
“Ya Tuhan… kenapa aku malah membuatnya teringat dengan wanita sialan itu” ucap nyonya Murni dalam hati, namun dia masih berpikir bahwa Anggun adalah wanita sialan.
“Ya sudah.. ya sudah… kenapa papa malah jadi marah begini sama mama” ujar Nyonya Murni, supaya suaminya tersebut tidak mengingat-ngingat lagi wanita yang di anggapnya sial itu.
“Kalau begitu lebih baik mama masuk ke dalam saja. Papa bikin mama bete aja” lanjut nyonya Murni dengan marah yang di buat-buat.
Kemudian dia segera bangkit dari duduknya dan melangkah pergi meninggalkan suaminya tersebut. Membuat tuan Michael merasa bersalah dan serba salah di buatnya.
“Mah… mah tunggu” ucap tuan Michael tidak enak hati membuat istrinya marah.
Namun dia juga sudah tahu adat istrinya itu, membuatnya tidak terlalu memikirkan hal tersebut.
“Hemm.. dasar dia itu” lanjutnya dan kembali menyeruput kopi yang sempat ia cicipi tadi tanpa berniat untuk mengejar istrinya tersebut yang sedang marah padanya.
Sementara nyonya Murni yang sudah di dalam kamarnya, tiba-tiba teringat pada Anggun. Dimana dia dulu memperlakukannya sangat kasar dan masa bodo.
Flash back on
“Anggun.. Anggun!!” teriak nyonya Murni, saat suami dan anaknya tersebut sudah pergi ke kantor.
“Dasar anak tidak tahu diri. Jam segini masih belum bangun juga?” kesalnya pada Anggun.
“I.. iya tante. Maaf, Anggun terlambat” ucap Anggun seraya berlari menghampiri wanita yang di panggilnya tante.
“Kamu ini harusnya tahu diri. Disini cuma numpang. Masih untung suamiku itu berbaik hati menampungmu” ucap nyonya Murni pedas dan tidak perduli dengan orang yang akan sakit hati jika mendengar ucapannya.
Anggun hanya bisa diam dan menunduk, dia sudah mulai terbiasa dengan ucapan wanita paru baya itu.
“Aku tidak tahu… kenapa suamiku sampai mau menampung anak seperti mu ini. Tidak berguna” lanjutnya belum puas.
Pada hal selama ini Anggun selalu menurut apa perintahnya. Bahkan ia terlambat saat ini karena ulahnya juga yang menyuruhnya melakukan sesuatu yang tidak jelas hingga Anggun baru bisa tidur dini hari.
Dan kini dia malah menyalahkan Anggun dan menganggapnya anak yang tidak berguna.
“Ya sudah sekarang kau boleh pergi berangkat sekolah. Tapi kau tidak boleh sarapan dan juga ingat jangan beritahu suami dan anak ku tentang apa yang terjadi tadi malam. Mengerti!!” lanjutnya.
__ADS_1
Membuat Anggun yang hendak mau sarapan dan baru menggeser kursinya tiba-tiba menghentikannya saat yang empunya rumah melarangnya untuk sarapan.
Anggun pun hanya dapat mengangguk dan segera melangkahkan kakinya untuk berangkat ke sekolahnya.
Pada hal tadi sebelum tuan Michael pergi lebih awal ke kantornya dia berpesan pada istrinya untuk menyuruh Anggun sarapan lebih dulu seperti biasanya.
Selama ini nyonya Murni memang berpura-pura bersikap baik pada Anggun jika di depan suaminya tersebut.
Tapi ada kalanya dia menunjukan ketidak sukaannya langsung pada Anggun di depan suaminya tersebut.
Namun hal itu sudah pernah mereka bahas dan nyonya Murni tetap pada pendiriannya tidak suka bahwa Anggun ada di rumah tersebut.
Itu sebabnya tuan Michael tetap meminta langsung pada istrinya tersebut untuk menyuruh Anggun sarapan terlebih dahulu.
Siang pun datang dan tiba-tiba nyonya Murni merasa tidak enak badan dan dia pun sakit.
Dia tidak memberitahu suami dan anaknya saat tadi suaminya menelpon untuk memberitahu bahwa mereka akan ada pertemuan penting di luar kota.
Dia pikir sakitnya hanya sakit biasa, sehingga dia memutuskan untuk tidak memberitahu mereka.
Namun setelah menjelang sore dia merasa sakitnya semakin parah. Dia hendak kembali ke kamarnya, namun tiba-tiba kepalanya semakin pusing dan tubuhnya terasa lemas.
Dengan sigap Anggun segera membawa nyonya Murni masuk ke dalam kamar pribadinya. Meskipun awalnya dia tidak mau di bantu oleh Anggun.
Dan dia lebih memilih berteriak memanggil-manggil para pekerja yang ada di dalam rumah tersebut.
Tapi sayangnya, orang-orang tersebut sibuk dengan pekerjaannya masing-masing dan sebagian berada di luar rumah.
Bagaimana tidak, teriakan nyonya Murni yang sedang sakit saat ini seperti seekor anak kucing yang bengek. Membuat pelayan dan lainnya tidak dapat mendengar teriakan sang empunya rumah.
Membuatnya mau tidak mau harus menerima bantuan dari Anggun.
Rumah yang sangat besar dan luas itu rupanya tanpa di sadari membuatnya sedikit kesulitan juga.
“Mbo Minaah…” panggil nyonya Murni namun tidak dapat di dengar siapapun, kecuali Anggun yang saat ini sedang berada di sampingnya.
__ADS_1
“Kau tidak perlu pura-pura baik pada ku. Aku tidak butuh bantuan mu. Lepas kan tangan kotor mu itu” lanjut nyonya Murni dengan menahan rasa sakit di kepalanya, namun tetap saja masih sanggup mencela dan menghina Anggun.
“Tante.. tante tenang dulu. Biarkan Anggun membantu tante, nanti setelah tante sembuh silahkan tante mau marah-marah sepuas hati, Anggun akan terima. Tapi sekarang biarkan Anggun bawa tante dulu ke kamar, ya” ucap Anggun tidak bisa berdiam diri melihat orang lain sedang sakit di hadapannya meskipun orang itu senantiasa menyakitinya.
“Kau..” ucap nyonya Murni hendak mengomel kembali saat mendengar Anggun berani berbicara seperti itu padanya.
Tapi rasa sakit yang di alaminya membuatnya tidak dapat bertahan lagi, dan nyonya Murni pun pingsan.
Anggun yang melihat hal tersebut pun segera memanggil beberapa pelayan untuk membantunya membawa nyonya Murni ke kamarnya.
Tentu saja dia belum terbiasa mengangkat tubuh wanita parubaya yang cukup besar itu sendirian.
Beberapa menit kemudian dokter pun datang, setelah tadi Anggun meminta Mbo Minah untuk menelponnya.
Dokter pun mengatakan bahwa nyonya Murni mengalami beberapa gejala seperti pusing, sakit kepalan dan sesak nafas yang mana itu terjadi karena nyonya murni mengalami gejala darah tinggi.
“Anda tenang saja, nyonya Murni hanya mengalami darah tinggi. Nanti saya akan memberikan resepnya, anda tidak perlu khawatir. Cukup perhatikan pola makannya yang sehat dan ajaklah beliau untuk olah raga dengan rutin” ucap Dokter tersebut memberitahu dan memberi solusi untuk kedepannya.
Mendengar hal tersebut Anggun hanya dapat mengangguk dan mengiyakan.
Dokter pun segera pergi dan meninggalkan rumah tersebut setelah memberikan resep obat pada Anggun.
Dengan telaten, Anggun membiarkan dirinya untuk tetap merawat wanita paruh baya tersebut.
Dia tidak perduli jika nantinya dia akan kena omel lagi.
Untuk saat ini yang Anggun tahu dia harus tetap berada di samping nyonya Murni dan merawatnya hingga sembuh.
Namun sebelum itu, Anggun terlebih dahulu mengganti pakaian sekolahnya dengan pakaian rumah.
Sambil menuju kamar nyonya Murni, ia sekalian membawa air hangat untuk meredakan sakit di kepala nyonya Murni.
Dan juga tidak lupa membawa obat yang tadi sudah di belikan oleh mang Kumis setelah memberikannya resep obat.
Anggun pun merawat nyonya Murni dengan baik, tidak perduli sebelumnya ia sudah di perlakukan buruk olehnya.
__ADS_1
Bahkan di saat Anggun sudah kelelahan merawat wanita yang selalu angkuh kepadanya, dia tetap tidak meninggalkan wanita paruh baya itu sendirian.
Flas back off