Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh

Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh
Tenanglah


__ADS_3

Beberapa hari kemudian orang-orang sudah mengetahui kesembuhan Leon yang tidak lagi lumpuh.


Begitupun dengan kedua orang tua Leon yang merasa senang mendengar kabar tersebut.


Namun rupanya Leon belum menemui kedua orang tuanya secara langsung untuk memberitahu mereka.


Membuat nyonya Murni merasa sedikit kesal dengan sikap putranya tersebut.


Dia memutuskan untuk pergi sendiri menemui Leon di mentionnya.


Dia sudah tidak sabar melihat kondisi anaknya tersebut yang sudah beberapa hari tidak pulang, apalagi dia harus mendengar kesembuhan anaknya tersebut dari orang lain. Membuatnya merasa sedikit kecewa.


Dengan di temani sopir pribadinya, nyonya murni kini sudah berada di halaman depan mention putranya tersebut.


Nyonya Murni segera melangkahkan kakinya menuju pintu rumah itu. Dia segera masuk dan mencari-cari putranya tersebut.


Namun sayang, dia tidak menemukan keberadaan Leon.


Tapi dia malah mendapati dua anak kecil yang begitu menggemaskan, mereka terlihat cantik dan tampan.


Hal tersebut membuat nyonya Murni nampak terlihat senang namun tiba-tiba raut wajahnya berubah, dia merasa bingung kenapa ada anak-anak kecil di mention putranya tersebut.


Selama ini yang dia tahu putranya tersebut bukanlah orang yang mudah memasukkan siapapun ke mentionnya sekalipun anak kecil.


Tapi siapa anak-anak kecil itu. Apa hubungannya dengan Leon. Kenapa mereka bisa ada di mentionnya?. Itulah pertanyaan-pertanyaan yang ada di benak nyonya Murni.


Namun saat melihat Juna, tiba-tiba dia teringat dengan seorang anak kecil yang pernah bertemu dengannya di mall saat itu.


Anak yang mengingatkan nyonya Murni pada masa Leon kecil dulu.


“Apa mungkin mereka anak Leon?. Tapi bagaimana bisa?. Kenapa Leon tidak pernah bilang padaku?.”


“Dan lagi…, selama ini Leon lumpuh. Jadi bagaimana bisa dia berhubungan dengan wanita tanpa sepengetahuanku”


“Tapi siapa anak-anak itu?”


Tidak mau berpikir terlalu banyak, nyonya Murni pun segera menghampiri mereka yang tengah bermain bersama.


“Hallo anak-anak… “ ucap nyonya Murni menghentikan sesaat permainan mereka.


“Kalian siapa, kenapa bisa ada di sini?” tanya nyonya Murni dengan lembutnya.


“Nenek siapa?” tanya Juni dengan polosnya balik bertanya.


“Ah… sepertinya aku pernah melihat nenek” ucap Juna yang tiba-tiba kepikiran sesuatu.


“Mmh.. ya… aku ingat sekarang. Nenek yang waktu itu di mall, kan”


“Kenapa nenek ada di rumah Deddy kami?” ujar Juna dan bertanya, masih merasa sedikit bingung dengan kedatangan nenek tersebut.


“Apa?. Daddy?” ucap nyonya Murni sedikit syok.


“Kamu bilang ini rumah daddy?”

__ADS_1


“Berarti kalian cucu ku?” ucap nyonya Murni masih bingung.


“Ya Tuhan…. Bagaimana mereka bisa menjadi anak-anak dari putraku?” ucap nyonya Murni masih sedikit syok dan tak percaya.


Meski dia sempat menduga anak laki-laki yang pernah di temuinya waktu itu memang mirip putranya sewaktu kecil. Tapi dia tidak yakin jika anak tersebut memang benar-benar anak dari putranya tersebut.


Pasalnya dia tidak pernah melihat Leon jalan dengan wanita manapun setelah kecelakaan itu apalagi memiliki seorang pacar.


Tapi setelah di pikir-pikir lagi mungkin saja Leon sempat berhubungan dengan wanita sebelum kecelakaan tersebut jika melihat dari usia anak-anak tersebut.


Meskipun nyonya murni tidak mengetahui wanita mana yang sudah melahirkan cucunya tersebut, tapi entah kenapa dia merasa senang dan bahagia mengetahui anak-anak tersebut adalah cucunya.


Karena dengan begitu keluarganya sudah memiliki keturunan sebagai penerus keluarga Adinata nantinya.


“Berarti kalian cucuku” ucap nyonya Murni dengan senangnya.


“Cucu nenek?” tanya Juni merasa bingung.


“Berarti nenek… nenek kita?” ucap Juna memastikan, yang di angguki oleh nyonya Murni.


“Hole… belalti kita punya nenek, kak” pekik Juni merasa senang dengan hal tersebut.


Mereka nampak bahagia setelah mengetahui bahwa mereka masih memiliki nenek dari keluarga ayah mereka.


Sementara itu di jalan, Anita nampak kepikiran dengan anak-anaknya. Sudah beberapa hari mereka tinggal bersama ayah mereka. Tapi sepertinya mereka tidak merindukannya sama sekali.


Apa mereka sudah benar-benar melupakan dirinya hanya karena harta dan rumah besar itu?!.


Tapi tidak, bagaimana mungkin mereka tega melupakan ibunya sendiri, itu tidak mungkin.


“Ya.. pokoknya nanti malam aku harus segera membawa mereka pulang bersamaku. Sebelum mereka benar-benar betah tinggal bersama ayahnya”


“Nit…Nita” pekik seorang pemuda memanggilnya.


“Di panggil boss, tuh. Malah ngelamun aja”


“Ah… iya. Maaf bang Andre. Ya sudah aku temui pak bos dulu”


Anita pun pergi menemui bosnya tersebut.


“Permisi, pak. Apa bapak memanggil saya?” ucap Anita setelah mengetuk pintu ruangan bosnya dan setelah di beri izin masuk.


“Ah.. iya. Silahkan duduk”


”Begini Anita, barusan saya mendapat info bahwa perusahaan kita sudah di pindah alihkan. Dan untuk itu, karena dokumennya belum lengkap saya di minta untuk menyerahkan dokumen penting ini pada pemilik baru. Tapi sebentar lagi saya juga ada meeting dengan yang lain. Untuk itu saya mau meminta tolong kamu, untuk berikan dokumen ini. Kamu bisa kan?”


“Oh, ya tentu pak. Bisa”


“Terima kasih, Anita. Kamu memang bisa di andalkan”


“Nanti kamu temui mereka di kafe ‘Gen Z’ ya”


“Baik, pak”

__ADS_1


Anita pun bangkit dari tempat duduknya dan segera melakukan apa yang telah di perintahkan padanya.


Sesampainya di tempat tujuan, Anita segera mencari tahu meja yang telah di pesan bos dan rekan bisnisnya tersebut.


Pelayan pun segera membawa Anita ke meja yang telah di pesan. Meskipun tatapan dan sikap pelayan padanya terlihat risih dan tak meyakinkan namun Anita tidak ambil pusing dan memilih masa bodoh.


Dia mengerti mungkin para pelayan melihat dirinya dari apa yang saat ini dia kenakan. Berbeda dengan para tamu lain yang sering mereka lihat, modis dan berkelas.


Bagaimana tidak, kafe tersebut memang di peruntukan untuk kalangan menengah ke atas. Tapi bukan berarti mereka dapat melarang seseorang yang berpenampilan biasa saja untuk tidak masuk.


Itu sebabnya Anita masih dapat di izinkan masuk dan menempati meja yang sudah di pesan.


Cukup lama Anita menunggu, perasaannya sudah mulai tak nyaman berada di antara orang-orang yang melihatnya berbeda dan juga ada beberapa orang yang melihatnya dengan tatapan risih.


Membuatnya tidak dapat bertahan lagi dan membuatnya hendak pergi. Namun saat dirinya bangkit dan hendak pergi, tiba-tiba seseorang menahannya dan membuatnya kembali duduk.


Anita mengira orang tersebut mungkin orang yang sedang di tunggunya. Membuatnya bersikap hormat dan sedikit menundukan kepala tidak berani menatap langsung orang yang di pikirnya terhormat dan penting tersebut.


Namun saat Anita memberikan dokumen yang di titipkan padanya dan orang tersebut mulai berbicara, tiba-tiba suara orang tersebut mengingatkan dirinya pada seseorang yang sangat ia kenal suaranya, siapa lagi kalau bukan Leon Adinata.


“Maaf pak, saya di tugaskan untuk memberikan dokumen ini pada anda. Silahkan anda cek dulu” ucap Anita tanpa berbasa basi sambil menunduk sedikit dan memberikan dokumen tersebut.


“Bagaimana kabar mu akhir-akhir ini?” tanya Leon dengan santainya sambil mengambil dokumen yang Anita berikan.


“Suara itu?” ucap Anita dalam hati, merasa kenal dengan suara tersebut, namun masih dalam posisi menundukkan sedikit kepalanya.


Merasa penasaran, Anita pun perlahan mengangkat kepalanya dan door dia pun sedikit kaget saat melihat bahwa Leon lah yang saat ini berada di hadapannya.


“Kamu?!”


“Ke..kenapa bisa ada di sini?”


“Menurutmu?” ucap Leon dengan santainya sambil sedikit memeriksa isi dokumen tersebut.


“Jangan bilang kalau kamu… pemilik baru tempat aku bekerja saat ini!” ucap Anita nampak terlihat was-was dan takut jika memang benar pemilik perusahaan tempatnya bekerja saat ini adalah dia.


“Ya.. itulah kenyataannya”


“Apa?.”


“Tapi bagaimana bisa?!”


“Hey… tenanglah. Aku tidak akan memecatmu. Justru aku akan membuatmu bekerja lebih nyaman dari yang sebelumnya”


“Apalagi jika kamu bersedia tinggal bersamaku dan juga anak-anak. Hidupmu pasti akan lebih terjamin” ucap Leon sambil mendekatkan suaranya di telinga Anita.


“Tidak akan pernah” ucap Anita dan langsung pergi meninggalkan Leon bersama dengan asistennya.


Dengan perasaan kesal dan merasa tertipu Anita segera masuk ke mobil taxinya dan melajukannya.


Sementara itu, Leon hanya dapat melihat kepergian Anita dengan senyum semiriknya.


Entah apa yang di pikirkan Leon saat ini setelah dia berhasil mengakuisisi perusahaan tempat dimana Anita bekerja saat ini.

__ADS_1


Mungkin Leon pikir setelah mendapatkan hal tersebut, dengan tidak langsung Anita sudah berada di genggaman tangannya.


__ADS_2