
Sementara itu, Anggun di parkiran mobil sedang menelpon anak-anaknya. Dia nampak rindu dengan kedua anak kembarnya tersebut. Begitupun dengan kedua anaknya itu.
Mereka nampak berbincang-bincang dengan antusias. Namun yang lebih banyak bicara tentu saja si bungsu. Sementara si sulung hanya dapat mengalah dan menatap adiknya itu dengan sedikit kesal karena terus berceloteh tanpa membiarkannya berbicara pada mami nya tersebut.
Nina yang melihat ekspresinya itu merasa lucu dan membuatnya tertawa geli.
“Kenapa tante malah tertawa?” tanya Juna pada Nina, tidak mengerti. Namun masih dengan ekspresi kesal dan dengan kedua tangan yang masih menyilang di atas perutnya tersebut.
Meskipun nada bicaranya nampak terlihat ketus, tapi Nina tidak merasa tersinggung dia malah terus tertawa melihat ekspresinya itu yang nampak terlihat lucu di mata Nina.
Membuat Juna bertambah kesal dan meninggalkannya.
“Iihh… tante nyebelin” ucap Juna seraya meninggalkannya.
Dan hal itu juga terlihat oleh Anggun, dia pun ikut tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan. Ikut merasa gemas melihat anak sulungnya yang sedang ngambek tersebut.
“Anggun… kau lihat itu. Anak sulung mu itu begitu menggemaskan kalau sedang marah dan cemberut” ucap Nina sambil terkekeh.
“Tante, memangnya Juni tidak?” ucap Juni merasa sedikit iri dengan pujian Nina untuk kakaknya tersebut.
“Iya kamu juga sayang” ucap Nina sambil memeluk Juni dari belakang merasa gemas juga pada Juni.
“Lihatlah Anggun.. anak-anak mu ini begitu menggemaskan. Aku jadi terhibur dengan adanya mereka disini” ucap Nina jujur.
Selama beberapa tahun ini Nina belum dapat memiliki anak dari pernikahannya tersebut. Membuatnya terkadang merasa kesepian apalagi jika di tinggal suaminya bekerja.
Tapi setelah kehadiran si kembar, membuat Nina merasa sedikit terobati dan tidak kesempian lagi.
“Terima kasih Nina. Kamu sangat baik sekali. Aku tidak tahu akan seperti apa anak-anak jika tidak bersamu. Dan maaf jika mereka membuatmu kerepotan selama tinggal bersamamu” ucap Anggun sangat bersyukur bertemu dengan Nina yang tadinya bukan siapa-siapa tapi sangat perduli dengan kedua anaknya tersebut.
“Jangan berkata seperti itu. Justru aku sangat bersyukur di berikan kesempatan untuk menjaga dan merawat mereka. Mereka sangat lucu dan dengan adanya mereka aku tidak merasa kesempian lagi” ucapnya dengan senyum bahagia.
Sementara itu, Leon sudah selesai dengan rapatnya. Dia berniat untuk menemui Anggun secara langsung dan tanpa memberitahunya terlebih dahulu.
__ADS_1
Leon nampak terlihat antusias untuk bertemu dengan Anggun dan berniat untuk mengatakan yang sebenarnya.
Namun saat dirinya hendak mengejutkan Anggun, dia malah yang di buat terkejut saat melihat Anggun sedang video callan dengan seseorang yang memanggilnya ibu.
Leon nampak sangat terkejut dan matanya seolah memberikan sorot mata yang sulit untuk di artikan.
Meski saat ini Leon terlihat menggunakan masker untuk mengelabui para karyawannya.
Dia sengaja memakai masker dan sembunyi-sembunyi untuk menutupi siapa dirinya supaya tidak ketahuan bahwa dirinya sudah sembuh dari lumpuhnya.
Namun saat ia ingin bertemu dengan Anggun, Leon malah di kejutkan dengan sesuatu.
Leon mendapati Anggun sedang berbicara dengan seseorang yang memanggilnya ibu.
Sontak hal itu membuat Leon menjadi termenung dan bertanya-tanya.
Kenapa anak tersebut memanggilnya ibu dan mereka terlihat begitu akrab satu sama lain.
Namun Leon tidak dapat mendengarkan percakapan mereka dengan jelas.
“Siapa anak kecil itu. Kenapa dia memanggil Anggun dengan sebutan ibu. Apa Anggun sudah menikah dan memiliki anak dari orang lain?” tanya Leon pada dirinya sendiri sambil menyenderkan tubuhnya di kursi kebesarannya.
Ya, kini Leon sudah berada di ruang kantornya. Dia segera kembali sesaat setelah mendengar seseorang memanggil Anggun dengan sebutan ibu pada saat video call dengan seseorang.
Leon seolah enggan untuk membuktikan bahwa panggilan video Anggun dengan seseorang itu benar memiliki hubungan.
Membuatnya cepat-cepat meninggalkan Anggun sebelum orang tersebut menyadari kehadirannya.
Namun kini rasa penasaran tersebut mengahantui pikiran Leon. Dan bukan hanya itu, Leon pun mulai merasa kesal dan bawaannya ingin marah-marah saja.
Seolah dia tidak terima jika pada kenyataannya Anggun sudah menikah dan memiliki anak dari pernikahan itu.
Hal tersebut benar-benar membuat hati dan perasaan Leon semkin memanas.
__ADS_1
“Tapi kenapa dia harus bekerja dan berpura-pura menjadi sopir pribadiku jika dia sudah menikah dan memiliki anak?” tanya Leon dalam hati.
“Apa suaminya itu tidak berguna hingga harus membiarkannya bekerja keras?” Lirihnya sedikit kesal dengan pikirannya sendiri.
“Tidak… tidak mungkin dia sudah menikah” ucap Leon merasa tidak terima dengan apa yang di pikirkannya saat ini dan sedikit frustrasi.
Sementara itu, Anggun sudah selesai berbincang dengan kedua anak kembarnya tersebut di telpon.
Dia mulai mengedarkan pandangannya ke segala arah di parkiran tersebut. Entah apa yang sedang ia pastikan saat ini. Tidak ada orang yang dapat di lihatnya.
Anggun pun segera beranjak dari tempatnya saat ini. Dia memutuskan untuk pergi ke lift dan menuju ruang bosnya tersebut.
Dia merasa heran karena seharian ini bosnya tidak meminta ataupun menyuruhnya sesuatu, membuatnya seolah tidak di butuhkan.
Meski seharusnya dia merasa senang, karena seharian ini dia dapat meluangkan waktunya lebih lama untuk bertatap muka dengan kedua anaknya tersebut meskipun hanya lewat video call.
Tapi entah mengapa perasaan Anggun sedikit tidak tenang, dia merasa terjadi sesuatu pada bosnya yang membuatnya seolah tidak di perlukan lagi.
Setelah sampai di lantai di mana tuannya berada, kini Anggun jadi merasa bingung sendiri.
Apakah dia harus masuk ke ruangan tuannya atau tetap menunggu sampai ia di panggil olehnya.
“Aduuh… kenapa perasaan ku tidak enak, ya. Apa dia baik-baik saja?” ucap Anggun dalam hati.
“Kalau aku masuk, nanti pasti dia akan bertanya. Lalu aku harus menjawab apa?”lanjut Anggun merasa bingung dan serba salah.
“Lagian kenapa hari ini dia tumben-tumbenan tidak membuat ku repot?” tanya Anggun pada dirinya sendiri dalam hati.
Bukannya dia senang tidak di buat repot oleh tuannya tapi Anggun malah membuat pusing dirinya sendiri dengan memikirkan apa yang sebenarnya terjadi pada tuannya tersebut hari ini.
Sementara Leon, nampak kembali menyibukkan dirinya sendiri dengan banyaknya pekerjaan kantor saat ini. Namun lagi-lagi suara anak yang memanggil Anggun dengan sebutan ibu membuatnya kembali mengganggu pikirannya tersebut.
Seolah hal itu membuat Leon tidak dapat bekerja dengan tenang dan damai.
__ADS_1
Namun dia juga tidak berani mempertanyakan langsung pada orangnya.
Sepertinya Leon lebih suka membuat diri sendiri pusing dengan memikirkan apa yang terjadi pada Anggun tanpa mau tahu dan mempertanyakannya langsung.