SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR

SUAMIKU MISKIN DIREBUT PELAKOR TAJIR
BAB 24


__ADS_3

"Jadi perempuan tadi itu siapa, Nak? Yang dekat-dekat Randi terus." Tanya Ibu tak sabar saat kami berdua sudah berada di kamar, aku sedang memberi Asi Rania. Mas Randi sedang mengobrol bersama saudara-saudara yang belum pulang. Aku sudah menutup pintu kamarku dari dalam.


"Emm.. itu.. Ririn, Bu. Istri.. Istri kedua Mas Randi." ucapku lirih dan sedikit terbata mengucapkannya.


Ibu seketika terbelakak kaget. Wajahnya tampak tegang. Raut wajahnya seketika berubah.


"Maksudmu kamu dimadu begitu, Nak?" Ucap Ibu dengan suara tertahan, masih dengan raut wajah terkejut.


Aku menganggukkan kepalaku dengan pelan sambil tersenyum ke arah ibu.


"Kamu, serius, Nak. Pantas saja, selalu terlihat mesra sekali." ucapnya seperti kurang percaya atas jawabanku.


"Iya, Bu. Rika serius. Sudah tujuh bulan yang lalu Mas Randi menikah lagi. Ceritanya panjang, Bu."


Akhirnya aku menceritakan semuanya yang terjadi. Tentang keadaan rumah tanggaku saat ini kepada Ibu, kalau Mas Randi menikah lagi tujuh bulan yang lalu. Tentang semua pemberian Ririn juga aku ceritakan. Ibu mendengarkan dengan raut wajah yang entahlah! Aku tak bisa menggambarkannya.


"Kamu sudah besar, Nak. Kamu sudah dewasa. Kamu sudah bisa mengatasi masalahmu sendiri, menentukan solusi dan keputusan dalam menjalani rumah tanggamu. Kalau saran Ibu, kalau masih bisa menahkodai satu kapal saja, lebih baik tidak usah menahkodai dua kapal. Karena satu orang nahkoda pasti sulit menjalankan dua kapal sekaligus, Nak. Kalau Ibu di posisimu, pasti Ibu sudah tidak kuat. Tapi kalau kamu kuat tidak masalah. Tapi kamu hebat, Nak! Bisa melalui semua itu sendiri. Hanya orang-orang terpilih saja yang sanggup menjalani poligami." ucap ibu panjang lebar dengan bijaksana.


"Iya, Bu. Terimakasih Bu, sarannya. Akan Rika pikirkan dahulu untuk ke depannya, langkah apa yang akan Rika ambil. Ibu, Rika minta tolong jangan cerita ke siapa-siapa ya, Bu! Soal Mas Randi menikah lagi. Soalnya Rika malu, Bu." jawabku menatap teduh wajah Ibu.


"Iya, Nak. Kamu yang sabar ya!" Ucap Ibu seraya memelukku. Rania sudah aku letakkan di ranjang.


*****


Semenjak acara aqiqah kemarin, Ririn setiap hari selalu datang ke rumahku, membantuku mengurus Rania. Kadang mengganti popok atau menggedongnya. Kadang menjaganya saat aku sedang mandi. Perut Ririn tampak sudah besar. Ya, kandungan Ririn sudah berusia enam bulan.

__ADS_1


Hari ke dua puluh setelah lahiran, akhirnya Mas Randi pamit untuk menginap di rumah Ririn selama tiga hari. Aku mengizinkannya karena sudah lama Mas Randi tidak menginap di rumah Ririn.


Tiga hari berlalu. Tepatnya hari keempat harusnya Mas Randi sudah pulang ke rumahku, tapi hingga malam hari Mas Randi tak kunjung datang juga. Seperti biasa smartphonenya tidak aktif.


Hari kelima juga Mas Randi belum terlihat batang hidungnya. Hari keenam, aku berinisiatif mendatangi langsung rumah Ririn, karena Mas Randi belum ada kabarnya. Aku sangat menghawatirkan Mas Randi. Kalau masih tiga hari aku tak pernah mengusik Mas Randi saat di rumah Ririn. Tapi ini sudah enam hari. Tanpa kabar.


Aku mengendarai sendiri mobilku menuju rumah Ririn. Anak-anak aku tinggal bersama asisten rumah tanggaku. Karena aku keluar tidak lama-lama.


Saat sudah sampai rumah Ririn. Aku disambut oleh asisten rumah tangga Ririn.


"Ririnnya ada, Mbak? Tanyaku ramah kepada asisten rumah tangga Ririn.


"Ada, Bu. Tapi sepertinya sedang tidur di kamar bersama Bapak." Jawabnya sopan.


"Maaf, Bu. Saya tidak berani mengetuk pintunya, kalau Ibu sedang di kamar." Jawabnya lagi.


Tiba-tiba pintu kamar yang terlihat dari ruang tamu terbuka, tampak Mas Randi berjalan keluar dengan rambut basah seperti habis mandi.


"Dek, kok di sini?" Ucap Mas Randi terkejut melihat ada aku di ruang tamu, Mas Randi berjalan tergesa-gesa ke arahku.


"Mas, maaf ganggu. Mas sudah hampir seminggu gak pulang, katanya tiga hari. Rania semalam rewel sekali, kangen sama ayahnya mungkin. Aku ke sini cuma pengen tahu kabar Mas saja, soalnya smartphone milik Mas tidak bisa dihubungi. Syukurlah kalau Mas sehat-sehat saja. Kalau gitu Aku permisi dulu." Ucapku cepat dan aku bergegas keluar dari rumah Ririn.


"Dek, nanti Mas jelaskan. Ayo kita pulang sekarang, Dek!" Ucap Mas Randi dengan terburu-buru berjalan menyusulku.


Aku segera masuk ke dalam mobilku dan menguncinya dari dalam. Mas Randi memanggil-manggilku dan mengetuk-ngetuk kaca mobilku.

__ADS_1


Aku menjalankan perlahan mobilku menuju keluar rumah Ririn. Aku menengok sedikit, tampak Ririn berdiri di pintu seperti memanggil-manggil Mas Randi. Mas Randi dengan cepat masuk ke dalam mobilnya dan menjalankan mobilnya dengan cepat, mengejarku.


Aku mengemudikan mobilku dengan kecepatan rendah, karena aku baru saja melahirkan. Takut terjadi apa-apa. Apalagi pikiranku sekarang sedang kalut.


Aku melirik kaca spion, tampak mobil Mas Randi sejajar di belakangku, membuntutiku.


Setelah berjalan sekitar satu kilometer, aku membelokkan mobilku ke arah taman kota di dekat pinggir jalan. Mas Randi tampak masih membuntutiku, juga ikut membelokkan mobilnya mengikutiku. Aku menghentikan kendaraanku saat sudah masuk di area taman, tampak beberapa kursi taman tertata apik. Ah! Sudah lama aku tidak jalan-jalan.


Aku meletakkan kepalaku di kemudi dengan berbantal kedua tanganku. Aku ingin memejamkan mataku. Aku ingin meletakkan semua beban pikiran. Pikiranku sedang tidak enak. Kepalaku terasa pusing sekali. Sepertinya Aku menyerah. Aku tidak kuat. Aku tidak bisa lama-lama seperti ini. Aku sudah tidak sanggup. Beban ini begitu berat.


Menit kemudian terdengar kaca mobilku diketuk-ketuk dari luar. Aku mengabaikannya. Aku masih ingin memejamkan mataku, terasa nikmat sekali. Sejenak beban pikiran terlupa. Sekarang Aku seperti tidak sanggup membuka mataku lagi karena terasa beban yang sangat berat dikepalaku datang lagi. Ada banyak rasa di kepalaku. Rasa cemburu, rasa marah, rasa rindu, rasa benci, rasa putus asa. Entahlah!


Beberapa saat kemudian terdengar handle pintu mobil ditarik-tarik terus seperti ingin membuka.


Akhirnya aku membuka mataku, aku angkat kepalaku. Tampak Mas Randi dengan wajah yang teramat cemas dan panik, tangan kirinya menarik-narik handle pintu dan tangan kanannya mengetuk-ngetuk kaca mobilku, mulutnya komat kamit seperti memanggil-manggilku.


Aku tersenyum ke arahnya. Detik kemudian aku pencet tombol membuka pintu. Mas Randi dengan cepat membukanya dan langsung menghambur memelukku erat.


"Mas takut, Sayang. Takut sekali. Adek gak papa, Sayang? Adek kenapa?" Tanyanya beruntun dengan nafas memburu.


"Adek, jangan marah ya Sayang. Maafin Mas. Mas minta maaf banget. Mas mau menjelaskan dulu kenapa Mas kemarin belum pulang-pulang ke rumah Adek" lanjutnya lagi. Ah! palingan alasan Ririn lagi, Ririn lagi. Sudah bosan aku mendengar alasannya.


Aku diam saja menikmati pelukannya. Aku kangen sekali dengan Mas Randi. Biasanya paling lama empat hari aku tidak bertemu dengannya. Apalagi kemarin dua puluh hari setiap hari aku selalu bersamanya, jadi seperti ada yang hilang saat Mas Randi tidak ada. Ah! Terasa tenang berada dipelukan Mas Randi.


Lalu aku melepas pelukan Mas Randi. Aku berjalan menuju kursi taman yang tidak jauh dari parkir mobil kami. Setelah sebelumnya aku melepas kunci mobil dan menutup pintunya. Mas Randi membuntutiku, kemudian duduk di sampingku. Merangkul pundakku.

__ADS_1


__ADS_2