SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR

SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR
BAB 38


__ADS_3

Aku berjalan di samping Mas Randi, Mas Randi merangkul pundakku. Kami berjalan dalam diam. Sebelum mencapai mobil milik Mas Randi, aku berhenti di mobilku. Mobilku terparkir lebih dekat.


"Mas, berkasnya ambil sendiri ya. Aku gak ikut. Aku tunggu di mobil saja. Aku kasih waktu satu jam tiga puluh menit untuk mengambilnya. Sekarang pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Berarti nanti tepat pukul sebelas kalau Mas belum ke sini, aku langsung masuk ke dalam untuk mendaftarkan gugatan perceraian kita." ucapku.


"Adek, ikut saja ya, Sayang. Ayo temani Mas. Daripada nunggu di sini lama." ucap Mas Randi menarik tanganku pelan.


"Maaf, gak Mas. Mas kan sudah pernah bohong. Takutnya kebohongan satu membawa kebohongan-kebohongan yang lain. Aku tunggu di sini saja, kalau memang Mas serius mau menceraikan Ririn, secepatnya kembali ke sini dengan membawa berkas-berkas. Tidak ada alasan-alasan apapun lagi." ujarku.


Mas Randi tampak menghela nafas panjang.


"Ya, Dek. Mas ambil dulu ya, Sayang. Adek janji ya jangan masuk dulu sebelum Mas datang." ucap Mas Randi lagi.


"Tenang saja Mas, kapan aku pernah berbohong? Pokoknya jam sebelas ya, Mas! Gak pakai mundur! Ingat! Ini bukan gertakan tapi ini serius!" ucapku seraya membuka pintu mobil. Kemudian dengan cepat aku tutup dan mengunci pintu dari dalam. Aku hidupkan mesin mobil. Aku lirik Mas Randi terlihat seperti ragu. Kemudian Mas Randi berjalan menuju mobilnya.


Biarlah! Aku menunggu di mobil. Kalau memang Mas Randi tidak bohong kan Mas Randi pasti datang ke sini tepat waktu dengan membawa semua berkas yang dibutuhkan.


Sambil menunggu Mas Randi, Aku membaca mushaf al-qur'an kecil yang selalu aku bawa di tasku. Aku membaca beberapa lembar. Kemudian aku masukkan kembali mushaf itu ke dalam tasku.


Setelah itu aku membuka smartphoneku. Membuka grup memasak, siapa tahu ada resep baru, misal kue yang viral. Aku menscroll beranda aplikasi facebookku. Aku jadi mengantuk. Apalagi hari ini badanku kurang fit. Ingin tidur. Aku membuka sedikit keempat kaca mobilku. Setelah itu aku menurunkan sandaran kursi mobil. Aku ingin tidur sejenak, sambil menunggu Mas Randi.


Aku terbangun dari tidurku saat mendengar kaca mobilku di ketuk-ketuk dan handle pintu ditarik-tarik. Mas Randi.


Aku mengucek-ucek mataku. Aku lihat jam sepuluh lewat empat puluh menit. Kemudian aku merapikan khimarku. Aku keluar dari mobil.


Mas Randi tampak membawa map coklat juga. Mapku aku tinggal di mobil.


"Sudah siap, Mas?" sapaku.


"Sudah, Dek. Alhamdulillah. Ayo kita masuk, Sayang." ajaknya menggandeng tanganku.


Aku deg-degan. Benarkah Mas Randi serius akan mendaftarkan gugatan cerai ke Ririn?

__ADS_1


Setelah sampai di dalam, Aku selalu berada di dekat Mas Randi. Aku ingin mengawal Mas Randi. Tak ingin ada lagi celah kebohongan. Aku mencoba membuka berkas Mas Randi. Iya berkasnya lengkap. Milik Ririn dan Mas Randi.


"Mas, langsung talak tiga ya." bisikku di telinga Mas Randi.


"Iya, Sayang." balasnya lembut.


Setelah melalui beberapa antrian dan proses akhirnya selesai juga Mas Randi mendaftarkan gugatan cerai ke Ririn.


Aku tersenyum saat berjalan keluar gedung. Tapi Mas Randi wajahnya tak bisa aku tebak. Mas Randi lebih banyak diam. Biarlah! Aku hanya butuh kepastian.


"Mas, besok setiap sidang aku dikabari ya, Mas. Sampai ketuk palu. Maaf Mas, aku hanya ingin kepastian saja dari Mas, secepatnya. Aku tidak mau mundur-mundur lagi yang tidak pasti." ucapku saat kami berjalan di parkiran.


"Oke, Sayang. Besok Mas kabari ya. Adek selalu temani Mas ya, Sayang." jawab Mas Randi.


"Baik, Mas."


Aku sudah sampai di mobilku. Mas Randi membukakan pintunya.


"Adek, langsung pulang saja ya Sayang, istirahat. Tapi wajah Adek hari ini kok terlihat pucat. Adek lagi sakit?" tanya Mas Randi memegang keningku.


"Adek kalau tidak enak badan, pulang bareng Mas saja ya. Biar mobilnya nanti Mas suruh karyawan Mas yang ngambil." ucap Mas Randi cemas.


Aku menggangguk. Kemudian aku pulang bersama Mas Randi.


Sesampainya di rumah, aku shalat dzuhur. Kemudian aku dikerikin oleh Mas Randi pakai uang koin dan minyak kayu putih.


Setelahnya badan terasa enakan. Kemudian aku istirahat. Mas Randi memelukku dan kami tidur siang bersama.


*****


Esok paginya Mas Randi akan menengok Hana di rumah sakit, Mas Randi mengajakku. Mas Randi ingin menceraikan Ririn dengan talak tiga di depanku.

__ADS_1


Tapi aku menolak. Tidak pantas rasanya di rumah sakit melakukan hal tersebut. Nanti saja nunggu Hana pulang dari rumah sakit.


Mas Randi setuju. Mas Randi ke rumah sakit mengajakku menengok Hana. Aku berdoa semoga tidak ada masalah.


Aku memakai gamis coklat muda dan khimar warna sedikit tua, panjang selutut. Aku sekarang nyaman sekali memakai pakaian seperti ini.


Kami berangkat menuju rumah sakit. Mas Randi selalu menggandeng tanganku.


Sesampainya di depan kamar Hana di rawat. Mas Randi masuk dengan mengucap salam, aku mengekorinya.


Tampak Ririn dan Bu Indra ada di dalam menatap kami dengan pandangan seperti terkejut, tampak juga dua perempuan, sekitar umur dua puluhan mungkin baby sitter dan asisten rumah tangga Ririn. Ririn dan Bu Indra menatap Kami sesaat, mungkin heran, tumben Mas Randi mengajakku. Aku memasang wajah biasa, kalau hanya memasang wajah elegan aku sudah biasa, sejak awal Ririn masuk ke rumah tanggaku. Jadi aku sudah terlatih.


Ririn melihat kami dengan wajah tak suka. Wajar. Wanita mana yang tidak cemburu melihat suaminya bersama wanita lain walaupun itu istri lainnya yang dinikahi secara sah.


Mas Randi manyalami semua. Aku menyalami Bu Indra dan Ririn yang wajahnya tampak sinis. Mas Randi mencium Hana, Hana tampak kurus. Aku mendekat ke Mas Randi.


Mas Randi berbincang-bincang bersama mereka, aku hanya mendengarkan saja. Setelah hampir satu jam, Mas Randi izin pamit akan pulang. Mas Randi izin tidak menginap karena ada keperluan.


Kami keluar kamar rawat inap Hana. Saat kami berjalan, aku pandangi wajah Mas Randi, seperti tanpa beban. Malah seperti ada sedikit binar bahagia tergambar di wajahnya.


Semoga Mas Randi benar-benar menepati janjinya. Aku tunggu info selanjutnya soal persidangan. Semoga tidak meleset. Semoga sesuai harapanku.


Dua hari kemudian Mas Randi mengajakku ke rumah sakit lagi. Kata Mas Randi akan mengantarkan Hana pulang, Hana sudah sembuh. Sesampainya di parkiran, aku menunggu di dalam mobil. Mas Randi masuk ke dalam menjemput Hana.


Menit kemudian. Mas Randi datang. Ririn membuka pintu mobil yang di tempatku duduk. Kami sama-sama terkejut. Aku tersenyum ke arahnya.


Kemudian Ririn menutup pintu mobil lagi, tanpa membalas senyumku.


Ririn duduk di bangku tengah. Di samping kanan dan kirinya duduk dua perempuan tadi. Yang satu menggendong Hana. Bu Indra menyetir mobil sendiri, mobilnya sudah jalan terlebih dahulu sejak tadi.


Mas Randi menjalankan mobil keluar parkiran rumah sakit. Di perjalanan Kami semua larut dalam diam. Hingga sampai rumah Pak Indra. Aku tidak turun. Seperti biasa menunggu di mobil.

__ADS_1


Sebenarnya aku kurang nyaman. Mas Randi selalu mengajakku kemana-mana tapi aku harus patuh dengan suami.


Keesokan harinya. Mas Randi mengajakku lagi pergi ke rumah Pak Indra. Mas Randi akan mentalak tiga Ririn di depanku. Hatiku berdebar saat akan berangkat. Rasanya campur aduk. Hatiku saat ini tak bisa aku gambarkan. Semoga semuanya lancar.


__ADS_2