SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR

SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR
BAB 16


__ADS_3

Siang ini anakku Rafael sudah diperbolehkan pulang. Sudah tiga hari di rawat di rumah sakit. Alhamdulillah tidak ada penyakit apa-apa. Kemarin keluargaku dan keluarga Mas Randi sudah menjenguk. Beruntung, tidak ada yang membahas tentang keluargaku. Semua terlihat biasa-biasa saja.


Semenjak Mas Randi menikah lagi aku tidak pernah berkunjung ke rumah orangtua Mas Randi. Aku takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, misal ada yang menyindirku atau membahas tentang Mas Randi dan Ririn. Lebih baik aku mencegah saja.


Sesampainya di rumah, kami langsung istirahat. Tidur siang. Reyhan sudah di ambil oleh Mas Randi. Rafael sedang tidur di kamar.


Menjelang sore, terdengar suara pintu diketuk dengan keras. Ah siapa sih bertamu pake ngetuk pintu keras-keras. Diketuk pelan juga sudah terdengar. Gerutuku dalam hati seraya berjalan ke arah pintu dengan perlahan karena perutku sudah mulai besar.


Ririn! Astaga, kenapa dia ke sini? Mau buat gaduh lagi? Semenjak melihat kejadian dia merajuk di rumah sakit kemarin, aku selalu sebal melihatnya.


"Mas Randi mana Mbak?" Tanyanya tanpa basa-basi.


"Bertamu ke rumah orang yang sopan. Salam dulu gitu" ucapku sedikit ketus.


"Ah kelamaan. Mas Randi mana?" Ucapnya dengan suara keras seraya bergegas masuk ke dalam.


"Belum disuruh masuk, pake nyelonong masuk aja ke rumah orang. Dasar gak sopan" ucapku tak kalah keras.


"Aku mau ketemu Mas Randi. Mau mengajak pulang. Mas Randi! Mas Randi!" Teriaknya di ruang tengah, memanggil-manggil Mas Randi.


"Jangan berisik. Anak-anak lagi tidur. Mas Randi juga lagi tidur" ucapku mengekorinya.


"Bangunin Mas Randi, Mbak" perintahnya tak sabar.

__ADS_1


"Mas Randi lagi istirahat. Duduk dulu sono di ruang tamu" ucapku seraya menunjuk ke arah ruang tamu.


Melihat wajahnya ingin sekali aku dorong keluar. Tapi sabar. Lagi sama-sama hamil.


"Duduk dulu sana yang sopan. Nanti aku bangunin. Sabaran dikit jadi orang. Bertamu gak ada sopan santun sama sekali" ucapku santai.


Ririn bergegas duduk di ruang tamu dengan cemberut.


Aku berjalan ke kamarku dan Mas Randi. Aku membangunkan Mas Randi.


"Mas, bangun. Ada Ririn di depan" ucapku seraya mencium pipi Mas Randi.


Mas Randi mengerjap-ngerjapkan matanya. Kemudian bertanya


"Ada Ririn di depan tuh, nyariin Mas" jawabku.


"Ngapa dia ke sini? Mas besok pagi ke rumah Ririn" ucapnya malas.


"Temui dulu Mas. Kasihan nungguin tuh" perintahku halus.


Mas Randi bangkit kemudian berjalan keluar kamar, aku mengekorinya. Saat sampai di ruang tamu. Ririn tiba-tiba menghambur memeluk Mas Randi. Dih tidak punya malu.


"Apa sih Dek Rin" Mas Randi berusaha melepas pelukan Ririn.

__ADS_1


"Ririn kangen Mas, sudah seminggu Mas gak pulang" ucapnya manja dengan nada suara dibuat-buat.


"Mas ke sananya besok pagi, Dek Rin. Biar malam ini Mbak Rika istirahat dulu. Kasihan kemarin-kemarin di rumah sakit susah tidur" jelas Mas Randi.


"Mas gak adil sih, sudah seminggu belum pulang-pulang" rajuknya seperti biasa memanyunkan bibirnya hingga lima senti. Ingin sekali aku ikat pakai kawat itu bibir Ririn.


"Dek Rin, ngertiin Mas ya, Dek Rin pulang ya. Jangan buat gaduh di sini anak-anak Mas lagi tidur" ucap Mas Randi memelas.


"Mas pokoknya ayo pulang. Sudah seminggu ini. Mas yang adil dong." Ucapnya meninggi.


Mas Randi menuntun tangan Ririn keluar rumah. Aku menonton saja. Ada pertunjukan seru. Mas Randi tampak berbicara di depan rumah bersama Ririn. Aku sengaja tak mengekorinya. Masa bodo ah.


Aku setuju Mas Randi jangan pulang dulu. Aku butuh istirahat setelah kecapean di rumah sakit kemarin.


Menit kemudian Mas Randi masuk ke dalam rumah dan langsung menutup pintu ruang tamu seraya berbicara.


"Ririn ganggu orang tidur aja" ucap Mas Randi yang kini berjalan ke arahku.


"Punya istri dua pusing sekali kepala Mas. Ririn manjanya minta ampun. Mas juga selalu mengkhawatirkan Adek dan anak-anak kalau Mas lagi di rumah Ririn. Enak punya istri satu adem kepala ini. Gak pusing kesana kesini." Ucap Mas Randi panjang lebar, sambil memijat-mijat keningnya, saat sudah duduk di sampingku, di sofa ruang tengah.


"Sabar Mas" jawabku.


"Adek istirahat ya sayang. Mas besok pagi ke rumah Ririnnya" ucap Mas Randi. Kemudian mencium perutku.

__ADS_1


"Ayah sudah gak sabar mau gendong dedek kecil ini. Pasti cantik sekali mirip ibunya" Mas Randi berbicara di depan perutku.


__ADS_2