SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR

SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR
BAB 19


__ADS_3

Hari berhanti, alhamdulillah Rafael sudah pulih. Sudah bermain ceria dan aktif seperti biasa.


Saat aku sedang menemani anak-anak bermain. Tiba-tiba aku dikejutkan dengan kedatangan Ririn ke rumahku. Mas Randi sedang ke toko.


"Mbak Rika, Ririn ingin bicara, boleh?" Tanyanya saat sudah duduk di ruang tamu rumahku.


"Ya" jawabku singkat.


"Mbak, tolong bilang ke Mas Randi sih, suruh sayangin Ririn. Mas Randi nih gak romantis tau, Mbak" ucapnya blak-blakan, tanpa malu.


"Namanya orang gak cinta, gimana mau romantis? emang bisa romantis dibuat-buat. Kamu, sendiri kan yang bilang kalau Mas Randi gak mencintaimu" jawabku menatapnya.


"Iya mbak. Siapa tau, kalau Mbak Rika yang ngomong ke Mas Randi, Mas Randi jadi bisa cinta ke Ririn" jawabnya.


"Emang cinta bisa disuruh-suruh, ngomong aja sendiri ke Mas Randi" jawabku lagi.


"Aku iri sama Mbak Rika. Aku ingin jadi Mbak Rika" ucapnya lirih.


"Syukuri yang ada. Gak usah iri-iri sama orang lain" ucapku cepat.


"Mbak, gimana caranya biar disayang Mas Randi?" Tanyanya lagi.


"Takdir" jawabku singkat.


"Mas Randi manggil Mbak Rika dengan panggilan 'Sayang', tapi Ririn gak pernah dipanggil dengan panggilan 'Sayang'." Desisnya.

__ADS_1


"Mana aku tahu. Coba tanya Mas Randi langsung. Kok tanya ke aku" jawabku.


Ririn cemberut, memanyunkan bibir tipisnya. Mirip sekali dengan bebek.


"Sudah belum bicaranya? Aku mau istirahat. Jangan sering-sering ke sini. Kan dulu aku pernah bilang, perjanjian kita, kita gak usah ketemu-ketemu" ucapku menatapnya tajam.


"Ya sudah Mbak, Ririn pulang" ucapnya seraya bangkit dari kursi dan melenggang keluar.


Dasar orang kurang kerjaan, batinku.


*****


"Mas, Adek pengen jalan-jalan ke luar negeri loh. Duit kita kan sudah banyak tapi kita belum pernah sekalipun liburan" ucapnya ke Mas Randi. Ya, gimana mau liburan, Mas Randi tiga hari di tempatku dan tiga hari di tempat Ririn. Waktunya sangat terbatas.


"Iya boleh, Dek. Tapi nunggu dedek bayi ini lahir ya Sayang. Takut kecapekan" balas Mas Randi sambil mengelus-elus perutku.


"Ngidam apa, Sayang? Mas cariin" jawab Mas Randi.


"Mas, Adek ngidam pengen punya rumah lantai dua kayak punya Ririn yang ada kolam renangnya" ucapku aku saat ini sedang bermanja-manja di dada bidangnya.


"Boleh, Sayang. Tapi apa uang kita sudah cukup Sayang, untuk beli rumah lantai dua?" Tanya Mas Randi mengelus-elus rambutku mesra.


"Belum. Baru ada sekitar lima ratus juta, Mas. Masih jauh" jawabku pelan.


"Minta Ririn ya, Mas! Ririn kan keluarga kita"

__ADS_1


"Adek ngidam ini pengen rumah lantai dua yang ada kolam renangnya, tanahnya yang luas. Adek lagi hamil tua begini bawaannya gerah terus Mas, pengen sering-sering berendam di kolam renang. Anak-anak juga sering bilang pengen punya rumah yang ada kolam renangnya" ucapku lagi panjang lebar.


"Ya sayang. Besok Mas bilang ke Ririn ya untuk beliin rumah lantai dua" ucap Mas Randi lembut.


Aku ingin sekali-kali mengerjai Ririn. Sepertinya tidak apa-apa lah Ririn sekali-kali aku kerjai. Bukan dia terus yang selalu mengerjaiku. Memerintahku ini itu. Aku ingin mengerjainya tapi tidak usah nanggung-nanggung.


Pikirnya aku tidak bisa bermanja-manja juga seperti dirinya, yang kalau ada kemauan minta segera dituruti. Rika adalah orang yang serba bisa. Jangan sepelekan Rika. Catat!


"Secepatnya ya, Mas! Adek sudah gak sabar. Takut bayi kita nanti ngiler loh kalau gak diturutin" ucapku seraya memainkan jenggot tipis Mas Randi. Mas Randi menggenggam jemariku kemudian menciuminya.


"Iya pasti, Sayang. Apa sih yang gak buat Adek" jawab Mas Randi memelukku erat.


Aku bersyukur, Mas Randi tak pernah berkurang kasih sayangnya kepadaku, walaupun sudah ada Ririn yang umurnya lebih muda empat tahun di bawahku, sebagai maduku. Sikap lembut, penyayang dan bertanggungjawabnya lah yang membuatku tak ingin pergi darinya, walaupun harus rela berbagi. Alasanku yang kedua setelah anak-anak tentunya.


*****


"Dek, Ririn gak mau beliin rumah lantai dua" ucap Mas Randi beberapa hari kemudian.


"Yaaah nanti bayi kita ngiler gimana, Mas? Kalau gak diturutin" ucapku sedikit lirih.


"Mas sudah bilang ke Ririn, kata Ririn uangnya gak cukup untuk beli rumah lantai dua"


"Ya sudah, biar Adek yang ngomong langsung ke Ririn ya Mas"


"Iya sayang, tapi jangan sampai gaduh ya. Takut bayi kita kenapa-napa" ucap Mas Randi.

__ADS_1


"Tenang saja Mas kuuu, Sayang" ucapku mengedipkan sebelah mataku.


__ADS_2