SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR

SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR
BAB 35


__ADS_3

Hari-hariku setelah aku tinggal di rumah baru, aku sisi dengan menyibukkan diriku berangkat ke toko kue dan berkumpul bersama beberapa temanku. Anak-anak sering aku titip di rumah Bapak dan Ibu bersama Bude Ris.


Toko kueku sudah aku pindah ke tempat lain, tapi masih di pusat kota. Supaya aku tidak selalu teringat bayang-bayang Ririn. Bayang-bayang yang membuat hati tidak tenang.


Aku ingin melupakan segala sakit yang tertoreh di hati. Dengan aku beraktifitas, aku bisa sejenak melupakan persoalan hidupku saat ini. Kalau diam saja di rumah pasti aku selalu kepikiran dengan Mas Randi.


Mas Randi akhir-akhir ini sering sibuk. Setiap hari berangkat pagi dan pulang malam. Mas Randi bilang lagi mengontrol dua toko, toko Ririn dan toko milikku dulu. Mas Randi juga menjaga anak Ririn yang masih dirawat di rumah sakit.


Aku sudah tidak mau memikirkannya lagi. Aku sedang belajar untuk terbiasa tanpa Mas Randi. Aku bertemu dengan Mas Randi hanya saat di malam hari. Aku merasa akhir-akhir ini Mas Randi berubah, sedikit cuek terhadapku. Mas Randi juga jarang di rumah. Tidak seperti dulu yang selalu perhatian kepadaku. Entahlah!


Teman-temanku mengajakku mengikuti kajian-kajian islam yang diadakan dua kali dalam seminggu dengan seorang Ustadzah. Aku sudah izin ke Mas Randi. Bersyukur, Mas Randi mengizinkan. Aku sekarang rajin mengikuti kajian.


Tiga minggu berlalu, aku sudah merubah total penampilanku. Yang biasanya aku memakai celana panjang, tunik, gamis langsing dan hijab segiempat. Kini, aku memakai gamis longgar polos dan khimar dengan panjang di bawah paha. Bersyukur, teman-temanku membawa sisi positif dalam hidupku saat ini. Aku belajar berkhijrah.


Aku semakin mendalami ilmu agama dengan seorang Ustadzah. Hati terasa adem sekali saat mengikuti kajian. Aku sangat nyaman berada di tempat ini. Seperti bertemu oase di tengah padang pasir, tidak lagi fatamorgana.


Aku belajar mencintai Allah. Ternyata cinta kepada manusia itu bukan cinta abadi, karena manusia bisa menyakiti. Tidak boleh mencintai manusia dengan berlebihan.


Aku merasa tertampar. Ya, selama ini aku begitu mencintai Mas Randi. Hingga aku ingin selalu memiliki Mas Randi seutuhnya. Padahal Mas Randi milik Allah.


Aku belajar untuk mencintai Allah. Cinta yang abadi dan tak pernah menyakiti yaitu hanya cinta kepada Allah, Sang pencipta alam semesta ini.


Mas Randi sering sekali memuji penampilanku saat ini.

__ADS_1


"Adek, sekarang semakin cantik dan sholehah. Istri kesayangan, Mas." ucap Mas Randi tiap kali aku akan berangkat kajian.


*****


"Dek, bayi Ririn sudah boleh pulang. Alhamdulillah, Kondisinya sudah normal walaupun memiliki kelainan jantung. Mas, lupa nama medisnya. Pokoknya jantungnya lemah gitu, Dek." ucap Mas Randi suatu malam saat kami sudah berbaring hendak tidur.


"Oh.. Syukur Alhamdulillah, Mas. Semoga selalu diberikan kesehatan ya, Mas. Mudah-mudahan segera normal seperti bayi lainnya. Mas, sudah mengajukan gugatan cerai ke Ririn atau belum?" tanyaku penasaran karena selama ini aku melihat Mas Randi terlihat anteng-anteng saja.


"Kata Mas, kalau Ririn dan bayinya sudah stabil Mas akan mengurus perceraiannya. Sekarang kan sudah stabil semua." lanjutku.


Mas Randi tampak terdiam. Entah apa yang dipikirkan. Aku tak bisa menebaknya. Aku hanya menagih janjinya dari waktu itu hingga sekarang karena belum juga ditepati.


"Ya, kalau Mas tidak jadi menceraikan Ririn, tidak apa-apa kok, Mas." ucapku.


"Iya tidak apa-apa, Mas. Tapi Aku yang mundur." ujarku.


"Ingat Mas! Waktu itu Aku kan sudah ngasih waktu ke Mas satu bulan, berarti tinggal satu minggu lagi waktu untuk Mas menceraikan Ririn. Aku tidak main-main dengan ucapanku. Jika dalam satu minggu ini Mas tidak menunjukkan bukti surat keterangan sedang mengurus perceraian, maka tepat satu minggu lagi aku akan datang sendiri ke pengadilan agama, aku yang akan menggugat cerai, Mas." lanjutku lagi dengan penuh kemantapan. Aku tidak ingin berlarut-larut dalam situasi seperti ini. Aku butuh kepastian.


Mendengar ucapanku wajah Mas Randi langsung berubah tegang dan terlihat sangat kacau. Mas Randi memandang ke atas memandangi plafon kamar kami. Mas Randi tidak menjawab.


"Bagaimana, Mas?" tanyaku lagi.


Mas Randi menghela nafas panjang.

__ADS_1


"Mas bingung, Dek. Bayi Ririn, Hana, sakit-sakitan. Mas tidak tega untuk menceraikan Ririn. Hana butuh orangtua yang utuh. Kasihan Hana, Dek. Hana tidak seperti bayi-bayi lain. Hana tidak normal. Hana butuh perhatian khusus." ucap Mas Randi lirih.


"Oh.. Yasudah kalau begitu, Mas. Yang jelas aku tidak akan mencabut ucapanku" ucapku datar.


Aku membalikkan badanku membelakanginya. Mas Randi dengan cepat memelukku dari belakang.


"Adek, jangan ngomong gitu, Sayang! Ingat! Tiga anak kita, mereka butuh orangtua yang utuh, Dek. Adek sabar dulu ya, Sayang." bisik Mas Randi di telingaku.


Aku meluruskan badanku ke atas. Kemudian menghadap Mas Randi.


"Maaf, Mas. Sekarang sudah tidak ada sabar-sabaran lagi. Ingat ya, Mas! Satu minggu lagi aku kasih waktu. Gak ada mundur-mundur lagi. Terserah Mas mau pilih aku atau Ririn. Yang jelas aku ingin secepatnya lepas dari rumah tangga yang rumit ini. Entah Mas yang menceraikan Ririn atau aku yang akan menceraikan Mas!" ucapku halus.


Aku memandangi Mas Randi, tampak Mas Randi menitikkan air matanya di kedua pipinya. Matanya memerah.


"Jangan, Sayang. Kasih Mas waktu lagi. Mas janji kalau sudah ketemu waktu yang tepat Mas pasti akan menceraikan Ririn. Mas gak mau kehilangan, Adek. Adek sabar ya, Sayang. Demi anak-anak kita." ucap Mas Randi dengan suara bergetar seraya menggenggam tanganku erat.


"Selama ini aku kurang sabar apa, Mas? Mas sudah berbulan-bulan cuma janji-janji saja, janji yang entah kapan Mas tepati. Aku kurang sabar gimana coba? Aku menunggu kepastian dari Mas! Bukan cuma janji-janji dari Mas!" ucapku lirih. Mas Randi semakin terisak, Ah! Mas Randi bisanya hanya menangis. Apa-apa menangis.


"Sudah, Mas. Gak usah menangis. Gak ada yang perlu di tangisi. Sekarang sudah malam. Ayo kita tidur!" ucapku seraya memiringkan badanku lagi membelakanginya, kemudian aku memejamkan mataku sambil menarik selimut. Pikiranku masih berkecamuk. Masih terdengar isak Mas Randi. Biarlah Mas Randi memikirkan ucapanku. Itu pun kalau Ia memikirkannya. Terserahlah!


Ya, Allah. Kenapa hatiku belum bisa berlapang dada? Kenapa hatiku masih saja seperti ini? Kenapa begitu sulit meninggalkan urusan duniawi?


Saat ini, Aku hanya ingin lepas dari masalah yang membelenggu hatiku selama ini, masalah yang berlarut-larut ini. Setelah itu aku akan belajar mencintai-MU, Ya, Allah. Ampuni hambamu yang labil ini Ya, Allah. Ashtaghfirullahal'adziim.

__ADS_1


__ADS_2