
"Nak, sudah makan siang belum? Kalau belum, Ibu ambilkan makan ya?" suara Ibu mengagetkanku yang sedang memandangi ke luar jendela dari kamarku yang terletak di lantai dua. Aku sedang duduk menghadap jendela. Aku menoleh ke arah Ibu. Seketika Aku terlonjak kaget, Ibu membawa pisau di tangannya.
"Ibu, pergi, Bu! Aku takut pisau itu. Pergiiii!! Jangan bunuh Aku, Bu! Pergiiiiii!" teriakku histeris sekencang-kencangnya. Aku dengan cepat berdiri hendak menjauh dari Ibu.
"Ibu gak bawa pisau, Nak. Nih tangan Ibu kosong, gak ada pisau." jawab Ibu seraya menunjukkan kedua tangannya. Tampak tangan Ibu mangacung-ngacungkan pisau ke arahku.
"Ibu, bohong!! Itu pisaunya. Tolong! Aku mohon jangan bunuh Aku. Takuuut!!! Pergi dari siniiii!! Pergiii!!!!" Teriakku lagi sekeras-kerasnya, aku dengan cepat berlari ke pojokan kamar mencari perlindungan.
Mas Randi tiba-tiba berlari masuk ke kamar dengan wajah teramat panik.
"Kenapa, Bu? Kenapa, Dek? Ada apa?" tanyanya bingung, Mas Randi berjalan menghampiriku yang sedang ketakutan di sudut ruangan.
"Itu. Ibu, mau membunuhku, Mas. Itu pisaunya di tangan Ibu. Ibu suruh pergi sekarang, Mas! Aku takut Mas! Aku takut dibunuh!! Takut pisau!! Buang pisaunya, Mas!!" aku menunjuk-nunjuk ke arah Ibu dengan nafas memburu dan ketakutan.
"Bu, Maaf! Tolong keluar dulu, ya! Rika sedang berhalusinasi." ujar Mas Randi halus seraya mendekapku, aku menyembunyikan wajahku di dada Mas Randi. Ibu berlalu keluar, setelah sebelumnya aku melihat Ibu menangis.
"Ibu gak mau bunuh, Adek, kok. Ibu sayang sama Adek. Dek, tenang ya, Sayang. Ada Mas. Adek, aman kok. Gak ada yang mau bunuh, Adek." Mas Randi memelukku menenangkanku. Aku mendongakkan wajahku setelah aku merasa aman, tampak bulir bening menitik dari kedua mata Mas Randi mengalir di pipinya.
Perlahan Mas Randi melepaskan pelukannya, saat aku sudah mulai tenang.
"Adek, minum obat ya, Sayang!" Mas Randi menyodorkan beberapa obat ke mulutku.
"Gak, Mas! Aku gak sakit!"
"Adek, minum obat ya, Sayang, biar gak takut lagi" Mas Randi terus merayuku.
Akhirnya Aku meminumnya. Kemudian minum air putih yang disodorkan Mas Randi. Setelahnya, Aku terdiam beberapa saat.
"Mas, kenapa menangis?" tanyaku heran, memandang wajahnya yang sembab.
Mas Randi mengelap air matanya dengan telapak tangannya dan cairan yang keluar dari hidungnya.
"Gak papa, Dek. Adek cepat pulih ya, Sayang. Adek gak boleh takut. Mas kan ada terus di rumah, jagain Adek setiap hari. Di depan juga sudah ada satpam yang menjaga rumah Kita. Jadi gak bakal ada yang mau bunuh Adek. Kalau Adek takut panggil Mas ya, Sayang!" Mas Randi mengelus-elus rambutku dan merapikan rambut yang hampir menutupi mataku.
Aku menatap Mas Randi. Aku mengangguk.
__ADS_1
"Mas, Rania mana? Adek ingin memberi ASI." tanyaku.
"Adek, tunggu sini ya.. Mas ambil Rania dulu. Rania ada di kamarnya sama Neneknya dan Bude Ris." Mas Randi dengan cepat berjalan keluar kamar.
Menit kemudian. Mas Randi masuk menggendong Rania. Aku mendekapnya saat sudah di pangkuanku. Aku memberinya ASI. Aku pandangi wajah cantikku. Rania sedikit kurus.
"Mas, Rania sekarang kok kurusan ya?" tanyaku.
"Iya, Dek. Rania susah minum susu pakai dot. Adek, cepat pulih ya, Sayang. Supaya bisa selalu memberi ASI pada Rania." Mas Randi memijit-mijit pundakku. Nyaman sekali.
"Emang, Aku sakit apa, Mas? Aku sehat gini lo. Gak ada yang sakit." kilahku.
"Iya, Adek sehat kok, Sayang. Cuma perlu istirahat dulu." ujar Mas Randi lembut.
"Mas, Reyhan dan Rafael mana? Kangen ingin cium." tanyaku lagi.
"Mas panggilkan sebentar ya, Sayang." Mas Randi bergegas keluar kamar.
Lalu masuk ke kamar lagi menggandeng Reyhan di tangan kanan dan Rafael di tangan kiri.
"Sudah, Bunda. Makan pakai ayam goreng" jawabnya bersamaan.
"Yang nurut sama Bude Ris dan Nenek ya, anak-anak bunda yang ganteng dan sholeh"
"Ya sudah sekarang tidur siang ya, Sayang." ucapku mencium pipi dan kening mereka secara bergantian.
"Baik Bunda.."
Setelah selesai memberi ASI pada Rania. Mas Randi mengambil Rania, kemudian meletakkan Rania di sampingku. Aku memeluknya dari samping. Mas Randi merebahkan tubuhnya di belakangku, memelukku dari belakang. Kemudian rasa kantuk datang. Aku ingin tidur.
*****
"Dek, Ririn sudah Mas ceraikan. Tadi Mas sudah ke rumah Pak Indra, Ririn ada di sana. Tapi untuk cerai resminya, nanti Mas urus nunggu Ririn melahirkan dan nunggu Adek pulih dulu." ucap Mas Randi. Saat menyuapiku makan. Aku sedang memainkan jemari tanganku. Aku tak menjawabnya. Entah apa maksud perkataan Mas Randi, aku tidak maksud.
"Sebenarnya Mas ingin melaporkan Ririn ke polisi karena sudah melakukan ancaman pembunuhan, tapi Mas tidak tega, Ririn sedang hamil tua. Hamil anak Mas lagi. Mas akan menceraikannya saja. Tidak usah berurusan dengan polisi. Walau bagaimanapun Ririn istri Mas, yang sebentar lagi akan menjadi mantan istri."
__ADS_1
"Dek, sebentar lagi keluarga kita akan kembali bahagia seperti dulu lagi, sebelum Ririn datang. Pernikahan Mas dan Ririn diawali dengan hal yang tidak baik, dan akhirnya berakhir juga dengan tidak baik."
"Ririn sudah banyak sekali melanggar perjanjian yang Adek ajukan saat Mas dan Ririn mau menikah dulu. Pantas saja, Adek bisa sakit kayak gini."
"Dek, Mas kangen, Adek, yang dulu. Selalu ceria dan semangat. Adek, sekarang sudah memiliki Mas seutuhnya, seperti keinginan Adek sebelum sakit. Mas sekarang tidak terbagi-bagi lagi, Dek." ujar Mas Randi dengan suara serak, kini air matanya menetes di kedua pipinya.
"Mas, gak tega lihat Adek seperti ini. Semua salah Mas. Maafin Mas ya, Dek! Tapi Adek pasti sembuh, di samping Adek selalu ada Mas yang selalu menyayangi, Adek" Mas Randi menggengam tanganku erat dan menciuminya.
"Mas, jangan nangis. Nanti digigit hantu lo." ucapku.
Mas Randi tiba-tiba tersenyum seraya mengusap air matanya.
"Mas, gak nangis kok, Dek. Ini mata Mas kelilipan. Coba Adek tiupin mata Mas sini!" jawab Mas Randi memajukan matanya ke mulutku.
"Adek lagi makan, nanti nasinya keluar semua kalau niup."
Mas Randi tertawa. Apanya yang lucu?
"Makannya dihabisin ya, Sayang. Habis itu minum obat." Mas Randi menyuapi nasi terakhir di piring. Kemudian menyiapkan obat yang akan aku minum.
*****
Setiap hari aku rutin minum obat, rasanya bosan sekali. Padahal badanku tidak ada yang sakit. Mas Randi selalu merayuku, menemaniku dan mengajakku bicara.
Aku sudah empat kali diajak Mas Randi pergi ke psikolog.
Kata Mas Randi, aku sebentar lagi sembuh. Kata Mas Randi aku mengalami trauma dengan Ririn. Aku ingat dulu Ririn pernah hampir membunuhku. Setelah itu aku tak pernah bertemu dengannya lagi.
"Mas, Ririn sudah melahirkan belum?" tanyaku saat aku selesai minum obat. Aku sedang menyusui Rania, Rania sekarang sudah bisa tengkurap.
"Perkiraan satu bulan lagi, Dek. Kenapa Adek kok bertanya?" Mas Randi bertanya balik seperti penasaran.
"Gak kenapa-kenapa, Mas. Anak Ririn kan anak, Mas, juga. Berarti anakku juga." jawabku.
"Adek, jangan mikir apa-apa dulu ya. Fokus ke Anak-anak dan Mas saja ya, Sayang."
__ADS_1
Aku mengangguk mengerti.