SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR

SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR
BAB 9


__ADS_3

Mempertahankan keutuhan rumah tangga yang sedang berada di ujung tanduk itu tidak mudah. Harus benar-benar kuat mental dan kuat iman.


Jika rumah tangga hancur anak lah yang menjadi korban, anak yang tidak punya salah yang masih butuh orangtua utuh. Jadi aku memutuskan untuk tetap mempertahankan rumah tangga ini.


Mas Randi sangat baik, bertanggung jawab dan menyayangi kami, istri dan anak-anaknya. Jadi masih punya alasan untukku tetap melanjutkan rumah tangga ini.


Hari ini aku berniat membuat kue. Sudah lama aku tak membuat kue. Kangen sekali. Setelah badai menghantam rumah tanggaku beberapa waktu lalu aku close order pemesanan kue untuk sementara waktu sampai hatiku stabil kembali.


Aku bimbang, ke toko bahan kue Bang Rendra atau toko bahan kue lain. Aku tidak enak hati kalau ketemu Bang Rendra, sering merepotkannya. Tapi aku butuh bahan kue yang hanya ada di toko Bang Rendra. Akhirnya aku putuskan untuk belanja di sana. walau hati merasa ragu.


Setelah sampai aku mengambil barang-barang yang aku butuhkan dengan cepat. Bersyukur Bang Rendra tidak terlihat di sini. Hingga aku bayar di kasir juga tidak ada Bang Rendra.


Aku bersiap pulang. Ketika aku akan menaiki sepeda motorku tampak Bang Rendra sedang turun dari mobilnya. Aku hendak menjalankan dengan cepat kendaraanku supaya Bang Rendra tidak melihatku. Namun telat. Bang Rendra sudah keburu melihatku.


"Mbak Rika. Belanja di sini?" Tanyanya berjalan mendekat ke arahku dengan wajah ramah.


"Iya Bang" jawabku juga ramah.


"Mau langsung pulang ya?" Tanyanya lagi.


"Iya Bang" jawabku singkat.


"Mbak sudah makan belum? Makan dulu yuk di sebelah.." ajaknya.


Aku bimbang. Antara menerima ajakannya atau menolaknya. Ah sebentar lagi kami akan menjadi saudara, tidak ada salahnya aku menerima ajakan makan bersamanya, di restoran tempat keramaian kan.


Akhirnya Aku putuskan untuk menerima ajakan Bang Rendra.


"Iya boleh Bang" jawabku.


Kami berjalan beriringan masuk ke restoran yang terletak di samping tokonya. Kami duduk di kursi paling depan.


"Mau pesan menu apa Mbak" tanyanya kepadaku.


"Nasi goreng saja Bang" jawabku. Aku tidak suka makanan yang aneh-aneh.


"Minumnya apa Mbak?" Tanyanya lagi.

__ADS_1


"Es jeruk saja" jawabku singkat.


Bang Rendra memesan menu yang sama denganku.


Kemudian Bang Rendra berbicara padaku


"Mbak yang sabar ya soal Ririn. Ririn memang keterlaluan" ucap Bang Rendra pelan.


"Ya. Saya sudah memaafkannya kok Bang. Namanya sudah takdir, mau gimana lagi?" jawabku lirih.


"Terimakasih ya Mbak. Sudah memaafkan Ririn. Andai waktu bisa diulang lagi. Tidak Saya perbolehkan Ririn dekat-dekat dengan suami orang. Kalau jadinya seperti ini" ucapnya lagi.


"Ya gak papa Bang. Sudah terlanjur. Namanya nasi sudah menjadi bubur." Ucapku lagi.


Kami lebih banyak diam. Hingga pesanan datang. Kami menyantapnya dengan diam.


"Mbak. Yang kuat ya.. Kalau ada apa-apa Mbak bisa menghubungi saya. Gak usah sungkan-sungkan" ucapnya lagi.


"Ya Bang. Terimakasih" jawabku lagi.


"Belum ada calonnya Mbak. Nunggu ada calonnya" jawabnya seraya tersenyum.


"Ooh, semoga segera ada calonnya ya Bang" jawabku.


"Aamiin Ya Allah.. Terimakasih ya Mbak atas doanya" jawabnga mengaminkan.


Nasi goreng di piring kami sudah habis.


Aku pamit pulang setelah memgucapkan terimakasih kepada bang Rendra.


Kami berjalan menuju parkiran. Aku ingin langsung pulang. Sudah tak sabar ingin mengeksekusi kue model baru.


Bang Rendra menatapku lekat saat aku hendak menjalankan motorku. Tatapan aneh.


*****


Satu minggu berlalu. Saat aku, Mas Randi dan anak-anak sedang bermain di halaman rumah kami. Ririn tiba-tiba datang ke rumahku. Bersama Bang Rendra. Membawa syarat-syarat yang aku ajukan. Gerak cepat sekali Ririn.

__ADS_1


Mobil merah Honda Jazz plat kendaraan masih berwarna putih berserta surat-suratnya tertera atas namaku terparkir cantik di halamanku yang luas. Surat sertifikat rumah atas namaku. dan surat-surat kepemilikan toko yang juga atas namaku.


Orang kaya begitu mengurus apa-apa ya pasti cepat dan mudah.


Ririn menyerahkan semuanya kepadaku dengan semangat. Aku menerimanya dengan lesu dan tak semangat.


Dengan kekuatan yang sedikit aku paksakan dan dengan tangan sedikit kaku, akhirnya aku tanda tangani surat persetujuan Mas Randi menikah lagi dengan Ririn.


"Terimakasih ya Mbakku, sudah merestui Mas Randi menikah denganku. Ririn senang sekali. Besok malam akan diadakan acara lamaran di rumah Ririn dan 2 minggu lagi acara akad nikah sekaligus resepsi di hotel." Ucap Ririn antusias.


Aku menarik nafas, kemudian menghembuskannya dengan pelan.


Oh pantas Ririn mau menikah secara resmi, Ririn mau pesta besar-besaran.


"Oke. Semoga lancar. Kalau sudah tidak ada keperluan lagi silahkan pulang. Aku mau lanjut menemani anak-anak bermain" aku mengusir halus daripada aku muak melihatnya berlama-lama di sini. Takut aku khilaf terus aku menjambak rambutnya atau mencakar wajahku. Malah panjang nanti urusannya.


Saat Ririn dan Bang Rendra sudah pulang. Mas Randi memelukku seperti biasa air matanya luruh di kedua pipinya.


"Sudah lah Mas. Tak usah menangis terus. Semua sudah takdir. Mau gimana lagi?" ucapku.


Mas Randi tak menjawab. Mas Randi mengeratkan pelukannya. Kemudian beberapa saat Aku melepaskannya perlahan.


Aku berjalan menuju halaman. Ku pandangi mobil merah warna kesukaanku. Aku merenung. Semua keinginanku tercapai tapi mengapa dengan cara yang menyakitkan seperti ini.


"Horee.. kita punya mobil 2. Horee.. horee.." anak-anak melompat girang sembari berlari-lari kecil mengelilingi mobil.


*****


Sore ini Mas Randi bersiap-siap akan berangkat ke acara lamaran Ririn. Semua sudah Ririn siapkan jadi kami tidak perlu repot-repot lagi menyiapkannya. Aku memutuskan untuk tidak ikut.


Aku tidak bisa membayangkan suamiku meminang wanita lain di depan mata kepalaku. Oleh sebab itu aku memilih di rumah saja bersama anak-anak.


Mas Randi pamit dengan wajah sendu. Diciuminya aku dan anak-anak berkali-kali.


Aku memandangi kepergian Mas Randi yang akan menaiki mobil SUV nya dengan hati tak karu-karuan. Kata Mas Randi, akan menjemput keluarganya terlebih dahulu baru ke rumah Ririn. Keluarga Mas Randi sengaja oleh Mas Randi tak ada yang boleh ke rumahku. Takut ada yang membuatku sedih.


Mas Randi pulang menjelang larut malam. Aku menyambutnya dengan hati yang entah apa rasanya. Aku sengaja tak bertanya tentang acara lamarannya. Aku tak mau tahu dan Mas Randi tidak cerita mungkin Mas Randi takut membuatku sedih. Mas Randi segera tertidur sambil memelukku hingga pagi.

__ADS_1


__ADS_2