
Sementara itu, Juni yang sudah berada di samping kakaknya tersebut nampak masih menangis sambil memegangi lengan kakaknya tersebut.
Dia nampak histeris kembali saat Jeng Kellin menjewer keras telinga kakaknya tersebut. Juni sempat meminta untuk melepaskan jewerannya namun Jeng Kellin tidak perduli dengan tangisan anak perempuan tersebut hingga akhirnya Bu Titin yang tidak tega melihat kedua anak tersebut segera mengambil tindakan.
Ekspresi Juna nampak terlihat tenang dan tak menangis sedikitpun, meski sesekali terlihat dia menahan sakit.
“Cukup Jeng. Tolong lepaskan. Tidak baik di lihat anak-anak dan lainnya” ucap Bu Titin mencoba menenangkan Jeng Kellin yang tengah menjewer Juna di depan banyak orang.
Terpaksa Jeng Kellin pun segera melepaskan jewerannya meski dengan perasaan kesal dan geram.
Bu Titin pun segera membawa anak-anak tersebut dan orang tua walinya untuk lebih dulu ke ruang guru. Di sana sudah ada kepala sekolah yang sudah menunggu.
Sementara itu, Anggun nampak sedang mengantarkan penumpangnya ke suatu tempat.
Tiba-tiba terdengar suara panggilan di handphonenya.
Dia segera mengangkat panggilan tersebut setelah penumpangnya keluar dari dalam taxinya.
Anggun merasa sedikit bingung, karena tidak biasanya pihak sekolah menelponnya.
Meski dia tahu pasti hal tersebut mengenai anak-anaknya.
Tapi saat dia menerima telpone dari pihak sekolah tersebut dia merasa terkejut saat mendengar bahwa salah satu anaknya telah berkelahi dengan teman sekolahnya.
Tentu hal itu membuat Anggun sedikit panik, dia takut terjadi sesuatu yang serius pada anaknya.
Anggun segera menjalankan taxinya kembali setelah mendengar cerita dari wali sekolah anaknya tersebut.
Dengan perasaan khawatir Anggun berusaha untuk tetap tenang dan sambil berdo’a berharap tidak terjadi sesuatu yang serius pada anak-anaknya.
Beruntung tidak butuh waktu lama untuk segera sampai di tempat sekolah anaknya tersebut.
Anggun segera memarkirkan mobil taxinya di parkiran sekolah tersebut.
Dia segera berlari secepat mungkin, takut terjadi sesuatu pada anak-anaknya tersebut.
__ADS_1
Sesampainya di ruangan guru, Anggun nampak terkejut saat melihat anak laki-lakinya sudah babak belur sementara anak perempuannya langsung berlari memeluk kaki Anggun sambil menangis.
Anggun segera menenangkan anak perempuannya terlebih dahulu dan memeluknya sayang.
Kemudian kembali menatap anak laki-lakinya lalu bergantian menatap orang-orang yang sudah menunggu kedatangannya.
Dan Jeng Kellin yang dari tadi sudah menahan emosi dan marahnya langsung mencecar Anggun dengan kata-kata kasar dan arogannya.
“Bagus kamu sudah datang!!” ucap Jeng Kellin dengan nada marah dan kesalnya.
“Lihat tuh anak kamu! Dia sudah kurang ajar memukul anakku sampai babak belur begitu” tunjuk Jeng Kellin menceritakan apa yang menurutnya benar dengan suara yang menggebu-gebu. Masih tidak terima anaknya di perlakukan seperti itu oleh anak Anggun.
“Sebenarnya bagaimana kamu mengurus anak mu itu. Sampai dia menjadi anak badung begitu?!” lanjut Jeng Kellin mempertanyakan cara mendidik Anggun, yang sebenarnya dia sedang mengejeknya.
Sementara kepala sekolah dan Bu Titin yang melihat hal tersebut hendak mencoba menenangkan Jeng Kellin. Namun karena dia merasa punya power, Jeng Kellin tidak memperdulikan mereka sama sekali.
Dia terus saja nyerocos tidak berhenti sampai dia merasa puas sendiri.
“Memang beda ya, anak yang didik ibu bapaknya dengan anak yang didik tanpa bapaknya!” ucap Jeng Kellin bernada sarkas sambil menyilangkan kedua tangannya nampak terlihat pongah.
Dan dengan sengaja Jeng Kellin melantangkan suaranya dan menjelaskan kalimatnya supaya orang-orang yang berada di luar dapat mendengar ucapannya tersebut.
Seolah dia benar-benar ingin mempermalukan Anggun dan anak-anaknya.
Supaya Anggun di anggap kotor dan tidak bermoral.
Namun Anggun yang mendengar anaknya di hina sebagai anak haram, tentu dia tidak terima.
Dia pun tidak tinggal diam dan segera menepis anggapan buruk tersebut.
“Cukup Jeng, jangan bicara lagi!” pekik Anggun tidak terima anaknya di hina.
“Apalagi mengatakan kalau anak-anak saya anak haram. Itu semua tidak benar” lanjut Anggun mencoba menjelaskan.
“Tidak benar kata mu?!” Ucap Jeng Kellin tidak percaya.
__ADS_1
“Kalau begitu kenapa anak mu tidak pernah di antarkan ayahnya?!” lanjut Jeng Kellin tidak mau percaya begitu saja.
“I..itu… itu karena… “ ucap Anggun merasa ragu untuk mengatakan kebenaran tentang ayah dari anak-anaknya.
Dan penjelasan Anggun yang ragu-ragu tersebut dan tidak bisa mengatakan dengan jelas siapa ayah dari anak-anaknya itu, membuat Jeng Kellin bertambah yakin bahwa Anggun memang bukan wanita bermoral dan tentu saja anak-anaknya tersebut sudah jelas anak haram, pikir Jeng Kellin.
“Kenapa diam?!” ucap Jeng Kellin mengintimidasi.
“Kau tidak bisa mengatakan siapa bapak mereka, karena saking banyaknya pelanggan yang datang padamu, begitu?!. Jadi kau tidak ingat siapa bapak mereka!?” lanjut Jeng Kellin dengan segala pemikiran yang dia ada-adakan.
Mendengar hal tersebut, membuat Anggun hanya dapat membelalakan matanya merasa tidak percaya dengan apa yang di pikirkan Jeng Kellin terhadapnya.
Pikiran dari mana itu, dan apa yang membuat Jeng Kellin sebegitu rendahnya menilai Anggun.
Dan di tengah-tengah perdebatan tersebut, akhirnya Bu Titin memberanikan diri untuk berbicara. Karena menurutnya ucapan-ucapan yang di lontarkan oleh Jeng Kellin sudah di luar jalur.
Apalagi kata-kata kasar yang di ucapkan sungguh tidak pantas di dengar terus oleh anak-anak yang masih berada di ruangan tersebut.
“Maaf ibu-ibu, sudah cukup. Di sini masih ada anak-anak. Tidak baik berbicara seperti itu. Lebih baik kita bicara dengan tenang dan dengan kepala dingin” ucap Bu Titin berusaha bijak dan menenangkan keadaan.
“Saya mengerti, Bu. Tapi saya tetap tidak bisa terima anak saya di perlakukan seperti ini oleh anaknya” ucap Jeng Kellin sambil memperlihatkan keadaan anaknya tersebut.
“Iya Jeng, saya mengerti. Tapi mungkin ada solusi untuk semua masalah ini” ucap Bu Titin kembali berbicara mencoba mencari solusinya.
“Solusinya, saya ingin anak-anak itu keluar dari sekolah ini, Bu” ucap Jeng Kellin yang menginginkan hal tersebut.
“Saya tidak ingin anak saya terkontaminasi dengan kelakuan buruk dan brutalnya itu” lanjutnya masih merasa bahwa anak orang yang bersalah.
Tidak perduli jika anaknya sendiri lebih nakal dan usil.
“Pokoknya kalau saya masih melihat anak-anak itu, saya pastikan anak saya yang keluar dan juga donasi yang suami saya berikan juga pasti akan berhenti” ucap Jeng Kellin mengancam.
Merasa suaminya yang paling besar berdonasi di sekolah tersebut dan membuatnya memiliki keberanian untuk berbicara lantang dan semaunya.
Itu sebabnya kepala sekolah dan beberapa guru sedikit menunduk jika berurusan dengan keluarga Jeng Kellin, apalagi jika berurusan langsung dengan Jeng Kellinnya.
__ADS_1
Benar-benar di buat jengkel…..