
Aku terbangun, mengerjap-ngerjapkan mataku. Kepalaku terasa sakit dan terasa nyeri di bagian punggung tangan kiriku. Setelah mataku terbuka sempurna aku melihat sekeliling tak ada siapapun, tangan kiriku terpasang infuse. Aku berada di sebuah rumah sakit atau di klinik. Entahlah.
Beberapa detik berlalu. Nyawaku sudah kumpul. Aku teringat kejadian semalam. Hatiku kembali hancur. Aku ingin tertidur lagi. Atau tertidur selamanya. Biar tidak merasakan sakit seperti ini, sakit fisik tak ada apa-apanya dibanding sakit hati.
Beberapa menit kemudian saat aku sedang sibuk dengan fikiranku. Terdengar suara pintu dibuka. Tampak Bapakku, Ibuku dan Mas Randi.
Aku tersenyum ke arah Bapak dan Ibu.
Mereka mendekat ke arahku. Duduk di samping ranjang.
"Rika, udah bangun Nak? Makan ya Nak biar cepet sembuh. Semalam Randi membawamu ke sini karena kamu pingsan. Ternyata kamu terkena asam lambung" ucap Ibuku.
" Jangan sering telat makan ya Nak" lanjut Ibu sembari mengambil piring berisi makanan. Lalu hendak menyuapiku. Tapi Mas Randi merebutnya dengan halus.
"Biar Randi yang nyuapin Rika Bu" ucap Mas Randi halus.
Bapak memijat-mijat kakiku. Ibu memijat kepalaku. Ah mereka orangtuaku selalu menyayangiku dari aku bayi hingga aku sebesar sekarang.
Ku tatap Mas Randi saat menyuapiku. Ingin aku tepis tapi ada Bapak Ibu, tak mungkin aku berbuat seperti itu. Fisikku juga lemas. Mas Randi kini aku membencimu. Kamu orang paling jahat di muka bumi ini.
Aku mengedarkan pandanganku ke sekeliling berharap ada anak-anakku. Tapi nihil.
"Anak-anak tadi malam Mas titip ke tetangga Dek" ucap Mas Randi seperti sudah tau isi pikiranku. Aku kangen anak-anakku. Sudah mandi kah mereka? Sudah makan kah? Aku lirik jam dinding pukul 8 pagi.
Aku terdiam. Tak berucap sepatah katapun. Aku tak sanggup walau hanya membuka bibir. Takut salah bicara karena ada orangtuaku.
30 menit kemudian Bapak Ibu pamit mau jemput anak-anakku. Mau dibawa pulang ke rumah Bapak Ibu. Selama aku masih dirawat.
Mas Randi menatapku. Aku balas menatapnya. Kami sama-sama saling tatap. Aku tak berniat berbicara. Biarlah. Entah sampai kapan.
"Dek, Mas minta maaf ya. Adek jangan banyak fikiran dulu. Adek lagi sakit. Biar cepat sembuh. Biar kita cepat pulang. Ngumpul bareng anak-anak lagi" ucapnya.
Aku tak menjawab. Biar Mas Randi bicara sendiri. Anggap saja dia tidak ada.
Mas Randi menyodorkan obat ke mulutku. Lantas aku meminumnya. Tekatku hanya 1 aku ingin cepat sembuh. Terus memikirkan apa yang akan aku lakukan setelah ini, setelah penghianatan Mas Randi. Aku ingin bermain cantik. Tidak boleh gegabah.
Aku Rika. Bukan seorang yang lemah. Aku harus bangkit. Tak boleh manengis. Tak boleh terpuruk. Hidup hanya 1 kali. Tak usah berpusing-pusing ria memikirkan hal-hal buruk.
*****
__ADS_1
Saat aku dan Mas Randi sedang larut dalam pikiran masing-masing. Terdengar suara pintu dibuka. Ririn dan Bang Rendra. Mas Randi terkejut. Ririn langsung masuk membawa parcel buah. Disusul Bang Rendra.
"Mba Ririn. Rika sekarang lagi sakit. Tolong jangan ke sini dulu" ucap Mas Randi cepat.
"Aku hanya ingin menjenguk Mbak Rika kok Mas, sekalian mau mulai tindakan kuretase sebentar lagi, 1 jam lagi. Mas Randi temani aku ya. Biar Rika ditemani Bang Rendra" ucap Ririn.
Aku muak melihat Ririn. Berbicara dengan suara mendayu-dayu dan suara sedikit manja ke suami orang. Suami. Ah masih pantaskah Mas Randi disebut suami. Iya suami jahat.
"Biar Abang yang temani kamu saja Dek. Mas Randi biar di sini saja menemani Rika" ucap Bang Rendra.
"Gak mau. Ririn mau ditemani Mas Randi aja" ucap Ririn merajuk.
Aku muak sekali melihatnya. Seperti mau muntah. Perempuan tak punya malu. Perempuan murahan. Mungkin urat malunya sudah putus. Perempuan yang telah memporak-porandakan kebahagiaan rumah tanggaku. Ingin aku mencakar-cakar wajah cantiknya. Kemudian menjambak rambutnya. Tapi aku takut dipenjara. Kasian anak-anak.
"Dek, ayo Kita keluar. Mbak Rika lagi sakit, mau istirahat. Kasian Mbak Rika. Abang yang temani ya" ucap Bang Rendra lagi seraya menarik tangan Ririn. Ririn menurut seperti terpaksa. Akhirnya mereka keluar.
Alhamdulillah. Aku bersyukur. Wanita murahan itu sudah keluar. Lega sekali rasanya.
"Dek maafin Mas ya. Gara-gara Mas semua jadi serumit ini" ucap Mas Randi seraya mencium-cium punggung tangan kananku.
"Adek istirahat ya. Jangan banyak pikiran." Lanjut Mas Randi. Aku lagi-lagi hanya diam.
*****
3 hari di rumah sakit. Akhirnya aku sudah diperbolehkan untuk pulang. Aku sudah tidak pernah mendengar kabar Ririn lagi. Biarlah aku ingin tenang untuk sementara waktu.
Mas Randi mendorong kursi roda yang aku duduki. Menuju ke parkiran.
Tampak Mas Randi membawaku ke arah mobil SUV warna abu-abu. Entah mobil siapa. Mas Randi membukakan pintu mobil bagian depan sebelah kiri dan menuntunku turun dari kursi roda. Kemudian membantuku masuk ke mobil.
Setelah memasukkan semua barang-barang, Mas Randi duduk di kursi supir.
"Ririn nyuruh Mas membawa mobil ini Dek. Katanya suruh dipake Mas buat sehari-hari. STNK dan BPKBnya juga dikasihin ke Mas" ucap Mas Randi seraya menghidupkan mesin mobil.
"Mas sudah menolak tapi Ririn selalu mengancam akan melaporkan Mas ke polisi dengan tindakan pemerkosaan, padahal Mas gak memperkosa Ririn. Mas kayak kehilangan akal setelah Ririn memberi Mas minuman teh, waktu 2 hari sebelum lebaran. Mas Jadi kepengen banget, Ririn malah menggoda Mas, Mas pikir Ririn itu Adek, pikiran Mas sudah gak fokus." jelas Mas Randi. Saat ini mobil juga berjalan pelan menuju keluar parkiran.
"Maafin Mas ya Dek tidak bisa menahan hawa nafsu" lanjut Mas Randi.
Aku tak menjawab. Aku hanya mendengarnya saja. Biarlah Mas Randi berbicara sendiri. Aku mencerna setiap ucapan Mas Randi.
__ADS_1
Ah Ririn apa maksudmu memberikan Mas Randi mobil. Aku tak habis pikir atas semua tingkahmu. Mulai dari bonus kerja Mas Randi yang besar yang tak masuk akal. Sekarang memberikan Mas Randi mobil mahal, aku taksir harganya sekitar 400 jutaan.
Aku ingat 2 hari sebelum lebaran Mas Randi pulang pukul 11 malam. Biasanya pulang paling malam jam 9. Mas Randi pulang dalam keadaan seperti kelelahan. Aku pikir karena lembur. Ah ternyata bersama iblis betina itu.
*****
Sudah 2 hari aku di rumah. Anak-anak sudah dijemput Mas Randi. Aku kangen sekali dengan anak-anak. Aku ciumi bertubi-tubi pipi mungil mereka. Anak-anak senang sekali Ayahnya punya mobil baru.
Aku masih mendiamkan Mas Randi. Aku belum menemukan solusi tentang masalahku ini. Aku tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan. Untuk urusan masa depan tak boleh diputuskan secara terburu-buru. Harus dipertimbangkan secara matang. Biar tidak salah ambil langkah.
Aku akan sabar dahulu. Sampai aku menemukan strategi cantik untuk langkahku ke depan. Yang penting anak-anak jangan kehilangan kasih sayang dari kedua orangtuanya. Toh Mas Randi masih bersama kami, Mas Randi juga masih baik dengan Kami. Aku akan sabar sampai waktu yang tepat menunggu tindakan apa yang nanti akan aku lakukan.
*****
"Dek, Ririn mengancam Mas kalau tidak dinikahin Mas mau dilaporin ke polisi. Ririn mau menikah secara resmi. Tidak mau menikah secara siri. Mas bingung Dek. Mas sayang banget ma Adek, Mas sayang anak-anak. Mas pengen keluarga kita selalu utuh. Tapi Mas takut dipenjara Dek. Kasihan anak-anak kalau punya ayah seorang narapidana. Mas bingung Dek. Mas gak tahu harus gimana? Mas rasanya frustasi Dek." Ucap Mas Randi yang terlihat putus asa saat aku rebahan di kamar.
"Tapi Mas bilang ke Ririn untuk menunggu sampai dapat izin dari Adek dulu baru Mas mau nikahin Ririn. Untung Ririn bisa mengerti" lanjut Mas Randi.
Aku hanya diam mendengarkan ucapan Mas Randi. Dasar Ririn, bisanya mengancam. Berurusan dengan orang kaya, sedikit-sedikit lapor polisi. Iya banyak uang. Bisa melakukan apa saja.
"Mas disuruh Ririn tetap bekerja di toko Ririn. Lagi-lagi Ririn mengancam akan melaporkan Mas ke polisi kalau tidak menuruti kemauannya" ucap Mas Randi lagi.
Oh Ririn sebenarnya apa maumu. Kenapa Mas Randi? Tidak adakah laki-laki lain yang single.
Aku membuka smartphoneku, tampak balon pesan messenger dari Bang Rendra.
[Assalamu'alaikum Mbak Rika. Maaf mengganggu. Mbak, maafin perbuatan Adek saya ya. Saya gak menyangka Adek saya bisa menyakiti Mbak, mengganggu keharmonisan rumah tangga Mbak. Saya sudah menasihatinya. Tapi Ririn memang keras kepala. Saya mewakili Adek saya minta maaf yang sebesar-besarnya. Semoga Mbak Rika mendapatkan keputusan yang terbaik atas permasalahan ini. Kalau ada apa-apa atau butuh bantuan jangan sungkan-sungkan untuk menghubungi Saya ya Mbak..] isi chat dari Bang Rendra.
[Ya. Terimakasih Bang] balasku singkat.
*****
1 minggu berlalu, Mas Randi membawaku ke seorang psikolog. Mas Randi mengira aku mengalami depresi. Aku menurut saja.
Aku masih belum mau berbicara dengan Mas Randi. Aku hanya mau berbicara dengan anak-anak. Aku masih mengurus rumah, memasak, mangurus anak-anak. Aku pun masih menyiapkan kebutuhan Mas Randi. Aku hanya lebih pendiam.
Padahal aku tidak mengalami depresi, Aku sehat lahir dan batin. Aku hanya ingin bermain-main saja dahulu, sampai menemukan keputusan terbaik. Biarlah aku mengulur-ngulur waktu. Sampai aku puas bermain-main.
Aku ingin tertawa melihat Mas Randi kebingungan menghadapiku yang terus diam dan Mas Randi berencana membawaku ke orang pintar.
__ADS_1