
Anggun pun mau tidak mau, bergegas kembali berjalan untuk menuju ruangan bosnya tersebut.
Tapi sebelum itu, dia harus membuat kopi terlebih dahulu seperti yang di inginkan tuannya barusan di telpon.
Sementara itu di rumah sakit, Juni sudah nampak terlihat membaik dari yang sebelum-sebelumnya.
Kini ia mulai kembali bertanya-tanya tentang ibunya.
Sudah beberapa hari dia di rumah sakit. Tapi ibunya belum juga menjenguknya. Membuatnya merasa sedih dan mempertanyakan ibunya tersebut.
“Kak Juna, kenapa ibu tidak mengunjungi kita?. Apa ibu tidak sayang kita lagi?” ucap Juni yang baru selesai sarapan, nampak terlihat sedih kembali dan hendak menangis.
“Siapa bilang ibu kalian tidak sayang kalian lagi?” ucap menantu bi Asri yang slalu menjaga si kembar saat ini.
“Justru karena ibu sayang kalian, makanya terpaksa harus pergi dulu sebentar, supaya bisa bayar perawatan rumah sakit ini dan Juni bisa segera pulang ketemu ibu nanti” lanjutnya mencoba memberi pengertian. Entah anak-anak itu dapat mengerti atau tidak dengan apa yang di katakannya tersebut.
“Apa ibu juga pelgi seperti ayah dan meninggalkan kami untuk mencali uang?” tanya Juni pada Nina.
“Tapi ayah tidak pelnah menemui kami?” ucap Juni saat melihat anggukan yang di berikan Nina padanya.
Yang mana hal tersebut membuatnya teringat perkataan ibunya yang memberi alasan yang sama ketika Juna dan Juni bertanya kemana ayah mereka.
“Kalau sepelti itu… hhik.. hik… “ lanjut Juni sambil menagis merasa sedih.
“belalti ibu tidak akan kembali agi” pikir Juni yang menganggap ibunya akan sama seperti ayahnya tidak akan pernah kembali lagi menemui mereka. Hingga tangisannya pun pecah.
“Tidak sayang… tidak seperti itu” ucap Nina tiba-tiba merasa salah bicara karna telah membuat Juni salah paham dengan ucapannya. Nina pun merasa bersalah dan ikut bersedih mendengar hal tersebut, apalagi saat melihat Juni menangis.
“Jangan menangis sayang. Ibu kalian pasti akan kembali” lanjut Nina tetap berusaha membuat Juni tidak salah paham dengan maksudnya berbicara seperti tadi.
“Juni!.. kau ini bodoh sekali. Tentu saja mami tidak akan meninggalkan kita. Mami itu sayang sama kita dan tidak mungkin akan meninggalkan kita” ucap Juna pada adiknya layaknya orang dewasa namun tetap dengan meledek adiknya tersebut.
“Apa itu benal kak Juna?” tanya Juni memastikan sambil menghapus air matanya.
“Tentu saja. Dasal cengeng” ucap Juna dan meledek namun berhasil menghentikan tangis adik nya tersebut.
“Lebih baik sekarang kau kembali istilahat dan tidul” lanjut Juna sok dewasa dan mulai menyuruh adiknya untuk segera beristirahat.
__ADS_1
Nina yang melihat tingkah laku kedua anak kembar yang berbeda jenis itu hanya dapat tercengang dan melihat mereka dengan geleng kepala pelan.
Sementara itu, Anggun sudah keluar dari pantri sambil membawa secangkir kopi hitam yang di pinta tuannya tadi.
Tapi saat ia membuka pintu ruangan bosnya tersebut, tanpa sengaja dia melihat Leon dan Silvia dalam posisi yang terlihat ambigu, hingga membuat Anggun salah paham dengan apa yang tengah di lihatnya.
Untuk sejenak Anggun hanya dapat mematung tak berkedip. Membuat Silvia merasa kesal karena dia hendak menggoda Leon dengan caranya sendiri.
Tapi sebelum Silvia melakukan rencananya tersebut. Sesuatu terjatuh dan Leon meminta Silvia untuk mengambilkannya.
Leon yang sedang menerima telpon, tidak mendengar seseorang mengetuk pintu ruangannya.
Dan pas saat Anggun membuka pintu dan Silvia tengah mengambil sesuatu di bawah kursi roda Leon membuatnya nampak terlihat membungkuk sedang melakukan sesuatu pada Leon. Terlebih posisi wajah Silvia dan kursi roda Leon terhalang oleh meja.
Membuat siapapun yang melihat posisi ambigu mereka pasti akan berpikiran yang tidak-tidak. Dan hal itu lah yang saat ini Anggun pikirkan tentang mereka.
“Ma.. maaf, tuan. Nanti saya kembali lagi” ucap Anggun yang baru tersadar dan hendak kembali menutup pintu.
“Heeh.. heh.. kau mau kemana?. Cepat bawakan aku kopinya kemari!” ucap Leon saat menyadari kehadiran Anggun, namun dia tidak mengerti kenapa Anggun tiba-tiba hendak segera pergi sebelum ia memberikan apa yang tadi di pintanya.
“Apa dia sudah gila?. Dia sedang melakukan hal menjijikkan dan dia tetap menyuruhku menghampirinya” ucap Anggun dengan pikiran negatifnya.
Dan masih berpikir bahwa Silvia masih melakukan hal menjijikkan yang ia pikirkan pada Leon dan Silvia.
Melihat tingkah laku Anggun yang membuatnya bingung, Leon pun mengernyitkan matanya sambil tetap menempelkan hp di daun telinganya.
“Dia itu kenapa, aneh banget” ucap Leon dalam hati.
Tiba-tiba dia melihat posisi Silvia yang masih berjongkok di hadapan kursi rodanya. Dan Leon langsung paham, kenapa Anggun tiba-tiba bersikap aneh seperti saat ini.
Leon pun hanya dapat tersenyum tipis dengan apa yang dipikirkan Anggun saat ini tentangnya.
Anggun perlahan mendekati meja Leon dengan kepala yang menunduk. Dia tidak ingin melihat kelakukan tuannya yang di pikirnya sedang melakukan sesuatu yang tidak ingin dia lihat.
Tapi sebelum dia sampai di meja tuannya, tiba-tiba Silvia berteriak sambil menunjukan pulpen pada Leon yang dari tadi dia cari-cari.
“Yeee … akhirnya ketemu” teriak Silvia sambil menunjukan pulpen di tangannya. Seolah sudah mendapatkan sesuatu yang besar dalam hidupnya.
__ADS_1
Membuat Anggun terkejut dan mengerutkan dahi merasa malu sendiri telah berpikiran yang tidak-tidak pada tuannya tersebut.
“Apa?. Jadi tadi itu, dia sedang mencari pulpen” ucap Anggun dalam hati saat menyadari pikiran konyolnya tersebut.
“Heh kenapa kau masih berdiri saja di situ. Lelet sekali jalan mu itu” pekik Leon tidak sabaran, sekaligus membuat Anggun tersadar kembali dari lamunannya tersebut.
“Apa yang kau pikirkan?” lanjut Leon mencoba menggoda Anggun.
“Apa kau sedang berpikir yang tidak-tidak?” lanjut Leon sambil meninggikan salah satu ujung matanya.
Sementara itu, Silvia yang baru saja menemukan pulpen milik Leon. Dia nampak kesal saat melihat ada seseorang yang masuk ke ruangan tersebut.
Entah mengapa, Silvia menatap sopir pribadi Leon dengan tatapan tidak suka.
Seolah matanya menyuruh Anggun untuk segera pergi dari ruangan tersebut.
Sementara Anggun yang menyadari tatapan menghunus dari Silvia, dengan cepat dia menaru secangkir kopi tersebut di atas meja tuannya.
“Ini tuan kopi hitam pesanan anda” ucap Anggun pada Leon dengan perasaan tidak enaknya.
“Kalau begitu saya permisi keluar” lanjut Anggun berbicara dan segera berbalik melangkah pergi.
Sementara itu, Leon yang sudah tidak sabar mencicipi kopi hitam buatan Anggun tersebut segera ia mengambil cangkir yang sudah tersedia di atas meja dan menyeruput kopinya dengan perlahan dan menikmati.
“Sayang…. Sejak kapan kau jadi begitu menikmati kopi hitam?” tanya Silvia yang baru melihat Leon menyeruput kopi hitam dengan begitu menikmatinya.
Sementara Leon yang ditanya seperti itu, seolah tidak ingin menjawab pertanyaan Silvia yang menurutnya tidak penting untuk ia jawab.
“Dari pada kamu bertanya hal tidak penting seperti itu. Lebih baik cepat katakan apa yang kamu ingin bicarakan dengan ku. Kalau tidak, kamu boleh pergi sekarang!” ucap Leon dengan ketusnya.
Mendengar hal tersebut, tentu membuat Silvia semakin kesal dan bete.
Namun ia tetap berusaha mengendalikan emosinya tersebut di hadapan Leon.
Tentu saja Silvia tidak ingin dirinya terlihat semakin buruk di mata Leon. Dan dia tetap berusaha merayu nya.
Sementara itu, Anggun yang sudah berada di pantri untuk mengembalikan nampan yang tadi dia pakai mulai berbicara sendiri.
__ADS_1
“Ya Tuhan…” ucap Anggun sambil mengeplak jidatnya sendiri.
“Bisa-bisanya otakku ini berpikiran yang tidak-tidak” lanjutnya mengomeli diri sendiri.