
Aku mengendarai mobilku menuju rumah Ririn. Aku sudah tahu rumahnya. Hanya berjarak sekitar lima belas menit dari rumahku. Diberi tahu Mas Randi waktu kami melewati jalan rumahnya. Rumahnya terletak di pinggir jalan besar, jalan utama. Jadi aku sudah beberapa kali melewati rumahnya.
Rumah megah, dengan ornamen klasik. Didominasi dengan warna emas. Ririn pecinta warna emas sepertinya. Kalau aku suka warna serba putih kalau untuk rumah.
Aku takjub saat akan memasuki pagar rumahnya. Pagarnya menjulang tinggi. Uh aku ngiler melihat rumah Ririn. Tampak satpam di rumahnya menghampiriku. Aku menurunkan kaca mobilku.
"Cari siapa, Bu?" Tanya sang satpam ramah.
"Cari Ririn, Pak. Ririnnya ada?" ucapku tak kalah ramah.
"Ibu, siapanya ya?" Tanyanya lagi.
"Saya saudaranya Ririn, Pak" jawabku.
"Oh. Silahkan masuk, Bu" ucapnya seraya membuka gerbang.
Aku menjalankan kendaraanku perlahan menuju halaman rumah Ririn.
Wow rumah atau istana. Rumahnya hampir sama besarnya dengan rumah Pak Indra, ayah Ririn. Hanya rumah Pak Indra didominasi warna abu-abu.
Aku turun dari mobilku. Kehamilanku sudah delapan bulan jadi berjalan dengan pelan, aku berjalan menuju ke arah pintu rumah Ririn.
Tampak ada ART Ririn sedang menyapu halaman. Menghampiriku.
"Siapa ya, Bu?" Tanyanya dengan logat Jawa.
__ADS_1
"Saya saudaranya Ririn. Mau ketemu Ririn. Ririnnya ada?" Jawabku sekalian bertanya.
"Ada, Bu. Monggo silahkan masuk. Saya panggilkan Bu Ririn dulu ya" jawabnya seraya berjalan memasuki Rumah. Aku mengekorinya.
Oh gini ya, kalau mau bertamu ke rumah orang kaya pakai diwawancarai berkali-kali.
"Silahkan duduk dulu, Bu" ucapnya ramah saat aku sudah memasuki pintu.
Aku duduk. Melihat ke sekeliling dalam ruangan. Wah megahnya isi rumah Ririn. Rumah yang ditinggalinya bersama Mas Randi, suamiku, setengah dalam seminggu.
Sudah enam bulan mereka menikah, aku baru ini datang ke rumah Ririn. Tentunya aku ingin mengerjai Ririn.
"Mbak Rika, tumben main ke sini" ucap Rika mengagetkan lamunanku. Aku lihat perutnya sudah mulai terlihat buncit, Ririn hamil sekitar empat bulan. Kata Mas Randi Ririn sudah jarang mengalami mual lagi.
"Mas Randi, mana Mbak? Tanyanya.
"Mau minum apa, Mbak?" Tanyanya lagi.
"Gak usah repot-repot, aku cuma sebentar kok" jawabku datar.
"Apa bener kata Mas Randi, kamu gak mau beliin aku rumah lantai dua?" Tanyaku langsung pointnya.
"Emmm iya, Mbak. Ririn uangnya gak cukup Mbak, maaf" jawab Ririn.
"Kalau aku minta Mas Randi untuk menceraikanmu bagaimana? Kalau kamu gak menuruti ngidamku" tanyaku lagi.
__ADS_1
"Jangan, Mbak! Jangan bilang gitu ke Mas Randi. Mas Randi sangat mencintai Mbak Rika. Nanti Mas Randi pasti langsung menurutinya" ucapnya memelas.
"Ya, kalau turutin kemauan aku, lagi ngidam nih." Ucapku.
"Tapi.." ucapnya terpotong.
"Tapi apa?" Ucapku karena Ririn lama tak melanjutkan bicaranya.
"Tapi kalau bulan depan gimana, Mbak? Kalau sekarang uang Ririn belum cukup"
"Ya gak papa bulan depan. Aku tunggu ya. Jangan mundur, keburu bayiku lahir. Sekarang kehamilanku sudah delapan bulan. Akhir bulan depan perkiraan lahirnya" jawabku santai.
"Iya Mbak. Ririn usahakan secepatnya" jawabnya.
"Oh ya jangan lupa atas namaku ya" ucapku lembut.
"Oke mba" jawab Ririn datar.
"Oke. Aku pulang dulu yan Adekku yang cantik. Maaf mengganggu" ucapku seraya pamit pulang.
Aku menaiki mobilku dan menjalankan perlahan keluar dari rumah Ririn, menuju ke jalan raya.
Puas rasanya sudah membuat Ririn tidak bisa berkutik seperti tadi. Tak apa-apa lah sekali-kali aku manja.
Bukan aku materialistis. Tapi aku sudah terlanjur basah, ya mandi sekalian, tidak perlu nanggung-nanggung kan.
__ADS_1
Kita tunggu bulan depan Ririn membelikanku rumah atau tidak?