
Sesampainya di rumah sakit, Mas Randi membantuku duduk di kursi roda, kemudian mendorongnya menuju UGD. Mas Randi mendaftar, kemudian aku naik ke atas ranjang UGD.
Tak lama seorang perawat menghampiriku. Kemudian bertanya beberapa pertanyaan dan memeriksa tekanan darah. Tidak lama kemudian datang dokter perempuan, dokter kandungan. Memeriksaku dan mengajak bicara.
"Selamat sore, Bu?" Ucapnya ramah.
"Sore, Dok." jawabku.
"Usia kandungan Ibu baru 34 Minggu ya, Bu?"
"Iya benar, Dok."
"Apakah Ibu sudah mengalami mulas kontraksi yang intens, Bu? Tanya sang dokter.
"Tidak merasakan sama sekali, Dok." jawab lagi.
"Kami cek, belum ada pembukaan sama sekali tapi Ibu sudah pecah ketuban. Ibu, harus segera di induksi sekarang. Bersediakah, Bu, untuk diinduksi?" Tanyanya lagi.
"Iya bersedia, Dok." Jawabku.
Kemudian dokter menyuntikku. Sang perawat memasang infuse. Setelah selesai mereka keluar dari ruangan.
Satu jam, dua jam, hingga berjam-jam tak ada reaksi sama sekali, tak ada rasa mulas sama sekali. Perawat bolak-balik bertanya dan memeriksaku.
Akhirnya keputusan jatuh pada operasi caesar, pukul sepuluh pagi ini. Karena sudah pecah ketuban, kalau terlalu lama bisa membahayakan bayiku.
Aku sedikit cemas, karena kedua anakku dulu lahir secara normal. Aku sedikit takut. Mas Randi selalu menenangkanku. Tangannya tak pernah lepas menggengam tanganku.
"Adek yang kuat ya, Sayang. Mas selalu bersama Adek kok. Nyebut asma Allah ya, Dek!" ucap Mas Randi. Wajah Mas Randi juga terlihat tegang.
Aku tersenyum.
Menit kemudian Mas Randi menandatangani surat persetujuan operasi. Setelah itu, Mas Randi menelepon keluargaku dan keluarganya, bahwa aku akan segera melahirkan secara operasi caesar pukul sepuluh ini.
Aku di pindah ke ranjang dorong, perawat dan Mas Randi mendorongku menuju ruang operasi. Mas Randi menciumku dan menguatkanku. Kemudian aku masuk ke ruang operasi. Mas Randi tidak boleh masuk, jadi menunggu di depan ruang operasi.
Sesampainya di dalam, tampak beberapa dokter dan perawat sedang menyiapkan alat-alat untuk operasi caesarku.
Aku di pindah ke ranjang operasi. Kemudian perawat mengganti bajuku. Aku disuruh duduk dengan kaki diluruskan. Seorang dokter laki-laki menyuntik punggungku, terasa sakit sekali. Dokter anestesi, menyuntik obat bius lokal.
Aku merasa dingin sekali di ruangan ini. Aku hampir menggigil. Perawat menyelimuti tubuhku bagian atas.
__ADS_1
Setelah itu aku tiduran dengan kaki lurus. Di atas dadaku tampak penutup, jadi aku tidak bisa melihat perutku.
Dokter perempuan tadi dan perawat bertanya kepadaku.
"Bu, apakah kakinya bisa diangkat? Coba diangkat ya, Bu!" aku mencoba mengangkat kakiku, tapi tidak bisa, terasa kaku.
"Tidak bisa, Dok." jawabku.
"Berarti obat biusnya sudah bereaksi ya, Bu."
"Ibu, jangan tidur ya."
"Maaf Bu, matanya jangan memejam ya, Bu."
"Baik, Dok."
"Bu, apakah perutnya sakit? Perutnya rasanya bagaimana, Bu?"
"Tidak sakit, Dok. Hanya terasa seperti didorong-dorong saja." jawabku.
"Alhamdulillah. Bayinya sudah lahir, Bu. Perempuan. Jam sepuluh lewat lima belas menit."
Tapi, kenapa aku tidak mendengar suara tangisan bayiku? Perasaanku jadi terasa tidak enak. Anakku.. semoga tidak mengalami apa-apa. Semoga sehat dan sempurna.
Dokter dan perawat selalu mengajakku bicara, mungkin takut aku tertidur. Sekitar hampir satu jam. Dokter dan perawat sudah selesai menanganiku.
Aku didorong keluar kamar operasi. Di depan kamar, tampak Mas Randi tersenyum dengan binar yang amat bahagia menghampiriku, Bapak dan Ibuku, Bapak dan Ibu Mas Randi. Semua tersenyum bahagia menatap ke arahku.
Aku segera dibawa ke ruang perawatan, diikuti keluargaku. Saat sudah di ruang perawatan, aku di pindah ke ranjang kamar rawat inap.
Aku bertanya kepada Mas Randi
"Bayi kita bagaimana, Mas? Bayi kita tidak apa-apa kan Mas?" Tanyaku sedikit cemas.
"Bayi kita cantik sekali mirip Adek, kulitnya putih, hidungnya mancung dan bibir tipis. Tadi sudah Mas adzanin waktu baru keluar dari ruang operasi. Ini fotonya, Dek!" Jelas Mas Randi seraya menunjukkan foto bayi mungil kami di smartphonenya.
Aku melihat foto bayi mungilku memakai bedong warna putih. Matanya terpejam. Lucunya.
"Tapi, tadi kok tidak menangis, Mas?" Tanyaku.
"Bayi kita prematur, Dek. Beratnya cuma 2,2 kilogram. Tapi, kata dokter tidak apa-apa kok. Hanya organ dalamnya belum matang. Perlu di inkubator beberapa hari." ucap Mas Randi mengelus-elus rambutku.
__ADS_1
"Semoga bayi kita sehat ya, Mas!" Jawabku.
"Bayinya cantik banget, Nak. Mirip kamu." ucap Ibu mengelus-elus tanganku.
Tampak Bapakku sedang berbicara dengan Bapak Mas Randi di sofa. Terlihat bahagia menyambut cucu baru.
"Alhamdulillah, Bu. Semoga bayiku segera sehat." Jawabku.
*****
Beberapa jam kemudian keluargaku pamit pulang, hendak menjemput Reyhan dan Rafael di rumah asisten rumah tanggaku untuk menginap di rumah Ibu selama aku dirawat pemulihan pasca operasi caesar.
Saat aku dirawat pemulihan pasca operasi, Bapakku dan Mas Randi bergantian menungguiku. Mas Randi saat siang kadang pulang untuk menengok anak-anak atau menengok Ririn, tapi tidak menginap. Selalu menginap di rumah sakit menjagaku.
*****
Empat hari aku dirawat. Bersyukur, aku sudah boleh pulang. Tapi bayi mungilku belum boleh pulang, karena beratnya masih 2,4 kilogram. Boleh pulang kalau beratnya sudah 2,5 kilogram.
Kemarin aku sudah belajar miring kanan, miring kiri dan duduk. Sekarang aku sudah bisa berjalan sendiri. Sudah tidak terasa sakit lagi.
Bersyukur, Ririn tidak menengokku. Aku takut keluargaku tahu kalau aku dimadu. Beruntung Ririn tidak muncul sama sekali ke rumah sakit.
Saat Mas Randi akan berkemas-kemas hendak pulang, Mas Randi berbicara padaku, yang sedang duduk di sofa.
"Dek, kita pulang ke rumah baru kita ya, Sayang. Rumah pemberian Ririn, permintaan Adek waktu itu. Kata Ririn, titip maaf karena memberi rumahnya telat, keburu Adek sudah lahiran." ucap Mas Randi.
"Benarkah, Mas? Oh ya sudah gak papa, Mas. Tapi bayi kita belum punya baju sama sekali, Mas? Kita beli dulu ya?" Tanyaku.
"Ririn sudah membelikan semua kebutuhan bayi kita kok, Dek. Sudah disiapkan di kamar bayi kita di rumah baru. Sudah lengkap semua. Ririn bayinya perempuan juga, beberapa waktu lalu sudah USG. Jadi Ririn kemarin sekalian belanja keperluan bayinya." jelas Mas Randi.
"Oh iya kah, Mas?" Ucapku sedikit terkejut.
Aku tertegun. Ririn, sudah menyiapkan semuanya. Aku tidak menyangka.
"Mas, yang menyuruh Ririn?" Tanyaku lagi.
"Tidak, Dek. Inisiatif Ririn sendiri. Mas cuma bilang kalau bayi kita belum punya baju dan belum belanja segala keperluan bayi sama sekali. Tahu-tahu Ririn bilang sudah menyiapkan semuanya" jelas Mas Randi.
Ririn. Benarkah! Kamu menyiapkan semuanya kebutuhan bayiku, di rumah baruku, pemberian darimu.
Dek, ternyata hatimu emas. Maafkan Mbakmu ini, Dek. Mbak, sudah sering dzalim terhadapmu. Mbak minta maaf, Dek.
__ADS_1