
Entah teman arisannya tersebut sedang menyindir atau sedang mengingatkannya. Tapi yang pasti perkataannya tersebut cukup mengganggu pikiran nyonya Murni.
Dan yang jadi pikiran nyonya Murni saat ini adalah bagaiman cara supaya anak laki-laki satu-satunya itu mau segera menikah.
Sebelum ucapan temannya tersebut menambah pikirannya, nyonya Murni sudah sering mencoba menawarkan anak gadis teman-teman sosialita pada anaknya tersebut untuk mau di jodohkan dengan mereka.
Tapi Leon slalu saja menolak permintaan mamanya tersebut. Meskipun calon istri yang di jodoh-jodohkan dengannya sudah tahu dengan keadaan Leon saat ini.
Mereka slalu mengatakan bahwa mereka siap menerima keadaan pada fisik Leon dan apapun yang terjadi padanya.
Namun Leon tidak pernah mempercayai omong kosong mereka. Leon slalu menganggap mereka menerima dia karna ada sesuatu di balik fisiknya yang saat ini lumpuh.
Bukan hanya karena sebatas prasangka terhadap mereka, tapi Leon sudah membuktikannya sendiri.
Sebelum dia menerima setiap perjodohan dari mamanya tersebut, Leon slalu mencari tahu gerak gerik mereka terlebih dahulu sebelum dia benar-benar menerima perjodohan tersebut.
Bukan hanya satu atau dua orang saja yang ia dapati wanita yang di jodohkan dengannya masih memiliki hubungan dengan orang lain dan kebanyakan dari itu mereka sama saja, hanya menginginkan harta, kehormatan dan status yang ia miliki saat ini.
Itulah yang membuat Leon langsung menolak wanita-wanita yang hendak di jodohkan dengannya.
Dan sekarang hal tersebut membuat nyonya Murni pusing tujuh keliling jika harus menjodoh-jodohkannya lagi.
Di lain sisi, selain nyonya Murni ingin segera menimbang cucu, dia juga tidak ingin melihat anaknya hidup sendirian seumur hidupnya.
Meskipun dia sadar, kemungkinan wanita-wanita yang hendak di jodohkan dengan anaknya tersebut memang hanya karna hartanya, jika di lihat dari kondisi fisik anaknya tersebut saat ini.
Tapi apapun tujuan wanita-wanita itu ingin menikah dengan anaknya, kini nyonya Murni tidak memperdulikan hal tersebut selain tujuan mereka bukan untuk menyakiti dan mencelakai anak tercintanya tersebut.
Yang terpenting bagi nyonya Murni sekarang, dia dapat melihat anaknya tersebut memiliki keluarganya sendiri dan akan ada orang yang dapat menemaninya seumur hidup, sebelum ajal menjemput dirinya yang bisa kapanpun menghampirinya, pikir nyonya Murni.
Terkadang dia juga di hantui rasa bersalah pada Anggun. Dimana dulu dia sangat membenci dan mengabaikan segala kebaikannya sebelum Anggun benar-benar di usir oleh anaknya sendiri.
Meskipun pada awalnya nyonya Murni begitu bahagia saat mendengar anaknya telah berhasil mengusir Anggun saat itu.
Tapi setelah kepergian Anggun, lama kelamaan entah kenapa perasaannya sedikit terasa hampa.
Seolah tak ada lagi orang yang dapat dia marahi dan dia omeli. Pada hal jika dia mau, bisa saja para karyawan yang ada di rumah tersebut menjadi bahan pelampiasannya.
__ADS_1
Namun entah mengapa rasanya berbeda saat dia marah-marah dan mengomel pada Anggun.
Berbeda dengan Leon yang dapat melampiaskan kemarahan dan keegoisannya pada siapapun.
Dan kini nyonya Murni sadar atau tidak merindukannya.
Mungkin karena selama ada Anggun waktu itu, jika dirinya sakit Anggun lah yang sering kali sigap dan merawatnya dengan telaten. Di saat anak dan suaminya bekerja di kantor, Anggun lah yang sering menjaganya.
Meskipun sering kali Anggun tidak di hargai olehnya. Tapi dia tetap saja memperlakukan nyonya Murni dengan baik dan tulus merawatnya.
Dan hal itulah yang kini mungkin di rindukan nyonya Murni dengan ketulusannya.
Saat ini nyonya Murni hendak pulang kembali ke kediamannya. Tapi sebelum itu dia tiba-tiba ingin ke toile lebih dulu.
Namun saat selesai dari toilet tiba-tiba tanpa sengaja nyonya Murni melihat anak kecil yang sendirian di samping toilet.
Awalnya dia hendak mengabaikan anak kecil tersebut. Dia pikir mungkin anak tersebut sedang menunggu orang tuanya di dalam toilet.
Tapi saat nyonya Murni hendak melangkahkan kakinya lagi dia teringat bahwa di dalam toilet tersebut sudah tidak ada orang lagi.
Dan kalaupun dia menunggu ayahnya, seharusnya anak itu tidak menunggu di toilet wanita karena jarak toilet dan wanita cukup berjauhan.
Tapi entah mengapa kali ini membuat hatinya sulit untuk melangkah pergi dan sulit untuk masa bodo dengan anak tersebut.
Untuk menenangkan perasaannya tersebut nyonya Murni pun terpaksa mendekati anak tersebut untuk memastikan bahwa anak itu baik-baik saja.
“Hey, nak. Apa kau baik-baik saja?” tanya Nyonya Murni saat mendekati anak tersebut.
“Loh… sepertinya anak ini yang tadi aku lihat” ucap nyonya Murni dalam hati saat melihat wajah anak tersebut yang tadi sempat di lihatnya saat masih di dalam restoran tadi.
“Aku baik-baik saja, Oma” ucap anak gadis tersebut, tanpa sengaja membuat perasaan nyonya Murni tiba-tiba menghangat saat anak gadis itu memanggilnya Oma.
“Kalau kau baik-baik saja, kenapa kau terlihat celingak celinguk begitu?” tanya nyonya Murni yang melihat gadis tersebut seolah sedang memastikan sesuatu.
“Apa kau sedang mencari orang tua mu?” lanjutnya penasaran.
“Tidak, Oma”
__ADS_1
“Lalu kamu sedang apa?”
“Aku sedang memastikan tadi aku lewat jalan mana, Oma” ucapnya tanpa rasa takut, pada hal dirinya sedang tersesat.
“Ya Tuhan… jadi kamu tersesat?” ucap Nyonya Murni merasa terkejut, tapi melihat anak gadis itu seolah sedang baik-baik saja.
“Lalu dimana ibu mu sekarang?” lanjut nyonya Murni bertanya.
“Ibu sedang bekelja tapi kalau ayah…. “ ucap anak gadis tersebut menjawab, tapi saat menyebut ayahnya tiba-tiba wajahnya tertunduk merasa sedih. Membuat nyonya Murni mengerti, kemudian dia mencoba mengalihkan pertanyaannya.
“Kenapa ibu mu bekerja di hari minggu?” ucapnya asal.
“Lalu tadi kamu kemari dengan siapa?” tanya nya lagi.
“Aku tadi belsama tante Nina dan kakak Juna”ucap anak gadis itu yang ternyata Juni anak dari Anggun dan Leon, yang merupakan cucu kandung nyonya Murni.
Namun dia belum menyadari kebenaran tersebut.
“Tadi kami sedang belmain plosotan, tapi Juni kebelet pipis. Jadi Juni pelgi sendili” lanjutnya menjelaskan.
“Lalu tante mu tadi ke mana?” tanya nyonya Murni tidak habis pikir dengan orang dewasa yang membiarkan anak kecil pergi sendirian ke toilet di mall yang cukup besar tersebut.
“Tadi tante sedang menelima telpon, tapi kalna Juni udah kebelet jadi Juni pelgi sendili” ucapnya begitu menggemaskan.
Nyonya Murni yang tadinya sedikit kesal karna ada orang dewasa yang teledor membiarkan anak kecil itu sendirian kini sedikit terahlihkan mendengar cara bicara Juni yang terdengar lucu dan menggemaskan.
“Ya sudah biar Oma saja yang antar kamu. Ayo” ucap nyonya Murni.
“Tidak Oma. Kata ibu, aku tidak boleh ikut dengan olang yang tidak aku kenal” ucap Juni yang teringat akan pesan ibunya.
“Ya sudah kalau begitu sekarang kita kenalan. Nama oma Murni. Nama kamu siapa?” ucap nyonya Murni sambil menjabat tangan kecil anak gadis tersebut.
“Aku Juni, Oma” ucapnya memperkenalkan diri.
“Kalau begitu kita sekarang sudah kenalan. Jadi apa kamu sekarang mau Oma antar untuk bertemu tante kamu” ucap nyonya Murni.
“Baiklah, Oma. Juni ikut Oma” ucapnya dengan polos.
__ADS_1
“Dasar bocah naif. Kalau dia sampai bertemu dengan penculik, bisa-bisa dia diculik dengan mudahnya” ucap nyonya Murni dalam hati sambil melihat wajah manis anak gadis tersebut.