
Pagi ini Mas Randi pulang. Aku menyambutnya, Mas Randi memelukku dan menciumku berkali-kali. Aku sangat merindukannya walaupun hanya satu malam tak bertemu. Biasanya selama beberapa bulan ini Mas Randi tak pernah pergi hingga lama.
Mas Randi menanyakan kabarku dan anak-anak. Kemudian bercerita tentang Ririn.
"Ririn, sudah melahirkan, Dek. Tapi bayinya jantungnya tiba-tiba lemah saat menjelang dilahirkan. Sekarang bayinya sedang dirawat intensif, padahal waktu periksa kandungan dulu kondisi bayinya selalu baik. Ririn juga sempat tak sadarkan diri menjelang operasi. Tapi Alhamdulillah sekarang sudah sadar dan kondisinya sudah stabil." ucap Mas Randi.
"Ya, mudah-mudahan keduanya segera sehat, pulih dan cepat bisa pulang ya, Mas." jawabku.
"Nanti sore Mas ke sana lagi ya, Dek. Tapi gak menginap. Kasihan Adek kalau Mas tinggal lagi." ujar Mas Randi.
"Oke, Mas. Mas sudah sarapan belum?" tanyaku.
"Belum, Sayang."
"Ayo, Kita sarapan, Mas!" Aku mengajak Mas Randi ke meja makan. Kami sarapan bersama.
*****
Sore harinya Mas Randi mengabariku lewat aplikasi hijau kalau malam ini tidak bisa pulang, mau menginap di rumah sakit. Karena kondisi bayinya sedang kritis.
'Ya Allah, kasihan sekali, rasanya tidak tega membayangkannya masih bayi baru lahir sudah mengalami kritis. Ya Allah, beri keselamatan untuk bayi Ririn dan Mas Randi. Semoga ada keajaiban bisa sembuh normal kembali.. Aamiin..'
Keesokan harinya Mas Randi pulang.
"Dek, setelah mandi dan sarapan, Mas ke rumah sakit lagi ya. Bayinya masih kritis. Nafasnya terlihat berat. Pakai alat bantu pernafasan, Dek. Mas sedih sekali melihatnya." ucap Mas Randi dengan mata sendu.
__ADS_1
"Mas berdoa saja ya semoga segera diangkat penyakitnya. Bisa segera pulih dan normal ya, Mas." ucapku menenangkannya.
"Iya, Sayang. Mas mandi dulu ya." ujar Mas Randi seraya berjalan mengambil handuk.
Setelah makan, Mas Randi bergegas berangkat lagi ke rumah sakit.
Hingga dua hari Mas Randi belum pulang, tapi Mas Randi selalu mengabariku lewat smartphone. Seperti biasa, aku merasakan ada yang hilang saat Mas Randi tidak ada. Sepi sekali.
Aku berniat pulang ke rumah Ibu, biar aku tidak kesepian. Aku berusaha untuk tidak melamun. Apalagi kondisiku baru pulih. Aku tidak mau kepikiran hal-hal yang seharusnya tidak perlu aku pikirkan. Kasihan anak-anakku.
[Mas, Aku main ke rumah Ibu ya, boleh? Soalnya jenuh di rumah gak ada Mas.] Aku mengirimkan pesan aplikasi hijau ke nomor telepon Mas Randi.
Menit kemudian, masuk balasan.
[Iya, Sayang. Boleh. Hati-hati di jalan ya. Adek, Kapan pulangnya? Biar Mas jemput,] balasnya.
[Oh.. berarti besok sore, Mas jemput ya, Sayang. Besok siang Ririn sudah boleh pulang. Mas jemput, Adek, setelah Mas mengantar Ririn pulang ya.]
[Baik, Mas.] balasku.
Ah! Kenapa dada ini terasa panas saat Mas Randi menyebut nama Ririn terus. Kapan Mas Randi terlepas dari Ririn? Rasanya aku sudah malas mendengar namanya. Rasanya hati ini sudah terdapat banyak cabik-cabikan yang sudah teramat sakit.
[Mas, kapan menceraikan Ririn secara resmi?] aku mengirim pesan ke Mas Randi lagi, rasanya ada yang mengganjal di hatiku.
[Nunggu Ririn dan bayinya pulih ya, Sayang. Mas tidak tega kalau menceraikannya sekarang. Apalagi bayinya kondisinya masih belum stabil.] balas Mas Randi.
__ADS_1
[Kalau bayinya gak stabil-stabil, apakah Mas tidak akan menceraikan Ririn?]
[Gak gitu, Sayang. Mas mencari waktu yang tepat untuk mulai mengurusnya. Adek, yang sabar ya, Sayang. Nanti Ririn pasti Mas ceraikan. Kan Mas sudah janji sama Adek.]
Aku tak membalas pesan terakhir dari Mas Randi. Sudah bosan rasanya mendengar janji-janji dari Mas Randi. Huuuhh!
Perasaan Mas Randi seperti mengulur-ulur waktu terus. Apa hanya perasaanku saja ya? Entahlah!
Ah! Coba aku tunggu, apakah Mas Randi akan membuktikan janjinya?
Aku mengajak serta asisten rumah tanggaku dan baby sitter, aku mengemudikan mobilku menuju rumah Ibu.
Bapak dan Ibu menyambutku dengan memeluk dan menciumiku. Kemudian menggendong anak-anakku dan mengajak mereka bicara. Hangat sekali berada di rumah Ibu.
"Nak, Randi gak ikut?" tanya Ibu saat kami sudah duduk di ruang tengah.
"Lagi di rumah sakit, nungguin Ririn lahiran, Bu." jawabku. Bapak sudah tahu kalau Mas Randi menikah lagi. Kalau Ibu tahu, ya, pasti Bapak juga tahu.
"Oh gitu." balas ibu singkat. Mungkin Ibu tak ingin membahasnya lebih jauh.
"Bu, aku ingin membeli rumah. Rumah itu akan aku kembalikan ke Ririn, Mas Randi sebentar lagi akan menceraikan Ririn. Di sekitar sini ada rumah yang akan dijual tidak ya, Bu? Aku ingin tinggal di dekat rumah Ibu." tanyaku.
"Belum tahu, Nak. Besok coba Ibu tanya-tanya dulu ya ke warga sekitar ya, ada rumah yang mau dijual atau tidak." jawab Ibu.
Kemudian kami makan bersama, melupakan sejenak kegundahan hati.
__ADS_1
Entah kapan, keinginanku tercapai. Ingin tak ada orang ketiga lagi yang mengusik kebahagiaan rumah tangga kami. Jujur, Aku meragukan Mas Randi. Mas Randi, tipe orang yang tidak tegaan dan penyayang. Akankah Mas Randi benar-benar membuktikan janjinya?
Aku pun harus belajar mempersiapkan diri, misal mengalami kenyataan terpahit di rumah tanggaku. Aku tak ingin selamanya seperti ini, menjalani rumah tangga yang rumit.