
Semenjak kejadian kemarin, Mas Randi selalu di rumahku. Sudah lima hari di rumahku. Mas Randi belum sekalipun ke rumah Ririn.
Mas Randi sengaja belum membeli smartphone baru, kata Mas Randi ingin tenang dulu. Tidak mau diganggu siapapun.
Setiap pagi, Mas Randi menggendong Rania ke taman samping kolam renang, menjemur Rania. Aku duduk di dekatnya, memandangi Mas Randi yang menimang-nimang bayi mungil kami.
Setelah itu kami sarapan bersama. Rania tertidur lagi. Umur Rania sekarang tepat satu bulan, makin terlihat wajah ayunya. Tak bosan-bosan Mas Randi menciuminya.
Siang harinya kami tidur siang bersama mengeloni Rania. Menjelang sore Bude Asisten rumah tangga bilang ada tamu di depan.
Aku segera berjalan ke ruang tamu. Ternyata Ririn.
"Mbak, Mas Randi mana?" tanya Ririn.
Aku tak menjawab, aku membalikkan badan kemudian berjalan masuk lagi, tanpa menghiraukannya.
"Mbak! Mbak Rika! Mas Randi mana?" teriaknya lagi.
Aku segera masuk ke kamar tempat Mas Randi dan Rania tidur. Kemudian mengunci pintu dari dalam. Aku sedang tidak ingin berurusan dengan Ririn.
Menit kemudian, terdengar pintu kamar diketuk dengan keras. Mas Randi terlonjak bangun karena kaget, dan Rania menangis.
"Siapa ya, Dek?" tanya Mas Randi dengan mata masih merah.
Aku diam saja. Mengangkat Rania dan memangkunya.
Mas Randi bangkit dan berjalan menuju pintu kamar, membukanya perlahan. Begitu pintu terbuka, ada Ririn di luar pintu, Ririn menghambur memeluk Mas Randi.
Mas Randi tampak risih, berusaha melepas tangan Ririn, namun Ririn makin mengeratkan pelukannya. Aku juga risih melihatnya. Ririn kebiasaan tidak melihat-lihat tempat. Aku menunduk memandangi Rania untuk mengalihkan pandangan.
"Mas, udah lima hari gak pulang?" ucap Ririn manja.
"Maaf, Dek Rin. Mas di rumah Mbak Rika dulu, Mbak Rika dan Rania masih butuh Mas." ucap Mas Randi.
__ADS_1
"Ririn juga butuh Mas!" ucap Ririn lagi.
"Mbak Rika baru melahirkan, masih butuh Mas. Mas mohon, Dek Rin, mengerti ya." ucap Mas Randi pelan.
"Ririn, lagi hamil tua, butuh Mas juga." Ririn gak mau kalah.
"Maaf, Dek. Mas Masih trauma ke rumah Dek Rin. Tolong ngertiin Mas ya?" Mas Randi berucap dengan suara memelas.
"Trauma apa Mas? Gara-gara kemarin satu hari tiga kali? Bukannya tambah enak kan?" ucap Ririn mendayu-dayu.
Seketika aku mual mendengar ucapannya, tidak punya malu, ngomong blak-blakan di sini.
"Iya, Mas trauma, Dek. Mas mau istrirahat dulu di sini." desis Mas Randi.
"Pokoknya Mas pulang sekarang! Ayo!" Ririn menarik tangan Mas Randi mengajak keluar. Mas Randi tak bergerak sedikitpun.
"Gak, Dek. Maaf! Dek Rin, pulang sekarang ya?" Mas Randi berucap memelas.
"Ririn gak mau pulang, kalau Mas gak ikut pulang." ucap ririn lagi.
"Sayang, tenang ya. Mas ajak Ririn keluar. Adek jangan marah-marah ya, Sayang. Adek baru lahiran." ucap Mas Randi seraya menarik tangan Ririn dengan pelan menuju keluar kamar. Tapi Ririn menolak. Tetap berdiri di dalam pintu kamarku.
"Kalau Mas gak mau pulang, Ririn mau bunuh diri!" teriak Ririn dengan mata melotot menghadap Mas Randi.
Ah! Ririn. Andalannya cuma ancaman, pantas Mas Randi tidak bisa mencintaimu. Ah! sekarang aku punya ide.
Aku meletakkan Rania di ranjang. Detik kemudian, aku berdiri, lalu berjalan keluar kamar. Menuju meja makan. Aku mengambil pisau buah.
Aku membawa pisau itu ke kamar. Mas Randi tampak sangat panik melihatku membawa pisau.
"Sayang! Pisau buat apa? Jangan nekat, Dek. Taruh pisaunya, Dek. Jangan, Dek!" ucap Mas Randi seraya berjalan cepat ke arahku hendak merebut pisau yang aku bawa.
"Sini, Sayang, pisaunya. Bahaya itu, Sayang. Tolong! Kasih Mas ya. Nanti darahan, Sayang. Nanti sakit." ucap Mas Randi memelas, tangan Mas Randi berusaha memegang tanganku.
__ADS_1
"Apa sih, siapa juga yang mau bunuh orang, Mas." kilahku.
"Nih Rin, kalau mau bunuh diri. Nih pisaunya. Buruan bunuh diri! Nanti aku videoin terus aku upload ke media sosial biar viral." teriakku seraya menyodorkan pisau itu ke arah Ririn.
"Jangan bisanya cuma ngancam! Coba buktikan langsung kalau mau bunuh diri!" bentakku.
Ririn mematung menatapku. Tak berkutik sedikitpun.
"Mana?? Gak berani kan?? Ternyata cuma gertakan aja ngomong bunuh diri melulu." lanjutku dengan suara meninggi.
"Tuh kan Mas! Ancaman Ririn itu cuma gertakan aja. Mana berani dia bunuh diri." ucapku ke Mas Randi.
Raut wajah Ririn tampak tegang dan terlihat malu. Namun akhirnya rautnya berubah seperti sedang marah.
"Sini Mbak! Ririn mau kita mati semua. Ririn dan Mbak Rika harus mati!" teriak Ririn, tangannya dengan cepat mengambil pisau dari tanganku. Pisau sudah berpindah tangan ke tangan Ririn. Ekspresi Mas Randi berubah menjadi tegang. Mas Randi berusaha merebut pisau dari tangan Ririn. Namun selalu gagal. Mas Randi tampak hati-hati merebutnya karena Ririn sedang hamil besar.
"Dek, bahaya, Dek. Sini pisaunya kasih ke Mas. Jangan nekat, Dek! Jangan aneh-aneh. Jangan ngomong yang enggak-enggak, Dek!" rayu Mas Randi ke Ririn.
"Pokoknya Ririn mau mati bareng Mbak Rika. Biar adil. Mas selama ini gak adil. Mas cuma cinta ke Mbak Rika. Ririn gak pernah Mas cintai. Biar kami sama-sama mati biar gak ada yang Mas cintai lagi!" teriak Ririn berjalan mendekat ke arahku. Aku berlari ke dalam kamar, aku mendekap Rania dengan erat. Aku takut.. aku takut mati.. aku takut pisau.
Mas Randi tampak memeluk Ririn dari belakang, berusaha agar Ririn tidak bisa mendekat ke arahku. Ririn mengacung-ngacungkan pisau ke arahku dengan amarah yang meluap-luap, matanya melotot seperti kesetanan. Aku menutup mataku.
"Jangan, Dek Rin. Sini pisaunya. Nanti masuk penjara, Dek! Dosa, Dek! Istighfar, Dek!" Mas Randi menggapai-gapai pisau yang Ririn pegang namun tidak sampai. Karena kedua tangan Mas Randi memeluk Ririn dari belakang.
"Sini, Mbak kita mati bareng! Maju sini, Mbak!" teriak Ririn terus mengucap kata-kata itu. Aku masih menutup mataku. Aku takut sekali. Aku takut Rania kenapa-kenapa. Aku takut pisau itu mengenai tubuhku. Aku tegang, badanku gemetar. Aku mengeluarkan keringat dingin.
"Dek Rin, istighfar, Dek! Nyebut, Dek! Jangan lakukan itu. Membunuh dosa besar, Dek! Mas mohon pisaunya kasih Mas, Dek! Mas mohon!" teriak Mas Randi berkali-kali.
"Gak, Mas! Ririn benci sama Mbak Rika. Mas cuma cinta sama Mbak Rika. Mbak Rika harus mati sekarang juga, Ririn juga harus mati!" Ririn meracau terus, pisaunya masih diacung-acungkan ke arahku dengan emosi yang meluap-luap. Aku takut sekali. Aku ingin lari keluar kamar tapi Ririn di tengah pintu, di dekap Mas Randi dari belakang.
Akhirnya pisau bisa berpindah tangan ke Mas Randi. Mas Randi berlari membawa pisau keluar kamar. Ririn berjalan menyusul Mas Randi dengan perlahan karena perutnya sudah buncit.
"Sini Mas pisaunya! Jangan diambil, Mas! Sini, Mas. Kasih Ririn pisaunya!" suara Ririn kian menjauh. Badanku gemetar, aku turun dari ranjangku dengan cepat, menuju pintu. Aku mengunci pintu kamarku dari dalam. Aku takut Ririn ke sini lagi. Aku takut Ririn membunuhku.
__ADS_1
Aku kembali naik ke ranjang, aku tiba-tiba merasakan sakit dikepalaku dan dadaku terasa sesak. Badan terasa panas dingin. Ah! Sepertinya asam lambungku kambuh. Nafasku terasa berat dan tidak plong.
Kemudian aku tiduran memeluk Rania dari samping. Setelah sebelumnya aku menutup seluruh tubuhku dengan selimut. Aku takut sekali. Aku takut mati. Aku takut dibunuh.