
Kehamilan Ririn, kata Mas Randi, Ririn mengalami mual dan muntah yang lumayan parah. Setiap makan selalu dikeluarkan kembali.
Mas Randi sering bolak-balik pergi saat sedang di rumahku. Ririn menelpon tidak mau makan seharian, maunya disuapi oleh Mas Randi. Jadilah Mas Randi menurutinya.
Pernah aku mendengar Mas Randi mengangkat telepon dari Ririn saat Mas Randi bermain dengan anak-anak di halaman rumah kami.
"Maaf, Dek Rin, Mas lagi sama Mbak Rika dan anak-anak"
"Dek Rin, makan ya. Kasihan bayinya kalau gak makan seharian"
"Aduh gimana ya? Mas lagi gak bisa ke sana"
"Ya. Ya Mas ke sana sekarang. Dek Rin, jangan nangis ya, nanti bisa berpengaruh ke bayi kita"
Akhirnya Mas Randi izin keluar ke rumah Ririn sekitar tiga jam Mas Randi pergi baru kembali ke rumahku. Aku sedikit berat melepasnya, karena belum sehari melepas kangen.
*****
Pagi ini saat Mas Randi sedang sarapan bersamaku ada telepon masuk.
__ADS_1
"Hallo, Assalamu'alaikum. Iya Dek Rin" ucap Mas Randi di telepon.
"Iya, Bi. Ada apa?"
"Hah! Ririn pingsan. Iya saya ke sana sekarang Bi" ucap Mas Randi sedikit cemas.
"Kenapa Ririn, Mas?" Tanyaku saat Mas Randi mematikan teleponya.
"Ririn pingsan, Dek, kata Bi Rini. Mas pamit dulu ya mau ke rumah Ririn sekarang" ucap Mas Randi cepat.
"Ya Mas, hati-hati ya. Semoga Ririn gak kenapa-kenapa" ucapku.
*****
[Dek, Mas nungguin Ririn di rumah sakit. Ririn harus di rawat soalnya lemas sekali. Mas gak pulang ya hari ini. Besok kalau Ririn sudah sembuh Mas pulangnya ya] isi pesan dari Mas Randi di aplikasi hijauku.
[Semoga Ririn cepet sembuh. Tapi Adek kangen, Mas. Baru sehari Mas pulang] balasku seraya menyertakan emoticon sedih.
"Oh ya, Sayang. Nanti sore Mas pulang ya. Mas makan di rumah Adek] balasnya menyertakan emoticon love.
__ADS_1
[Oke, Mas. Adek tunggu ya] balasku.
Sore harinya Mas Randi pulang ke rumahku tapi tidak menginap. Ya lumayan untuk melepas kangen. Mas Randi kemudian berangkat lagi ke rumah sakit untuk menemani Ririn.
Tiga hari dirawat, Ririn sudah diperbolehkan pulang. Mas Randi menginap satu malam di rumah Ririn. Baru Mas Randi datang ke rumahku. Berkurang jadwal Mas Randi di rumahku kemarin.
*****
Oh begini ya kalau punya suami dibagi-bagi. Harus benar-benar siap menanggung semua resiko yang terjadi tanpa terduga.
Misalnya hari ini lampu ruang tengahku mati saat maghrib. Tak ada Mas Randi, Mas Randi sedang berada di rumah Ririn. Terpaksa aku meminta tolong suami dari Art ku yang menggantinya dengan lampu baru, beruntung rumahnya berada di sebelah rumahku. Tidak mungkin kan aku lagi hamil naik tangga lipat sendiri mengganti lampu, supaya tidak gelap-gelapan.
Dulu saat Mas Randi masih milikku seutuhnya. Kalau ada apa-apa aku tinggal menunggu sore hari Mas Randi pulang kerja dan setiap hari pasti pulang jadi bisa melakukan apa saja.
Seperti memasang air minum galon, tentu aku tidak kuat. Badanku yang mungil tak mampu menggesernya apalagi mengangkatnya. Jadi lah kalau Mas Randi tidak ada aku meminta tolong suami dari Bude Art.
Ya, begitulah jika berbagi suami. Menuntut kita untuk tangguh dan mandiri.
Oh aku ingin menyerah. Tapi kasihan Ririn, sedang hamil, pasti Mas Randi akan menceraikannya kalau aku sampai mengeluh. Biarlah! Aku masih ingin bermain-main dulu. Kesabaranku masih ada.
__ADS_1