SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR

SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR
BAB 23


__ADS_3

Sebelum pulang Mas Randi mengajakku ke ruangan tempat bayiku, aku melihat bayiku sedang tertidur di dalam ruang inkubator.


Anakku.. cantik sekali. Sembilan bulan di perut Bunda, Bunda, kangen, Nak. Kapan Bunda bisa menyentuhmu?


Semoga bunda bisa secepatnya membawamu pulang. Bunda ingin sekali menciummu dan memelukmu, Sayang. Cepet besar ya, Sayang!


Setelah puas melihat bayiku. Mas Randi mengajakku pulang.


*****


Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling saat sudah turun dari mobil sepulang dari rumah sakit, aku sudah di depan rumah baruku, pemberian Ririn.


Rumah lantai dua, dengan konsep klasik, berwarna putih dan ada sedikit warna hitam di bagian garis-garis dan di bagian ukiran-ukirannya.


Cantik dan mewah sekali. Pagar dan gerbang depan menjulang tinggi. Bagian depan rumah berdiri beberapa pilar-pilar kokoh berwarna putih. Besar rumahnya sepertinya sama seperti rumah Ririn. Tampak di kanan rumah ada taman yang asri dan ada kolam renang yang lumayan luas dengan air berwarna biru langit. Terlihat juga ada satu saung yang lumayan besar. Sempurna sekali.


"Ayo masuk, Dek!" Suara Mas Randi mengagetkanku yang sedang terpana melihat rumah baruku. Tangan Mas Randi menuntunku berjalan menuju pintu.


"Rumahnya bagus ya, Dek. Adek suka?" Tanya Mas Randi.


"Iya suka, Mas." Jawabku.


"Ririn sudah mencarikan asisten rumah tangga yang menginap, Dek. Itu sekarang sudah ada di dalam. Rumah sebesar ini biar ada yang menemani Adek saat Mas sedang di rumah Ririn. Biar full mengerjakan pekerjaan rumah, Adek jangan capek-capek lagi ya?" ucap Mas Randi.


"Iya, Mas." jawabku.


"Adek, mau pakai babysitter gak, Sayang? Nanti Mas carikan di yayasan." Tanya Mas Randi.


"Gak usah, Mas. Biar aku yang merawatnya sendiri. Pekerjaan rumah kan sudah dipegang asisten rumah tangga. Dulu Reyhan dan Rafael juga aku rawat sendiri" jawabku mantap.


"Kalau Adek kecapekan bilang ke Mas ya, Sayang? Biar Mas carikan yang membantu mengasuh bayi kita."


"Oke Mas."


Sesampainya di dalam rumah, tampak perabotan rumah sudah terisi lengkap. Bernuansa abu-abu. Mewah sekali. Semua tertata apik dan enak dipandang.

__ADS_1


Mas Randi menuntunku hingga ke kamar utama kami. Aku segera duduk di ranjang mewah yang sudah tertata rapi.


"Adek, istirahat ya, Sayang!" ucap Mas Randi seraya melepas sandalku dan membantu manaikkan kedua kakiku ke atas ranjang. Kemudian membantu menidurkan badanku dengan sandaran dua bantal.


"Mas, kapan bayi kita sudah bisa dibawa pulang? Aku ingin memberinya ASI." Tanyaku ke Mas Randi.


"Kata dokter tadi, insyaallah besok bisa dibawa pulang kalau beratnya sudah 2,5 kilogram, Dek." jawab Mas Randi.


"Adek sudah gak sabar, Mas!"


"Iya Mas juga, Sayang. Ingin segera berkumpul berlima di rumah kita"


*****


Keesokan harinya, Mas Randi dan Ibu Mas Randi membawa pulang bayi kami. Aku tidak ikut karena kondisiku belum pulih. Bayiku sudah normal, beratnya sudah 2,5 kilogram.


Saat sudah sampai rumah Mas Randi meletakkan bayiku di pangkuanku yang sudah diletakkan sebuah bantal.


Aku menciumnya dan memeluknya, aku pandangi wajah ayunya. Cantik sekali dengan baju dan bedong warna Pink.Aku segera memberinya ASI.


"Iya, Dek. Kalem mirip bundanya." ucap Mas Randi tertawa sumringah.


Reyhan dan Rafael girang sudah punya Adek.


"Adek itu kecil banget ya, Bunda. Tangannya kecil banget" ucap Reyhan.


"Bunda, Adek beli di rumah sakit ya, Bunda. Besok beli Adek lagi ya, Bunda. Rafael ingin adik laki-laki, Bunda" celoteh Rafael.


Kami tertawa bersama berceloteh riang menyambut bayi mungil.


Kami memberinya nama 'Rania Khairunnisa', panggilannya Rania.


Setelah selesai memberi ASI, Mas Randi menggendong Rania. Mengajakku ke kamar bayi kami.


Kamar bernuansa pink, di pojok kamar terdapat box bayi. Di sekeliling terdapat lemari. Ada juga mainan rata-rata berwarna pink. Tertata indah sekali.

__ADS_1


"Ini kamar Rania, Anak ayah bunda yang cantik" ucap Mas Randi.


Ririn yang menyiapkan ini semua.


*****


Semenjak aku lahiran Mas Randi belum pernah menginap ke rumah Ririn. Sudah dua minggu berlalu. Hanya kalau siang kadang Mas Randi ke rumah Ririn. Beruntung, Ririn bisa mengerti.


Anak-anak sudah di jemput oleh Mas Randi sejak aku pulang dari rumah sakit. Anak-anak suka sekali di rumah baru. Setiap hari selalu berenang di temani Bude ssisten rumah tangga.


Ibuku jika pagi atau sore selalu datang untuk memandikan Rania. Kadang bergantian dengan ibu Mas Randi. Mereka dua Ibuku yang sangat baik.


Keluargaku takjub dengan rumah mewahku, mereka tak menyangka aku bisa punya rumah semewah ini.


*****


Besok adalah acara aqiqah Rania. Kami mengundang para saudara, kerabat dan teman. Tidak banyak. Karena memang kami tidak memiliki banyak kenalan.


Pukul satu siang, tamu sudah mulai berdatangan. Kami mengadakan acara di dalam rumah kami. Menggelar karpet. Karena ruangan dalam rumah kami sudah sangat luas.


Keluarga besarku, keluarga Mas Randi. Keluarga Pak Indra, Bu indra dan Bang Rendra. Teman-temanku dan teman-teman Mas Randi, semua tampak hadir.


Aku mengedarkan pandangan ke pintu. Tiba-tiba terlihat Ririn datang dengan gamis warna putih dan hijab pasmina warna senada. Cantik sekali. Perutnya terlihat lebih besar dari aku terahir melihatnya hampir sebulan yang lalu. Aku belum pernah bertemu dengannya lagi.


Aku sangat cemas, Was-was. Takut Ririn berulah aneh seperti biasa. Ya Allah.. Semoga Ririn tidak berulah. Aku malu dengan keluargaku kalau mereka sampai tahu kalau Mas Randi punya istri dua. Mau diletakkan di mana mukaku ini. Apalagi kalau tahu semua hartaku pemberian Ririn. Aduh! kenapa aku jadi pusing begini ya memikirkannya. Ruwet sekali sih rumah tanggaku ini.


Aku sibuk menyalami para tamu. Saat tamu sudah mulai sepi. Ibuku bertanya.


"Nak, perempuan yang lagi hamil itu siapa? Dari tadi ibu perhatikan dekat-dekat dengan Randi terus. Kayak manja gitu ke Randi, kadang terlihat mesra ke Randi." ucap Ibu dengan wajah heran menatap ke arah Ririn.


Seketika aki terkejut mendengar perkataan Ibu, jantungku berdetak cepat, tak karuan.


Aku melihat ke arah yang Ibu tunjuk. Iya benar! Astaga, Ririn sedang menaruh kepalanya di pundak Mas Randi sambil memandangi Mas Randi. Ririn! Rasanya ingin aku lempar pakai piring berisi kue ini.


"Nanti Rika ceritakan ya, Bu. Kalau acara aqiqah Rania sudah selesai" ucapku berusaha tersenyum kepada Ibu, aku berusaha menutupi rasa emosiku kepada Ririn.

__ADS_1


Aku perhatikan, Ibu terus memperhatikan Ririn dan Mas Randi. Terlihat wajah itu seperti wajah keheranan. Aku memejamkan mataku sebentar. Menyiapkan kata-kata yang akan aku bicarakan ke Ibu nanti. Siapkah aku bercerita ke Ibu?


__ADS_2