SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR

SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR
BAB 13


__ADS_3

Satu bulan ini menjadi waktu yang sangat berat untukku dalam menjalani hari-hariku. Yang biasanya setiap hari selalu ada Mas Randi, sekarang setengah dalam satu minggu tidak ada Mas Randi, kadang hatiku terasa hampa. Kosong. Seperti kehilangan separuh hati.


Saat aku sangat membutuhkan kehadiran Mas Randi, terkadang saat Mas Randi tidak bersamaku, jadi aku tidak bisa berbuat apa-apa. Selain bersabar dan berdoa, semoga ini menjadi jalan surga untukku.


Ternyata berbagi suami itu menuntut seorang istri harus bisa mandiri dan tangguh. Tidak boleh lemah, apalagi ada anak-anak yang harus kita besarkan.


Aku sering membayangkan masa lalu, dulu waktu masih berada diindahnya kebersamaan keluarga kecil kami.


Saat kami berempat mengendarai motor butut Mas Randi, kami berempat berboncengan. Reyhan di depan dan Rafael di tengah-tengah antara aku dan Mas Randi. Anak-anak bernyanyi dengan riang di atas motor, motor melaju perlahan menuju ke sebuah pasar tradisional yang dekat dengan rumah kami, kami akan membeli behan-bahan masakan untuk stok satu minggu ke depan.


Aku pun membelikan mainan anak-anak di kakek-kakek renta penjual mainan. Harga mainan yang harganya sangat murah hanya beberapa ribu rupiah saja. Anak-anak bersorak girang saat menerima mainan barunya. Kemudian kami pulang dengan hati gembira. saat sudah sampai di rumah Mas Randi mengajak anak-anak bermain mainan barunya di halaman rumah kontrakan Kami yang luas.


Aku mulai memasak dengan semangat dan menyiapkan makan siang untuk keluargaku, sambil mendengarkan celoteh anak-anak yang sedang bermain dengan ceria bersama ayahnya. Terdengar teriakan sorak-sorak anak-anak. Hidupku terasa sudah sangat sempurna kala itu.


Ah bahagianya waktu itu, walaupun kami kekurangan secara materi, untuk makan sehari-hari saja harus pas-pasan, tapi aku tidak pernah kurang waktu, kasih sayang juga kebersamaan bersama keluarga tercintaku.


Sekarang keadaan sudah berubah. Semua sudah tidak seperti dulu lagi. Sekarang semua sudah terjadwal. Dijadwal untuk waktu-waktu yang kadang tidak berpihak.


Ternyata materi yang berlimpah tidak bisa membuat seseorang bahagia. Justru keluarga yang utuh yang selalu bersama dalam suka dan duka, yang bisa membuat hidup menjadi penuh kebahagiaan dan sempurna.


*****


Aku membuka smartphoneku, ketika terdengar ada notifikasi sms masuk. Sms dari bank. Ada transfer masuk nominal dua puluh juta rupiah. Aku baru ingat hari ini tanggal satu. Mungkin ini uang nafkah dari Mas Randi. Entah bagaimana hitungan nafkahnya yang diberikan padaku, aku tidak tahu. Yang penting Mas Randi memberiku dan anak-anak nafkah rutin setiap bulan.

__ADS_1


Hasil keuntungan dari tokoku juga setiap bulan sangat besar. Hampir seratus juta rupiah perbulan. Semua uangnya aku tabung di rekening pribadiku.


Keinginan demi keinginanku satu persatu sudah tercapai walaupun dengan jalan yang tidak biasa. Iya, tidak biasa. Mungkin ini yang disebut semua perjalanan hidup itu ada hikmahnya.


*****


Dua bulan berlalu sejak Mas Randi menikah lagi. Aku sudah mulai bisa berdamai dengan keadaan. Aku sudah mulai terbiasa dengan hatiku. Aku sudah lebih ceria dan semangat menjalani hari-hariku walau keadaan sudah tidak sama seperti dulu lagi.


Aku tidak pernah sekalipun bertanya soal Ririn kepada Mas Randi. Aku tidak pernah bertanya tentang acara penikahannya waktu itu juga keadaan setelah mereka menikah. Mas Randi hanya sesekali bercerita tentang Ririn.


"Mas sudah sarapan belum?" Tanyaku saat Mas Randi baru sampai ke rumahku selepas aku menyambutnya.


"Mas sudah sarapan Dek, tadi pagi Ririn sudah masakin Mas. Mas kira anak orang kaya gak bisa masak. Tapi ternyata bisa Masak" ucap Mas Randi.


Menurut pandanganku Ririn adalah istri yang baik dan taat. Mas Randi sekarang terlihat lebih bersih, terawat dan tampan. Pakaiannya yang digunakan Mas Randi pun sekarang sudah berubah menjadi rapi dan berkelas.


Aku belum sempat membelikan pakaian baru untuk Mas Randi, walaupun sekarang uangku sudah banyak. Aku masih harus lebih banyak istirahat karena kehamilanku yang lemah ini. Hari-hariku lebih banyak tiduran. Kata dokter aku tidak boleh banyak bergerak. Hanya sesekali aku ke toko saat Mas Randi sedang jadwal di tokoku.


Setiap Mas Randi akan kunjungan ke rumahku, Ririn selalu membawakan oleh-oleh untukku dan anak-anak. Makanan atau mainan. Tidak pernah satu kalipun tanpa dibawakan buah tangan.


Aku juga sesakali membawakan kue buatanku saat Mas Randi akan berkunjung ke rumah Ririn. Kata Mas Randi, Ririn bilang kue buatanku enak.


Semenjak mereka menikah, aku tidak pernah bertemu dengan Ririn satu kalipun. Biarlah. Aku lebih suka seperti ini. Hati tenang dan pikiran nyaman tanpa ada rasa cemburu dan rasa-rasa lainnya.

__ADS_1


Mas Randi juga selalu berangkat dan pulang tepat waktu. Tidak pernah kurang atau lebih. Mas Randi selalu adil.


*****


Hari ini jadwal Mas Randi datang ke rumahku. Kami akan kontrol ke dokter kandungan. Kandunganku saat ini sudah menginjak 5 bulan. Aku sudah lebih baik, tidak seperti saat awal-awal. Aku tidak pernah mengalami flek lagi.


Kata dokter calon bayiku sehat dan berjenis kelamin perempuan. Aku melihat sebuah pendar kebahagiaan di wajah Mas Randi saat mendengar ucapan dokter.


"Alhamdulillah ya Dek. Mas sudah gak sabar ingin menimang bayi lagi. Semoga calon anak kita selalu sehat, sempurna dan lahir dengan selamat ya Sayang" ucap Mas Randi mengelus-elus perutku saat Kami sudah berada di dalam mobil hendak pulang. Wajah Mas Randi berbinar, sama seperti dulu saat kami menanti kelahiran Reyhan dan Rafael.


*****


Sekitar sebulan kemudian, Mas Randi pulang ke rumahku dengan keadaan yang tidak biasa, Mas randi seperti gelisah. Raut wajahnya tampak tegang dan seperti menyimpan banyak beban.


"Mas kenapa? Seperti sedang ada masalah?" Tanyaku hati-hati kepada Mas Randi saat kami sudah duduk-duduk di sofa ruang tengah rumah kami.


Mas Randi menatapku, seperti ragu ingin bicara. Terlihat bibirnya sedikit bergerak-gerak tapi tidak bersuara. Menit kemudian Mas Randi berbicara.


"Maafin Mas, Dek. Ririn.. Ririn hamil. Adek.. Adek jangan minta cerai ke Mas ya.. Mas mohon Dek.. Mas mohon.." ucap Mas Randi suaranya memelas dan tangannya menggenggam tangan lentikku.


Aku terdiam. Mencerna ucapannya.


"Ririn lupa meminum pil KBnya. Mas, minta maaf, Dek. Jangan tinggalin Mas ya Dek.. Mas mohon.. kasihan anak-anak. Kasihan bayi kita ini Dek.." lanjut Mas Randi yang kini matanya sudah berkaca-kaca, detik kemudian air matanya terjatuh di kedua pipinya. Kemudian Mas Randi memelukku erat. Kemudian menciumi perutku yang sudah mulai terlihat besar.

__ADS_1


__ADS_2