
Nirmala dan Audy menahan kemarahan pada nek Encim yang saat ini dirawat dirumah sakit karena diare berkepanjangan, sejak hari dimana Erna menikah dengan Broto serta cukuran anak Nirmala dua hari yang lalu.
Mbak nggak tau lagi mesti gimana caranya agar ibumu jera Erna. omel Bu Audy yang sejak pagi inggin menumpahkan kemarahannya pada nek encim tapi terhalang karena nek encim sedang terbaring di rumah sakit dengan kondisi lemah.
Erna juga nggak tau kenapa ibu seperti itu mbak..Erna juga kesal sama ulah ibu yang nggak ada kapok kapoknya..keluh Erna.
Entah terbuat dari apa hati nek encim ya ma. kata Nia ikut menimpali obrolan Audy dan Erna.
"Iya ma, ko nek Encim tega punya niat keji gitu ya. padahal kan selama ini dia yang salah.. ucap Keysa .
Biasalah nama nya juga encim. singkat, padat, sepat, sekalian saraf. kata nek Inayah asal.
"Ko saraf nek?, kalau saraf kan nek encim terkena gangguan jiwa. kata Keysa yang selalu telat paham.
Sarafnya bukan gangguan jiwa Keysa, tapi gangguan akal. kata Nirmala yang baru turun dari kamarnya.
Bukanya sama aja ya Mala. Kata Nia yang ikutan bingung..
Karena sama dia nggak bisa berfikir waras. jawab nek Inayah
"Kalian nggak menjenguk encim? tanya pak Ilham.
"Malas" jawab semua orang yang ada diruang tamu termasuk Erna.
Jangan nyimpan dendam. nggak baik, biar bagai mana pun dia tetap bagian dari keluarga ini.. tegur pak Ilham mencoba menasehati nek Inayah serta pengikutnya.
Biarin ajalah Encim sendirian di rumah sakit. biar dia tau rasa.. kata nek Inayah.
__ADS_1
Kriiiiiiiiiiiiing..kriiiiiiiiiiiiing ...
"Halo" kata Audy yang ponselnya berdering.
"Apa? dikamar mayat, bagai mana bisa? iya kami akan kesana sekarang. kata Audy yang terlihat bingung.
Ada apa Audy?tanya nek inayah.
Bu encim hilang, tapi ada yang melihat dia masuk kekamar mayat. kata Audy memberi tahu.
"Ko bisa? bukanya tubuhnya masih lemas. ucap Nia bergumam.
Mama juga bingung, ayo kita kerumah sakit sekarang untuk melihat kebenarannya.. kata Audy.
Bergegas semua yang ada disana pergi kerumah sakit dengan hati dipenuhi tanda tanya. hanya Nirmala yang tingal karena tidak bisa meninggalkan ketiga anak kembarnya.
Pak apa benar pasien dikamar ........tidak ada dikamarnya?. tanya Audy.
"Benar Bu!" kami sudah mencari tapi tidak ketemu juga. kata securty itu yang terlihat panik.
Aneh baget kenapa bisa si encim hilang di kamar mayat sih? kamar tempatnya dirawat kan cukup jauh dari kamar mayat. kata nek Inayah yang ikutan heran.
Ayo pak kita cari lagi di kamar mayat, siapa tau bapak kurang teliti. kata Audy yang berjalan memasuki
dahului securty yang berjumlah lima orang.
Mereka semua masuk kekamar mayat dan memeriksa setiap mayat, hingga tiba disudut ranjang terlihat nek Encim yang tertidur pulas tanpa selimut sama sekali.
__ADS_1
"Itu nek encim. kata Nia menunjuk sudut kamar.
"Bu bangun" kenapa ibu tidur disini? tanya Audy yang langsung mengoyang pundak nek encim.
Berisik" aku ngantuk karena habis bantuin calon suamiku yang kedinginan. kata nek encim yang meraih memejamkan matanya.
"Bu ini kamar mayat, bukan hotel bintang lima. teriak Audy yang sudah kesal.
Mendengar kata kamar mayat. nek Encim langsung terbangun hingga terjatuh kebawah.
Bruuukkkk..aduh .teriak nek encim yang kesakitan karena pantat nya menyentuh ubin lantai.
Ini dimana Audy, ko semua orang pada berselimut sampai kepala segala?" tanya nek encim yang kelihatan bingung.
"Ini kamar mayat Bu, ngapain ibu tidur disini pake meluk tubuh mayat lagi. omel Audy.
"Maksud kamu,?" tanya nek encim yang langsung menatap kearah tempat ia tertidur barusan.
lihat aja sendiri. kata Bu Inayah yang ikutan kesal.
Dia kan mas Sasongko mantan pacar ku dulu tadi malam dia menemui aku dikamar, dia minta ditemani katanya dia kedinginan, jadi ibu ikut aja kesini. berarti mas Sasongko sudah meningal, terus siapa yang berbicara dengan ku tadi malam?" kata nek encim yang baru sadar.
"Ya hantu..!jawab nek Inayah santai.
Tolooooong...! ada hantu. teriak nek encim sambil berlari keluar kamar mayat dengan wajah pucat pasi.
Nirmala dan yang lain ikutan berlari kearah luar kamar mayat dengan ketakutan.
__ADS_1