
"Dek, ayo belajar nyetir mobil Adek, sudah hampir satu minggu loh mobilnya belum disentuh" ucap Mas Randi ketika kami sedang sarapan. Memang aku belum berniat memakainya. Entah kenapa terasa malas sekali.
"Ayo sekalian Mas ajak ke toko. Biar Mas kenalin ke para karyawan kalau Adek sekarang pemilik tokonya" lanjut Mas Randi.
"Baik Mas. Aku siap-siap dulu ya" jawabku lesu seraya bangkit dari kursi.
Setelah siap, anak-anak aku suruh naik ke mobil bagian tengah. Sebenarnya aku sudah bisa mengemudikan mobil tapi sudah lama sekali sekitar sembilan tahun yang lalu, waktu belum menikah. Pakai mobil tua milik Bapak.
Aku sudah duduk di bangku kemudi, Mas Randi di bangku penumpang di sampingku.
Aku mulai menghidupkan mesin mobil dan menjalankannya perlahan. Aku masih ingat. Hanya sedikit kaku mengendalikan setirnya.
Setelah berjalan sekitar satu kilometer tanganku sudah mulai lihai.
Kami menuju toko pemberian Ririn di pusat kota. Toko grosir baju dewasa dan baju anak, dua lantai.
Wah, aku kagum melihat tokonya. Aku tidak pernah menyangka bisa memiliki toko besar begini.
Mas Randi mengajakku berkeliling, bersama anak-anak juga. Memperkenalkanku kepada para karyawan. Mengajak ke ruanganku, kata Mas Randi ini dulu ruangan Ririn. Aku tersenyum kecut. Aku jadi teringat kejadian Mas Randi bersama Ririn, apakah diruangan ini? Entahlah.
Setelah itu kami menuju rumah Bapak Ibuku. Masih aku yang menyetir mobilku.
Ibuku menyambut kami dengan terkejut. Ibuku senang sekali saat aku bilang ini mobil pemberian Mas Randi, Mas Randi sekarang punya toko besar.
Terpaksa aku berbohong pada ibuku. Aku tidak ingin keluargaku tahu tentang konflik rumah tanggaku. Aku akan menyimpannya rapat-rapat.
Menjelang sore aku pamit pulang bersama Mas Randi, anak-anak menginap di rumah Kakek Neneknya.
*****
Keesokan harinya, Mas Randi bilang akan membeli mahar bersama Ririn, acara pernikahan kurang satu minggu lagi. Padahal aku ingin mengajak Mas Randi berbelanja bulanan. Tapi aku terpaksa mengalah.
Dengan berat hati aku relakan Mas Randi pergi bertemu Ririn. Oh begini ya rasanya berbagi suami. Padahal masih berbagi dengan calon madu.
Aku mengemudikan mobilku menuju sebuah mall. Akhirnya aku pergi sendiri berbelanja.
Saat akan memasuki loket masuk parkir, terlihat antri. Tanpa sengaja aku melihat Mas Randi dan Ririn berjalan dari parkiran menuju pintu mall. Ririn menggandeng tangan Mas Randi mesra. Tapi tangan Mas Randi tidak membalas gandengannya.
Seketika hatiku panas, perih, sakit. Ya Allah, begini ya rasanya cemburu. Cemburu melihat suamiku bersama calon maduku.
Aku memejamkan mataku. Seperti mimpi. Mimpi buruk. Tapi ini nyata. Aku membuka mataku. Mereka sudah tidak tampak.
Aku memutuskan tidak jadi berbelanja. Aku membelokkan mobilku menuju jalan raya.
__ADS_1
Aku mengemudikan kendaraanku dengan pelan tanpa tujuan. Pikiranku tidak karu-karuan. Hatiku sakit dan hancur berkeping-keping.
Seketika aku hilang kendali, mobilku mengarah ke kiri, kemudian menabrak pohon. Aku terkejut dan jantungku berdetak tak karuan. Aku merasakan sakit di kepalaku dan di perutku. Sakit sekali.
Aku lirik ke sekeliling sudah ramai sekali warga mengelilingi mobilku. Aku pencet tombol untuk membuka pintu. Setelah itu kepalaku berat dan beberapa saat pandanganku kabur. Kemudian gelap.
*****
Ketika tersadar aku sudah di ranjang rumah sakit. Tampak Mas Randi sedang tertidur duduk di samping ranjangku. Tangannya menggenggam tanganku. Aku mengarahkan pandanganku ke sekitar, tampak Ririn tertidur di sofa. Ririn. Kenapa ada di sini? Tidak tahukah kamu betapa hatiku tidak bisa melihatmu bersama Mas Randi.
"Dek, sudah bangun sayang" ucap Mas Randi mengagetkanku yang sedang sibuk memikirkan Ririn. Mas Randi mencium tanganku.
Aku menatap Mas Randi. Wajahnya penuh kekhawatiran.
"Adek tadi pagi kecelakaan. Mobil Adek nabrak pohon, Adek kalau masih kaku bawa mobilnya, minta temani Mas saja kalau mau kemana-mana" jelas Mas Randi.
"Apalagi sekarang Adek sedang mengandung anak kita yang ketiga. Adek kok gak bilang ke Mas kalau Adek lagi hamil?" Ucap Mas Randi berbinar.
Hah! Aku hamil? Benarkah? Aku baru ingat sudah hampir dua bulan aku tidak datang bulan. Aku lupa melakukan suntik KB satu bulanan. Ah mungkin karena akhir-akhir ini aku banyak pikiran sampai terlupa.
"Aku hamil Mas?" Tanyaku terkejut.
"Iya Sayang. Dijaga ya calon anak ketiga kita" Ucap Mas Randi mengelus perutku.
Aku terdiam.
"Maaf Dek. Ririn maksa nemenin di rumah sakit. Mas sudah melarangnya" Mas Randi menjawab seperti merasa tidak enak.
"Iya gak papa" jawabku datar.
"Dek Ririn, pulang ya. Sudah malam. Biar Mas yang menjaga Rika" ucap Mas Randi halus ke Ririn.
Ririn mengangguk. Kemudian mengambil tas dan melenggang keluar.
*****
Kehamilanku menginjak usia 13 Minggu. Aku tak menyangka kalau hamil lagi. Tapi aku bersyukur Allah beri amanah untukku calon anak ketiga. Mas Randi sering menciumi perutku dan mengajak bicara calon anak kami.
Waktu kecelakaan untung aku mengendarai mobil dengan kecepatan rendah jadi aku tidak mengalami luka sedikitpun. Hanya mengalami sedikit kram perut. Hanya satu malam di rawat di rumah sakit aku sudah diperbolehkan untuk pulang. Mobil pun hanya sedikit tergores pohon.
Kehamilanku ini tidak merasakan mual sama sekali, beda sekali dengan kehamilan dua kakaknya. Aku hanya merasakan sedikit pusing saja di waktu-waktu tertentu. Tapi kata dokter kandunganku lemah. Aku sudah beberapa kali mengalami flek. Aku diberi obat penguat kandungan. Semoga anakku sehat sampai lahir tanpa kurang suatu apapun.
*****
__ADS_1
Esok adalah hari yang paling tidak aku tunggu. Ya, besok adalah hari pernikahan Mas Randi dan Ririn.
Aku memutuskan untuk tidak ikut lagi. Aku tentu tidak bisa menyaksikan suamiku bersanding dengan wanita lain di hadapanku. Membayangkannya saja hatiku sudah sesak apalagi menyaksikan langsung.
Aku tidak yakin akan kuat menapakkan kakiku membawa tubuhku jika aku ikut. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Malam ini aku tidak bisa tertidur. Mas Randi sudah tidur memelukku erat, hingga aku susah bernafas.
Besok Mas Randi tidak pulang selama tiga hari. Tentu di rumah Ririn.
Selama delapan tahun lebih kami menikah tidak pernah satu kalipun Mas Randi tidak tidur bersamaku. Kami selalu tidur bersama. Kalau aku tertidur di kamar anak-anak pun Mas Randi pasti menyusul. Besok pertama kalinya Mas Randi tidak tidur bersama. Sanggupkah aku tidur tanpanya?
*****
Pukul enam pagi Mas Randi sudah bersiap berangkat ke acara pernikahannya, memakai kemeja. Kata Mas Randi, Ririn sudah mempersiapkan pakaian untuk akad di sana. Mas Randi akan menjemput keluarganya terlebih dahulu sama seperti saat lamaran. Kemudian menuju hotel tempat acara mereka. Akad nikah pukul sembilan. Lanjut acara resepsi pernikahan pukul sepuluhnya.
"Dek, Mas berangkat ya. Adek yang ikhlas ya sayang.. Nanti malam Mas gak pulang. Mas pulang hari Rabu pagi, Adek kalau takut tidur sendiri, Adek nginap di rumah Ibu saja ya" ucap Mas Randi.
"Iya Mas. Nanti aku mau ke rumah Ibu. Anak-anak sudah dua hari di sana. Aku mau menginap di sana juga" jawabku lirih.
Mas Randi memelukku, menciumiku berkali-kali. Mencium perutku yang masih rata dan mengelusnya. Aku lihat matanya terlihat sedih, sembab, seperti habis menangis. Mas Randi seperti berat melangkah keluar rumah. Mas Randi menatapku lama. Aku pura-pura tegar. Aku tersenyum kepada Mas Randi.
"Sudah Mas. Cepet berangkat. Keburu siang" ucapku seraya menggandeng tangannya menuju keluar rumah. Aku cium punggung tangannya. Kemudian Mas Randi berjalan menuju mobilnya. Tidak lama mobil berjalan keluar pagar dan menghilang di belokan.
Kemudian Aku masuk ke dalam rumah. Hatiku saat ini sudah tidak bisa digambarkan lagi. Mungkin sekarang hatiku sudah tidak berbentuk lagi. Hancur.
Aku bersiap akan pergi keluar. Aku ingin menyendiri. Menikmati kesendirian. Tujuanku adalah pantai. Aku ingin menikmati suara deburan ombak yang menenangkan dan semilir angin laut yang menyejukkan.
Aku mengendarai mobilku dengan kecepatan rendah. Aku selalu teringat calon anakku. Aku sekarang sangat berhati-hati.
Pukul delapan aku sudah sampai di pantai yang menjadi tempat tujuanku. Aku berjalan perlahan menyusuri pinggiran pantai. Berjalan di hamparan pasir yang luas.
Sekarang pukul sembilan, Mas Randi pasti sedang melafalkan ikrar janji suci , seperti saat delapan tahun yang lalu denganku. Tapi kali ini tidak denganku. Dengan Adik maduku. Ririn.
Aku tidak boleh sedih! Tidak boleh! Aku harus kuat. Demi anak-anak, demi calon anakku. Bukankah aku sendiri yang mengizinkan dan memutuskan untuk memilih jalan ini.
Seharian aku terduduk di pantai. Termenung. Meratapi nasib. Ah kenapa mesti aku ratapi? Bukankah aku sedang mencoba. Jika aku tidak sanggup maka akan aku lepaskan. Ini baru permulaan.
*****
Hari sudah mulai gelap. Aku putuskan untuk pulang, ke rumah Ibu. Aku kangen anak-anakku.
Malam ini aku tidur dalam kesepian dan kedinginan. Suamiku sedang menikmati malam pertama bersama adik maduku. Dan aku juga menikmati malam pertama tanpa suamiku di sisiku.
__ADS_1