SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR

SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR
BAB 29


__ADS_3

Aku sekarang sudah sembuh, kata Mas Randi aku sudah tidak perlu minum obat lagi dari Psikiater.


Aku lihat binar yang amat bahagia di wajah Mas Randi, saat Psikolog mengatakan kalau aku sekarang sudah sembuh total, berkat pendampingan dari Mas Randi yang dengan sabar mendampingiku melewati rasa trauma dan tak pernah lelah merawatku.


"Adek, sekarang sudah sembuh, Sayang. Adek jangan mikir apa-apa dulu ya. Pokoknya fokus ke keluarga kita saja. Semua sayang, Adek. Semua baik sama, Adek. Ingat! tiga buah hati kita yang masih butuh, Adek." ucap Mas Randi saat kami sudah duduk di mobil hendak pulang, Mas Randi menatapku dengan tatapan penuh cinta. Aku membalasnya dengan tersenyum bahagia.


Aku sudah beraktifitas seperti biasa dengan ceria dan semangat. Merawat anak-anak dengan baik. Mas Randi selalu bersamaku, tidak membiarkan aku melamun walau sebentar.


Rania, makin lucu dan menggemaskan. Sekarang badannya montok berisi, pipinya temben, kontras dengan wajahnya yang cantik, rambutnya lebat dan hitam pekat. Mirip sekali boneka. Sekarang sudah pintar tengkurap dan tertawa. Membuat hari-hari kami semakin berwarna dan sempurna.


Hari berganti dan minggu berlalu. Aku bahagia dengan hidupku yang sekarang. Anak-anak yang sehat dan lucu. Suami yang selalu ada di sampingku, hampir dua puluh empat jam bersamaku, selalu menyayangiku.


"Mas, gimana kabarnya, Ririn?" tanyaku saat Mas Randi sedang memijat-mijat kakiku. Aku sedang memberi ASI ke rania dengan kaki selonjor di sofa.


"Sehat, Dek. Kemarin Mas bertemu di tokonya saat Mas ngontrol, Mas tetap masih bertanggung jawab dengan Ririn sebelum kami resmi bercerai. Kandungannya tinggal menunggu hari, Dek." jawab Mas Randi.


"Mas, Adek ingin keluarga kecil kita hidup tenang dan damai tanpa diusik siapapun. Bagaimana kalau harta pemberian Ririn kita pulangkan saja semua? Kita beli rumah lagi dari uang tabungan kita." ujarku mantap.


"Iya tidak apa-apa, Sayang, kalau Adek maunya begitu. Yang penting Adek bahagia, keluarga kita bahagia. Mas gak mau Adek banyak pikiran. Mas ikut saja sama kemauan, Adek." ujarnya halus.


"Ya, sudah Mas bilang ke Ririn ya kalau Mas ketemu Ririn lagi. Sampaikan salam maaf dan terimakasih dariku. Sambil sekarang kita nyari-nyari rumah yang cocok untuk dibeli." ucapku lagi.


"Oke, Dek. Siap laksanakan! Bidadari Surga, kesayangan Mas!" ucap Mas Randi semangat.

__ADS_1


"Mas, Ririn apakah mau Mas ceraikan? Dulu kata Mas, Ririn, ngotot gak mau bercerai? Sampai mengancam akan bunuh diri segala." tanyaku penasaran bagaimana reaksi Ririn saat Mas Randi menceraikannya. Apakah langsung menerima atau menolak?


"Ririn menangis dan mengiba seperti biasa, Dek. Tidak mau Mas ceraikan. Tapi Mas bilang akan melaporkannya ke polisi jika Ririn tidak menurut, dengan laporan ancaman pembunuhan hingga menyebabkan Adek depresi. Mas, bilang juga ke Pak Indra dan Bu Indra tentang ulah Ririn selama ini yang diluar batas kewajaran, Pak Indra membela Mas dan menasihati Ririn. Akhirnya Ririn mau menerimanya walau kelihatan seperti terpaksa." jelas Mas Randi panjang lebar.


"Semoga Ririn bisa ikhlas menerimanya ya, Mas. Tidak mengusik keluarga kita lagi. Semoga jangan ada Ririn-Ririn yang lain yang menghampiri rumah tangga yang sudah lama kita bangun ini." harapku.


"Iya, Sayang. Aamiin.. semoga doa-doa yang baik selalu dikabulkan oleh Allah. Sekarang ,Adek, istirahat ya, Sayang. Sini! Rania, Mas yang gendong. Tangan Adek biar gak pegel." Mas Randi mengambil Rania dari pangkuanku. Aku menyandarkan badanku ke sofa. Lega sudah berbicara kepada Mas Randi tentang harapan-harapanku dan tentang masa depan rumah tanggaku.


*****


"Sayang, Mas mau keluar dulu ya sebentar." pamit Mas Randi yang kini sedang memakai kemeja warna hijau dan celana jeans, sehabis mandi. Tampan sekali dan wangi.


"Mau kemana, Mas? Adek ikut ya!" tanyaku penasaran.


"Mas mau ada keperluan sebentar, Sayang. Adek di rumah dulu ya. Besok Mas ajak jalan-jalan bareng anak-anak." ucapnya merangkul pundakku. Aku sedang memangku rania yang sekarang sukanya di dudukkan di pahaku.


"Lucunya bibir, Adek, kalau lagi begitu. Jadi gemas Mas melihatnya. Jadi ingin Mas makan lo." gurau Mas Randi seraya tertawa dan mengacak-acak rambutku.


"Apa sih,Mas, ini? Malu lo diliatin Rania. Adek ikut ya.." rayuku.


"Jangan, Sayang. Sekali ini saja. Mas ada keperluan. Mas cepat pulang kok!" ujarnya halus.


Aku mengangguk mengerti. Kemudian Mas Randi pamit akan segera berangkat. Aku mencium punggung tangan kanannya. Mas Randi mencium keningku.

__ADS_1


Satu jam kemudian. Mas Randi meneleponku.


"Sayang, Mas pulangnya besok ya. Malam ini gak pulang. Mas lagi di rumah sakit. Menunggui Ririn yang akan melahirkan." ucapnya di seberang.


"Oh Ririn sudah mau melahirkan ya, Mas. Tapi Adek takut, Mas!" balasku.


"Adek, gak boleh takut ya, Sayang. Kan ada satpam, ada Bude Ris, ada Bude Asisten Rumah Tangga. Semua jagain Adek kok!" balas Mas Randi lembut.


"Iya, Mas. Kasihan juga Ririn mau melahirkan. Semoga melahirkannya lancar ya, Mas." ucapku.


"Aamiin.. Sayang. Adek, jangan lupa makan ya, Sayang. Mas tutup teleponnya ya. Nanti Mas telepon lagi."


"Baik, Mas. Mas juga jangan lupa makan ya."


"Iya, Sayang."


Kemudian telepon diputus.


Aku merenung, seraya menggegam smartphoneku.


Ririn. Semoga kamu diberikan kelancaran dalam melahirkan. Ibu dan bayinya sehat semua. Anakmu juga anakku.


Maafkan aku, yang ternyata tidak bisa ikhlas berbagi suami. Maafkan aku yang menyerah dipoligami. Maafkan aku yang tidak bisa membantu Mas Randi untuk mencintaimu. Maafkan aku yang tidak bisa membantu Mas Randi untuk bersikap adil soal rasa. Maafkan aku yang tidak bisa membuka hatiku untukmu.

__ADS_1


Begitu banyak perjanjian-perjanjian diawal pernikahanmu dengan Mas Randi dulu yang kemudian Kau langgar. Hingga kesabaranku habis. Maafkan aku yang stok kesabaranku sudah habis dan tak bisa diisi ulang lagi.


Ririn, semoga Kamu diberikan pilihan yang terbaik dalam menjalani kehidupan ini.


__ADS_2