
Pagi ini Mas Randi sudah berangkat kerja. Saat aku sedang mengepel teras depan rumah kontrakanku. Tampak sebuah mobil Honda Jazz berwarna kuning kehijau-hijauan memasuki halaman rumah kontrakanku.
Kemudian turun seorang perempuan dari pintu kemudi. Hah Ririn. Si betina tak tahu malu kenapa ke sini. Berani sekali dia ke sini.
Ingin sekali aku siram wajahnya dengan air bekas pel ini. Eh tapi sabar. Mau ngapa dia kesini? Semoga tidak membuat rusuh.
Ririn membuka pintu mobil bagian tengah. Mengeluarkan beberapa plastik besar seperti berisi kotak-kotak kardus kecil. Kemudian berjalan ke arahku.
"Assalamu'alaikum, Mbak Rika" sapanya ramah.
Aku diam saja. Ingin sekali aku pelintir tangannya, kemudian aku banting tubuhnya ke lantai dengan sekeras-kerasnya, terus aku injak-injak tubuhnya, lalu aku pukul-pukul pakai alat pel yang sedang aku pegang ini dengan sekuat tenaga. Eits tapi harus sabar. Berurusan dengan orang kaya tidak boleh sembarangan. Bisa-bisa kita yang rugi. Kalau terjadi apa-apa mereka bisa membayar pengacara paling mahal di kota ini. Kita bisa apa.
"Mbak, boleh aku masuk?" Tanyanya.
Aku terdiam beberapa saat. Kemudian Aku mengangguk. Namanya tamu siapapun tetap harus dihormati. Tidak enak juga dilihat tetangga kalau kita tidak sopan.
Aku berjalan masuk ke rumah. Ririn mengekori. Aku ke belakang meletakkan alat pel. Ririn sudah duduk di ruang tamu, buah tanganya sudah diletakkan di meja.
Aku duduk berhadapan dengannya. Terhalang meja.
Beberapa detik terdiam. Ririn mulai membuka pembicaraan.
"Mbak, ini Ririn bawakan hadiah. Tas, sepatu dan lain-lain. Merk-merk bagus loh Mbak, model-model terbaru. Semoga mbak suka ya" ucapnya sopan.
Wah Ririn mulai merayuku nih sepertinya. Aku tak boleh kemakan rayuannya.
"Maaf gak perlu repot-repot. Silahkan dibawa pulang lagi saja. Saya sudah punya" jawabku tak kalah sopan.
"Aduh diterima ya Mbak. Jangan ditolak" ucapnya lagi.
Aku diam saja.
Ingin rasanya aku cabik-cabik mukanya yang sok manis itu.
"Mbak, kapan Mbak mengizinkan Mas Randi menikah denganku" ucapnya tak tahu malu.
Rahangku mengeras. Tapi aku harus selalu mengontrol emosi.
Biar aku akan melayaninya dengan elegan. Tak boleh gegabah.
__ADS_1
"Kalau boleh tahu kenapa Kamu kok mau sama Mas Randi? Tampan tidak, kaya tidak, udah punya istri dan anak pula" tanyaku pelan berusaha dengan nada bijaksana. Walaupun hati terasa panas sekali, ingin rasanya aku adu jotos dengannya. Tapi malu dengan tetangga kalau ribut-ribut. Apalagi ada anak-anak di dalam sedang bermain di ruang tengah.
"Aku mencintai Mas Randi Mbak. Cintaku menggebu-gebu. Aku suka Mas Randi lelaki baik dan matang. Aku nyaman sekali saat bersama Mas Randi" desisnya yang terdengar menjijikkan. Lagi-lagi aku ingin muntah mendengar ucapannya.
"Cinta buta?" Tanyaku.
"Ya, namanya cinta Mbak, tak memandang fisik, harta juga status kan Mbak" jelasnya.
Cuih ingin sekali aku meludahinya. Tapi tahan. Tahan. Sabar Rika.
"Mbak, aku mohon. Beri izin Mas Randi menikah lagi ya Mbak, aku janji akan menjadi istri yang baik. Mas Randi juga pasti bisa adil, Mas Randi kan orang baik. Aku juga sudah ternoda oleh Mas Randi" ucapnya memelas. Mendengar ucapannya ingin sekali aku menggamparnya. Untungnya stok sabarku masih banyak.
"Mbak, Aku mohon Mbak" ucapnya lagi.
"Aku pikir-pikir dulu" jawabku singkat.
"Kalau tidak ada keperluan lagi silahkan angkat kaki dari rumahku ya, aku mau beres-beres." Usirku halus.
"Oke. Aku pulang dulu ya Mbak. Aku tunggu jawabanya secepatnya. Assalamu'alaikum" ucapnya seraya melenggang keluar.
Aku menarik nafas panjang.
Akhir-akhir ini Ririn sering datang ke kontrakanku. Membawakan berbagai belanjaan, makanan dan mainan untuk anak-anakku.
Ririn begitu gigih untuk meminta restuku. Ririn datang pasti disaat Mas Randi tidak ada.
Sampai saat ini aku belum memberikan jawaban atas permintaannya.
Biarlah aku ulur-ulur waktu sampai Ririn bosan sendiri. Aku tak pernah bercerita kepada Mas Randi tentang tingkah Ririn. Hingga dua minggu berlalu aku belum mau berbicara dengan Mas Randi.
Siang ini Ririn datang lagi ke kontrakan disaat aku selesai ibadah shalat dzuhur. Anak-anak sedang tidur siang.
Tiba-tiba Mas Randi pulang. Kata Mas Randi kurang enak badan. Mas Randi terkejut melihat ada Ririn di ruang tamu.
"Mbak Ririn, kenapa ke sini? Saya mohon jangan ganggu Rika. Rika sedang mengalami depresi, aku mohon jangan diganggu dulu" Ucap Mas Randi penuh penekanan. Aku tersenyum dalam hati. Mas Randi pikir aku gila. Padahal aku hanya diam.
"Maaf Mas. Ini Ririn mau ngasih rumah untuk keluarga Mas di perumahan gang masuk ke sini. Ini kunci dan sertifikatnya. Biar Mas gak mengontrak lagi" ucap Ririn.
Gila! Ririn memberikan rumah untuk kami. Kemarin mobil. Royal sekali Dia. Demi mendapatkan suamiku.
__ADS_1
"Gak usah repot-repot membelikan ini itu Mbak. Rika sekarang sedang depresi gak mungkin bisa memberi restu untuk Saya menikah lagi. Nunggu Rika pulih" jawab Mas Randi.
"Diterima saja ya Mas. Mas kan calon suamiku.. kalau gak nurut ingat ancamanku, Mas mau meringkuk di penjara?" Ancam Ririn.
Ah ancaman lagi. Andalan Ririn.
"Ririn punya rekaman cctv nya loh yang Mas Randi mulai membuka baju Ririn. Jadi Mas Randi gak bisa mengelak lagi" ucapnya licik.
Astaghfirullahal'adzim. Dadaku panas mendengar Mas Randi dan Ririn berdebat. Nafasku naik turun mendengar ucapan Ririn. Tapi biar. Aku hanya ingin menonton saja.
Mendengar ucapan Ririn terakhir seketika wajah Mas Randi berubah merah padam, penuh amarah yang tertahan. Aku kasihan melihatnya.
"Mbak Ririn menjebak saya kan? Mbak Ririn ngasih obat di minuman Saya? Apa mau Mbak? Jangan hancurin keluarga Saya, Saya sangat mencintai istri saya" Suara Mas Randi mulai meninggi.
"Terserah Mas Randi. Kalau Mas Randi menolak rumah ini. Saya sudah punya bukti rekaman cctv nya untuk laporan ke kepolisian" ancam Ririn.
"Stop! Stop! Aku pusing" selaku.
"Adek.. Adek sudah mau bicara ke Mas, Adek sudah sembuh sayang" ucap Mas Randi dengan mata berbinar hendak meraih tanganku. Namun aku menepisnya.
"Aku setujui kalian menikah. Tapi ada syaratnya..." ucapku lagi.
"Apa mbak syaratnya? Semua akan aku turutin mbak" jawab Ririn cepat.
Ah gatal sekali Ririn. Ngomong belum selesai sudah main sosor saja.
"Tapi Mas tidak mencintai Ririn Dek. Mas tidak mungkin menikah dengan orang yang tidak Mas cintai. Mas hanya mencintai Adek" ucap Mas Randi memelas.
"Mas mau dipenjara? Mas harus tanggung jawab ke Ririn. Anak kita semua laki-laki. Harus mengajari anak untuk belajar bertanggung jawab atas apa yang sudah diperbuat. Atau kalau Mas dipenjara kasihan anak-anak nanti dibully. Masa depan mereka masih panjang" jelasku tegas.
Ririn tampak senyum-senyum mendengar perkataanku. Ingin sekali aku mengajaknya baku hantam. Tapi sabar. Stok sabarku masih banyak.
"Oke kita pindah ke rumah pemberian Ririn. Kita turuti apa mau Ririn. Yang penting Mas gak dipenjara dan Mas bertanggung jawab" jelasku lagi.
"Terus syaratnya tadi apa Mbak? Semua akan aku turutin demi Mas Randi" potong Ririn cepat.
Tak sabar sekali dia.
Aku memandang mereka secara bergantian.
__ADS_1
"Besok aku beri tahu syaratnya. Hari ini Kita pindahan ke rumah baru dulu Mas." Jawabku.