
Rupanya Jeng Kellin tidak menyadari siapa orang yang sedang menahan tangannya tersebut.
Mungkin karena orang tersebut memakai kaca mata dan wajahnya terus menatap ke arah Juna yang berada di bawah, sehingga membuat Jeng Kellin tidak dapat melihat wajah orang tersebut.
Sementara orang tersebut langsung menghempaskan tangannya dan tidak memperdulikan pertanyaan Jeng Kellin.
Dia lebih memilih mensejajarkan tubuhnya dengan Juna dan berbicara pada anak tersebut.
“Hay tampan…” ucap orang tersebut dengan coolnya sambil membuka kaca mata hitamnya dan tersenyum pada Juna.
“Apa kau baik-baik saja?” tanyanya pada Juna yang langsung di anggukinya.
“Bagus kalau begitu” ucap orang tersebut kemudian, sambil memegang bahu Juna.
“Karena jika tidak…” lanjutnya sambil berdiri dan membalikan badannya untuk dapat melihat langsung siapa orang yang hendak berani menampar seorang anak kecil.
“Anda akan tahu akibatnya” lanjutnya terdengar mengancam.
Sementara itu, Jeng Kellin yang mengenali wajah tampan orang tersebut mendadak canggung dan tak seberani tadi.
“Tu..tuan Leon Adinata?” ucap Jeng Kellin sedikit gelagapan, merasa tidak dapat sebebas tadi jika berhadapan dengan orang sekelas Leon Adinata.
“Ke.. kenapa anda bisa berada di sini?” lanjutnya merasa heran.
“Dan kenapa anda harus repot-repot membantu anak kurang ajar ini, tuan?” lanjutnya masih terdengar sedikit geram pada Juna.
Sementara itu, Anggun yang sudah menyadari siapa orang yang telah membantu anaknya tersebut segera berdiri sambil membopong anaknya yang masih pingsan.
Kemudian dia segera menghampiri anak laki-lakinya yang masih berada di antara Jeng Kellin dan Leon.
“Sayang kemarilah. Ayo kita pergi!” ucap Anggun pada Juna.
Dia ingin menarik Juna tapi kedua tangannya harus membopong Juni yang masih tengah pingsan.
“Tunggu!” ucap Leon sambil menarik tangan Juna dan menahannya. Membuat Anggun pun ikut terhenti dari langkahnya.
“Benar, tuan. Jangan biarkan mereka pergi begitu saja. Mereka itu keluarga tidak tahu diri dan kurang ajar. Mereka harus di hukum dan bila perlu mereka wajib di penjarakan” ucap Jeng Kellin dengan geramnya, dia pikir Leon akan membelanya karena telah menghentikan mereka yang akan pergi begitu saja.
“Apalagi anak haram itu, dia sudah memukul anak saya hingga berdarah, tuan. Mereka harus di beri pelajaran!.” lanjut Jeng Kellin sambil menunjuk ke arah Juna yang telah membuat anaknya terluka. Pada hal anaknya sendiri juga telah melukai Juni, tapi Jeng Kellin tidak memperdulikan hal itu.
Dia lebih mementingkan dirinya sendiri dan anaknya.
Sementara itu, Leon yang mendengar hinaan anak haram dari mulut Jeng Kellin membuatnya sudah tak lagi dapat bersabar. Leon sudah mulai murka, dan matanya pun di penuhi sorot kemarahan.
__ADS_1
“Saya akan hubungi polisi, biar dia jera dan..” ucap Jeng Kellin masih mengoceh namun Leon segera berkata hingga membuatnya terdiam.
“Cukup…” pekik Leon hingga membuat Jeng Kellin pun terdiam.
“Apa anda bilang. Anak haram?”
“Dan akan menghubungi polisi, begitu?” ucap Leon dengan berusaha menahan amarahnya.
“Apa kau tahu siapa mereka?”
“Mereka.. MEREKA ADALAH ANAK-ANAK KU DAN JUGA ISTRIKU” ucap Leon dengan penuh penekanan hingga membuat orang-orang yang masih berada di tempat tersebut dapat mendengarnya.
Dan siapapun yang mendengarnya tentu merasa syok dan tak percaya dengan apa yang mereka dengar saat ini.
Apalagi dengan Jeng Kellin sendiri, matanya terbelalak dan seolah ingin keluar dari tempatnya.
Bagaiman tidak, jika itu benar adanya, berarti dia sudah mencari gara-gara dengan seorang Leon Sanjaya yang terkenal, tidak hanya dari kesuksesan dan ketampanannya tapi juga dari sikap dingin dan cukup berbahaya jika bermasalah dengannya.
“A..apa?. Bagaimana mungkin” lirih Jeng Kellin dan sesaat mematung merasa tak percaya dengan apa yang telah di dengarnya.
Sementara itu, Leon yang sudah mengatakan apa yang seharusnya di katakan, dia pun segera berbalik untuk melihat ke adaan anak-anak dan Anggun untuk dia bawa pergi.
Namun sayangnya Anggun sudah lebih dulu pergi dan membawa anak-anaknya saat Leon berbicara dengan Jeng Kellin, dan Anggun memanfaatkan situasi tersebut untuk dapat kabur dari mereka.
Kemudian asisten pribadinya pun tiba-tiba datang dan memberitahu tuannya bahwa Anggun dan anak-anaknya sudah pergi untuk membawa anak perempuannya ke rumah sakit.
“Baiklah.. sekarang kau urus wanita itu. Dan beri pelajaran pada mereka. Buat usaha suami dan keluarganya hancur sehancur-hancurnya dan juga siapapun yang telah menghina anak-anakku beri pelajaran pada mereka” ucap Leon pada asisten pribadinya yang dapat di dengar oleh Jeng Kellin dan beberapa orang lainnya.
“Ti..tidak. Jangan, tuan. Mohon maafkan saya. Saya tidak tahu jika mereka adalah istri dan anak-anak, tuan. Saya mohon maafkan saya, tuan” teriak Jeng Kellin mencoba meminta maaf pada Leon.
Begitu pun orang-orang yang tadi sempat menghina dan memberi tatapan mengejek pada Anggun dan anak-anaknya, mereka pun ikut meminta maaf dan sedikit bersimpuh takut terkena imbasnya.
Namun sayang Leon tidak menggubrisnya dan lebih memilih untuk pergi dari tempat tersebut untuk segera menemui Anggun dan anak-anaknya.
Di dalam mobil, Leon mulai teringat rahasia yang selama ini tidak dia ketahui dan baru terungkap.
Flass back on
Beberapa minggu yang lalau, Leon mendapatkan telpon dari mata-mata barunya yang berhasil mendapatkan informasi penting yang selama ini tidak dia sadari.
Rupanya selama ini dia telah salah paham pada Anggun. Bahkan dia mendapatkan kabar yang lebih besar lagi, yang selama ini Leon anggap anak yang Anggun miliki hasil dari pria lain nyatanya anak tersebut adalah anaknya. Bahkan Leon lebih terkejut lagi saat dirinya mengetahui bahwa anaknya tidak hanya satu melainkan kembar meskipun berbeda jenis kelamin.
Hal tersebut tentu membuatnya bahagia dan bangga. Apalagi setelah mengetahui bahwa Anggun selama ini tidak pernah dekat dengan pria mana pun selain sebatas teman kerja.
__ADS_1
Dan setelah mengetahui kenyataan tersebut, Leon hendak menemui Anggun dan anak-anaknya. Namun rupanya sesuatu terjadi di dalam perusahaannya dan dia harus segera keluar negeri untuk menyelesaikan hal tersebut.
Selama beberapa minggu itu Leon merasa tidak sabar dan ingin segera bertemu dengan keluarga kecilnya tersebut.
Dan selama itu pun dia menyuruh orang untuk mengawasi gerak gerik mereka. Bahkan untuk mengatasi rasa rindunya, terkadang Leon meminta orang suruhannya tersebut untuk memvideo ataupun memfoto aktivitas mereka dari jarak yang tidak di sadari Anggun ataupun anak-anaknya.
Dan rupanya orang yang sempat memvideo momen saat Juna dan Zayen berkelahi pun adalah orang suruhan Leon yang memang sengaja mengawasi aktivitas anak-anaknya tersebut.
Hingga akhirnya saat Leon mengetahui anak-anaknya tengah di bully, dia pun tidak terima dan bergegas untuk menemui mereka.
“Flash back off”
Sementara itu, di rumah sakit seorang dokter dan asistennya sedang memeriksa keadaan Juni yang saat itu masih pingsan.
Rupanya anak tersebut mengalami syok dan sedikit trauma di mana anak seusia Juni belum mampu melihat dan mendengar suatu peristiwa yang terbilang cukup membuatnya untuk trauma dan takut. Apalagi dengan kejadian tadi yang di alaminya.
Namun hal tersebut tidak terlalu bermasalah, dia hanya cukup beristirahat dan tidur dengan tenang.
“Anda tidak perlu khawatir, anak anda baik-baik saja. Sepertinya dia hanya sedikit trauma” ucap dokter memberitahu Anggun.
“Apa terjadi sesuatu padanya atau orang terdekatnya?” lanjut dokter sedikit bertanya untuk memastikan.
Namun Anggun hanya bisa diam dan tidak berani mengatakannya. Beruntung dokter pun mengerti dan tidak terlalu banyak tanya.
“Baiklah, tidak apa-apa jika anda tidak ingin mengatakannya. Tapi untuk saat ini tolong jangan membuat keributan atau semacamnya di depan anak ini, karena bisa saja traumanya akan kembali membuatnya tidak nyaman dan mungkin dapat kembali membuatnya pingsan lagi” ucap dokter memberitahu yang dapat di jawab anggukan kepala oleh Anggun.
Sementara itu, rupanya Leon sudah berada di ambang pintu saat dokter tersebut sedang berbicara dengan Anggun. Dan Leon pun menguping pembicaraan tersbeut.
“Kalau begitu saya pamit dulu” ucap dokter hendak keluar ruangan.
“Maaf, dok. Apa anak saya bisa langsung pulang hari ini?” ucap Anggun menghentikan langkah dokter tersebut untuk menanyakan kepulangan anaknya.
Karena mendengar penuturan dari dokter tersebut, sepertinya anaknya tidak perlu sampai menginap dan Anggun ingin memastikan hal tersebut.
“Iya tentu saja, tapi setelah cairan infus itu habis, anda baru bisa membawanya pulang. Tapi jika anak anda ingin lebih fit, saya sarankan lebih baik besok pagi saja anda bawa pulang” ucap dokter tersebut dan sedikit memberi saran.
“Baik, dok. Terima kasih” ucap Anggun berterima kasih.
Kemudian dokter dan asistennya pun segera pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Dan saat itu pun, Anggun melihat kedatangan Leon yang ternyata telah menyusulnya.
“Kamu?” ucap Anggun sedikit terkejut.
__ADS_1
“Ngapain kamu ke sini?” lanjutnya bertanya pada Leon dengan nada sinisnya.