
Bagaimana tidak, jika seseorang dengar atau bosnya sendiri yang mendengar ucapan temannya itu, sudah barang tentu bukan hanya akan di pecat tapi mungkin akan mendapatkan masalah yang lebih besar lagi.
Sementara itu, Anggun sudah berada di hadapan meja tuannya. Dia segera meletakkan kopi hitam yang di minta oleh Leon.
Namun sepertinya Leon tengah sibuk menerima telpon dari seseorang. Membuat Anggun hendak pergi dari tempat tersebut setelah meletakkan pesanan bosnya tersebut.
Anggun segera berbalik dan hendak melangkah pergi keluar dari ruangan tersebut.
Tapi tiba-tiba suara Leon terdengar melengking dan membuat Anggun menghentikan langkahnya.
“Tunggu!!” Pekik Leon seolah memerintah. Membuat Anggun segera menghentikan langkahnya.
“Kau jangan macam-macam. Memangnya siapa yang telah memberimu izin, hah?” suara Leon yang terdengar marah-marah.
“Ya Tuhan.. Apalagi sekarang. Kenapa dia suka sekali menghentikan aku pergi” ucap Anggun dalam hati, baru saja dia ingin melangkah pergi tapi lagi-lagi Leon menghentikan langkahnya, pikir Anggun.
Pada hal yang sebenarnya, Leon sedang memarahi bawahannya di telpon.
Dan saat Anggun berbalik kembali hendak protes, dia melihat Leon sedang membelakanginya saat masih sedang marah pada karyawannya tersebut.
“Aaada… “ ucap Anggun sambil berbalik dan segera menutup mulutnya saat menyadari bahwa dirinya salah paham dengan bosnya tersebut.
“Uppss…” Anggun segera menutup mulutnya.
“Ya Tuhan… aku pikir dia sedang marah padaku. Lebih baik aku segera keluar dari pada aku kena omel lagi. Mumpung dia masih sibuk dengan telponnya” lanjut Anggun dalam hati.
Dia perlahan melangkahkan kakinya supaya tidak terdengar dan di sadari oleh tuannya tersebut.
Setelah sampai di daun pintu, Anggun segera keluar dan menutup pintu tersebut dengan pelan.
Sementara Leon yang sudah marah-marah dengan bawahannya di telpon, dia segera membalikkan kursi rodanya dan melihat kopi hitam pesanannya sudah berada di mejanya.
“Kapan dia membawa kopinya?” tanya Leon yang tidak menyadari datang dan perginya Anggun saat membawakannya kopi.
“Dasar tidak sopan, beraninya dia masuk dan pergi begitu saja” kesal Leon yang menganggap Anggun tidak sopan.
“Awas saja kalau kopinya sampai membuat ku tak berselera” lanjut Leon sambil perlahan mengambil cangkir kopi yang di sajikan Anggun.
Perlahan Leon menghirup terlebih dahulu kopi tersebut. Lalu kemudian dia mulai menyeruputnya. Hingga membuat matanya tiba-tiba membulat dan berkata sesuatu.
“Eehhm.. lumayan” ucapnya sedikit menyepelekan, namun Leon kembali menyeruputnya hingga secara perlahan kopi pun habis hingga tandas.
Sementara itu Anggun, setelah meninggalkan Leon di ruangan kantornya, dia memilih untuk mencari sarapan namun dia hanya mendapatkan sebungkus roti di seberang jalan di mini market.
__ADS_1
Sebenarnya Anggun ingin membeli nasi atau makanan sejenisnya tapi sepertinya dia tidak menemukannya di tempat tersebut.
Dan dengan terpaksa dia pun membeli roti dan air mineral. Sambil dia mengunyah roti, Anggun tiba-tiba teringat dengan anak-anaknya.
Dia pun segera menelpon mereka melewati anak menantunya Bi Asri.
Meskipun Anggun baru satu hari meninggalkan mereka, tapi rasa-rasanya dia sudah meninggalkan anak-anaknya dalam waktu yang lama.
Sambungan video call pun terhubung, dan beruntung dia dapat langsung bertatapan dengan anak sulungnya.
Mungkin menantunya Bi Asri sudah tahu siapa yang tengah menelponnya dan langsung di berikan pada Juna.
“Hallo mami..” ucap Juna langsung berseri saat melihat wajah mami tercintanya.
“Mami kemana saja, kenapa mami balu telpon kami?” lanjut Juna dan bertanya.
“Maafkan Ibu sayang. Ibu baru menelpon kalian” ucap Anggun dan sedikit meneteskan air mata”
“Bagaimana keadaan kalian, kalian baik-baik aja kan?” lanjut Anggun merasa sedikit cemas.
“Iya Mami aku baik-baik saja. Tapi Juni slalu nanyain mami. Mami kapan menjengunnya?” ucap Juna sekaligus menginformasikan keadaan adiknya tersebut.
“Apa Juni sudah siuman, sayang?” tanya Anggun yang baru mengetahui bahwa putrinya tersebut sudah mulai siuman.
“Ini Mami, Juni ada di sampingku. Mami tenang saja, aku akan selalu menjaganya” lanjut Juna sambil memperlihatkan gambar dan posisi adiknya tersebut, dan ucapannya kali ini membuat Anggun kembali merasa bersedih dan terharu.
Tidak menyangka anak laki-lakinya tersebut dapat berkata demikian.
Hati siapa yang tak tersentuh jika melihat dan mendengar anaknya sudah dapat bersikap dewasa.
Mereka pun mulai berbicara panjang lebar. Beruntung Juni tidak begitu rewel saat tahu bahwa ibunya tidak dapat bersama dengannya saat ini.
Meskipun anaknya tersebut sempat menangis karena merindukan kehadirannya, begitupun juga dengan Anggun.
Setelah beberapa waktu, Anggun pun segera menutup panggilannya.
Masih dengan menyeka air matanya, dia masih begitu rindu dengan anak-anaknya. Namun dia tidak bisa terus-terusan memperlihatkannya pada si kembar.
Dengan terpaksa dia pun harus menyudahi panggilan tersebut.
Beberapa jam kemudian, Leon menelpon Anggun dan menyuruhnya untuk segera ke ruangannya.
Dan mau tidak mau Anggunpun segera berlari menuju lift ke lantai 22.
__ADS_1
Dia pikir terjadi sesuatu pada tuannya tersebut. Karena pada saat Leon menelponnya dia meminta buru-buru dan ingin segera.
Namun pada saat Anggun sudah berada di ruangan bosnya tersebut. Dia nampak terkejut, karena tidak terjadi apa-apa dengan Leon.
Malah bosnya tersebut, nampak terlihat santai dan duduk manis.
“Tuan, apa kau baik-baik sa..” ucap Anggun dengan suara memburu merasa khawatir, namun kalimatnya terhenti saat melihat tuannya baik-baik saja.
“Ya Tuhan… ku pikir dia kenapa-kenapa. Ternyata, dia hanya membuat ku kesal saja” ucap Anggun dalam hati, merasa kesal karena harus berlarian memikirkan bosnya takut terjadi sesuatu padanya.
Dan rupanya Anggun belum terbiasa dengan sikap Leon yang akan sering membuatnya berlarian naik turun lift untuk mengikuti setiap perintah dan keinginannya.
Seperti saat ini, Leon menyuruh Anggun ke ruangannya tersebut untuk memintanya membelikan makan siang sesuai keinginannya.
Pada hal kalau Leon mau, dia bisa saja memintanya tadi di telpon tanpa harus membuat Anggun berlarian ke ruangannya.
Tapi entah mengapa hal tersebut membuat Leon seolah ada mainan baru yang dapat membuatnya merasa ada kesenangan tersendiri untuknya.
Pada hal selama ini, Leon slalu saja bermasalah dengan sopir-sopir sebelumnya tanpa ada rasa senang seperti yang saat ini dia rasakan.
“Beli kan aku makan siang. Aku ingin makanan dari kafe ‘SEMPURNA’ dan aku tidak ingin menunggu lama. Cepat belikan sekarang!” ucap Leon memerintah tanpa Anggun dapat menyela ataupun protes padanya.
“Cepat sekarang!!” pekik Leon tanpa mau mendengarkan Anggun yang baru membuka mulutnya.
Membuat Anggun bergidik ngeri dan segera berbalik melangkahkan kakinya untuk mencari tahu dimana kafe yang di maksud tuannya tersebut.
Beruntung jamannya sudah canggih, jadi Anggun dapat mencari tahu lokasi terdekat kafe yang di inginkan Leon menggunakan mbah gugel.
Namun kali ini masalahnya, Anggun tidak tahu makanan apa yang di inginkan tuannya saat ini.
Anggun mencoba menghubungi Leon untuk menanyakan hal tersebut. Tapi beberapa kali mencoba, Anggun tak dapat menghubunginya.
Hingga akhirnya sampai di tempat tujuan, Anggun lebih memilih untuk memesan makanan ke sukaan Leon saat mereka masih berbaikan dulu.
Entah Leon masih menyukainya atau tidak, tapi yang terpenting saat ini dia harus segera membawakan makan siang dengan cepat dan tepat waktu.
“Bodo amatlah. Suruh siapa gak bisa di hubungin. Yang penting aku tidak memberimu racun. Kau makan atau tidak, terserah pada mu !” ucap Anggun sambil mengomel pada makanan yang sudah di pesannya untuk Leon.
“Menyusahkan saja!” pekik Anggun melampiaskan kekesalannya pada makanan yang tidak tahu apa-apa.
Membuat orang-orang yang melihat tingkahnya menatap aneh dan berpikiran setres tentang Anggun.
Namun Anggun yang tidak memperhatikan hal itu tidak tahu dan lebih memilih segera bergegas untuk kembali ke perusahaan bosnya tersebut.
__ADS_1