
“Tapi, tuan. Anda tetap harus membayarnya” ucap Anggun memberanikan diri.
“Memangnya siapa yang bilang aku tidak mau membayarnya?” ucap Leon dengan wajah datarnya.
“Tapi tadi anda bilang, anda tidak punya uang cash” ucap Anggun menanggapi.
“Aku memang bilang seperti itu. Tapi bukan berarti aku tidak mau membayarnya” ucap Leon menegaskan.
“Kalau begitu sekarang mana bayaranku” ucap Anggun sambil menjulurkan tangan kanannya bersiap untuk menerima uang yang seharusnya ia dapatkan dari Leon.
“Kau akan mendapatkannya. Tapi sekarang aku harus mengambilnya lebih dulu di apartemenku” ucap Leon pada Anggun.
“Jika kau tidak percaya, kau bisa mengikuti ku dan ambil bayaran mu” lanjut Leon memberi solusi.
Namun Anggun nampak sedikit berpikir, dia bukannya tidak percaya Leon tidak akan membayarnya.
Tapi jika dia menunggunya, tentu hal itu akan memakan waktu dan membuat anak-anaknya kembali harus menunggu di kontrakan.
Hingga akhirnya Anggun terpaksa untuk mengikuti Leon ke apartemennya yang berada di lantai 25.
Anggun pun segera mendorong kursi roda dengan sang pemiliknya untuk masuk ke dalam sebuah lift.
Di dalam lift tinggal mereka berdua, namun dari tadi mereka tidak bersuara ataupun berbicara.
Hingga sesaat kemudian mereka mengalami sedikit masalah. Tiba-tiba lift yang mereka tumpangi mendadak gelap dan berhenti.
Hal tersebut membuat Anggun merasa sedikit ketakutan. Dia yang berada di depan Leon tiba-tiba berbalik dan berlutut hingga memegangi kaki Leon.
Entah Anggun sadar atau tidak, tapi saat ini ketakutannya akan kegelapan membuatnya kembali berdekatan dengan Leon, meskipun hanya dengan memegang kakinya.
Namun beruntung masalah pada lift tersebut tidak berlangsung lama, tiba-tiba dengan sendirinya lampu dalam lift tersebut kembali menyala dan lift pun kembali bergerak.
Membuat Anggun kembali tersadar dan harus menahan rasa malunya di depan Leon.
Karena tanpa seizin Leon dia tiba-tiba memeluk kakinya.
“Ma..maaf. Aku tidak sengaja” ucap Anggun sambil menengadah menatap Leon dan perlahan melepaskan pegangannya.
Leon tidak bereaksi, dia hanya menatap dingin wanita yang saat ini tengah berlutut di hadapannya.
Anggun segera berdiri dan bersikap seolah tidak terjadi apa-apa.
Hingga akhirnya lift pun berhenti di lantai 25 dan Anggun lebih dulu keluar dari lift tersebut dengan di susul oleh Leon dari belakang.
Anggun tidak berani menatap Leon kembali, membuatnya membiarkan Leon menjalakan kursi rodanya sendiri.
__ADS_1
Karena dia tahu, Leon dapat melakukannya sendiri meski tanpa bantuan darinya.
“Berhenti!” pekik Leon menghentikan langkah Anggun yang berada di depannya.
“Kau mau kemana?” tanya Leon saat langkah Anggun berhenti”
“Ke apartemen anda” ucap Anggun setelah membalikkan badannya ke hadapan Leon.
“Kau itu sok tahu. Pintu apartemenku di sini” ucap Leon tetap dingin, sambil menunjukan pintu apartemen miliknya yang baru saja hendak di lewati Anggun.
Membuat Anggun kembali merasa sedikit malu, karena lagi-lagi dia mempermalukan dirinya sendiri dengan berjalan di depan sang pemilik.
“Minggir!” ucap Leon pada Anggun yang menghalangi pintu apartemennya.
Sementara Anggun hanya dapat menahan kekesalannya karena di perlakukan seperti itu.
Leon pun tidak memperdulikan raut kekesalan wanita di hadapannya tersebut.
Dia memilih untuk segera membuka pintu apartemennya dan segera masuk ke dalam.
“Apa kau tidak akan masuk?” tanya Leon saat dirinya sudah berada di dalam apartemen. Namun melihat Anggun masih berada di luar.
Tentu saja Anggun tidak berani untuk masuk ke dalam apartemen miliknya, apalagi jika mengingat kejadian-kejadian yang sudah-sudah.
“Tidak. Saya tunggu di sini saja” ucap Anggun masih dengan bernada formal.
Namun setelah beberapa waktu, Anggun mulai tak sabaran. Dia sudah menunggu cukup lama untuk membiarkan Leon mengambil uang yang akan menjadi haknya.
“Ya Tuhan… kenapa dia lama sekali mengambil uangnya. Apa dia sengaja membuatku menunggu lama?” ucap Anggun merasa kesal sambil melihat jam di tangannya sesekali.
Pintu masih terbuka, Anggun mencoba mengetuk pintu apartemen tersebut, berharap Leon akan mendengar dan mempercepat untuk mengambil uangnya tersebut.
Namun apa yang di dapat hanya membuatnya kesal dan tak ada jawaban.
Anggun pun dengan perasaan kesalnya memilih untuk masuk ke dalam apartemen tersebut mencari tahu sendiri apa yang sebenarnya Leon lakukan hingga membuatnya harus menunggu cukup lama.
“Dasar laki-laki menyebalkan. Dia pasti sengaja membuatku menunggu lebih lama lagi. Aku tidak akan membiarkan mu tuan LEON ADINATA” ucap Anggun dengan perasaan kesal yang tak terbendung lagi.
Sambil mencari setiap sudut tempat di apartemen tersebut. Dia sudah tidak perduli lagi jika dirinya akan di anggap tidak sopan karena masuk tanpa izin ataupun permisi lebih dulu.
“Leon!… dimana kau?” pekik Anggun yang benar-benar sudah kesal. Hingga membuatnya tidak perduli lagi harus bersikap dengan baik atau tidak.
Bukan karena uang yang dia tunggu tapi dia harus menghabiskan waktu hanya untuk menunggu Leon mengambil uang.
Dan dia juga merasa bahwa Leon sedang mengerjainya, dan hal itu tidak bisa dia terima.
__ADS_1
Karena gara-gara hal tersebut, Anggun tidak dapat menepati janjinya pada anak-anak untuk makan malam bersama.
“Le… aaah” teriak Anggun dan tiba-tiba berbalik sambil menutup wajahnya dengan kedua tangan, saat melihat Leon keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan handuk yang menutupi pinggulnya hingga di atas lutut.
Sementara Leon hanya tersenyum, dia sudah mengira bahwa Anggun akan masuk ke dalam apartemennya tapi dia tidak mengira jika Anggun akan masuk ke dalam kamar pribadinya.
“LEON ADINATA!!. Kau membuatku menunggu dan kau malah asik-asikan mandi lebih dulu” kesal Anggun pada Leon. Apalagi saat mengetahui Leon membuatnya menunggu hanya untuk mandi lebih dulu.
Pada hal dia bisa saja mempercepat waktu Anggun dan memberikan uang ongkos taxinya lebih dulu.
“Apa yang ada di otak mu itu, hah?. Kenapa kau tidak membayarku lebih dulu?. Supaya aku bisa cepat pergi dari sini” lanjut Anggun menggebu-gebu sambil tetap menutup matanya dengan salah satu tangannya.
Namun yang di omeli hanya tersenyum dan mulai mendekati Anggun.
“Kenapa kau harus marah-marah, sayang” ucap Leon di daun telinga Anggun.
Mendengar suara Leon yang begitu dekat di daun telinganya, reflex Anggun menyingkirkan tangan dan membuka matanya.
Dan betapa kagetnya dia saat wajah Leon sudah berada di depan wajahnya.
Anggun yang kaget hendak mendorong dada bidang Leon, namun sayangnya tubuhnya yang malah hampir terjatuh ke belakang jika tidak dengan segera Leon menarik tangan Anggun dan mendekapnya.
Untuk sesaat mereka saling menatap satu sama lain dengan intens. Dan sesaat kemudian Anggun mulai sadar dan meminta untuk di lepaskan.
Tidak menolak, Leon pun melepaskan pegangannya. Hingga membuat Anggun jatuh dan kesakitan.
“Aw… sakit” pekik Anggun sedikit kesakitan.
“Kenapa kau menjatuhkan aku?!” kesal Anggun sambil menengadah melihat Leon dan memberanikan diri.
“Kau yang meminta” ucap Leon datar.
“Aku tidak memintamu untuk menjatuhkan aku, tapi melepaskan aku” ucap Anggun sambil bergegas berdiri.
Dan saat dia mulai menyadari sesuatu, Anggun kembali merasa kaget dan sedikit tak percaya.
“Kau…” ucap Anggun sambil menunjuk Leon dan melihatnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
“Kau sudah bisa berjalan?” ucapnya terkejut saat menyadari hal tersebut.
“Jadi selama ini kau berpura-pura lumpuh?” lanjutnya tak habis pikir.
“Dasar pembohong” ucap Anggun seraya berbalik dan hendak pergi meninggalkan Leon.
Namun tiba-tiba tangannya dengan cepat di tarik oleh Leon dan membuat Anggun kembali harus menabrak dada bidang milik Leon.
__ADS_1
“Apa yang kau lakukan?. Lepaskan aku!” ucap Anggun saat dirinya berada di pelukan Leon.