudian ia memanggil pelayan untuk memesan dan membawakan makanan yang sama seperti yang ia pesan.
“Pelayan!” panggil Leon memanggil salah satu pelayan di restoran tersebut.
“Iya, tuan. Apa ada yang saya bantu?” ucap pelayan tersebut dengan sopan.
“Bawakan aku menu yang terbaik yang ada di restoran ini. Cepat dan jangan lama-lama, mengerti!” ucap Leon dan lebih terdengar memerintah.
Namun hal itu tidak membuat pelayan tersebut merasa tersinggung apalagi baperan, sudah menjadi pekerjaan dan makanannya sehari-hari.
Pelayan tersebut pun segera berbalik dan melangkah pergi untuk membawakan pesannya.
Sementara itu, Leon yang kembali mencuri pandang pada Anggun tiba-tiba membayangkan bahwa dirinya sedang makan malam romantis bersama dengan Anggun.
Dalam bayangannya tersebut, Anggun nampak cantik dan dengan gaun mewah yang ia kenakan menambah aura cantiknya tersebut.
Dengan suasana yang romantis seperti di film-film, Leon hendak mengajak Anggun dalam bayangannya tersebut untuk berdansa terlebih dahulu sebelum merekan melanjutkan makan malamnya.
Musik biola dan piano yang menyatu membuat keduanya nampak menikmati alunan musik tersebut.
Di dalam bayangannya tersebut, Anggun begitu cantik dan terlihat seperti kekasih sungguhan yang ia nanti-nanti selaman ini.
Dan di tengah kesibukan khayalan manisnya tersebut, Leon belum sadar bahwa para pelayan sedang membawa nampan dan membawakan pesannya di atas meja tempat duduknya tersebut.
Sementara itu di tempat yang berbeda, di kediaman Adinata, nyonya Murni nampak sedang menunggu seseorang. Hal tersebut dapat di lihat oleh tuan Michael.
“Mah… kenapa mudar mandir terus kaya setrikaan, sih?” ucap tuan Michael menyindir.
“Ih… papa apaan sih. Mama itu khawatir jam segini tapi Leon masih belum juga pulang” ucap nyonya Murni.
“Katanya tadi pamit bilangnya sebentar. Tapi sampai sekarang belum juga datang. Mama kan jadi khawatir pa.” Ucap nyonya Murni pada suaminya tersebut.
“Mama ini.. kirain ada paa?” ucap Tuan Michael.
“Biarin sih mah. Lagian kan dia juga nggak pergi sendirian. Masih ada yang ngawasin” lanjutnya.
Sementara itu di restoran, Anggun menatap Leon dengan bingung. Dia melihat Leon yang terlihat sedang memandanginya tanpa berkedip.
Anggun yang menyadari hal tersebut memeriksa keadaannya sendiri. Dia berpikir ada yang salah pada di dirinya sehingga membuat Leon terus menatapnya.
“Kenapa dia terus menatap ku?” tanya Anggun dalam hati dengan wajah bingungnya.
“Apa ada yang salah dengan ku?” lanjutnya sambil memeriksa keadaannya sendiri.
__ADS_1