
Ting!
Bunyi tanda sms masuk di smartphoneku. Segera aku membukanya. Ada sms notifikasi dari bank.
01/03/2020 10:15
Pada no rek 8811xxxxxx
Ada Dana Masuk Sebesar
Rp.10.000.000,00
Saldo Ahir Rp.10.099.000,00
Notifikasi transferan masuk sebesar 10 juta masuk ke rekeningku. Aku mengucek-ngucek mataku. Benarkah ini nominal 10 juta? Ya, ternyata benar setelah aku membacanya berkali-kali.
Siapa yang transfer dengan nominal besar sekali. Apa Mas Randi? Mas Randi tanggal 1 memang jadwal gajian, aku tak pernah lupa kalau soal ini. Tapi nominalnya besar sekali. Mas Randi biasa transfer 2 juta. Apa pembeli kue yang DP? Ah tapi gak ada yang janji mau transfer. Biasanya juga pembeli kue paling besar order dengan nominal 1 jutaan.
Saat pikiranku sedang menerka-nerka ada masuk notifikasi di aplikasi hijauku. Pesan dari Mas Randi.
"Dek, barusan Mas transfer 10 juta. Gaji Mas 2 juta, yang 3 juta di tambahin oleh Ririn, kata Ririn sebagai bonus karena kerja Mas bagus. Yang 5 juta THR menjelang lebaran ini, sudah masuk belum Dek uangnya?"
Aku segera mengecek saldo. Tadi karena sibuk menerka-nerka belum sempat mengecek saldo. Benar saldoku bertambah 10 juta. THR 5 juta? Biasanya hanya dapat THR setara 1 bulan gaji alias sebesar 2 juta. Ini besar sekali.
"Iya sudah masuk uangnya Mas, banyak sekali ya Mas?" Balasku.
"Iya Alhamdulillah Dek, rezeki keluarga kita. Besok hari Minggu kita belanja ya Dek, katanya Adek pengen beli perhiasan emas." Balas Mas Randi lagi.
"Ya Mas Alhamdulillah. Oke mas Makasih ya Mas. Mudah-mudahan berkah." Balasku cepat.
Aku senang sekali, bersyukur bulan ini keluargaku mendapatkan rezeki yang besar. Tapi praduga-praduga akhir-akhir ini sering muncul tentang hal-hal yang sedikit mencurigakan tentang Mas Randi. Tapi aku segera membuang fikiran-fikiran buruk tersebut dan selalu berusaha untuk berfikir positif.
*****
Hari ini kedua anakku berulang tahun. Tanggal lahir mereka sama. Padahal aku melahirkan normal tapi mungkin sebuah kebetulan bisa tanggal lahirnya sama. Hanya beda tahun saja. Kadang ada yang bilang kedua anakku kembar, karena besarnya sama. Ya, wajar sih hanya berjarak 1 tahun jadi besarnya sama. Wajahnya juga mirip satu sama lain.
Aku buatkan kue tart 2 buah berbentuk karakter doraemon kartun kesukaan anak-anakku.
Setelah jadi aku letakkan di meja ruang tamu. Kue tart yang kiri aku beli lilin nomor 6 dan yang kanan lilin nomor 7.
Setelah selasai aku panggil anak-anakku. Sambil menunggu Mas Randi pulang kerja Aku menyuruh anak-anak duduk di bagian kuenya masing-masing. Aku pun memfotonya.
Cekrek!
Foto tersebut aku upload di aplikasi facebook dengan caption
"Selamat ulang tahun ya Kakak Reyhan dan Adek Rafael kesayangan Ayah Bunda. Semoga jadi anak yang sholeh dan sukses." Tulisku. Aku klik posting.
Banyak notif masuk. Like dan komentar ucapan selamat ulang tahun untuk anak-anakku dari saudara dan teman-temanku.
Saat membalas komenter satu persatu. Ada komentar dari Bang Rendra juga.
"Selamat Ultah ya anak-anak ganteng, semoga jadi anak kebanggaan Ayah Bunda". Tulisnya.
Aku mengetik balasan
"Aamiin. Terimakasih Bang"
*****
1 jam kemudian aku mendengar suara pintu di ketuk. Aku mengira Mas Randi pulang. Aku buka ada seorang laki-laki. Yang langsung bertanya
"Permisi Bu, Saya taksi online, mau mengantar kiriman paket, dengan Ibu Rika ya?"
"Iya benar Mas." Jawabku.
"Ini ada kiriman paket" ucapnya.
"Dari siapa Mas, saya tidak order apa-apa?" Jawabku lagi.
"Oh ini kiriman dari atas nama Bapak Arendra Bu. Tadi sudah dibayar ongkos kirimnya, jadi saya tinggal mengantarnya saja" jelasnya.
"Terimakasih ya Mas" jawabku.
Supir taksi online tersebut segera membuka pintu bagian belakang mobilnya. Mengeluarkan 4 buah kardus besar-besar. Aku menyuruhnya meletakkan di ruang tamuku. Setelah selesai supir taksi online tersebut langsung pamit.
__ADS_1
Aku memandangi kardus-kardus tersebut. Heran. Bang Rendra mengirim ini semua ke rumahku. Heran, bisa tahu alamat rumahku. Mungkin Bang Rendra bertanya ke Pak Indra, Pak Indra dulu pernah main ke sini 1 kali.
Aku buka aplikasi messenger. Aku ketik pesan dan dengan lampiran foto kardus tersebut.
"Assalamu'alaikum.. Bang, benarkah ini kiriman dari Abang?"
2 menit kemudian masuk balasan dari bang Rendra
"Iya betul Mba, itu hadiah kado untuk Reyhan dan Rafael yang hari ini ulang tahun. Maaf hadiahnya gak seberapa dan cuma sedikit." Balasnya.
"Lain kali tidak perlu repot-repot begini loh Bang ngirim hadiah. Ini banyak sekali, Makasih banyak ya Bang, semoga rezeki Abang lancar selalu." Balasku.
"Iya sama-sama Mbak" balasnya lagi.
Kedua anakku bertanya
"Bunda, ini isinya apa Bunda? Gambarnya mobil dan sepeda ya Bunda"
"Ini kado ulang tahun untuk Reyhan dan Rafael, tadi ada yang memberi" Jawabku.
Aku segera membuka kardus tersebut menggunakan gunting. Aku sedikit kesulitan mengeluarkan isinya yang besar dan berat.
Anak-anak bersorak girang dan berloncat-loncat, saat melihat isi kardus tersebut. 2 unit sepeda anak-anak dan 2 unit mobil-mobilan remote berukuran besar yang bisa dinaikin oleh anak-anak.
Tak lama setelah aku membuka hadiah dari Bang Rendra, terdengar suara klakson motor Mas Randi di depan rumah, Mas Randi pulang.
Setelah salam dan Kami sambut Mas Randi, Mas Randi masuk ke rumah. Heran melihat 2 unit sepeda dan 2 unit mobil remote besar.
"Ini dari mana Dek? Adek beli segini banyak? Ini mahal sekali harganya" tanya Mas Randi heran.
"Ini kado dari Bang Rendra Mas, Abangnya Ririn. Hari ini kan anak-anak ulang tahun" jawabku.
"Bang Rendra kok bisa ngasih kado Dek? Bisa tahu kalau anak kita ulang tahun?" Tanyanya lagi.
"Gak tahu Mas. Aku juga heran." Jawabku seraya mengangkat bahuku.
"Oh ya ini Ayah bawakan kado untuk Reyhan dan Rafael jagoan-jagoan kesayangan Ayah, selamat ulang tahun ya sayang-sayang Ayah, sekarang sudah besar, makin besar makin sholeh, pintar dan ganteng" ucap Mas Randi seraya mengeluarkan 2 kotak mobil remote kecil dan memberikan masing-masing 1 ke Reyhan dan Rafael.
Anak-anak berucap
"Horee.. mobil remote. Horee.. makasih ya Ayah" seraya memeluk Mas Randi. Mas Randi membalas pelukan mereka seraya mencium pipi-pipi lucu tersebut dan mengelus rambut hitam mereka.
*****
Aku bersiap diri, ku gunakan baju model tunik berwarna coklat muda, hijab segiempat warna senada dan celana panjang warna gelap.
Aku jalankan motor maticku menuju toko bahan-bahan kue yang baru buka sekitar 1 Minggu yang lalu. Dapat info dari teman-teman dari media sosial ada toko bahan kue besar yang sekaligus toko perabotan. Katanya toko terlengkap di kota ini. Katanya juga harganya murah, aku ingin survey dulu.
Saat sampai di lampu merah, aku melihat ke arah kanan berjarak 2 motor di sampingku ada mobil Honda Jazz model baru berwarna hijau kekuning-kuningan yang tak sengaja aku melihat di dalam mobilnya seseorang mirip Mas Randi di bagian kemudi dan Ririn di sampingnya. Kaca mobil sejak awal terbuka setengah jadi aku akhirnya bisa melihat jelas. Ya, benar Mas Randi dan Ririn.
Ketika Aku ingin memanggil Mas Randi lampu sudah berganti hijau. Tak sempat aku memanggilnya. Kemudian mobilnya melesat cepat, karena jalanan sedang lengang.
Sekitar beberapa puluh meter aku menepikan motorku di sisi kiri jalan. Aku telpon Mas Randi.
Tak butuh waktu lama Mas Randi mengangkat teleponku
"Hallo Assalamualaikum iya Dek"
"Waalaikum salam, Mas barusan Adek lihat Mas Randi di lampu merah, mau kemana Mas? Adek mau manggil lampu sudah keburu hijau" Tanyaku.
"Oh Mas diajak Ririn survey ke tempat konveksi baru Dek, Adek mau ke toko bahan kue ya?" jawabnya.
"Oh begitu, iya Mas. hati-hati ya Mas"
"Iya Adek juga hati-hati ya"
Aku matikan teleponnya. Aku simpan di tasku.
Aku melanjutkan perjalanan menuju toko bahan kue yang tidak jauh lagi.
Setelah sampai di toko, aku langsung masuk. Wow besar dan mewah mirip supermarket, berlantai 2.
Aku memilih-milih belanjaan yang aku butuhkan. Ya, benar harganya murah dan lengkap, apa saja ada.
Setelah selesai aku mendorong keranjang belanjaanku menuju kasir. Saat hampir sampai di kasir aku lihat antrian lumayan panjang dengan 3 kasir. Lalu ada yang memanggilku.
__ADS_1
"Mbak Rika"
Aku menoleh ke arah panggilan.
"Loh Bang Rendra"
"Lagi belanja di sini ya mbak?" Tanya Bang Rendra.
"Iya Bang, lagi belanja untuk kebutuhan buat kue. Abang juga lagi belanja kah di sini" jawabku.
"Gak.. Ini saya lagi ngontrol sebentar. Kebetulan lagi lewat jadi sekalian mampir" jawabnya.
"Ngontrol apa Bang"?
"Ini toko baru 1 minggu di buka jadi Saya belum yakin untuk tidak mengontrol setiap hari" jawabnya.
"Oh Abang pemilik toko ini" tanyaku.
Bang Rendra mengangguk sambil tersenyum.
Lalu Bang Rendra memanggil salah satu karyawannya.
"Mas Budi, tolong hitung total belanjaan Mbak ini"
"Baik Pak" jawab karyawannya seraya mendorong keranjang belanjaanku menuju kasir lewat belakang.
"Pak ini totalnya 750.000" seraya menyerahkan nota dan plastik belanjaanku.
"Ya, nanti di kurangin saja bagian pembukuannya ya" ucap Bang Rendra.
"Baik Pak".
"Loh Bang, Saya belum bayar loh" tanyaku heran seraya mengeluarkan dompet.
"Sudah tidak usah Mba, sudah Saya bayarin kok" jawab Bang Rendra.
"Waduh Bang, Saya jadi merepotkan terus nih. Ini Bang uangnya" Aku mengeluarkan uang berwarna biru sebanyak 15 lembar dan hendak menyerahkan ke Bang Rendra.
"Sudah gak usah Mba, simpan saja uangnya Mba" jawabnya.
"Duh Makasih banget nih, saya jadi gak enak loh merepotkan terus." Ucapku.
"Sudah biasa saja lah Mba" Ucap Bang Rendra.
Bang Rendra membantu mengangkat plastik belanjaanku. 2 plastik.
"Mau langsung pulang ya Mbak?" Tanyanya.
"Iya Bang" ucapku seraya berjalan di sebelahnya.
"Pulang naik apa? Saya antar pulang ya" tanyanya lagi.
"Saya bawa motor sendiri kok Bang" jawabku.
"Mbak puasa?" tanyanya.
"Gak Bang, lagi ada halangan" jawabku.
"Mbak sudah makan? makan dulu yuk di restoran samping ini, menunya enak-enak loh" tanyanya seraya menunjuk ke arah restoran yang dimaksud saat Kami sudah sampai di parkiran.
"Maaf saya sudah makan Bang, lain kali saja ya. Maaf soalnya anak-anak Saya titip di tetangga, jadi gak bisa ditinggal lama-lama" jelasku. Sebenarnya siapa sih yang menolak diajak makan di restoran mewah, tapi aku sadar aku seorang perempuan bersuami, tidak boleh berduaan dengan laki-laki lain. Aku masih punya iman. Eh tapi kok tadi dia mengajakku makan, Apa dia tidak puasa? Mungkin dia hanya ingin mentraktirku saja. Aku mencoba berfikiran positif. Atau hanya mungkin hanya basa-basi.
"Oh begitu, oke Mbak. Saya juga mau langsung pulang, Hati-hati ya Mba. Oh ya saya boleh minta nomor Whatsappnya? Saya pengen beli kue-kuenya. Lihat di FB kok kayaknya enak-enak" ucap Bang Rendra seraya menggantung plastik belanjaan di motorku.
"Iya Bang, boleh" jawabku.
Lalu aku menyebutkan nomor teleponku. Bang Rendra mengetik di smartphonenya.
"Saya pulang Bang, makasih banyak ya Bang" pamitku.
"Ya kembali kasih" jawabnya.
Aku menghidupkan mesin motorku. Bang Rendra berjalan ke arah parkiran mobil, mobilnya mobil sport berwarna putih dengan plat kendaraan masih berwarna putih.
Saat aku akan menjalankan kendaraanku aku tersenyum dan mengangguk ke arahnya yang masih memandangku saat dia hendak membuka pintu mobil.
__ADS_1
Dia mambalas dengan senyum dan juga anggukan.
Lalu aku melesat pulang.