
Aku bersiap-siap hendak berangkat ke rumah Pak Indra bersama Mas Randi. Setelah semua siap, kami melangkahkan kaki menuju garasi akan berangkat. Saat akan menaiki mobil, smartphone Mas Randi berdering.
Mas Randi mangangkat teleponnya dengan cepat. Sesaat kemudian raut wajah Mas Randi berubah sangat cemas. Kemudian mematikan smartphonenya.
"Ada apa, Mas?" tanyaku cepat.
"Kita sekarang ke rumah sakit dulu, Dek. Hana drop, nafasnya tersengal-sengal. Sekarang lagi menuju rumah sakit. Kita berangkat sekarang, cepat naik mobil, Dek!" ucap Mas Randi yang terburu-buru naik ke dalam mobil.
Aku segera duduk di kursi depan, bersebelahan dengannya. Raut wajah Mas Randi tegang dan amat serius. Dengan cepat Mas Randi mengeluarkan mobil dari garasi dan melesat di jalan aspal.
"Semoga Hana tidak kenapa-kanapa ya, Mas." ucapku menenangkan.
Mas Randi menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Agar cepat sampai di rumah sakit.
Setelah sampai di rumah sakit Mas Randi berlari-lari kecil menuju UGD, aku berjalan di belakangnya. Karena tak bisa mengimbangi kakinya.
Tampak Ririn dan Bang Rendra sudah ada di dalam. Hana sedang ditangani oleh dokter, sesaat kemudian Hana dibawa ke ruangan khusus, Hana dipacu jantung hingga bermenit-menit.
Semua tampak tegang dan cemas. Aku sesekali memejamkan mataku untuk menguatkan hatiku, baru pertama kali aku menyaksikan peristiwa seperti ini. Hana sedang berjuang antara hidup dan mati.
Mas Randi dan Ririn mengusap air mata yang sejak tadi sudah keluar menganak sungai. Orangtua mana yang tidak sedih melihat bayinya dalam kondisi seperti ini. Pasti cemas sekali.
Menit kemudian, tim dokter mengangkat tangan dan berkata kepada kami.
__ADS_1
"Maaf, Pak, Bu. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi nyawa anak Bapak Ibu tidak bisa tertolong. Mengalami gagal nafas." ucap dokter dengan suara halus dan hati-hati.
Seketika pecah tangis di ruangan ini. Ririn dan Mas Randi menangis histeris memanggil-manggil nama Hama, mencium dan memeluknya. Aku mengelus-elus punggung Mas Randi. Aku ikut merasakan kesedihan mereka. Tak terasa air mataku pun menetes melihat pemandangan ini. Teramat menyedihkan sekali. Padahal aku tidak ingat kapan aku terakhir menangis, saat ini aku bisa menangis, mungkin karena aku memposisikan diriku sebagai Ririn yang ditinggal pergi oleh buah hatinya. Bang Rendra pun tampak menangis. Pemandangan yang amat pilu.
Aku pandangi wajah Hana, pucat. Namun wajahnya cantik sekali dengan bibir tersenyum manis. Bayi mungil polos ini kini sudah pulang kembali ke hadapan sang pencipta. Menjadi tabungan untuk orangtuanya di akhirat. Aku ingin sekali mencium Hana atau minimal menyentuhnya tapi aku takut dengan Ririn. Takut Ririn akan bereaksi yang tidak ada inginkan. Aku aku memilih melihatnya saja di belakang Mas Randi.
Setelah proses pengurusan jenazah, Hana di bawa pulang menggunakan mobil ambulance. Mas Randi menggendongnya dengan mata sembab dan wajah penuh duka. Aku mengekorinya. Mas Randi duduk di ambulance bersama Ririn yang tak henti-hentinya mengeluarkan air mata. Aku mengendarai mobil Mas Randi menuju rumah duka, Hana akan disemayamkan di rumah Pak Indra.
Sesampainya di rumah Pak Indra pecah tangis seluruh keluarga Ririn. Hana berusia empat puluh hari. Sedang lucu-lucunya. Tapi sudah harus pergi untuk selama-lamanya.
Aku mengikuti seluruh proses pengurusan jenazah. Hingga sampai dimakamkan. Aku selalu di dekat Mas Randi. Mas Randi tampak sangat terpuruk. Mas Randi begitu menyayangi Hana. Wajar, anak kandungnya. Tampak keluarga Mas Randi pun ikut melayat ke rumah duka.
Di tempat pemakaman, Mas Randi mengadzani Hana dengan air mata yang tumpah ruah.
Aku pandangi nisan mungil, bertuliskan 'Raihana Azzahra', nama yang sangat cantik, secantik wajahmu. Kamu sekarang sudah tidak sakit lagi, Sayang. Kamu sekarang sudah sembuh.
Beberapa saat kemudian kami melangkah pulang. Masih sesekali terdengar isak tangis mereka. Mas Randi mengajakku langsung pulang ke rumahku. Ingin istirahat, katanya. Aku yang mengemudikan mobil karena Mas Randi masih terlihat kacau.
*****
Hingga beberapa hari Mas Randi masih berduka, wajahnya selalu terlihat sedih dan tidak pernah keluar rumah. Aku berusaha menghiburnya. Kadang anak-anak yang menghibur Mas Randi.
Seminggu kemudian Mas Randi sudah mulai semangat dan mau beraktifitas. Mas Randi mengajakku ke toko Ririn, akan mengontrol.
__ADS_1
Aku masih belum membahas kapan Mas Randi akan menceraikan Ririn. Karena masih suasana berduka. Perasaan setiap kali ada niat, selalu ada halangan. Entah kapan terlaksana.
Tapi sekarang hatiku sedikit lega, karena Mas Randi selalu mengajakku kemanapun Dia pergi. Aku selalu membersamainya. Ririn tak pernah menggangguku lagi, juga tak pernah menghubungi Mas Randi. Ririn tidak tahu rumahku atau memang Ririn sudah tidak mau menggangguku lagi. Entahlah.
Aku sekarang mengajak Mas Randi mengikuti kajian islam dengan seorang Ustad. Masih satu majlis tapi ruangan terpisah antara Ikhwan dan Akhwat. Sudah dua kali Mas Randi ikut.
*****
Dua minggu kemudian, Ririn tiba-tiba menghubungi Mas Randi. Terlihat raut wajah Mas Randi langsung berubah saat mengangkat teleponnya.
"Maaf, Dek Rin. Maafin Mas ya. Itu sudah Mas daftarin sejak dua minggu yang lalu." ucap Mas Randi.
"Itu sudah keputusan Mas, Dek. Mbak Rika tidak mau dipoligami lagi. Mas benar-benar minta maaf ya, Dek. Sampai ketemu di persidangan ya, Dek. Sekali lagi Mas minta maaf!" lanjut Mas Randi halus.
Mas Randi meletakkan smartphonenya.
"Ririn baru saja menelepon Mas sambil menangis, Dek. Undangan sidang perceraian dari pengadilan sudah datang. Ririn tidak mau bercerai. Tapi Mas teguh pada pendirian Mas. Demi Adek dan anak-anak Mas." ucapnya lembut kepadaku.
Aku tersenyum.
"Mas kapan mau mentalak tiga Ririn? Waktu itu gagal lagi mau mentalak tiga Ririn." ucapku. Belum lega rasanya kalau belum menyaksikan Mas Randi mentalak Ririn di depan mataku. Bisa saja kan gugatan cerainya Mas Randi cabut. Aku sudah paham Mas Randi yang memiliki sifat tidak tegaan dan penyayang.
"Sabar ya, Sayang. Ririn kan saat ini masih berduka. Tidak tega rasanya, kalau mentalak tiga dengan situasi yang masih berduka. Mungkin nunggu empat puluh hari Hana dulu, Dek." ucapnya lembut.
__ADS_1
"Iya, Mas. Aku tunggu janji, Mas, ya." jawabku. Semoga saat waktunya tiba tidak ada halangan lagi seperti kemarin-kemarin.