
“Kau masih marah padaku?” tanya Leon sambil mengikuti langkah Anggun.
“Menurut anda?!” ucap Anggun masih dingin dan tetap melangkah tak perduli Leon mengikutinya.
“Tapi, Gun. Aku mohon, aku….” ucap Leon masih berusaha membujuknya, namun tiba-tiba suara dering telpon menghentikannya.
Membuat Leon terpaksa harus mengangkat telpon tersebut yang terus terusan berdering mengganggu dirinya saat ia berusaha berbicara dengan Anggun.
Rupanya telpon tersebut dari asisten pribadinya.
Ia pun dengan kesal dan marah terpaksa mengangkat telponnya.
“Kenapa?!” pelik Leon dengan nada kesalnya.
“Ada apa kau menelponku?!” lanjutnya tak bisa menahan kekesalannya.
Mendengar nada suara bosnya tersebut, tentu membuat Aldo asisten pribadinya merasa syok dan takut.
Dan meski dengan rasa takut dan was-wasnya, Aldo tetap memberanikan diri untuk tetap memberitahu informasi penting pada bosnya itu.
Dan saat Leon mendengar kabar tersebut, dia segera pergi dari rumah sakit meski dia nampak berat melangkah pergi untuk meninggalkan Leon dan anak-anak sementara.
Sementara itu, Anggun yang sudah berada di mini market dekat rumah sakit. Entah mengapa dirinya merasa sedikit kesal karena rupanya Leon tidak mengikutinya.
“Lihat kan!!. Dia itu tidak pernah sungguh-sungguh. Bahkan untuk mengejarku ke sini saja dia tidak mau” ucap Anggun sedikit kesal dan berbicara sendiri, dia nampak kecewa karena Leon tidak mengikutinya.
Sepetinya Anggun mulai tidak konsisten dengan perasaannya, dan karena ego yang cukup besar membuatnya tidak yakin dengan perasaannya sendiri.
Di sisi lain, Leon sudah berada di parkiran mobil dan hendak pergi menuju kantornya.
Sementara itu Anggun sudah mendapatkan apa yang di butuhkannya, meskipun dengan sedikit perasaan dongkol.
Dia pun kembali ke ruangan anaknya, dan di sana Juna sudah bangun begitupun dengan Juni.
“Mami.. dari mana?” tanya Juna saat melihat ibunya datang.
“Iya, ibu dari mana?” timpal Juni ikut bertanya.
“Ibu habis beli makan buat sarapan. Kalian sarapan dulu, ya” ucap Anggun tudu poin dan mengajak sarapan kedua anaknya tersebut.
Sambil menikmati sarapan yang tengah di suapi ibunya, Juni kembali bertanya.
“Ibu, aku bosan di sini. Apa kita bisa pulang hari ini?” ucap Juni yang sudah tidak betah tinggal di rumah sakit, meskipun di tempat yang terbilang nyaman dan cukup mewah.
Tapi yang namanya anak kecil tetap saja tidak betah tinggal di rumah sakit dengan bau-bau obat yang cukup mengganggu hidungnya.
“Iya sayang, nanti kita pulang. Tapi sekarang kamu habiskan dulu sarapannya dan juga kamu harus minum obatnya, ya. Setelah itu baru kita kembali pulang” ucap Anggun pada anak perempuannya.
Lalu tiba-tiba, Juna ikut bersuara.
“Oh iya, Mi. Sepertinya kemarin ada om-om. Apakah dia ayah kita yang sudah lama pergi?” ucap Juna pada Ibunya, saat dia mengingat kembali laki-laki yang telah membantu dirinya dan juga ibunya.
__ADS_1
Juna anak yang cerdas, dan tentu ingatannya cukup tajam untuk mengingat siapa pria dewasa yang telah membantunya kemarin. Apalagi dia sempat mendengar bahwa pria tersebut mengatakan bahwa dia adalah ayahnya.
Hal tersebut, tentu membuat Juna penasaran dan terus bertanya-tanya dalam pikirannya.
Dan meskipun dia tidak mengerti dengan urusan orang dewasa yang sebenarnya. Tapi sebagai anak yang tengah merindukan sosok ayah dan kemudian tiba-tiba ada yang mengaku sebagai ayahnya tentu membuat hatinya bertanya-tanya.
Mendengar pertanyaan anaknya yang seperti itu, tiba-tiba membuat Anggun sejenak menghentikan suapannya pada Juni, seolah sedang mencari alasan untuk menjawab pertanyaan anak laki-lakinya tersebut.
Hingga sesaat kemudian dia kembali menyuapi anak perempuannya tersebut dengan raut wajah datarnya.
“Ayah?” pekik Juni saat mendengar nama ayahnya di sebut. Dia pikir ayahnya sudah datang dan kembali hingga membuat Juni menahan suapan dari tangan ibunya.
“Benellan bu, ayah datang?” tanya Juni memastikan.
Dia nampak begitu antusias saat mengira ayahnya sudah datang kembali.
Melihat raut wajah anak perempuannya yang nampak begitu bahagia, membuat Anggun merasa serba salah dan tidak tega jika harus terus-terusan membohongi anak-anaknya lagi.
Dengan perasaan yang campur aduk, Anggun pun terpaksa berkata “ya sayang, ayah kalian sudah kembali” sambil menatap nanar wajah kedua anaknya.
“Apa itu benar, Mi?. Mami tidak bohong, kan?. Om yang kemarin itu ayah kita?” ucap Juna terlihat nampak bahagia.
“Iya sayang” ucap Anggun sambil menganggukkan kepala pelan.
“Holee… ayah pulang… ayah sudah pulang” ucap Juni nampak antusias dan bahagia.
“Terus sekarang daddy dimana, Mi?” tanya Juna sambil memanggil ayahnya dengan sebutan daddy.
“Sekarang ayah kalian sedang kembali ke kantor. Saat ini ayah kalian masih sibuk. Jadi nanti kalau sudah selesai pasti kembali lagi” ucap Anggun mencoba memberi pengertian pada anak-anaknya.
“Yaah… kenapa ayah cepat sekali pelginya. Pada hal aku kan belum sempat melihatnya” ucap Juni nampak terlihat kecewa dan perlahan mulai menangis bersedih.
“Hiks… hiks… ayah jahat, ayah tidak sayang Juni. Kenapa ayah pelgi lagi, Juni kan lagi sakit” lanjut Juni sambil terisak menangis.
Dia mengira ayahnya pergi begitu saja tanpa melihat dan berbicara dengannya.
“Tidak sayang. Jangan menangis, ibu di sini. Ibu tidak akan membuat kalian dalam masalah lagi” ucap Anggun mencoba mengalihkan pikiran anak-anaknya dari ayah mereka.
“Jangan menagis, sayang” lanjut Anggun sambil meluk Juni di dadanya.
“Tapi Juni mau lihat ayah hiks… hiks… dan ketemu ayah” ucap Juni sambil tetap dengan isakan tangisnya.
“Iya sayang. Nanti kita lihat ayah. Tapi kamu jangan nangis lagi” ucap Anggun pada anaknya.
“Enggak!.. Juni mau ketemu ayah sekarang.. hiks…hiks” ucap Juni mendadak rewel dan keras kepala.
Membuat Anggun sedikit kewalahan dan resah.
“Tapi sayang, ayah kalian sedang…” ucap Anggun masih berusaha memberi pengertian.
Tapi tiba-tiba, pintu terbuka dan nampak lah seseorang dengan membawa boneka yang cukup besar hingga menutup wajahnya untuk dapat di lihat Anggun dan anak-anaknya.
__ADS_1
“Hay… Putri cantik. Kenapa kamu menangis?” ucap sebuah suara di balik kepala boneka yang terdengar di buat-buat suaranya.
“Kamu jangan bersedih lagi. Karena aku bisa membuat satu permintaan untuk kamu. Dan apapun yang kamu inginkan pasti akan aku berikan” ucap suara tersebut dengan suara besarnya.
“Kamu bohong. Kata Kak Juna gak ada sepelti itu. Kamu kan bukan Tuhan” ucap Juni saat teringat dirinya pernah membuat satu permintaan, namun Juna mengejek dan meremehkannya bahwa hal tersebut sesuatu yang bohong yang di buat-buat oleh para orang tua.
“Siapa bilang tidak bisa?. Kalau kamu tidak percaya, aku bisa membuktikannya” ucapnya dengan suara besar dan masih tetap menyembunyikan wajahnya di balik boneka.
“Katakanlah, apa yang kamu inginkan!” ucap suara tersebut dengan yakinnya.
“Aku… aku hanya ingin beltemu dengan ayahku dan memeluknya” ucap Juni meski dengan perasaan ragu namun tetap berharap keinginannya dapat terpenuhi.
Mendengar hal tersebut, rupanya membuat orang yang berada di balik boneka besar tersebut tiba-tiba nampak berkaca-kaca dan merasa terharu, yang mana orang itu adalah Leon.
Tentu hal itu membuat Leon merasa bersedih, apalagi saat sebelum dia masuk dan mendengar bahwa anak-anaknya itu begitu merindukan dan menginginkan kehadirannya.
Dan itulah yang membuat Leon berpura-pura dapat mengabulkan permintaan anaknya tersebut.
Karena dia yakin saat ini anak-anaknya hanya menginginkan kehadirannya dan tentu hal tersebut dapat ia kabulkan.
“Baiklah, kalau begitu sekarang tutup mata mu dan jangan buka sebelum aku memintamu untuk membukanya” ucap Leon setelah berusaha menahan kesedihannya.
Dan meski dengan perasaan tidak yakin, perlahan Juni mengikuti ucapan suara tersebut untuk menutup matanya.
Sementara itu, Leon pun perlahan mendekat ke tempat tidur di mana anaknya berada. Di mana ada Anggun dan juga Juna di sampingnya yang tengah memperhatikan interaksi tersebut.
Anggun dan Juna tidak menyadari bahwa orang tersebut adalah Leon. Mereka mengira dia adalah orang lain salah satu kenalannya yang sedang berkunjung.
Dan saat Leon menyingkirkan boneka dari wajahnya, seketika itu raut wajah Anggun pun nampak kaget dan syok. Namun berbeda dengan Juna yang tadinya terlihat tak bersemangat tanpa ekspresi, tiba-tiba menganga bahagia.
Namun Leon cepat-cepat memberikan isyarat menggunakan telunjuk dan menutup bibirnya pada Juna supaya tidak berteriak dan tidak memanggilnya daddy.
Dengan senang hati Juna pun mengerti isyarat yang di berikan daddynya. Dia mengerti bahwa daddynya akan memberi kejutan untuk adik perempuannya tersebut.
Kemudian untuk sesaat Leon beralih menatap Anggun yang sedang menatapnya tidak suka.
Namun Leon tidak memperdulikan ekspresi kekesalan istrinya tersebut. Dia malah menganggap hal itu terlihat lucu dan membuat Leon sedikit tersenyum.
Kemudian dia kembali menatap anak perempuannya yang masih terlihat menutup mata.
Leon nampak tersenyum bahagia, untuk sesaat dia seolah sedang mengagumi anak perempuannya tersebut. Dia tidak menyangka anak yang selama ini dia anggap anak dari pria lain ternyata adalah anaknya sendiri.
Dan ada sedikit rasa bersalah saat dirinya teringat di mana ia sempat kesal dan marah bahwa anak tersebut akan menjadi penghalan baginya.
Namun kini dia amat bahagia bahwa ternyata dia adalah anaknya dan juga tidak hanya satu tapi dua anak sekaligus.
“Sekarang kamu boleh buka mata!” ucap Leon pada anak perempuannya yang masih setia menutup mata.
Juni pun perlahan membuka matanya dan mendapati seorang pria dewasa sedang berada di hadapannya.
Rupanya dia masih belum mengerti dan memang dia belum pernah melihat ayahnya secara langsung, membuatnya hanya dapat menatap Leon dengan seksama.
__ADS_1
Berbeda dengan Juna yang sudah melihat dan mendengar bahwa Leon sempat mengakui dirinya sebagai ayah mereka saat Juni pingsan kemarin.
“Kamu siapa?” tanya Juni begitu polos.