
"Mba, ini uang 100 juta dan ini kunci rumah serta kunci mobil untuk mba dan anak-anak. Surat-suratnya ada di dalam mobil Honda Brio di depan rumah Mba. Rumahnya ada di perumahan khayalan indah blok A nomor 1. Ini sebagai permintaan maaf saya atas semua yang terjadi. Saya sangat mencintai Mas Randi. Saya permisi ya Mba. Assalamu'alaikum". Ucap Ririn seraya melenggang keluar dari ruang tamu kontrakanku.
Aku tidak menjawab, tidak marah dan tidak menangis. Walaupun masih terasa begitu sakit dalam hati ini kalau ingat kejadian 1 minggu yang lalu. Saat Mas Randi jujur bilang sudah menikah dengan Ririn.
Aku tak bisa berkata apa-apa. Sedikit tak percaya atas penghianatan mas Randi. Mas Randi yang tidak tampan dan miskin bisa menikah dengan Ririn anak bos di tempat kerja suamiku.
Suamiku karyawan dengan gaji hanya 2 juta. Untuk membayar kontrakan, bayar sekolah 2 anak, listrik, air dan makan sangat pas-pasan, terkadang kurang jadi aku membantu berjualan kue secara online. Kok bisa-bisanya Mas Randi menikah dengan Ririn gadis cantik dan kaya raya. Apa kelebihan Mas Randi. Mungkin Ririn cinta buta. Apa mata Ririn minus. Entahlah.
Akhirnya aku meminta cerai. Aku berusaha tegar di depan suami dan anak-anakku. Maaf aku tak sudi dimadu. Aku tak sudi punya suami penghianat. Aku tidak mau terlihat lemah. Aku memang bukan perempuan yang mudah menangis. Aku tidak berniat melabrak Ririn, Ririn orang kaya aku tidak mau berurusan dengan orang kaya. Biarlah mungkin sudah nasibku seperti ini.
Aku tidak menyangka pagi ini Ririn datang ke kontrakanku saat Mas Randi sudah berangkat kerja. Ririn memberiku uang tunai 100 juta, rumah dan mobil serta surat-suratnya.
Aku tak berkata apa-apa kepada Ririn. Aku tak menolak, juga tak menerima. Entah harus senang atau sedih. Aku juga bingung. Yang jelas aku akan menjadi janda yang lumayan kaya. Akhirnya aku punya rumah dan mobil, dan uang 100 juta bisa aku gunakan untuk modal buka toko. Biarlah Mas Randi bahagia. Aku juga berhak bahagia kan.
Ririn bergegas berjalan keluar kontrakanku. Aku pandangi punggungnya dan rambut indahnya yang bergoyang-goyang sampai menghilang di parkiran yang ternyata sudah menunggu mobil sport hitam keluaran terbaru yang langsung tancap gas setelah Ririn naik di kursi belakang, mungkin Ririn dengan supirnya. Ah Ririn, kamu cantik, masih gadis, langsing dan kaya. Apa gak bisa nyari laki-laki yang single.
Aku berjalan keluar menuju tempat mobil pemberian Ririn terparkir, tak lupa aku simpan uang 100 juta terlebih dahulu ke kamar. Mobilnya warna merah kinclong sekali warna kesukaanku. Aku memencet remote untuk membuka pintu mobil. Kemudian aku masuk lewat pintu bagian supir. Di kursi penumpang tampak map besar warna coklat.
Aku buka map tersebut. Ada BPKB dan STNK kendaraan. Aku cek tanggal pembuatannya baru 3 bulan yang lalu. Atas nama Ririn.
Kemudian aku buka surat sertifikat tanah. Luas tanah 300 meter alamat di perumahan khayalan indah blok A nomor 1. Juga atas nama Ririn.
Aku bergegas masuk kembali ke rumah. Aku buka aplikasi berwarna hijau. Aku kirim pesan ke Mas Randi.
"Mas, aku sekarang mau pulang ke rumah ibu bareng anak-anak. Segera diurus, Aku tunggu akta cerainya"
Tidak lama masuk pesan balasan dari Mas Randi
"Adek serius mau cerai dari Mas? Yasudah hati-hati ya dek. Mas akan segera mengurus surat cerainya. Maaf Mas gak bisa ngantar dan maaf Mas sudah nyakitin Adek. Barusan Mas transfer uang 200 juta ke rekening Adek, buat pegangan Adek. Mas dikasih Ririn. Nanti gaji Mas 2 juta Mas transfer ke rekening Adek tiap bulan buat anak-anak seperti biasa. Kalau dapat lebih Mas akan tambahin uangnya."
Aku tak membalasnya.
Aku menyiapkan koper, kemudian Aku masukkan semua bajuku dan baju anak-anak, tak lupa juga Aku masukkan uang 100 juta dan surat-surat tadi. Aku mengajak anak-anak untuk bersiap-siap pergi ke rumah neneknya yang berjarak 2 kilometer dari kontrakan.
__ADS_1
Setelah siap aku membawa koper keluar rumah dan memasukkan ke dalam mobil. Anak-anak girang sekali masuk ke mobil. Untung aku sudah bisa nyetir. Dulu sering bawa mobil butut bapak, diajarin nyetir oleh kakak pertamaku.
Aku menghidupkan mesin mobil dan manjalankannya perlahan keluar dari halaman kontrakan. Setelah sebelumnya menitipkan kunci rumah ke tetangga kontrakan. Aku berhenti sebentar memandang kontrakanku dengan wajah sendu, 8 tahun aku merajut cinta dengan Mas Randi di kontrakan ini, sekarang semua harus berakhir sampai di sini.
Aku mengemudikan mobil dengan pelan-pelan karena sudah lama tidak memegang kemudi, jadi sedikit kaku.
Saat di pertigaan jalan hendak belok aku lupa memencet sein kiri padahal aku akan belok ke kanan. Seketika aku kaget mendengar suara klakson dari belakang dengan sangat keras
Tiiiiiiiiiiiiiiiiin
Aku kaget saat terbangun dari tidur siangku yang nyenyak sekali. Ku lihat jam dinding, jam 4 sore.
Ternyata Mas Randi suamiku baru pulang kerja, terbiasa menghidupkan klakson motor bututnya saat sampai depan rumah. Wah gawat aku belum masak untuk buka puasa. Biasanya adzan asar aku sudah bangun.
Berjalan terhuyung Aku menuju ruang tamu untuk membukakan pintu. Mas Randi tampak tersenyum ramah padaku sambil berkata
"Dek, ini Mas bawakan ikan asin pedah kesukaan Adek. Disambal ijo ya dan rebus daun singkong tuh di pagar depan daunnya sudah besar-besar, seger buat buka puasa nanti".
Ah mimpi apa aku tadi. Seperti nyawaku belum ngumpul. Mimpi indah atau mimpi buruk ya. Kok mimpinya aneh. Ada-ada saja. Apa efek kebanyakan menghayal jadi orang kaya. Entahlah. Aku senyum-senyum sendiri membayangkan jadi orang kaya mendadak, tapi sesaat kemudian aku nyesek sendiri.
*****
Sore ini hari Sabtu Mas Randi mengajakku dan anak-anak ke rumah Pak Indra bos suamiku yang tentunya bapaknya Ririn, katanya ada acara buka puasa bersama. Lumayan makan enak untuk perbaikan gizi, karena dari kemarin sahur dan buka puasa pakai lauk ikan asin melulu.
Aku mengganti pakaian anak-anak dengan baju koko. Lalu aku bersiap diri menggunakan gamis pink kesayanganku dengan hijab segiempat warna senada. Tak lupa aku poles sedikit bedak dan lipstik juga pensil alis samar-samar. Ku patut wajah dan badanku di cermin, Aku Rika masih cantik dan langsing walaupun sudah punya 2 anak, karena Aku selalu menjaga berat badanku.
Setelah siap Kami menaiki motor butut suamiku menuju rumah Pak Indra. 10 menit kemudian kami sampai di rumah besar dan mewah. Mas Randi berjalan masuk menggandeng tangan anak-anak, aku berjalan di belakangnya, menuju taman samping rumah Pak indra.
Anak-anak berseru takjub
"Ayah, Kakak mau rumah tingkat kayak gini, lantai 2 buat main bola"
"Ayah, adek juga mau rumah ada kolam renangnya biar bisa berenang setiap hari"
__ADS_1
Aku dengar Mas Randi menjawab celotehan anak-anak dengan sabar. Aku pun takjub melihat rumahnya, baru pertama kali masuk di pekarangan rumah mewah. Mirip rumah artis-artis yang aku lihat di televisi.
Kami duduk lesehan di karpet lebar yang terbentang di saung besar samping kolam renang. Ada meja-meja panjang untuk meletakkan makanan.
Mas Randi dan 4 rekannya yang diundang buka bersama adalah karyawan kesayangan bos nya. Rekan Mas Randi semua sudah hadir dengan keluarga masing-masing.
Tampak Pak Indra, Bu Indra dan Ririn mulai duduk bergabung bersama Kami. Ririn yang ada dalam mimpiku kemarin, aku sudah 4 kali bertemu dengannya saat diajak Mas Randi diacara makan-makan di restoran dan family gathering.
Aku tersenyum sendiri membayangkan mimpi yang tidak biasa tentang Ririn kemarin, jadi geli sendiri kalau ingat. Aku melirik Mas Randi kemudian melirik Ririn, tidak serasi sama sekali, bagai langit dan bumi. Mas Randi hitam, Ririn putih. Mas Randi dekil, Ririn glowing. Mas Randi miskin, Ririn kaya. Mas Randi tidak tampan, Ririn tidak jelek.
Mimpi yang aneh, Aku teringat sebelum tidur siang itu aku berdoa ingin segera punya rumah sendiri, punya mobil idaman warna merah dan tabungan ratusan juta. Sudah lelah mengontrak dan jadi orang miskin. Tidak menyangka aku jadi bermimpi seperti itu.
Aku kembali melirik Mas Randi dan Ririn, eits kok mereka saling berpandangan ya sambil berbalas senyum.
Aku tersenyum kecut, saat melihat Mas Randi memandang ke arah Ririn dengan pandangan yang tidak biasa, seperti pandangan penuh cinta. Aku sudah 8 tahun menikah dengan Mas Randi, aku sudah paham betul tentang tatapan matanya.
Tapi mungkinkah mereka ada sesuatu. Tidak mungkin. Ah jangan-jangan mimpiku kemarin.. tapi mimpi hanya bunga tidur kan, apalagi mimpi di siang hari. Tapi apa sih yang tidak mungkin apalagi hanya soal rasa. Bukankah Allah maha membolak-balikkan hati manusia. Ah Aku jadi pusing memikirkannya.
Aku kembali melihat Ririn yang kali ini sedang tertunduk sambil tersenyum seperti tersipu malu. Tapi aku tidak bisa menebaknya.
Imajinasiku terhenti saat Abangnya Ririn tiba-tiba hadir ikut bergabung bersama dan duduk dekat Pak Indra. Bang Rendra menyapa kami semua.
Ririn 2 bersaudara. Abangnya Ririn namanya Bang Rendra seorang duda tanpa anak. Istrinya 6 bulan yang lalu meninggal dunia saat melahirkan anak pertama mereka, bayinya pun ikut meninggal dunia. Mas Randi yang cerita kepadaku beberapa bulan yang lalu. Aku pernah 1 kali melihat Bang Rendra saat ikut diacara family gathering di sebuah taman wisata.
Setelah terdengar suara adzan maghrib berkumandang waktunya berbuka puasa telah tiba Kami menyantap hidangan yang telah disediakan.
Aku sedikit melupakan kejadian pandang-pandangan Mas Randi dan Ririn tadi. Aku menikmati makanan dengan lahap melepas lapar dan dahaga setelah puasa seharian. Jarang-jarang bisa makan enak begini, gratis lagi. Anak-anakku juga anteng menghabiskan makanannya dengan lahap, anak-anak sudah aku latih mandiri sejak kecil, terbiasa makan sendiri.
Saat aku tak sengaja mengedarkan pandangan ke sekitar Aku melihat Bang Rendra memandangku tanpa berkedip. Saat mata kami beradu pandang Bang Rendra tersenyum padaku, entah senyum apa, aku balas sedikit senyum dengan menarik sedikit pinggir bibirku. Tampan juga ya, yaa orang kaya begitu wajar tampan dan bening, perawatannya mahal pikirku. Aduh kenapa aku malah mikir yang tidak-tidak sih.
Setelah selesai sholat maghrib berjama'ah di mushala rumah Pak Indra, Kami pamit pulang. Sempat aku melihat sekilas Bang Rendra menatapku lagi cukup lama saat Mas Randi pamit kepada Pak Indra. Entah apa maksud tatapannya itu.
Saat kami hendak melangkah keluar Bang Rendra menyapa anak-anakku dan memberi masing-masing 5 lembar uang berwarna merah. Aku perhatikan hanya anakku yang diberi. Anak-anak dari rekan Mas Randi tidak ada yang diberi.
__ADS_1