SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR

SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR
BAB 30


__ADS_3

Pov Ririn.


Setiap orang mendambakan pernikahan yang bahagia. Begitu pun, Aku. Walaupun sebagai istri kedua, tidak ada salahnya aku mengharapkan pernikahan yang bahagia kan!


Namun, harapan hanyalah harapan. Cintaku yang selalu menggebu ke Mas Randi, ternyata cintaku tak terbalas. Seiring berjalannya waktu, Mas Randi masih juga belum bisa mencintaiku. Cinta yang paling menyakitkan itu tatkala cinta bertepuk sebelah tangan. Seperti yang saat ini aku rasakan.


Aku sadar, Mas Randi menikahiku karena terpaksa, bukan karena cinta. Cinta Mas Randi hanya untuk Mbak Rika yang tak pernah lekang oleh waktu dan keadaan.


Aku sengaja hamil walaupun aku melanggar perjanjian dari Mbak Rika. Aku berharap Mas Randi bisa mencintaiku dengan aku mengandung anaknya. Namun justru amarah yang aku dapat dari Mas Randi dan ancaman akan menceraikanku kalau sampai Mbak Rika marah.


Tapi beruntung! Mbak Rika tidak marah, Mbak Rika memakluminya, namanya orang menikah pasti semua ingin memiliki anak. Aku bersyukur, memiliki Kakak madu seperti Mbak Rika, Mbak Rika sangat baik dan sabar. Kalau aku memiliki madu selain Mbak Rika, mungkin aku sudah habis dijambak, dicakar atau disiksa bahkan dipermalukan di depan umum. Tapi Mbak Rika sama sekali tidak melakukan itu.


Dengan kehamilanku aku menjadi manja sekali ke Mas Randi supaya aku bisa sering bertemu dengannya. Aku tahu, Mas Randi itu tidak tegaan jadi pasti menuruti semua kemauanku.


Semakin hari kandunganku semakin besar. Mbak Rika sedang hamil tua. Mas Randi saat di rumahku selalu mengkhawatirkan Mbak Rika dan anak-anaknya. Aku iri sekali. Aku saja tidak pernah dikhawatirkannya.


Aku ingin sekali memiliki Mas Randi seutuhnya. Aku ingin Mas Randi di rumahku setiap hari. Tapi harapan yang tak pernah menjadi nyata. Nyatanya Mas Randi mempunyai istri dua yang harus dibagi setengah waktunya.


Aku pernah memasukkan obat tidur di minuman kopi Mas Randi saat pagi hari Mas Randi siap-siap pulang ke rumah Mbak Rika. Aku hanya berharap Mas Randi lebih lama di rumahku. Aku masih ingin bersamanya.


Mas Randi pernah berbicara kalau Mbak Rika ingin rumah lantai dua yang ada kolam renangnya, karena sedang ngidam. Aku diminta untuk membelikannya. Aku bilang kalau uangku tidak cukup, siapa tahu Mas Randi dan Mbak Rika bisa memaklumi. Tapi keesokan harinya Mbak Rika mendatangi rumahku dan mengancamku supaya Mas Randi menceraikanku kalau aku tidak mau manuruti kemauannya. Aku takut Mas Randi menceraikanku, Mas Randi selalu menuruti keinginan Mbak Rika. Akhirnya aku mengiyakan bulan depan aku membelikannya. Tabunganku ada banyak, tidak sulit bagiku untuk membeli rumah keinginan Mbak Rika.


Suatu hari aku mengajak Mas Randi liburan ke Bali saat Mas Randi jadwal berkunjung di rumahku. Aku bilang liburan tiga hari. Tapi aku belum puas bersama Mas Randi, jadi aku tambah satu hari lagi. Biarlah! Mbak Rika pasti tidak akan marah.

__ADS_1


Beberapa hari kemudian, saat Mbak Rika baru saja melahirkan. Mas Randi bilang Mbak Rika belum belanja keperluan bayi. Bayinya belum punya baju. Aku berinisiatif membelikan semua kebutuhannya dan meletakkannya di rumah baru yang Mbak Rika minta, aku sudah mendapatkan rumah baru warna putih sesuai warna harapan Mbak Rika, kata Mas Randi. Aku berharap Mas Randi bisa mencintaiku dan Mbak Rika bisa selalu menerimaku.


Setelah Mbak Rika melahirkan, Mas Randi selama dua puluh hari tidak pernah menginap di rumahku. Kata Mas Randi sedang menemani Mbak Rika. Aku mengerti. Tapi saat siang Mas Randi sering mengunjungiku.


Mas Randi tiba-tiba mengatakan akan menceraikanku karena Mbak Rika sudah tidak mau dimadu. Aku menangis, aku mengancam akan bunuh diri jika Mas Randi menceraikanku. Akhirnya Mas Randi luluh tidak jadi menceraikanku dan menyuruhku untuk selalu menjaga bayiku dan tidak boleh banyak pikiran.


Setelah dua puluh hari Mbak Rika melahirkan, Mas Randi akhirnya menginap di rumahku, setelah aku merayunya mati-matian.


Sudah tiga hari Mas Randi di sini, saat Mas Randi akan bersiap-siap pulang, aku membuatkan jus alpukat kesukaan Mas Randi. Aku masukkan obat perangsang yang reaksinya tahan hingga tiga hari. Aku terus merayu Mas Randi, aku bilang kalau Mas Rika sedang masa nifas, jadi sama aku saja. Mas Randi menurut karena sedang dipenuhi hasrat dari obat perangsang. Aku sengaja menyembunyikan smartphonenya agar Mbak Rika tidak bisa menghubungi Mas Randi.


Hari keenam tiba-tiba Mbak Rika datang saat Mas Randi bersiap-siap akan pulang ke rumah Mbak Rika. Biarlah! Aku sudah puas enam hari bersama Mas Randi walaupun hati terasa belum rela Mas Randi pulang.


Beberapa hari kemudian aku mendatangi rumah Mbak Rika, karena Mas Randi sudah lima hari tidak pulang dan tidak ada kabar. Tapi Mbak Rika malah mencuekiku, dan masuk kembali ke kamar menutup pintu. Aku mengikutinya dan aku gedor-gedor pintu kamarnya.


Sekitar seminggu kemudian aku mendatangi rumah Mbak Rika lagi, untuk mengajak Mas Randi pulang. Ternyata sudah ada satpam, aku tidak diperbolehkan masuk, katanya sedang tidak menerima tamu. Aku pulang dengan tangan hampa. Akhirnya aku ke rumah Papa.


Siang harinya, Mas Randi mendatangiku di rumah Papa. Mas Randi menceraikanku. Aku menangis dan ngotot menolak. Tapi Mas Randi bilang Mbak Rika mengalami depresi dan trauma karena ulahku seminggu yang lalu. Mas Randi mengancamku akan melaporkan ke polisi karena telah melakukan ancaman pembunuhan. Papa, Mama dan Bang Rendra marah besar. Mereka membela Mas Randi. Papa dan Mama akhirnya merayuku untuk menerima keputusan Mas Randi, daripada aku dijebloskan ke penjara.


Akhirnya aku menurut. Setiap hari aku menangis meratapi nasibku. Hatiku hancur. Keinginanku untuk memiliki Mas Randi seutuhnya pupus sudah. Bahkan untuk memiliki sebagian pun semua sudah berakhir.


Aku sekarang tinggal di rumah Papa. Mama selalu menyemangatiku dan menghiburku. Bang Rendra juga selalu memberiku semangat. Aku bersyukur, keluargaku masih menyayangiku, walaupun aku anak pembangkang.


Seiring berjalannya waktu, akhirnya aku sudah mulai menerima takdirku. Kalau Mas Randi bukan milikku lagi, aku tak akan bisa memiliki Mas Randi sampai kapanpun.

__ADS_1


Kandunganku sudah menginjak sembilan bulan, aku sudah tidak sabar untuk menimang bayiku, kata dokter bayiku perempuan.


Mas Randi sampai saat ini masih bertanggung jawab kepadaku, seminggu sekali Mas Randi datang ke tokoku atau ke rumah Papa untuk menanyakan kabarku dan memberiku nafkah lahir.


Kata dokter bayiku sungsang dan aku mempunyai riwayat darah tinggi, jadi aku harus melahirkan secara caesar. Tanggal operasi sudah ditentukan.


Tanggal yang ditunggu-tunggu tiba. Aku menghubungi Mas Randi untuk menemaniku ke rumah sakit. Juga Papa, Mama dan Bang Rendra juga akan menemaniku.


Mas Randi segera datang. Kami berangkat menuju rumah sakit. Harapanku setelah bayiku lahir Mas Randi tidak jadi menceraikanku, aku selalu berdoa seperti itu setiap hari dan aku berdoa Mbak Rika segera pulih.


Beberapa menit menjelang operasi, aku teringat Mbak Rika, begitu banyak dosa yang aku perbuat kepada Mbak Rika, begitu banyak rasa sakit yang aku toreh di hati Mbak Rika, karena rasa cintaku ke Mas Randi yang begitu besar sampai-sampai aku tega menyakiti Mbak Rika. Aku merasa bersalah saat Mas Randi mengatakan Mbak Rika mengalami depresi dan trauma karena ulahku. Aku ingin sekali meminta maaf dengan Mbak Rika. Mbak Rika tidak punya salah apa-apa tapi aku selalu menyakitinya. Maafkan aku Mbak Rika. Semoga Mbak Rika membuka hatinya untuk memaafkanku.


"Dek Rin, Mbak Rika titip salam maaf dan terimakasih. Mbak Rika ingin mengembalikan semua harta pemberian, Dek Rin." ucap Mas Randi saat aku sedang terbuai lamunan.


"Mbak Rika gak salah apa-apa Mas. Justru Ririn yang punya banyak salah, Ririn sudah menyakiti hati Mbak Rika. Ririn ingin minta maaf kepada Mbak Rika, Mas. Untuk semua yang sudah Ririn kasih ke Mbak Rika tolong jangan dikembalikan, itu sebagai bentuk maaf dari Ririn. Rasa sakit yang Ririn toreh di hati Mbak Rika tak akan sebanding walaupun Ririn sudah memberikan semua harta Ririn. Sampaikan Maaf yang sedalam-dalamnya dari Ririn ya, Mas." ucapku.


"Iya, Dek. Nanti Mas sampaikan." balas Mas Randi.


"Mas, Ririn minta maaf ya, kalau selama jadi istri Mas, Ririn punya banyak salah. Ririn masih berharap Mas tidak jadi menceraikan Ririn. Ririn akan berubah menjadi lebih baik lagi. Ririn janji, Mas." ujarku.


"Maaf, Dek. Mas sudah tidak bisa. Mas hanya mencintai Mbak Rika. Mbak Rika tidak sanggup berbagi. Maafin Mas ya, Dek. Sekarang, Dek Rin, fokus untuk lahiran saja ya, semoga semuanya selamat." jawab Mas Randi.


Detik kemudian aku merasakan kepalaku berat, makin lama makin berat. Mas Randi memanggil-manggil namaku dan memanggil-manggil dokter. Beberapa saat kemudian pandanganku kabur dan semua tampak gelap.

__ADS_1


__ADS_2