Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh

Sopir Cantik Milik Tuan Ceo Lumpuh
Apa Dia Sudah Pergi?


__ADS_3

Sementara itu Anggun segera menjalankan mobil taxinya untuk segera pergi dari tempat tersebut sebelum Leon benar-benar melihatnya kembali.


“Ya Tuhan, mudah-mudahan dia tidak melihatku” ucap Anggun sambil melajukan mobil taxinya.


“Sepertinya?…” tanya Leon dalam pikirannya.


“Tuan Leon. Apa anda baik-baik saja?” ucap seorang bernama Martin yang saat ini meeting dengan Leon.


Dia melihat Leon seperti sedang memikirkan sesuatu. Itu sebabnya dia bertanya seperti itu.


“Ah.. tidak. Aku tidak apa-apa. Ayo lanjutkan kembali. Aku tidak memiliki banyak waktu” ucap Leon bernada angkuh dan dingin.


Seolah Leon tidak begitu berminat dengan meetingnya saat ini.


Kini pikirannya mendadak tidak fokus dan terus kepikiran seseorang yang tadi mengingatkannya pada Anggun.


Beberapa menit berlalu, Leon tidak dapat fokus dengan meetingnya saat ini. Kemudian dia menyuruh asisten pribadinya untuk melanjutkan dan menggantikannya.


Leon lebih memilih untuk mencari tahu nomor flat mobil taxi yang sempat dia lihat tadi.


Meskipun jaraknya cukup jauh, tapi Leon memiliki penglihatan dan ingatan yang cukup tajam. Dan itu juga merupakan salah satu sebabnya kenapa Leon dapat berada di posisinya saat ini.


Dengan nama besar dan koneksi yang ia miliki, Leon dapat dengan mudah mencari tahu siapa yang mengendarai mobil taxi tadi.


Memanfaatkan nama perusahaan taxi yang tadi sudah dia duga milik siapa dan nomor plat mobil yang dia ingat, tentu hal itu cukup untuk membantunya dalam mencari informasi yang dia butuhkan.


Dan setelah beberapa menit dia menghubungi seseorang yang ia percaya untuk mencari setiap informasi valid, Leon segera mendapatkan pesan masuk dari emailnya yang mana hal tersebut memberikan data dan informasi mengenai siapa yang membawa mobil taxi dengan nomor plat sekian-sekian.


Nampak semirik senyum yang Leon tampilkan pada wajahnya di saat ia membaca nama dan melihat wajah profil orang tersebut yang ia sudah duga bahwa sopir taxi tadi adalah Anggun.


“Hah.. rupanya benar. Aku tidak salah melihatnya. Kau benar-benar Anggun. Dan kali ini aku tidak akan lagi melepaskan mu Anggun” ucap Leon lirih.


“Turunkan aku di depan hotel itu!” pinta Leon pada sopir barunya tersebut.


“Baik, tuan” ucap sang sopir, menurut.


“Sekarang kau boleh pergi!” ucap Leon dan menyuruh sopirnya untuk segera pergi dari tempatnya saat ini setelah ia berada di lobi hotel.


“ Ta.. tapi tuan. Saya tidak bisa meninggalkan anda sendiri di sini. Nyonya akan marah jika tahu, saya meninggalkan anda sendirian” ucap sopir tersebut yang bernama Ucup.

__ADS_1


“Kau pikir aku anak kecil” ucap Leon nampak dingin.


“Jangan kau pikir aku lemah dan tak berdaya” lanjut Leon berbicara tidak suka jika ada orang yang kembali berpikir bahwa dirinya lemah dan tak berdaya hanya karna dia berada di atas kursi roda.


“Lebih baik sekarang kau pergi sebelum aku memecat mu. Dan ingat, katakan pada nyonya mu itu, malam ini aku tidak akan pulang. Aku akan menginap di tempat Dino. Kau mengerti!” ucap Leon dan sedikit bernada ancaman.


Leon tidak perduli jika mamanya itu akan terus menelphonnya dan terus mengkhawatirkan dirinya.


Lagi pula dirinya sudah sembuh total, hanya saja Leon belum bisa mengatakan yang sebenarnya pada ibu cerewetnya tersebut.


Kemudian sopir barunya tersebut pun segera pergi dengan perasaan khawatir takut akan kena omel juga dari nyonya besarnya tersebut.


Namun dia juga tidak bisa menolak ucapan tuannya itu. Hingga membuatnya merasa serba salah.


Hari pun sudah nampak sore, Leon segera merogoh kantong sakunya untuk mengambil handphonenya.


Kemudian dengan senyum semiriknya Leon segera menekan satu aplikasi untuk mengorder taxi.


Namun dia slalu mendapatkan sopir yang tidak dia harapkan. Beberapa kali hal tersebut membuatnya kesal dan marah.


Hingga akhirnya dia menggunakan kembali kekuasaannya.


Namun karena pihak kantor tidak mengindahkannya dan Leon tidak memperkenalkan diri secara detail hanya meminta apa yang ia inginkan membuatnya tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.


Hal tersebut membuat Leon kesal dan kembali marah.


Leon segera menelphone asisten pribadinya yang tadi ia tinggalkan bersama kliennya.


“Hallo.. Dino. Kau sudah selesai meetingnya, kan?” tanya Leon tidak sabaran.


Membuat Dino yang sedang bicara saat itu dengan kliennya namun tetap harus mengangkat telepone bosnya tersebut.


“Maaf, saya terima telponenya dulu. Bos Leon” ucap Dino dan memberitahu siapa yang tengah menelphone, sambil menutup telphonenya sesaat dan pergi sebentar.


“Ada apa, tuan. Sepertinya ada hal penting lainnya?” ucap Dino.


“Aku tanya apa kau sudah menyelesaikan tugas yang ku berikan tadi?” tanya Leon di ujung telphone.


“Sebentar lagi, tuan. Baru saja saya mau menyelesaikannya” ucap Dino.

__ADS_1


“Bagus kalau begitu. Cepat selesaikan. Dan setelah itu aku ingin kau melakukan sesuatu lagi untuk ku. Mengerti!” ucap Leon kemudian segera menutup sambungan telphonenya tersebut secara tiba-tiba.


Dino yang hendak bertanya tugas apalagi yang harus ia lakukan, membuatnya sedikit kesal dan menarik nafas menahan kekesalannya.


Meskipun dia sudah hafal dengan sikap dan perilaku bosnya tersebut namun tetap saja terkadang membuat Dino harus banyak-banyak istigfar dan banyak bersabar.


Beberapa menit kemudian Dino menyelesaikan tugasnya dengan baik. Dan setelah klien atau partner bisnisnya tersebut pergi, Dino segera mengecek handphonenya.


Yang mana ada pesan masuk dari bosnya tersebut yang meminta dirinya untuk segera membeli dan mengakuisisi sebuah perusahaan taxi online yang baru memulai dalam bisnis tersebut.


Leon meminta asistennya tersebut untuk mendapatkannya saat itu juga. Karena jika tidak, gaji atau pekerjaannya yang akan jadi korbannya.


“Ya Tuhan… apalagi ini. Kenapa si bos mendadak jadi begini?. Apa dia kira masalah seperti ini seperti mengupas kacang kemudian bisa langsung memakannya” ucap Dino tidak habis pikir dengan apa yang di perintahkan bosnya tersebut.


Namun meskipun begitu, mau tidak mau Dino tetap harus melakukan apa yang di perintahkan bosnya itu.


Sementara di tempat lain, Anggun yang baru saja mengantarkan penumpangnya tiba-tiba mendapatkan telpon dari pihak kantor untuk segera menjemput dan mengantarkan seseorang.


Namun Anggun merasa bingung dan sedikit aneh. Bukankah harusnya dia mendapatkan orderan sesuai dari aplikasi yang sudah di tentukan perusahaannya tersebut.


Tapi meskipun begitu, Anggun menganggap mungkin hal tersebut adalah salah satu kebijakan dari perusahaannya untuk tetap mendapatkan penumpang di luar ketentuan aplikasi yang di sediakan.


Karena terkadang, jaringan atau masalah maintenens bisa saja mempengaruhi aplikasi yang sudah di sediakan tersebut, pikir Anggun.


Selain itu, dia juga merasa senang karena hari ini cukup banyak dia mendapatkan menumpang.


Dan tanpa berpikir panjang lagi, Anggun segera menuju alamat yang sudah di berikan pihak kantor padanya.


Namun Anggun merasa sedikit kaget karena alamat yang di berikan padanya, tadi sudah sempat ia lewati.


Tapi Anggun kembali berpikir, mungkin itu hanya kebetulan semata. Namun entah mengapa ada perasaan yang membuatnya sedikit takut jika akan berpas-pasan dengan Leon nantinya.


Di tengah perjalanan menuju alamat penjemputannya, Anggun berusaha berpikir positif dan berharap bahwa ia tidak akan bertemu dengan Leon di sana.


“Ya Tuhan… Apa dia sudah pergi?” ucap Anggun saat mengingat bahwa tadi dia sempat melihat Leon di tempat yang tidak jauh dari almat yang akan ia datangi.


“Aku tidak ingin jika harus bertemu dengannya saat ini” ucap Anggun berbicara sendiri sambil mengendarai taxinya.


“Tapi… kenapa aku harus takut. Lagi pula tempat yang akan aku datangi sekarang dan tempat terakhir kali aku melihatnya tadi berbeda meskipun hanya berjarak beberapa meter dari tempat tadi. Tapi aku harap dia sudah pergi dan tidak akan melihat keberadaanku” lanjut Anggun penuh harap.

__ADS_1


__ADS_2