SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR

SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR
BAB 12


__ADS_3

[Dek, sudah tidur belum sayang?] Aku baca pesan masuk dari Mas Randi malam ini di aplikasi hijauku. Bukankah ini malam pertama mereka. Kenapa Mas Randi justru mengirimiku pesan.


"Mas gak bisa tidur Dek. Kangen sama Adek dan anak-anak" pesan kedua Mas Randi.


Aku tak membalasnya. Aku rasa kurang pantas saling berbalas chat dengan Mas Randi di malam pertama bersama istri lainnya. Aku putuskan untuk langsung tidur, tanpa membalas pesannya.


*****


"Tumben Randi gak ikut Nak?" Tanya Ibuku pagi ini, saat aku membantu memasak sarapan di dapur rumah Ibuku.


"Mas Randi lagi keluar kota urusan pekerjaan Bu" jawabku seraya mengaduk-ngaduk opor ayam kesukaanku, masakan ibu menjadi favoritku.


"Aku gak ikut Bu, soalnya aku hamil lagi, takut kecapekan" lanjutku.


"Kamu hamil lagi Nak? Alhamdulillah cucu Ibu mau nambah. Semoga dapat anak perempuan ya" jawab Ibu dengan pendar senang aku lihat di raut wajahnya seraya memegang perutku yang masih rata.


"Iya Bu, sudah dua bulan" ucapku.


"Alhamdulillah, Kamu sekarang sudah sukses ya Nak. Sudah punya rumah besar, mobil dua unit dan toko besar. Apalagi sekarang mau nambah anak lagi. Ibu bahagia sekali melihatnya" ucap ibu penuh kebahagiaan.


"Alhamdulillah Bu, rezeki anak-anak" jawabku singkat seraya menahan perih di ulu hati.


"Semoga berkah ya, Nak" Doa ibu.


"Aamiin, Bu" jawabku.


Masakan sudah matang. Kami menyiapkan di meja makan. Kemudian makan bersama-sama dengan Bapakku dan anak-anakku.


Bahagia rasanya berkumpul bersama orangtua. Sejenak rasa sakit di hati hilang.


*****


Siang harinya aku mengajak anak-anak untuk pulang. Rumahku dan rumah Ibu hanya berjarak dua kilometer. Hanya butuh waktu 10 menit aku menjalankan mobilku dengan kecepetan rendah.


Sampai di rumah, kami istirahat. Tigapuluh menit kemudian terdengar suara pintu diketuk. Aku bergegas membukakan pintu.


"Mas Randi?" Aku terkejut di luar pintu tampak Mas Randi berdiri.


"Iya sayang" jawabnya cepat.


"Mas, kok pulang. Hari ini masih jadwal di rumah Ririn. Kasihan Ririn. Mas harus adil" Ucapku cepat. Mas Randi justru menghambur ke pelukanku, mencium keningku kemudian mencium perutku.


Aku terdiam. Nunggu Mas Randi berbicara.


"Mas, kangen sekali, Dek. Biasanya tiap hari bertemu Adek dan anak-anak" ucap Mas Randi seraya berjalan menuju ruang televisi menghampiri anak-anak yang sedang bermain mobil-mobilan kecil. Kemudian Mas Randi menggendong keduanya di tangan kanan dan kirinya.


"Sudah Mas. Mas kembali lagi ke rumah Ririn. Kasihan Ririn nanti mencari Mas" ucapku.


"Chat Mas tadi malam kok gak di balas, Dek?" Tanya Mas Randi, senyumnya merekah seraya menciumi pipi-pipi mungil anak-anak.


"Adek sudah ngantuk Mas, maaf" Jawabku.


"Mas pengen makan masakan Adek. Adek masak apa? Mas lapar" Tanyanya.


"Aku belum masak, Mas. Ini tadi bawa sayur opor dari rumah Ibu" ucapku lagi.


"Mas mau, Dek" ucapnya halus seraya duduk di meja makan.

__ADS_1


Aku bergegas mengambilkan piring dan menyiapkan makan untuk Mas Randi.


Mas Randi makan begitu lahap seperti sudah dua hari tidak makan.


Setelah selesai aku menyuruh Mas Randi kembali ke rumah Ririn. Dengan berat hati Mas Randi berjalan keluar rumah.


*****


Malam ini aku merasakan kepala pusing, perut kram dan keluar flek yang lumayan banyak. Aku bingung. Aku ingin ke rumah sakit tapi aku tidak berani menyetir dengan kondisi seperti ini.


Aku ingin menghubungi Mas Randi tapi Mas Randi sedang di rumah Ririn. Aku ingin menghubungi keluargaku tapi aku tidak enak hati, takut merepotkan, takut ketahuan kalau Mas Randi sudah menikah lagi. Aku sudah tidak tahan.


Aku teringat Bang Rendra. Iya Bang Rendra. Aku segera membuka aplikasi messenger.


[Bang, Saya bisa minta tolong mengantarkan Saya ke rumah sakit sekarang?] Tulisku segera Aku klik tulisan send.


Satu menit kemudian masuk telepon masuk nomor baru. Aku mengangkatnya.


"Mbak, ini Rendra. Mbak lagi sakit. Saya kesana sekarang ya kita langsung ke rumah sakit?" Ucap Bang Rendra cepat.


"Iya Bang. Saya tunggu ya" jawabku lemas.


Sepuluh menit kemudian terdengar pintu diketuk. Aku berdiri dan mengajak anak-anak keluar rumah. Aku menitipkan anakku ke tetangga samping rumah yang sekarang bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumahku. Semenjak hamil ini Mas Randi mempekerjakan asisten rumah tangga agar aku tidak kecapekan. Apalagi aku hamil dengan kandungan lemah.


Aku berjalan seraya meringis menahan perut sakit. Bang Rendra hendak menuntunku tapi aku menolak.


"Maaf Bang" ucapku.


"Iya gak papa Mbak, saya yang minta maaf" Jawabnya.


Bang Rendra membukakan pintu bagian depan sebelah kiri. Aku masuk sendiri.


Aku masuk ke UGD. Langsung diperiksa oleh dokter. Kata dokter, janinku hampir terjatuh, aku hampir keguguran tapi beruntung, aku segera ke rumah sakit jadi janinku masih tertolong.


*****


Sejak dokter mengatakan aku hampir keguguran aku menghubungi Mas Randi, alu sangat takut terjadi apa-apa pada calon anak kami.


Mas Randi nomornya tidak aktif. Aku kirim pesan ke aplikasi hijau hanya tercentang satu.


Sudah berkali-kali aku menghubunginya tapi masih tidak aktif.


"Bang, bisa tolong telepon Ririn, bilang ke Mas Randi kalau saya berada di rumah sakit akan rawat inap. Nomor Mas Randi tidak aktif" ucapku kepada Bang Rendra.


"Oh iya Mba. Saya telepon dulu ya, Ririn" jawab Bang Rendra cepat.


Kemudian Bang Rendra menelepon dan berbicara di telepon. Setelah itu menghampiriku.


"Kata Ririn, Mas Randi sudah tidur Mbak" ucap Bang Rendra.


Aku menghela nafas kasar. Begini rasanya berbagi suami, disaat membutuhkan kehadirannya tapi tidak selalu bisa hadir.


"Saya harus rawat inap Bang, tidak mungkin Abang yang menemani saya. Saya bingung Bang" ucapku lirih.


"Oh ya saya suruh Bude Rusmi saja ya yang menemani Mbak, Bude Rusmi asisten rumah tangga saya. Biar saya tidur di luar." Ucap Bang Rendra.


"Iya boleh. Maaf ya Bang saya sudah merepotkan" jawabku.

__ADS_1


"Saya jemput Bude Rusmi dulu ya Mbak sebentar" ucap Mas Randi.


"Ya Bang" balasku.


Duapuluh menit kemudian Bang Rendra sudah datang bersama Bude Rusmi. Aku langsung izin tidur, karena aku sudah sangat mengantuk.


Pukul setengah tujuh pagi aku sarapan disuapi oleh Bude Rusmi. Bude Rusmi baik sekali. Bude Rusmi banyak bercerita tentang anaknya dan tentang keluarganya di kampung. Aku sedikit terhibur oleh kehadirannya.


Menit kemudian, terdengar suara pintu kamar dibuka. Ternyata Mas Randi. Mas Randi datang dengan terburu-buru dan wajah cemas. Memelukku dan mencium keningku, air matanya menetes mengenai keningku.


"Maafin Mas ya Dek, Mas gak bisa menjadi suami siaga. Mas salah Dek" ucap Mas Randi terisak.


Aku tersenyum. Mas Randi mengambil piring dari tangan Bude Rusmi kemudian Mas Randi menyuapiku.


"Gak papa Mas. Alhamdulillah calon bayi kita selamat" ucapku.


Terdengar suara pintu di buka. Bang Rendra. Mas Randi memandang Bang Rendra seperti tidak suka.


"Maaf Mas, tadi malam Adek mau menghubungi Mas tapi Adek takut mengganggu, Mas kan masih pengantin baru, jadi Adek minta tolong Bang Rendra ke rumah sakit, Adek tidak berani nyetir sendiri. Terus sampai rumah sakit Adek hubungin Mas nomornya tidak aktif" ucapku menjelaskan.


"Makasih ya Bang, sudah Nolongin istri saya" ucap Mas Randi ke Bang Rendra.


"Ya, sama-sama Mas" jawab Bang Rendra.


Kemudian Bang Rendra dan Bude Rusmi pamit pulang. Aku mengucapkan terimakasih ke Bang Rendra dan Bude Rusmi.


"Mas tadi bilang ke Ririn mau ke toko, Mas takut Ririn ikut ke sini" ucap Mas Randi.


Sore harinya aku sudah boleh pulang. Mas Randi mengantarkanku pulang.


Hari ini Mas Randi masih jadwal di rumah Ririn. Aku menyuruh Mas Randi ke rumah Ririn. Dengan berat hati Mas Randi berangkat.


******


Aku memandangi ke seluruh penjuru rumahku. Sangat sepi. Aku rindu Mas Randi. Dulu waktu masih mengontrak tiada hari tanpa bercanda dan bercerita. Sekarang aku harus menunggu tiga hari.


Untuk membuang rasa jenuh, aku membuka toko kue di samping toko grosirku. Aku mempekerjakan dua karyawan wanita.


Lumayan untuk mengusir sepi pikirku. Daripada di rumah. Anak-anak sering aku ajak ke toko di sini luas bisa untuk anak-anak bermain.


*****


Sudah dua minggu berlalu. Aku sudah terbiasa tanpa kehadiran Mas Randi setiap tiga hari. Pagi ini Mas Randi jadwal pulang ke rumahku. Anak-anak sedang di rumah Ibuku.


Mas Randi pulang terburu-buru. Seperti biasa datang lalu menghambur memelukku. Tapi kali ini langsung menggendongku ke kamar dengan hati-hati.


"Dek, Mas boleh ya sekarang" kode dari Mas Randi mengajakku bercumbu.


Aku menggangguk. Aku harus tetap menjadi istri yang taat.


Setelah selesai. Mas Randi berbicara


"Mas belum menyentuh Ririn, Dek. Mas belum siap. Mas takut Ririn hamil" ucap Mas Randi tiba-tiba.


Aku terperanjat


"Mas tidak boleh seperti itu, Ririn istri Mas juga. Harus diberi nafkah lahir dan batin juga" ucapku.

__ADS_1


"Mas belum bisa Dek" balas Mas Randi.


Aku diam saja. Kasihan Ririn. Walau bagaimanapun juga Ririn sudah istri sah Mas Randi.


__ADS_2