SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR

SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR
BAB 5


__ADS_3

Hari ini hari raya idul fitri. Setelah melaksanakan shalat Id kami melaksanakan sungkem-sungkeman. Pertama anak-anak sungkem ke Ayahnya. Setelahnya baru sungkem ke bundanya.


Saat aku sungkem ke Mas Randi Aku minta maaf atas segala kesalahan seperti lebaran pada umumnya. Mas Randi menangis. Nangisnya makin tersedu-sedu sambil bilang minta maaf juga ke Aku. Aku heran. Selama ini Aku belum pernah melihat Mas Randi menangis. Tumben menangis.


Aku tak ikut menangis. Seorang Rika tak pernah menangis. Aku benci air mata.


Setelah itu kami bersilaturahmi ke rumah orangtua kami masing-masing. Karena masih 1 kota. Jadi tidak ada acara mudik.


Sore harinya kami silaturahmi ke rumah Pak Indra. Tampak Pak Indra, Bu Indra dan Bang Rendra menyambut Kami. Ririn tidak ada, sedang keluar kata Pak Indra.


Saat pulang Pak Indra dan Bang Rendra memberi amplop angpao ke anak-anakku.


Sampai rumah aku buka. Pak Indra memberi uang bergambar presiden RI yang pertama masing-masing 2 lembar dan Bang Rendra memberi masing-masing 10 lembar. Aku tertegun. Begitu royalnya Bang Rendra kepada anakku. Ada apakah gerangan? Aku berfikir positif. Mungkin Bang Rendra hanya iba melihat keluarga kami yang kurang mampu.


*****


Hari ini tanggal 1. Seperti biasa aku tak pernah lupa tanggal gajian Mas Randi. Sekitar pukul 10 pagi masuk notif sms banking sebesar 10 juta rupiah. Oh Mas Randi dapat bonus lagi dan dapat THR lagi kah dari dari Ririn? Tapi ini sudah habis lebaran. Lebaran sudah berlalu 2 minggu yang lalu. Mungkin uang bonus pikirku.


Aku bersyukur keluargaku rezekinya banyak. Uangnya sebagian aku tabung untuk pegangan. Akhirnya Aku bisa punya tabungan walaupun belum banyak.


Setelah itu aku dapat chat dari Mas Randi kalau yang 8 juta itu uang bonus.


Hingga bulan ke 3 Mas Randi selalu transfer dengan nominal 10 juta tiap bulan.


Tapi Mas Randi sering pulang saat hari sudah menjelang malam. Kata Mas Randi toko makin ramai jadi sering lembur.


*****


Malam itu saat anak-anak sudah tidur. Mas Randi pulang dengan wajah seperti kebingungan, seperti menyimpan beban dan tegang. Aku bertanya kepada Mas Randi setelah Mas Randi sudah selesai membersihkan diri dan Kami akan bersiap tidur.


"Mas, ada masalah kah? Kok kelihatan aneh sih wajahnya, gak kayak biasa" tanyaku manja sambil memeluknya dari samping saat kami sudah rebahan, kepalaku aku letakkan di dada bidangnya sehingga aku mendengar degup jantungnya. Mas Randi mengelus-ngelus rambutku.

__ADS_1


Mas Randi hanya diam. Seperti ragu-ragu ingin bicara. Degup jantungnya terdengar semakin cepat.


"Mas? Kok gak dijawab?" Tanyaku lagi.


"Dek, maafin Mas" jawabnya pelan.


"Maaf soal apa Mas. Mas salah apa loh?"


"Dek, Mas minta maaf. Mas.. " jawab mas randi terputus berbarengan keluar air mata Mas Randi. Ah air mata lagi. Sejak kapan Mas Randi cengeng.


"Ada apa Mas? Bicara saja Mas!" Ucapku tak sabar.


"Dek!" Mas Randi memegang tanganku, kemudian memelukku dan menciumi wajahku berkali-kali, masih terisak suara tangisnya yang terdengar semakin tersedu-sedu. Aku bingung. Apa yang terjadi?


Aku tunggu Mas Randi sampai menyelesaikan tangisnya yang membuatku muak. Aku benci air mata. Begitu tangisnya mulai mereda, aku berbicara


"Ada apa Mas? Kenapa Mas menangis?"


"Adek Mas ingin bicara tapi Adek janji ya jangan marah ya" ucapnya mengiba.


"Dek, Ririn hamil. Hamil 7 Minggu" jawabnya terputus.


"Lah Ririn sudah nikah kah Mas? Kok Kita tidak diundang ya diacara pernikahannya?" Tanyaku.


"Yang jadi masalah Ririn hamil anak Mas. Pak Indra marah besar. Pak Indra menyuruh Mas menikahi Ririn dalam waktu dekat. Ririn bersedia menjadi istri kedua. Dek, maaf Mas khilaf, Mas salah Dek.. Mas sudah menyakiti hati Adek. Mas benar-benar minta maaf, Mas sangat mencintai Adek, Mas takut sekali Adek ninggalin Mas. Adek kan pernah bilang tidak mau dimadu. Tapi Mas harus bertanggung jawab ke Ririn. Mas bingung sekali Dek" jelas Mas Randi panjang lebar masih bercucuran air mata di kedua pipinya suaranya hampir tak terdengar. Saat ini posisiku dan Mas Randi sudah terduduk di atas kasur.


Ucapannya membuat rahangku mengeras, otot-otot di wajahku tegang, gigi dan bibirku mengatup rapat, jantungku berdetak tak karuan. Aku coba mencerna setiap kalimat yang keluar dari mulut Mas Randi.


"Ririn hamil Mas! Anak Mas? Serius Mas?" tanyaku tegas.


"Iya Dek, Mas yang pertama mengambilnya. Maaf Dek Mas benar-benar khilaf. Mas tidak sadar Dek saat melakukannya, Mas hanya 1 kali. Mas sekarang bingung Dek. Adek Maafin Mas yaaa, Mas mohon Dek. Jangan tinggalin Mas. Adek jangan marah, Mas cuma cinta ke Adek. Mas cuma sayang Adek" jawab Mas Randi seraya memegang kedua tanganku dengan erat dan mencium-cium tanganku, air matanya berjatuhan ke punggung tanganku.

__ADS_1


Aku melepas pegangan tangan Mas Randi. Aku masih belum yakin atas apa yang dikatakan Mas Randi. Seperti mimpi atas ucapan Mas Randi tadi.


"Mas lagi becanda kan? Mas bohong kan? Iya kan Mas! Mas lagi bohong kan! Adek yakin Mas gak mungkin menghianati Adek. Jawab Mas! Jawab!" Tanyaku beruntun dengan sedikit meninggikan suaraku seraya mengguncang-guncang kedua bahu Mas Randi.


"Ya Allah Mas!" Lirihku.


"Mas kenapa setega itu selingkuh dariku? Sampai berzina pula. Berzina itu dosa besar Mas! Selama ini aku percaya dengan Mas tapi ini balasan yang aku terima" ucapku lirih. Kemudian aku melotot ke arahnya seperti hendak menerkamnya. Mas Randi hanya diam.


Kemudian Aku memukul-mukul dada bidang Mas Randi dengan sekuat tenaga kukerahkan. Aku seperti mengamuk. Aku pukul secara membabi buta. Pukulan tangan lentikku tak membuat tubuh kekarnya bergerak sedikitpun.


Hatiku sangat sakit mendengar pengakuan Mas Randi. Sakit sekali. Hatiku sekarang hancur berantakan menjadi puing-puing debu.


Aku tak menyangka semua akan menjadi seperti ini. Pernikahan suci harus ternoda. Semua kecurigaan-kecurigaanku selama ini ternyata inilah jawabannya. Jawaban yang benar-benar tak pernah terbayangkan olehku. Jawaban yang benar-benar tak ku harapkan.


"Aku kecewa dengan Mas. Aku kurang apa Mas? Apa aku kurang cantik? Apa aku kurang tajir seperti Ririn? Mas tega sekali menyakitiku, istri yang sudah 8 tahun mengabdi. Apa Mas gak ingat anak-anak. Gak ingat keluarga kita. Gak ingat Allah saat Mas bersama Ririn" aku berteriak histeris namun sebisa mungkin aku tahan. Aku terus memukul-mukul Mas Randi. Mas Randi terdiam sambil terus terisak, hendak memelukku namun tangannya aku tepis.


Kemudian aku berdiri. Aku mendorong tubuh Mas Randi sekuat tenaga dengan kakiku. Mas Randi terjengkang ke belakang. Aku terus maju memukulnya sampai aku puas dan lelah. Mataku melotot seperti kesetanan. Tak ada air mata yang keluar walau setetespun dari mataku. Aku benar-benar sudah emosi.


"Dek.." Mas Randi bangkit hendak merengkuhku. Aku mundur.


"Jangan sentuh aku lagi Mas!" sentakku.


"Aku tak sudi disentuh lagi, aku sudah jijik, jijik karena Mas sudah menyentuh wanita lain, menjauh dariku Mas" teriakku tertahan. Aku takut anak-anak terbangun karena pertikaianku dengan Mas Randi.


Mas Randi masih terus menangis, mengusap air matanya sendiri berkali-kali.


Mas Randi masih berusaha merengkuhku yang kini aku mundur ke arah pintu kamar yang tertutup. Aku selalu menepis dengan kasar tangannya setiap hendak menyentuhku.


"Adek dengar Mas dulu. Mas sangat-sangat minta maaf. Mas gak ada niat nyakitin Adek, semua terjadi begitu cepat. Mas sangat mencintai Adek, gak ada yang lain di hati Mas" ucap Mas Randi dengan suara lirih mengiba.


"Ah omong kosong! Dasar Mas pembohong. Aku sudah tak percaya lagi dengan omongan Mas. Kalau memang mencintaiku Mas tak mungkin tega menghianati pernikahan kita" suaraku meninggi penuh emosi dan menahan rasa sesak di dada.

__ADS_1


"Dek, Ririn hamil dengan janin tidak berkembang. Besok harus dikuretase." suara Mas Randi terdengar seperti desiran angin.


Aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku karena aku merasakan kepalaku sangat berat. Sakit. Sakit luar biasa. Dadaku terasa sesak. Hingga aku susah bernafas. Kemudian aku membuka mataku. Mataku berkunang-kunang. Tubuhku hendak limbung, aku merasa Mas Randi menangkap tubuhku, aku mendengar teriakan Mas Randi memanggil-manggil namaku, Aku sedikit berontak ingin melepaskannya dengan sisa-sisa tenaga yang masih ada. Hingga akhirnya aku menyerah, tenagaku sudah habis dan semua menjadi gelap.


__ADS_2