Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh

Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh
Kenapa Aku Harus Menjelaskannya?


__ADS_3

“Tenang, Anggun” ucap Leon sambil menempelkan telunjuknya di bibir ranum Anggun.


Dan untuk beberapa saat hal tersebut mampu membuat Anggun tertegun dengan sikap Leon tersebut.


Begitupun dengan Leon, yang tadinya dia spontan supaya Anggun tidak membuat keributan karena terganggu dengan kehadirannya, yang mana tadi Leon sempat menguping bahwa tidak boleh membuat keributan apapun di depan anaknya tersebut.


Membuat Leon dengan segera menempelkan telunjuknya di bibir Anggun. Namun hal tersebut malah membuat keduanya saling memandang satu sama lain lebih dekat hingga membuat jarak keduanya terlihat dekat sekali.


Entah apa yang ada di pikiran mereka saat ini, namun terlihat kerinduan di mata mereka yang tertahan sekian lama.


Hingga beberapa saat berlalu, Juna yang memperhatikan mereka cukup lama merasa aneh dan bingung dengan tatapan kedua orang dewasa tersebut.


Membuatnya segera menarik ujung baju Anggun untuk menyadarkannya dari keheningan tersebut.


“Mam..” lirih Juna sambil menarik ujung baju maminya tersebut.


“Mam…” ucapnya lagi karena tak ada respon.


“Mam!!” ucap Juna sedikit lebih keras sambil menarik ujung baju maminya lebih kencang.


“I..iya sayang. Ada apa?” ucap Anggun sedikit terbata-bata dan juga nampak terlihat canggung setelah melepaskan tatapannya dari Leon.


Begitupun dengan Leon, saat menyadari telunjuknya masih menempel di bibir Anggun, dia segera menarik kembali telunjuknya dengan canggung sebelum Anggun mulai berbicara pada anaknya tersebut.


Mereka nampak seperti malu-malu, seolah habis ketahuan melakukan sesuatu.


Juna yang bingung dengan reaksi keduanya dan masih polos kembali berbicara pada maminya tersebut.


“Mami… kenapa kalian terlihat malu-malu begitu?” tanya Juna dengan polosnya.


“Hah… mmhh…” bingung Anggun hendak berbicara apa pada anaknya tersbebut.


“Ti..tidak sayang. Tidak seperti itu” ucap Anggun hendak mengelak.


“Tadi kan dokter bilang kita tidak boleh berisik, jadi kami berusaha untuk diam supaya Juni tidak terganggu. Begitu, sayang” ucap Anggun memberi pengertian.


“Ya sudah kalau begitu, ibu ke toilet sebentar ya” ucap Anggun pada anaknya tersebut.


Seolah dia ingin menghindar dari Leon dan juga ingin menetralkan perasaannya tersebut yang tiba-tiba tak jelas.

__ADS_1


Sementara itu, Leon nampak sok asik dengan Juna. Pada hal selama ini, Juna termasuk anak yang sulit di dekati oleh siapa pun. Tapi saat ini Juna nampak terlihat dekat dengan orang asing, meskipun sebenarnya mereka adalah anak dan ayah, pikir Anggun.


Dan dengan perasaan herannya, Anggun terus melangkah menuju toilet. Meninggalkan Leon bersama anak-anaknya.


Beberapa menit kemudian Anggun pun kembali ke ruangan anaknya.


Namun saat masuk kedalam ruangan tersebut, Anggun tidak melihat anak-anaknya. Dia merasa heran dan bingung.


Dia hanya melihat Leon yang hanya tinggal sendiri. Anggun mulai merasa cemas takut terjadi sesuatu pada anaknya di saat dia meninggalkan mereka sebentar tadi.


“Kemana anak-anak?” tanya Anggun saat tak mendapati kedua anaknya tidak ada.


“Dimana mereka?” tanyanya lagi dengan perasaan cemasnya.


“Kamu tenang dulu Anggun. Mereka baik-baik saja. Aku hanya menyuruh perawat untuk memindahkan anak kita ke ruangan yang lebih baik” ucap Leon mencoba memberitahu Anggun.


“Apa?…. Anak kita dia bilang?” ucap Anggun dalam hati merasa syok saat Leon mengatakan hal tersebut.


Bagaimana Leon bisa berkata seperti itu?. Apa dia sudah tahu jika mereka benar-benar anaknya?. Tapi bagaimana bisa?, pertanyaan-pertanyaan Anggun yang ada di benaknya saat ini.


“Lalu sekarang mereka di mana?” tanya Anggun ketus.


Namun Leon tak langsung menjawab, membuat Anggun sedikit tak sabaran. Dia hendak berbalik untuk melangkah pergi meninggalkan ruangan tersebut untuk mencari tahu sendiri kemana anak-anaknya di pindahkan.


Mereka tinggal berdua, hal itu membuat Anggun sedikit tidak nyaman. Dia ingin benar-benar segera keluar dari tempat tersebut.


“Apa yang kau lakukan, Kak?. Aku mau keluar. Cepat menyingkirlah!” pinta Anggun sedikit tak sabaran.


“Tidak..” tolak Leon.


“Sebelum kau jujur pada ku” lanjutnya.


“Maksudnya?”


“Kenapa kau bohong tentang anak-anak kita?”


“Apa?… Jadi benar dia sudah tahu tentang anak-anak?” tanya Anggun dalam hati, sedikit bingung.


“Dan kenapa kau menyembunyikan kebenaran tentang mereka?” lanjut Leon kembali bertanya sebelum mendengarkan jawaban dari pertanyaan sebelumnya.

__ADS_1


Namun Anggun seolah enggan untuk menjawab setiap pertanyaan yang Leon berikan. Dan seolah dia tidak perduli jika Leon tengah menghalang-halanginya.


Dia hendak menarik gagang pintu yang pintunya tengah di halangi oleh Leon.


Anggun benar-benar tidak perduli dengan apa yang sedang Leon lakukan saat ini.


“Minggir!!” ketus Anggun sambil menarik gagang pintu ruangan tersebut, berharap Leon akan menyingkir secepatnya.


Namun rupanya hal tersebut tidak membuat Leon mengindahkannya.


Dia segera memegang tangan Anggun yang hendak membuka gagang pintu tersebut.


Dan kemudian Leon segera membawanya ke samping dinding pintu, dia segera mengungkung tubuh Anggun ke dinding ruangan tersebut.


Supaya Anggun tidak lagi berusaha untuk cepat-cepat keluar ruangan.


Karena Leon ingin segera mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya tadi.


“Apa yang kau lakukan. Cepat lepaskan aku. Aku ingin menemui anak-anakku” ucap Anggun saat dirinya merasa tak nyaman berada di dalam kungkungan Leon saat ini.


Namun sebenarnya bukan tak nyaman, tapi lebih kepada jantungnya yang dari tadi terus berdebar tak karuan setiap kali berdekatan dengan Leon.


“Tidak. Sebelum kau mengatakan semuanya padaku” ucap Leon dengan sorot mata tajam yang terus menatap Anggun sambil tetap menahan tubuh Anggun pada dinding.


“Memang apa yang ingin kau tahu. Semuanya sudah jelas, tanpa aku mengatakannya pun kau sudah tahu sendiri”


“Kau memang benar. Tapi aku tetap ingin mendengar langsung semua penjelasannya dari mu”


“Kenapa aku harus menjelaskan semuanya pada mu. Bukankah waktu itu kau ingin aku pergi dari hidup mu?” ucap Anggun dengan mata yang berkaca-kaca, berusaha untuk tidak menangis. Namun ingatan masa lalu, di mana Leon memintanya untuk pergi dari hidupnya membuat Anggun seolah tersayat sembilu.


Dan kini orang tersebut meminta penjelasan padanya. Bukan kah dia sendiri yang memintanya untuk pergi, apakah dia lupa atau hilang ingatan.


Mendengar ucapan Anggun tersebut dan melihat sorot matanya, seketika itu pun Leon mulai melonggarkan kungkungannya.


Tiba-tiba rasa bersalah dan ingatan masa lalu yang menyuruh Anggun pergi dan mengusirnya terbayang di benak Leon.


Menyadari dirinya dapat pergi, Anggun pun segera meninggalkan Leon dari ruangan tersebut.


Anggunpun sedikit berlari, dan saat di lorong yang sepi ia pun mulai menangis mana kala air mata yang dari tadi dia tahan kini terjatuh juga.

__ADS_1


Bagaimana tidak, selama ini dia berusaha tegar untuk melupakan masa lalunya yang cukup menyakitkan untuknya.


Tapi tiba-tiba masa lalunya datang kembali dan meminta penjelasan kenapa dia berbohong dan tidak mengatakan tentang anak-anaknya tersebut.


__ADS_2