Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh

Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh
Dasar Pengecut


__ADS_3

Dan dengan terpaksa Anggun pun harus menerima pemecatan tersebut.


Dia tidak mengira jika respon nyonya Murni akan sampai membuatnya di pecat seperti saat ini.


“Anggun kamu tidak apa-apa?” panggil Bi Asri saat Anggun sedang termenung di kamarnya. Dia sempat mendengar nyonya besar di rumah tersebut berteriak memarahi Anggun.


“Bi.. bagaimana ini. Aku di pecat, Bi” ucap Anggun lirih.


Bi Asri juga bingung, tidak tahu harus melakukan apa untuk membantu Anggun supaya tidak di pecat.


Tapi dia juga hanya seorang art dan juga bekerja di rumah tersebut. Dia sudah tahu adat nyonya besarnya itu, jika sudah mengatakan sesuatu pasti itu sudah bulat dan tidak bisa di ganggu gugat.


“Tenang ya, Gun. Kamu yang sabar. Nanti kamu ke tempat anak bibi dulu aja. Sekalian kamu bertemu si kembar” ucap bi Asri mencoba menenangkan.


“Kamu ambil hikmahnya saja, kamu jadi bisa menghabiskan waktu kamu bersama si kembar lagi nantinya” lanjut bi Asri berbicara.


“Tapi, bi..” ucap Anggun tak dapat meluapkan isi hatinya.


Kini dia merasa serba salah, tapi bi Asri ada benarnya juga. Setidaknya dia bisa meluangkan waktu bersama anak-anaknya sampai ia mendapatkan pekerjaan lainnya nanti.


“Sudah kamu jangan sedih lagi. Anak-anak pasti bahagia jika kamu bisa meluangkan waktu untuk mereka saat ini” ucap Bi Asri mengingatkan kembali tentang anak-anaknya tersebut.


Berharap Anggun tidak lagi merasa bersedih karena kehilangan pekerjaannya.


Hingga akhirnya Anggun pun dapat menerima jika dirinya benar-benar harus kehilangan pekerjaannya tersebut.


Sementara itu, Leon nampak menghubungi asisten pribadinya yang bernama Dino.


Dia menyuruh Dino untuk segera menjemputnya kembali setelah tadi dia mengusirnya untuk membiarkannya sendiri di club tersebut.


Leon tidak ingin orang-orang yang dekat dengannya lebih dulu tahu tentang kesembuhannya tersebut, sebelum dia mendapatkan informasi tentang seseorang yang ia curigai.


Meskipun tadinya dia ingin memberitahu Anggun lebih dulu, tapi sekarang dia berubah pikiran setelah dia melihat Anggun berbicara dengan seorang anak yang memanggilnya ibu.


Yang kini membuatnya berada di club malam tersebut. Semenjak saat itu, Leon terus kepikiran hal tersebut. Namun dia tidak bertanya ataupun mencari tahu kebenaran hal tersebut.

__ADS_1


Leon hanya menduga-duga dan berprasangka yang tidak-tidak, hal itu hanya membuatnya kesal dan marah.


Sementara itu, Anggun sudah berada di halte bus untuk pergi ke rumah anak menantunya Bi Asri.


Saat ini Anggun sedang menatap selembar kertas yang bertuliskan alamat rumah tersebut.


Dia nampak termenung, memikirkan apa yang harus di lakukannya nanti. Anggun tidak ingin jika harus terus-terusan merepotkan keluarga Bi Asri. Selama ini mereka sudah terlalu baik kepadanya. Dan dia tidak ingin berhutang budi terus-terusan. Meskipun pada kenyataannya mereka ikhlas untuk membantunya.


Tapi Anggun tetap saja merasa tidak enak hati jika terus-terusan bergantung pada mereka.


Hingga akhirnya dia memutuskan untuk mencari rumah kosan sendiri. Dan sebelum itu dia harus mencari pekerjaan lainnya untuk menghidupi kedua anaknya tersebut.


Bus pun datang dan Anggun segera bangkit dari duduknya dan mulai melangkah masuk ke dalam sebuah bus.


Sementara itu, Leon yang sudah terkapar karena mabuk segera di bawa oleh asisten pribadinya untuk segera pulang.


“Ya Tuhan… ada apalagi ini. Kenapa tuan jadi mabuk-mabukan lagi seperti ini?” ucap Dino saat melihat tuannya sudah terkapar tak sadarkan diri.


“Tuan.. tuan. Apa anda baik-baik saja?” tanya Dino mencoba menyadarkan tuannya tersebut. Tapi Leon malah meracau tak jelas.


Sementara itu, Anggun di dalam bus menatap handpone di tangannya. Dia melihat gambar anak-anaknya yang kini menjadi penyemangat hidupnya.


Anggun mulai tersenyum sedikit melupakan apa yang terjadi saat ini setelah melihat foto-foto lucu anaknya tersebut.


Dan jika dia pikir-pikir, dengan pemecatan tersebut dia tidak harus bertemu lagi dengan Leon. Membuatnya tidak perlu lagi berpura-pura menjadi sopir laki-laki. Dan juga tidak perlu berurusan lagi dengan laki-laki yang telah menelantarkan dia dan anak-anaknya.


Namun entah mengapa meskipun begitu, ada perasaan sedih di hatinya setiap kali dia ingat bahwa dirinya tidak akan bertemu dengan Leon lagi.


Tapi di sisi lain dia juga takut jika Leon sampai mengetahui bahwa dirinya memiliki anak darinya.


Meskipun Anggun tidak tahu jika Leon sampai mengetahui anak-anaknya tersebut, apakah dia akan menerima mereka atau tidak.


Di tengah lamunannya tersebut, bus pun terhenti dan Anggun mulai tersadar. Dia segera bangkit dan mulai melangkah untuk keluar dari bus tersebut.


Dia turun di pinggir jalan, Anggun mulai menarik nafasnya dalam. Berusaha untuk menenangkan diri, dia masih tidak mengerti mengapa perasaannya masih terasa berat dan tak bersemangat.

__ADS_1


Entah karena kehilangan pekerjaan yang gajinya cukup menjanjikan untuk masa depan kedua anaknya atau karena harus berpisah lagi dengan Leon. Anggun masih tidak mengerti hal tersebut.


Anggun mulai melangkahkan kakinya kembali, tujuannya belum sampai. Dia harus berjalan untuk sampai ke alamat yang di ditujunya.


Tapi di tengah jalan tiba-tiba dia melihat beberapa orang sedang berkelahi. Namun beberapa orang tersebut dengan pengecut nya mengeroyok seseorang yang sudah babak belur.


Anggun merasa tidak tega dengan orang yang sedang di keroyok tersebut. Namun dia juga akan kalah jika melawannya sendirian. Anggun mulai berpikir dan mencoba untuk bersembunyi terlebih dahulu.


Tiba-tiba dia kepikiran sesuatu dan mulai merogoh sakunya untuk mengambil handphonenya tersebut.


Sambil bersembunyi Anggun mulai menjalankan rencananya. Tiba-tiba terdengar suara sirine mobil polisi. Membuat orang-orang yang sedang mengeroyok segera menghentikan aksinya tersebut.


Mencoba mendengarkan suara tersebut dengan baik-baik.


Namun mendengar suara sirene mobil polisi yang semakin mendekat di pendengaran mereka, membuat mereka segera berlarian merasa takut dan meninggalkan orang yang mereka keroyok sendirian.


“Dasar pengecut, mendengar suara sirene mobil polisi dari hp saja kalian lari… hehehe… “ ucap Anggun sambil terkekeh geli melihat mereka ketakutan hanya karena mendengar suara dari hpnya tersebut.


Pelan-pelan Anggun pun segera keluar dari persembunyiannya. Setelah memastikan mereka lari terbirit-birit, Anggun segera mendekati orang yang tadi di keroyok.


“Hey… bangun, sadarlah. Mereka sudah pergi” ucap Anggun setelah mendekati orang tersebut.


“Apa kau baik-baik saja?” tanya Anggun mencoba menyadarkannya.


Tapi dia masih tergeletak tak berdaya, wajah orang tersebut tertutupi rambut panjangnya. Membuat Anggun sedikit penasaran.


Anggun segera menggeletakkan barang bawaannya terlebih dahulu. Kemudian dengan perlahan dia menyikap rambut orang tersebut.


Dan betapa terkejutnya ia saat mengenali wajah orang yang saat ini sedang tergeletak tak berdaya itu.


“Raja??” pekik Anggun saat mengenali wajah tersebut meskipun saat ini terolesi dengan memar dan darah yang terlihat di bibir orang tersebut.


“Ya Tuhan… kenapa kau masih saja berurusan dengan para preman-preman seperti mereka” lanjut Anggun berbicara sambil mengangkat kepala orang tersebut dengan khawatir.


“Kau ini dari dulu sampai sekarang masih saja suka berkelahi. Apa kau tidak bosan hidup dengan kekerasan terus” lanjut Anggun yang tiba-tiba teringat dengan teman masa lalunya tersebut. Dia mengomel seolah dulu pernah dekat dengan orang tersebut.

__ADS_1


__ADS_2