
Pov Randi.
Poligami yang aku jalani, berawal dari hal yang tidak baik, yang pada akhirnya berakhir dengan tidak baik juga.
Aku menikahi Ririn karena terpaksa, menikah karena ancaman. Seiring berjalannya waktu, hingga berbulan-bulan aku belum juga bisa mencintainya. Aku akui aku memang tidak adil. Tatkala sudah memutuskan untuk poligami, di situ seorang suami harus bisa berlaku adil. Bukan hanya soal waktu, juga soal rasa. Tapi bagiku sangat sulit. Ternyata poligami tidak semudah membalikkan telapak tangan bayi.
Cintaku tetap utuh untuk Rika. Istri terbaik yang sudah menemaniku delapan tahun lebih, rasa cintaku tak pernah berkurang sedikitpun.
Aku sudah berusaha untuk mencintai Ririn karena Ririn juga istriku yang harus aku cintai, tapi nihil! cinta itu tidak bisa dipaksa, juga tak bisa dibagi.
Poligami tak seindah yang dibayangkan. Harus membagi waktu yang sangat rumit. Badan terasa capek dan remuk redam harus bolak-balik ke rumah istri pertama dan istri kedua. Pun pikiran juga harus terbagi sana-sini.
Apalagi Ririn sering membuatku pulang telat. Rika yang awalnya sabar, lama-lama menjadi sering marah. Mungkin sudah habis kesabarannya. Aku tidak tega melihatnya sering marah, apalagi dalam kondisi hamil. Sebelumnya Rika tidak pernah marah kepadaku.
Ririn sudah banyak sekali melanggar perjanjian-perjanjian yang Rika ajukan saat Ririn akan menikah denganku dulu. Rika begitu sabar, bisa memaklumi pelanggaran-pelanggaran yang Ririn lakukan. Kesabaran Rika luar biasa.
Aku ingin sekali mundur dari poligami ini, aku ingin hidup tenang dan damai bersama satu keluarga kecil saja. Aku ingin menceraikan Ririn, tapi Ririn sedang hamil. Aku tak bisa sejahat itu, menceraikan dalam kondisi hamil.
__ADS_1
Hingga saat Rika melahirkan, aku sangat ingin untuk terus menemani Rika, Ibu yang sehabis melahirkan sangat butuh pendampingan, apalagi Rika melahirkan secara caesar. Tapi Ririn pun harus ditemani, Ririn sedang hamil tua. Bingung kan!
Aku ingin sekali berusaha untuk adil, tapi susah sekali. Aku selalu lebih condong ke Rika, istri kesayanganku, istri sholehah, ibu dari ketiga buah hatiku. Istri yang posisi di hatiku tak bisa terganti oleh siapapun.
Hingga akhirnya aku menghindar dari Ririn, aku trauma ke rumahnya, karena kejadian 6 hari aku tak bisa pulang itu. Rika memintaku untuk menceraikan Ririn. Aku menyetujuinya tapi menunggu setelah Ririn melahirkan. Rika menyetujuinya.
Aku sengaja tak membeli smartphone baru, supaya Ririn tak bisa menggangguku. Kemudian Ririn menyusulku di rumah Rika. Terjadilah peristiwa yang tidak pernah aku sangka-sangka, peristiwa yang membuat Rika akhirnya Syndrome Babyblues dan trauma. Ibu sehabis melahirkan memang rawan mengalami depresi. Aku tak menyangka Rika mengalami hal ini.
Akhirnya aku memutuskan untuk menceraikan Ririn di depan orangtuanya dan Abangnya. Ririn menolak keras dan menangis histeris. Tapi terserah! Aku sudah sangat lelah menjalani rumah tangga seperti ini.
Rania, pun tidak terurus. Sering tak di gubrisnya walaupun sudah menangis lama. Rania yang tidak terbiasa minum susu formula pakai dot sering menolak hingga menangis terus menerus. Berat badannya pun turun drastis. Beruntung, Rania selalu diberikan kesehatan.
Sebelumnya Rika tidak pernah seperti itu, Rika selalu menyayangi dan mengurus anak-anakku dengan sangat baik. Aku merasa bersalah atas apa yang menimpa Rika, semua salahku.
Aku berjuang menyembuhkannya, aku membawanya ke psikolog dan ke psikiater. Untuk konsultasi, membeli obat dan terapi.
Aku tak pernah lelah untuk mendampinginya hingga pulih, hampir dua puluh empat jam aku selalu bersamanya. Setelah berjuang sekitar dua bulan Rika berangsur pulih. Bersyukur, sekarang semua sudah kembali seperti semula.
__ADS_1
Ririn sebentar lagi akan melahirkan, aku masih rajin menjenguknya di rumah Pak Indra seminggu sekali. Walaupun bagaimanapun aku belum resmi bercerai secara hukum. Aku pun tetap harus bertanggung jawab dengan bayinya.
Kata dokter, Ririn harus operasi caesar. Aku mendampingi Ririn bersama keluarganya menuju rumah sakit.
Setelah pulih, Rika menyuruhku untuk mengembalikan semua harta pemberian Ririn. Aku menyetujuinya. Aku menuruti semua kemauan Rika, yang penting Rika bahagia, Aku sangat takut Rika mengalami Babyblues lagi.
Menjelang operasi caesar aku menyampaikan salam maaf dan terimakasih dari Rika. Juga pesan Rika yang ingin mengembalikan semua harta pemberian Ririn. Ririn menolaknya. Ririn bilang semua salah Ririn.
Ririn memintaku untuk tidak jadi menceraikannya, Ririn berjanji akan berubah menjadi istri yang baik. Tapi tekadku sudah bulat. Aku tetap ingin bercerai darinya. Aku ingin hidup tenang bersama Rika, tapi diganggu orang ketiga manapun. Aku tidak sanggup berpoligami lagi.
Semoga Ririn diberikan kelancaran dalam melahirkan bayi kami, ibu dan bayinya sehat dan selamat semua.
Ririn, sebentar lagi akan menjadi mantan istriku. Maafkan aku yang tidak bisa adil dalam menjalani poligami ini, maafkan aku mundur dari rumah tangga segitiga ini.
Maafkan aku yang tidak bisa mencintaimu. Cinta tidak bisa dipaksa. Sekeras apapun orang berusaha, cinta selalu tahu arah jalan pulang.
Aku Rindu suasana rumah tangga bahagiaku yang dulu. Sebelum Ririn hadir.
__ADS_1