SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR

SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR
BAB 25


__ADS_3

Aku mengedarkan pandanganku, manatap taman cantik di depanku. Tampak hamparan bunga-bunga berwarna-warni sedang bermekaran menunjukkan keindahannya. Cantik sekali.


"Adek, Mas mau menjelaskan yang tadi. Boleh, Sayang?" Tanya Mas Randi seraya menggenggam tanganku dan menciumnya.


Aku mengangguk, tanpa menoleh ke arahnya. Mataku masih memandang ke arah bunga-bunga di depanku, aku tidak ingin melewatkan keindahannya sedetikpun.


"Mas tiga hari yang lalu saat pagi-pagi Mas mau berangkat pulang ke rumah Adek. Sebelum pulang Mas minum jus buah buatan Ririn. Setelah minum Mas jadi merasa berhasrat. Akhirnya Mas menemui Ririn. Saat siang Mas akan pulang tapi Mas merasakan hasrat lagi. Kemudian malam hari juga seperti itu. Mas ingin mengabari Adek kalau Mas belum bisa pulang tapi smartphone Mas tidak tahu di mana. Sudah di cari-cari di seluruh rumah Ririn tapi tidak ada. Padahal malam harinya masih ada. Jadi sekarang Mas tidak punya smartphone lagi." Jelas Mas Randi panjang lebar.


"Pagi harinya, saat Mas ingin pulang ke rumah Adek tapi Mas merasakan hasrat lagi. Kata Ririn, Adek sekarang sedang masa nifas. Jadi sama Ririn saja. Mas merasakan hasrat seperti itu sampai tiga hari berturut-turut. Mas heran, Padahal Mas hanya minum jus buatan Ririn satu kali. Apa Ririn memasukkan obat ke dalam jus itu ya? Mas sebelumnya tidak pernah seperti ini. Pagi tadi Mas sudah tidak merasakannya lagi. Mas tidak mau minum buatan Ririn lagi. Mas takut. Tadi pagi Mas habis mandi, Mas mau pulang, Adek ternyata sudah berada di rumah Ririn. Maafin Mas ya, Dek." lanjut Mas Randi memelas.


Aku mencerna setiap kalimat yang diucapkan Mas Randi. Benarkah yang di ucapkan Mas Randi? Atau hanya alasannya saja? Entahlah! Yang jelas aku sudah ingin menyerah.


Aku diam saja. Aku tak berminat untuk menjawabnya.


"Dek?" Ucap Mas Randi yang kini berdiri di hadapanku.


"Mas.." ucapku terpotong.


"Iya, Sayang." Jawab Mas Randi.


"Aku sudah tidak kuat. Aku ingin menyerah, Mas. aku sudah tidak sanggup. Kesabaranku sudah habis." Ucapku lemah, mataku nanar menatap mata Mas Randi yang terlihat bingung mendengar ucapanku.


"Maksudnya gimana, Sayang? Apanya yang sudah gak kuat?" Tanya Mas Randi bingung.


"Aku ingin Mas segera menceraikan Ririn!" Ucapku mantap.

__ADS_1


"Kata Mas kan, Mas tidak mencintai Ririn. Aku ingin memiliki Mas seutuhnya kayak dulu. Sebelum Ririn hadir di rumah tangga kita. Aku sudah tidak sanggup berbagi suami lagi." jelasku lirih.


Mas Randi terdiam seperti sedang berpikir. Kini, wajahnya terlihat bingung. Aku lihat wajahnya kusut seperti sangat kecapekan. Mungkin karena tiga hari kemarin dikerjain Ririn. Kasihan sekali kamu, Mas.


"Jangan sekarang, Dek!" Jawab Mas Randi ragu.


"Mas memang tidak mencintai Ririn. Satu orang itu tidak bisa mencintai dua orang sekaligus, pasti ada yang lebih condong. Cinta Mas condong ke Adek, Cinta Mas hanya buat Adek. Seratus persen buat Adek. Tapi..." ucapan Mas Randi terpotong.


"Tapi kasihan Ririn sedang hamil, Dek. Mas takut bayi Mas di perut Ririn kenapa-kenapa. Beberapa waktu lalu Mas mengutarakan keinginan Mas untuk menceraikannya ke Ririn. Ririn langsung histeris dan mengancam akan bunuh diri jika Mas ceraikan. Mas takut Ririn nekat." Lanjut Mas Randi dengan kepala tertunduk seperti banyak beban.


"Mas, akan merasa sangat bersalah kalau terjadi apa-apa dengan bayi Mas di perut Ririn. Mas tidak ingin menyesal. Karena bayi itu tidak punya salah apa-apa. Makanya Mas nunggu bayi itu lahir." Lanjut Mas Randi lagi.


"Mas janji, nanti sesudah Ririn lahiran, Mas akan segera menceraikan Ririn. Tiga bulan lagi, Dek. Kita akan selalu bersama lagi seperti dulu, Dek." ucap Mas Randi dengan mantap.


"Mas juga sudah lelah, Dek. Mas capek mondar mandir, badan Mas rasanya remuk. Pikiran Mas terbagi-bagi. Hidup Mas seperti tidak pasti dan tidak tenang. Mas juga merasa bersalah dengan anak-anak. Anak-anak jadi kurang perhatian, Mas tidak bisa tiap hari ketemu anak-anak. Mas ingin selalu membersamai mereka dari kecil hingga dewasa." Lanjut Mas Randi.


Ah! Sabar. Tiga bulan lagi. Semoga semua sesuai dengan yang aku harapkan. Aku sudah tidak tahan dengan kondisi sekarang. Aku sehabis lahiran sangat butuh perhatian dari seorang suami. Dulu saat Reyhan dan Rafael masih bayi setiap hari selalu ada Mas Randi menemaniku, menjadi tempatku berkeluh kesah, tempatku bersandar. Aku sangat membutuhkan Mas Randi.


"Ya, Mas. Aku tunggu janji Mas!" jawabku menatap tajam wajahnya.


"Kalau misal Mas hanya janji tinggallah janji, maka aku yang akan mundur dari rumah tangga yang rumit ini!" ucapku yakin.


"Iya, Sayang. Mas janji! Mas, sayang banget sama Adek. Mas tidak akan pernah melepaskan istri sebaik Adek. Adek istri sholehah, Ibu dari 3 buah hati kesayangan Mas." ucap Mas Randi memelukku dan mengelus-elus kepalaku yang tertutup hijab.


"Dek, Mas kangen saat keluarga kita masih utuh setiap hari seperti dulu, kita selalu berempat, selalu bersama. Mas kangen masakan Adek, sambal terasi buatan adek Mas kangen sekali. Makan dengan lalapan daun singkong dan ikan asin. Kapan kita bisa kayak gitu lagi, Dek." Ucap Mas Randi matanya menatap kosong ke arah hamparan bunga warna-warni.

__ADS_1


"Ayo, kita pulang, Mas! Kita memasak bareng kayak dulu lagi. Adek juga kangen suasana seperti dulu, sebelum Ririn hadir memporak porandakan kebersamaan kita." ucapku lirih.


"Maafin Mas ya, Sayang. Semua salah Mas. Ayo kita pulang! Kasihan anak-anak kita kalau kelamaan ditinggal. Rania harus segera minum ASI, takut kehausan." Aku dan Mas Randi bangkit, kemudian Mas Randi menggandeng tanganku menuju mobilku. Mas Randi membukakan pintu mobilku.


"Hati-hati ya, Sayang. Bawa mobilnya pelan-pelan saja." ucap Mas Randi mencium keningku, kemudian menutup pintu mobilku.


Kami pun segera melajukan kendaraan kami masing-masing menuju rumah. Mobil Mas Randi di belakangku seperti tadi.


Sesampainya di rumah aku segera memberi ASI pada Rania. Beruntung, Rania masih tertidur dan tidak menangis saat aku tinggal tadi.


Mas Randi menciumi Rania sampai wajah Rania memerah. Lucu sekali.


Setelah selesai aku meletakkan Rania di box bayi.


Aku segera menuju dapur bersama Mas Randi. Dapur kami sangat mewah tertata apik, luas sekali, dengan nuansa berwarna putih.


Kami akan segera memasak. Tadi aku sudah membeli bahan masakan di warung sayur gang depan saat pulang. Beruntung, semua bahan yang aku butuhkn ada.


Kami memasak bersama, berbincang-bincang, bercanda dan tertawa. Mas Randi menggiling sambal. Aku menggoreng ikan asin dan merebus lalapan. Menu kesukaan kami pada jamannya.


Ya Allah, sudah lama sekali aku tidak merasakan kebahagiaan seperti ini. Semenjak Ririn hadir.


Tampak Mas Randi juga terlihat binar yang amat bahagia di wajahnya. Tak henti-hentinya mulutnya menggumbar senyum dan tawa. Senyum itu yang selalu aku rindukan setiap hari. Senyum yang mampu menenangkanku.


Mas, Aku sangat mencintaimu, aku bahagia hidup bersamamu. Ternyata aku tidak sanggup berbagi suami sebaik Mas kepada wanita manapun. Aku hanya ingin memiliki Mas seutuhnya. Setiap hari bersama Mas. Maaf, kalau aku sudah egois.

__ADS_1


Terimakasih Mas, sudah mencintaiku, sudah menyayangiku.


Tidak lama kemudian datang Reyhan dan Rafael bergabung bersama kami. Ikut sibuk di dapur. Kami tertawa bahagia, berempat.


__ADS_2