
Mas Randi sudah dua hari di rumah saja. Biasanya berangkat pagi dan pulang malam. Sekarang setiap hari wajahnya seperti terlihat bingung. Aku sengaja tak bertanya karena aku sudah tahu apa isi hatinya. Ia pasti bingung memilih antara aku atau Ririn. Waktu yang aku beri hanya bersisa tiga hari.
Aku sudah menyiapkan berkas-berkas yang akan aku bawa ke pengadilan agama. Buku nikah dua warna, fotocopy kartu tanda penduduk milikku dan Mas Randi, serta kartu keluarga. Sudah aku satukan dalam amplop besar, supaya saat waktunya tiba aku tidak perlu repot-repot lagi menyiapkannya.
Sengaja aku persiapkan dari sekarang karena aku tak yakin Mas Randi akan menceraikan Ririn, apalagi sekarang ada Hana, bayi mungil tak berdosa yang sakit-sakitan, buah hati Mas Randi dan Ririn.
Mas Randi setiap hari merayuku, untuk sabar dan sabar. Untuk menunggu dan menunggu. Namun, tekatku sudah bulat. Aku harus segera lepas dari rumah tangga yang membawa banyak mudharat untuk hatiku ini.
*****
Hari ini Mas Randi tidak mau makan. Aku perhatikan kemarin-kemarin Mas Randi seperti tidak nafsu makan. Padahal aku sudah memasak makanan kesukaannya.
Mas Randi masih bergelung di kamar hingga menjelang siang. Tadi sehabis subuh Mas Randi pamit mau tidur lagi.
Aku ke kamar. Mengajaknya untuk makan. Mas Randi tampak terlelap. Aku sentuh keningnya panas sekali. Mas Randi demam. Aku bergegas ke belakang, mengambil handuk kecil dan air hangat dengan baskom.
Aku mengompres kening Mas Randi. Mas Randi langsung terbangun dengan mata merah.
"Mas, Sakit? Badannya panas sekali." tanyaku.
"Iya, Dek. Kepala Mas pusing sekali, badan Mas menggigil." ucap Mas Randi dengan suara lemah.
"Kita ke dokter ya, Mas! Tapi Mas makan dulu. Mas dari pagi belum makan. Adek ambilkan makan dulu ya?" ujarku seraya berjalan menuju dapur.
Aku menyuapi Mas Randi makan. Mas Randi hanya mau makan sedikit.
Aku mengajak Mas Randi ke dokter, tapi Mas Randi menolak.
Aku menyuruh Bude Asisten Rumah Tangga untuk membelikan obat penurun panas di apotek untuk Mas Randi.
Mas Randi meminum obatnya. Kemudian istirahat kembali.
Hingga tiga hari panas Mas Randi belum turun. Kemudian aku mengajak Mas Randi ke rumah sakit.
__ADS_1
Setelah diperiksa dan cek darah. Ternyata Mas Randi terkena tipes, harus dirawat di rumah sakit. Aku menunggui Mas Randi bersama Bapakku dan Bapak Ibu Mas Randi.
Hari kedua Mas Randi dirawat, Ririn terus menerus menelepon ke smartphone Mas Randi dan mengirim banyak pesan di aplikasi hijau Mas Randi.
Mas Randi tidur terus. Smartphonenya aku silet. Supaya tidak berisik. Aku sengaja tak mengangkatnya. Biarlah! Aku yang akan merawat Mas Randi sendiri. Aku tidak mau diganggu siapapun.
Saat aku membuka-buka smartphone Mas Randi. Aku penasaran ingin membuka pesan dari Ririn. Banyak chat dari Ririn, menanyakan Mas Randi kapan mengunjunginya. Mengapa Mas Randi tidak menghubunginya.
Kemudian pesan terakhir membuatku bimbang.
[Mas, Hana rewel terus, badannya panas. Mas kapan ke sini? Mungkin Hana kangen Papinya. Kasihan Hana, Mas.]
Kemudian aku ketik balasan.
[Maaf, Mas Randi sedang sakit, sakit tipes. Sekarang sedang dirawat di rumah sakit. Kondisi Mas Randi sudah mulai membaik. Semoga Hana cepat sembuh ya. Aamiin.] Aku segera mengirim balasan ke nomor telepon Ririn.
[Mbak Rika? Mas Randi sakit? Dirawat di mana, Mbak?] balasnya cepat.
Aku tak membalasnya. Biarlah! Yang penting aku sudah mengabari keadaan Mas Randi. Kasihan juga kalau berhari-hari tidak ada kabar, pasti sangat khawatir. Biar Aku yang mengurus Mas Randi sendiri.
Mas Randi sekarang badannya terlihat sedikit kurus. Aku merawatnya dengan tulus, walau bagaimanapun Ia masih suamiku.
Sesampainya di rumah. Aku menyuruhnya istirahat. Aku belum membahas masalah perceraian padahal kemarin adalah batas waktu yang sudah aku tentukan. Tentunya aku tidak tega membahasnya dengan kondisi Mas Randi yang sedang sakit.
Aku dari awal pindah ke sini sudah bilang ke Mas Randi, kalau Ririn jangan diberi tahu alamat rumah ini. Aku malu dengan tetangga kalau sampai Ririn datang ke sini.
*****
Keesokan harinya. Mas Randi hendak menengok bayi Ririn karena kondisinya kurang baik. Rencana mau dibawa ke rumah sakit.
Ya Allah, mengapa aku jadi bimbang. Apakah aku juga seperti Mas Randi yang tidak tegaan?
Sepertinya aku harus shalat istiharah, untuk mengambil keputusan.
__ADS_1
Nah! Aku jadi ingat Ustadzah Rizkia. Aku akan bertanya kepadanya, Ustadzah Rizkia pasti bisa membantuku mengatasi kebimbanganku ini.
Malamnya aku melaksanakan shalat istiharah dan paginya aku berangkat kajian. Sekalian aku ingin berkonsultasi dengan Ustadzah Rizkia di majlis.
Ustadzah Rizkia menyuruhku mengikuti kata hatiku, apalagi aku sudah melaksanakan shalat istiharah. Buang keragu-raguan di dalam hati. Pasti di hati ada kecenderungan. Antara melepaskan atau melanjutkan.
Alhamdulillah, hatiku sedikit terbuka setelah mendengar ucapan Ustadzah Rizkia.
*****
Sore harinya saat aku sedang istirahat seraya memainkan smartphoneku. Ada chat masuk di aplikasi hijauku. Dari nomor baru.
[Assalamualaikum, Mbak. Maaf mengganggu..]
Aku mencoba membuka profilnya fotonya foto bayi perempuan. Dengan nama akun RENDRA HARTAWAN. Oh.. aku memang tidak menyimpan nomor Bang Rendra.
[Waalaikum salam. Iya, Bang. Ada perlu apa?] balasku.
[Mbak, maaf. Apakah Mas Randi jadi menceraikan Ririn?] tanyanya.
[Saya kurang tahu, Bang. Memangnya ada apa?]
[Beberapa bulan yang lalu, Mas Randi bilang akan menceraikan Ririn setelah Ririn lahiran, tapi kok saya lihat di rumah Papa, Mas Randi dan Ririn seperti tidak ada batasan. Aku tanya Mama, katanya mereka sudah rujuk, demi bayi mereka. Maaf Mbak, bukannya saya ikut campur. Kok saya melihatnya seperti aneh dan plin plan.] jelasnya lagi.
Aku membaca pesan Bang Rendra berulang kali. Aku takut salah baca. Setelah yakin atas apa yang aku baca, hatiku serasa tertusuk tombak. Sakit sekali. Sakit tapi tidak berdarah.
[Apakah ada bukti atas ucapan Abang barusan?] aku membalasnya. Aku ingin bukti misal foto atau apa gitu.
[Maaf ya Mbak, bukan Saya ikut campur. Cuma kok penikahannya seperti mainan. Ucapannya bisa berubah-ubah.]
Detik kemudian masuk dua foto. Foto pertama Mas Randi dan Ririn sedang duduk di sofa, tangan Ririn merangkul mesra pundak Mas Randi, Mas Randi sedang memangku Hana. Foto kedua tampak Mas Randi memijat punggung Ririn di Karpet depan televisi, Ririn sedang memangku Hana.
Astaghfirullahal'adzim. Aku beristighfar berkali-kali melihat foto itu. Jantungku terasa seperti berhenti berdetak. Rasanya juga aku seperti berhenti bernafas. Aku tak sanggup melihat foto ini.
__ADS_1
Ya Allah.. Apakah ini jawaban atas shalat istiharahku tadi malam? Secepat inikah Kau beri jawaban?
Aku tak membalas pesan terakhir Bang Rendra. Aku segera mematikan smartphoneku. Aku bergegas berjalan ke belakang mengambil air wudhu, kemudian aku membaca al-qur'an. Aku saat ini butuh ketenangan.