Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh

Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh
Di Pecat


__ADS_3

“Kenapa suara anak kecil yang memanggilnya ibu terus saja terngiang-ngiang di kepalaku. Kalau seperti ini jadinya aku tidak bisa bekerja dengan tenang” lirih Leon sambil terus memijat keningnya yang terasa berdenyut karena tidak menemukan jawaban atas apa yang kini menjadi beban pikirannya tersebut.


“Hah… membuatku pusing saja” lanjutnya mengeluh.


“Tapi.. jika anak itu benar-benar anaknya. Aku… “ ucap Leon tampak kesal namun enggan untuk melanjutkan kata-katanya.


Sementara itu, Anggun masih nampak menunggu perintah tuannya.


“Oh iya, sebentar lagi waktunya makan siang. Pasti dia akan menyuruhku untuk membeli makan siangnya” ucap Anggun teringat akan hal tersebut.


“Tapi… udah jam segini, kenapa dia masih belum juga menghubungiku?” lanjut Anggun merasa sedikit bingung.


Karena biasanya bosnya tersebut selalu meminta Anggun yang membawakan makan siangnya.


Tapi kali ini Anggun tidak mendapat perintah untuk membawakan bosnya tersebut makan siang.


Dan biasanya juga Anggun terus mengeluh jika mendapatkan perintah untuk membawakannya makan siang.


Bagaimana Anggun tidak mengeluh dan kesal jika bosnya tersebut seringkali membuatnya harus bulak balik mengganti makanannya yang tidak sesuai sedikitpun dengan apa yang dia inginkan.


Entah itu hanya akal-akalannya atau memang Leon sengaja mengerjainya.


Tapi kali ini Leon sama sekali tidak menghubungi Anggun seperti biasa.


Harusnya Anggun merasa senang tapi entah mengapa hal tersebut membuatnya sedikit resah.


Hingga jam makan siang pun sudah terlewatkan. Tapi Leon sama sekali tidak menghubunginya.


Rupanya tanpa sadar Anggun mengkhawatirkan tuannya tersebut.


Dia ingin menelpon untuk menanyakan apa Leon sudah makan atau belum. Tapi tentu ia tidak berani melakukannya.


Hingga akhirnya dia hanya duduk di pantri sambil menunggu kepulangan bosnya tersebut.


Beberapa jam berlalu, sebagian karyawan sudah menyelesaikan tugasnya hari ini. Waktu pun sudah menunjukan jam pulang kantor.


Begitupun dengan Leon yang akan segera pulang. Namun rupanya dia kembali mengabaikan sopirnya tersebut.


Leon lebih memilih meminta asistennya untuk pergi ke suatu tempat.


Sementara Anggun di biarkan begitu saja tanpa memberi kabar kepadanya.


Tiba-tiba seorang OB membangunkan Anggun yang tengah ke tiduran di pantri.


“Mas… mas bangun. Jangan tidur jam segini tidak baik” ucap seorang ibu paru baya yang berseragam OB sambil membangunkannya.


Anggun pun sedikit terperanjat dan sedikit linglung karena terbangun di waktu yang tidak baik untuk tidur.

__ADS_1


“Jam berapa ini?” ucap Anggun lirih sedikit keleyengan.


“Ini sludah jam setengah 6 sore. Para karyawan udah pada pulang. Tuan Leon juga sudah pergi dari tadi” ucap OB tersebut yang sudah mengenal Anggun sebagai sopir pribadi pemilik perusahaan tersebut.


“Apa?” pekik Anggun sedikit tak percaya dengan apa yang di dengarnya.


“Tuan Leon sudah pergi dari tadi?” tanya nya memastikan.


“Iya. Tuan Leon sudah pergi dari tadi bersama asprinya” jawabnya.


“Tapi kenapa Tuan Leon tidak mengabari saya” ucap Anggun merasa bingung.


“Coba cek hp kamu. Mungkin tuan sempat menelpon, tapi kamu ketiduran” ucap OB tersebut, membuat Anggun segera mengecek handphonenya tersebut.


Kemudian OB itu pun segera melanjutkan pekerjaannya.


“Makasih, Mbo” ucap Anggun berterima kasih sambil mengecek hpnya, mencari notifikasi panggilan tak terjawab dari tuannya tersebut.


Tapi rupanya dia tidak menemukan notifikasi panggilan tak terjawab dari bosnya itu.


Anggun pun merasa bingung, kenapa tuannya sama sekali tidak menghubunginya.


Dia segera menelphone tuannya tersebut dengan perasaan khawatir Anggun terus menghubunginya. Tapi lagi-lagi panggilannya tidak terhubung.


Sementara itu, di sebuah club Leon nampak sedang memegang gelas yang berisikan minuman.


Namun pandangannya terus melihat ke arah hp tersebut. Entah apa yang tengah dipikirkannya saat ini. Seolah ia enggan untuk menerima panggilan tersebut. Tapi dia juga tidak ingin merijek panggilan tersebut. Membuatnya hanya memandang dengan senyum semiriknya.


Lalu ia kembali menegak gelas yang berisikan minuman beralkuhul tersebut.


Orang-orang nampak tidak menyadari bahwa itu adalah Leon Adinata pemilik perusahaan terbesar di kota tersebut dan juga club yang saat ini ia kunjungi.


Lampu remang-remang yang membuat orang-orang tidak begitu melihat dengan jelas satu sama lain.


Membuat seseorang yang sedang mabuk tanpa sengaja menyenggol Leon dan menumpahkan gelas yang sedang di dalam genggamannya mengotori pakaian Leon.


Namun Leon yang sedang dalam keadaan bad mood membuatnya gelap mata dan tanpa segan-segan menghajar orang tersebut.


Dia tidak perduli beberapa teman yang menyenggolnya turut ikut campur dan ikut membantunya.


Sementara Leon hanya sendiri, tapi dia dapat menumbangkan orang-orang tersebut dengan mudahnya.


Pada hal dia baru di nyatakan sembuh dari lumpuhnya setelah beberapa hari yang lalu.


Tapi kemampuan menendang dan berkelahinya seolah dia tidak pernah mengalami kelumpuhan sama sekali.


Membuat orang-orang yang mengeroyoknya kalang kabut dan hendak melarikan diri dari perkelahian tersebut.

__ADS_1


Mereka yang melihatnya masih belum menyadari bahwa laki-laki tersebut adalah Leon.


Meskipun dari mereka ada yang mengira itu adalah Leon. Namun pikiran tersebut mereka tepis karena mengira bahwa Leon masih di atas kursi rodanya yang masih lumpu tak berdaya.


Sementara itu, Anggun saat ini sudah berada di dalam mobil dan berniat untuk kembali ke kediaman Adinata.


Dengan perasaan cemas Anggun tetap mengendarai mobil tersebut.


Berharap tuannya tersebut sudah berada di kediamannya.


Tapi sesampainya di rumah itu Anggun tidak bertemu dengan Leon.


Dan nyonya Murni yang mendapati Anggun tidak datang dengan putranya, merasa heran dan juga khawatir.


“Angga… kenapa kamu datang sendirian?” tanya nyonya Murni pada Anggun yang di kenalnya dengan panggilan Angga.


“Ma..maaf nyonya. Me…memangnya tuan Leon belum pulang?” tanya Anggun balik dengan terbata-bata merasa sedikit takut.


“Apa maksud kamu?. Kenapa kamu bertanya seperti itu?” ucap nyonya Murni mulai tersulut emosi.


“Bukannya tugas kamu untuk menjaga anak saya. Kenapa kamu datang sendiri… dan dimana anak saya?” lanjut nyonya Murni tidak sabaran, merasa khawatir pada putranya tersebut yang tidak biasanya membuat sopirnya tersebut datang sendiri.


“Ma…maaf nyonya. Saya pikir Tuan Leon sudah pulang lebih dulu” ucap Anggun gelagapan dengan wajah tertunduk merasa bersalah.


“Apa kamu bilang. Pulang lebih dulu. Bagaimana bisa kamu membiarkan anak saya pulang sendiri” pekik nyonya Murni merasa marah saat mendengar sopirnya tersebut membiarkan putranya pergi entah kemana.


“Lalu sekarang dimana Leon?” tanya nyonya Murni belum merasa tenang.


“Ma..maaf nyonya. Saya tidak tahu tuan Leon ada di mana. Katanya tuan bersama tuan Dino asisten pribadinya” ucap Anggun dengan menundukkan kepalanya, tidak berani menatap langsung nyonya Murni.


“Apa kamu bilang” pekik nyonya Murni.


“Memangnya tadi kau kemana. Bisa-bisanya sampai tidak tahu Dino membawa Leon kemana?” lanjut nyonya Murni tidak habis pikir.


“Dasar tidak berguna. Aku membayar mu mahal itu untuk tetap stand by 24 jam memantau anakku. Tapi lihat sekarang, bisa-bisanya kau tidak tahu kemana Leon pergi” murka nyonya Murni tidak terima mengetahui sopirnya tersebut tidak tahu bahwa anak satu-satunya pergi entah kemana.


“Lebih baik kau tidak usah bekerja lagi di sini. Mulai hari ini kau, aku pecat” ucap nyonya Murni tak ada niatan memberi kesempatan pada Anggun untuk tetap bekerja pada anaknya.


“Di pecat?. Tapi, nyonya” ucap Anggun tak percaya.


“Nyonya saya mohon, tolong beri saya kesempatan, saya janji saya tidak akan ceroboh lagi, saya tidak akan melakukannya lagi. Tolong nyonya” ucap Anggun mencoba membujuk nyonya Murni.


Bagaimana pun Anggun masih membutuhkan pekerjaan itu, walaupun saat ini anak bungsunya sudah sembuh total. Tapi untuk kehidupannya sehari-hari tentu Anggun akan tetap membutuhkan biaya.


Apalagi tahun ini, Anggun berencana untuk memasukan anak-anaknya ke sekolah TK. Dan hal itu tentu akan memakan biaya.


Hal itulah yang membuatnya mencoba untuk meminta kesempatan pada nyonya Murni untuk tetap bekerja dengan Leon.

__ADS_1


Tapi apa daya, nyonya Murni sudah bulat dengan keputusannya tersebut.


__ADS_2